• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pembelajaran Tematik Berbasis Discovery

Dalam dokumen BUKU PENGEMBANGAN KREATIVITAS OK (Halaman 35-37)

B. Strategi Pembelajaran

2. Strategi Pembelajaran Tematik Berbasis Discovery

Discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Proses mental tersebut antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Suatu konsep misalnya: segi tiga, panas, demokrasi, dan sebagainya, sedang yang dimaksud dengan prinsip antara lain: logam apabila dipanaskan akan mengembang. Dalam teknik ini anak dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses penemuan tersebut, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.

Prosedur pelaksanaan pembelajaran discovery di kelas sebagai berikut:

a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)

Pada tahap ini anak dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungan, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, melihat alam sekitar, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Bruner memberikan stimulasi dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Oleh sebab itu guru harus memiliki keterampilan bertanya.

b. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah)

Setelah tahap stimulasi, selanjutya guru memberi kesempatan kepada anak untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). Misalnya pertanyaan: Mengapa sebagian air dapat diminum dan sebagian lagi tidak dapat diminum? Hipotesis sementaranya; air yang dapat diminum air yang bersih dan air yang tidak diminum air yang kotor. Anak kemudian ditantang untuk mencari bukti terhadap hipotesis tersebut.

dan siswa menjadi terampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi. Sejalan dengan temuan tersebut Joyce, Weil, dan Calhoun menjelaskan bahwa, latihan inkuiri memberikan dampak instruksional dan dampak penyerta, salah satunya yaitu menimbulkan semangat kreativitas pada siswa. Joyce, Weil, dan Calhoan (2000: 170) menyatakan ada empat tahap pelaksanaan strategi pembelajaran inkuiri:

1. Investigasi. Pada tahap ini siswa dihadapkan pada masalah-masalah yang harus diselesaikannya.

2. Strukturisasi masalah. Pada tahap ini siswa menstrukrisasi masalah- masalah yang diajukan guru.

3. Identifikasi masalah. Pada tahap ini siswa mengidentifikasi masalah melalui pelaksanaan investigasi.

4. Spekulasi penyelesaian masalah. Pada tahap ini siswa mengemukakan berbagai alternatif untuk menyelesaikan masalah.

Jika strategi pembelajaran inkuiri akan diterapkan pada anak usia dini dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Guru menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan berkaitan dengan mengamati, mengelompokkan, menunjukkan, atau membedakan dua jenis benda atau lebih.

2. Guru menjelaskan kegiatan percobaan untuk mengelompokkan dua benda atau lebih, kemudian mengamati, dan mengelompokkan. 3. Guru melakukan percobaan yang didemonstrasikan guru atau

dengan mengamati fenomena alam.

4. Anak diberi kesempatan melakukan pengamatan, melakukan percobaan, mengelompokkan, dan menyimpulkan hasil pekerjaannya dengan cara menyebutkannya.

5. Anak dan guru bertanya jawab tentang yang tadi sudah dilaksanakan. Tindakan ini merupakan upaya penguatan dari pemahaman yang diperoleh anak, dan merupakan pemantapan konsep yang telah dipelajari.

proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu (Syah 2004:244). Misalnya anak dapat membedakan air yang dapat diminum dan tidak dapat diminum.

Pada lembaga pendidikan usia dini tidak dikenal mata pelajaran, tetapi yang dikenal adalah tema yang menjadi penghubung kegiatan antar aspek perkembangan. Oleh sebab itu penerapan pembelajaran tematik sebaiknya menggunakan strategi pembelajaran discovery sebagai basis. Acuan model pembelajaran tematik berbasis discovery learning

adalah pembelajaran tematik dan belajar penemuan (discovery learning).

Model pembelajaran tematik berbasis discovery learning merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan dari pengembangan model pembelajaran tematik yang digabungkan dengan belajar penemuan (discovery learning).

Model pembelajaran tematik berbasis discovery learning merupakan pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu, dimana pada pelaksanaan pembelajaran anak cenderung lebih aktif/pembelajaran berpusat pada anak (student center), anak dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran yang menyenangkan seperti melakukan percobaan/ eksperimen sehingga dapat menggabungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.

