• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PEMILIHAN MESIN PABRIKAN AGROINDUSTR

Dalam dokumen Agroindustri untuk Otonomi Daerah Indonesia (Halaman 84-94)

KEMITRAAN DI DAERAH

BBBBBAB 7AB 7AB 7AB 7AB 7

Uang yang hilang karena kesalahan investasi masih lebih rendah nilainya daripada biaya perbaikan atau revitalisasi fungsi mesin di pabrik karena selain menyerap dana, tenaga juga kehilangan waktu yang tak ter nilai harganya.

TUJUAN PENDIRIAN PABRIK

P

engembangan agroindustri di suatu daerah belum lengkap tanpa mendirikan pabrik pengolahan yang didalamnya terdapat mesin-mesin. Pemilihan mesin ini perlu strategi pemikiran yang seksama dan pelaksanaan yang bijaksana supaya mencapai efisiensi dan efektifitas investasi. Karena tujuan pendirian pabrik pengolahan adalah melanjutkan mata rantai dalam sistem agribisnis dari subsistem produksi ke subsistem pengolahan, hasilnya kemudian dilanjutkan ke subsistem pemasaran.

Kenyataan yang ada di beberapa daerah menunjukkan mata rantai yang terputus di dalam subsistem pengolahan hasil pertanian dengan subsistem produksi bahan baku dari petani. Akibat yang sering ditemui adalah kesenjangan antara kapasitas terpasang mesin di pabrik dengan kebutuhan dan pengaturan serta penggunaannya. Terutama untuk mesin pengering yang dibangun dengan biaya dan operasional serta pemeliharaan yang mahal namun penggunannya tidak memberikan nilai tambah ekonomis dan sosial yang baik bagi perusahaan/ pengelola apalagi masyarakat.

Hal inilah yang mendorong penulisan artikel ini untuk memberikan wacana kepada pengambil kebijakan atau manajer investasi di bidang industri pertanian (agroindustri) supaya dapat membuat mata rantai yang mengaitkan dua subsistem di dalam sistem agroindustri/ agribisnis tersebut. Bagai pelaksanaan sebuah pepatah berpikir global namun bertindak lokal (think globally, act locally), pengambil kebijakan atau manajer investasi juga perlu memeikirkan aspek-aspek yang lebih luas untuk mencari tahu bagaimana pengaruh yang mungkin timbul dari langkah taktis yang akan dibuatnya. Uang yang hilang karena kesalahan investasi masih lebih rendah nilainya daripada melakukan perbaikan atau revitalisasi fungsi mesin di pabrik karena selain menyerap dana, tenaga juga waktu yang tak ternilai harganya.

Tiga aspek yang akan dibahas dalam strategi pemilihan mesin-mesin pabrikasi untuk pengolahan hasil pertanian adalah sentra produksi dan bahan baku; teknis mesin yang sesuai dengan kebutuhan; dan sumberdaya manusia (SDM) yang akan menjadi pengelola mesin tersebut. Kendati ketiganya harus terintegrasi satu dengan yang lainnya, namun mesin dan (SDM) dapat beradaptasi karena ditunjang dengan kemampuan pembuat mesin dan sistem pelatihan yang akan dirancang oleh pengelola. Baik melalui kerjasama dengan pembuat mesin maupun dirancang sendiri oleh pengguna.

SENTRA PRODUKSI DAN BAHAN BAKU

Pembentukan sentra produksi bahan baku melalui pelaksanaan pewilayahan komoditi atau penetapan areal produksi merupakan persyaratan utama untuk memikirkan pemilihan mesin dan skala pabrikasi yang akan dibuat. Karena di antara pabrik dan mesin dengan sentra produksi ini ada jarak dan waktu yang harus ditempuh. Selain itu, terdapat pertimbangan jumlah bahan baku yang tersedia dari sentra produksi dan jenis transportasi yang akan digunakan, dan kapasitas angkutnya. Jika semua ini tidak masuk dalam perhitungan maka kelak jadi kendala dan meningkatkan biaya produksi. Selanjutnya menurunkan daya saing karena nilai jual produk akan kalah bersaing dengan produk sejenis di persaingan pasar. Kondisi yang kurang ideal telah terjadi di beberapa pabrik pengolahan kakao, kelapa dan padi di pulau Jawa yang berada jauh dengan sentra bahan bakunya. Pada pabrik pengolahan kakao terjadi kesalahan hanya karena mementingkan berdirinya pabrik saja, sedangkan pada pengolahan kelapa karena areal perkebunan kelapa dan padi sudah terdesak dengan kepentingan lain seperti sarana pariwisata, pembangunan perumahan dan tekanan jumlah penduduk yang semakin meningkat setiap tahun.