Tujuan dari model pembelajaran tematik berbasis discovery learning

adalah pembelajaran yang dilaksanakan memberikan pengetahuan baru (penemuan baru) atau hal-hal baru pada anak, sehingga anak lebih mudah memahami pokok bahasan, pembelajaran lebih berkesan, menarik dan pembelajaran tahan lama dalam ingatan anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Thorndike dalam Sagala (2010:54) mengungkapkan bahwa hasil belajar yang baik ditunjang dengan tumbuhnya rasa senang terhadap apa yang sedang dipelajari.

Sintaks model pembelajaran tematik berbasis discovery learning

terdiri dari sembilan tahap, yaitu: (1) menentukan tema pembelajaran; (2) mengembangkan/ menjabarkan tema ke dalam sub-sub tema; (3) menyiapkan alat & bahan yang diperlukan; (4) stimulation (stimulasi/ pemberian rangsangan); (5) problem statement (pernyataan/ identifikasi

c. Data collection (pengumpulan data).

Ketika pengumpulan data berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para anak untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Misalnya anak ditunjukkan berbagai macam gambar kondisi air dan anak memilah gambar-gambar tersebut ke dalam kelompok air yang dapat diminum dan air yang tidak dapat diminum.

d. Data processing (pengolahan data)

Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sejenisya, lalu diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22). Dari penelaahan gambar-gambar air yang dilihat anak, maka anak dapat membuat daftar air yang dapat diminum dan air yang tidak dapat diminum.

e. Verification (pembuktian)

Pembuktian adalah tahap anak melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif yang dihubungkan dengan hasil pengolahan data. Menurut Bruner, pembuktian bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif sebab guru memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil pengolahan dan penafsiran data maka dicek apakah hipotesis terbukti atau tidak.

f. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

Generalisasi adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan

Pembelajaran berbasis masalah menurut Arends (2004: 392) para pengembang Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) menyatakan ada 4 (empat) karakteristik yaitu:

a. Pengajuan masalah,

b. Keterkaitan antar disiplin ilmu, c. Investigasi autentik, dan d. Kerja kolaboratif. (2004: 400),

Pembelajaran berbasis masalah tipe problem solving memiliki kelebihan antara lain, siswa lebih memahami konsep yang diajarkan, memiliki ketrampilan berpikir tinggi untuk memecahkan masalah, pembelajaran lebih bermakna, menjadikan anak lebih mandiri dan menanamkan sikap sosial yang positif, memudahkan anak mencapai ketuntasan belajar yang maksimal karena dapat berinteraksi dengan guru secara maksimal. Menurut Arend (2004: 405) pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

Tabel 3.4

Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah masalah); (6) data collection (pengumpulan data); (7) verification (pembuktian,

percobaan/eksperimen); (8) generalization (generalisasi/ menarik kesimpulan); (9) evaluasi dan penilaian.

Discovery learning pada pembelajaran sains terlihat mulai tahap/ langkah stimulation (stimulasi/ pemberian rangsangan), problem statement

(pernyataan/identifikasi masalah), data collection (pengumpulan data),

verification (pembuktian, percobaan/eksperimen), generalization (generalisasi/ menarik kesimpulan). Tema air, udara, api, ketiganya saling berkaitan terlihat pada percobaan membuat susu aneka rasa dan memadamkan api (kebakaran).

Discovery learning sangat terlihat jelas pada tahap ketujuh yaitu

verification (pembuktian/percobaan) yaitu ketika anak melakukan percobaan/ eksperimen seperti memasak air hingga mendidih, membuat susu aneka rasa, memadamkan kebakaran (api) sederhana menggunakan karung goni, melakukan percobaan benda tenggelam dan terapung, melakukan percobaan meniup kemudian melepaskan balon, mengunjungi obyek tertentu seperti kolam renang, bandara, dinas pemadam kebakaran. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Istikomah, (2013) mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan metode discovery learning dapat meningkatkan pemahaman sains pada anak TK. Penelitian lain yang mendukung yaitu penelitian yang dilakukan oleh Balim (2009) mengungkapkan bahwa dasar pembelajaran sains membutuhkan aspek bertanya dan menemukan (belajar penemuan).

Dalam dokumen BUKU PENGEMBANGAN KREATIVITAS OK (Halaman 35-37)