Kondisi ideal yang sering kita temui adalah pendirian pabrik pengolah kelapa sawit di tengah- tengah sentra perkebunan sawit. Kondisi ini semakin ideal karena ditunjang oleh penggunaan sistem kemitraan dimana terjadi pola inti dan plasma atau Pola Inti Rakyat (PIR). Hal demikian membuat pengelola pabrik atau perusahaan dapat menghitung/mengendalikan biaya produksi melalui biaya transportasi bahan baku.

Pembentukan sentra produksi selain mementingkan kelangsungan pabrik dalam jangka waktu 25-40 tahun mendatang, tapi juga ada kepastian hukum dari pemerintah setempat untuk mempertahankan sebagian wilayahnya sebagai sentra pertanian yang akan menghasilkan bahan baku. Bahkan harapan yang juga ditunggu bagi investor dan pengusaha daerah adalah ketersediaan infra struktur seperti jalan, listrik, dan komunikasi yang memudahkan jalannya bisnis mereka. Rincian pemikiran untuk pembentukan sentra produksi ini dapat dibaca pada bagian “Perencanaan Kawasan Agroindustri” .

Jika sudah sentra produksi sudah ditetapkan oleh pemda dengan sosialisanya pada masyarakat dan dinas terkait, maka dapat dipastikan sudah tersedia data yang terlahir karena setimasi maupun atas kondisi aktual berupa:

77

a. Luas lahan, luas panen, produksi, identitas petani, yang dapat dikoordinasikan dan dikelola dalam wadah organisasi tingkat petani untuk mengatur luas dan jadwal panen yang sesuai dengan kapasitas tampung dan produksi dari pabrik yang akan dibangun di daerah tersebut. b. Poin a ini akan memberikan estimasi bagi perencana dan ahli keuangan dalam perhitungan biaya produksi di tingkat petani dan potensi margin yang akan diraih jika sistem usaha tani ini akan dilaksanakan dengan atau tanpa sistem kemitraan.

PRINSIP TEKNIS MESIN-MESIN PERTANIAN

Prinsip dasar penggunaan mesin-mesin pertanian didasarkan pada kebutuhan terhadap suatu alat bantu sehingga pelaku usaha di agroindustri dapat meng-hasilkan suatu produk. Alat bantu ini dapat digunakan pada tingkat penyediaan bahan baku dan pengolahannya di pabrik sehingga diperoleh bahan setengah jadi, bahan jadi yang kemudian dijadikan input produksi oleh perusahaan lain untuk mengolahnya menjadi produk siap konsumsi. Produk yang siap dikonsumsi pun perlu alat bantu lain yang berfungsi sebagai pengemas menggunakan kemasan yang berisi informasi kualitas dan kuantitas produk dan identitas pembuatnya. Oleh karena itu hampir setiap tahapan di bagian produksi bahan baku, pengolahan hasil hingga pada pemasaran hasil-hasil pertanian memerlukan mesin-mesin pertanian. Secara spesifik, mesin- mesin yang dibutuhkan dalam pemasaran lebih berorientasi pada ketersediaan sistem teknologi informasi dan fasilitas komputer untuk mendapatkan informasi dan akses pembeli. Mesin-mesin pertanian yang dibutuhkan dapat dibagi dua bagian utama yaitu untuk sarana produksi dan pengolahan hasil produksi.

1 . 1 .1 . 1 .

1 . Sarana ProduksiSarana ProduksiSarana ProduksiSarana ProduksiSarana Produksi

Mesin-mesin pertanian yang digunakan dalam sarana produksi umumnya sudah dikenal baik oleh petani karena terlibat langsung dalam kegiatannya. Mungkin tingkatan teknologinya yang berbeda karena ada yang tradsional seperti bajak, cangkul, pemotong ani-ani, hingga yang moderen seperti traktor tangan, mesin perontok gabah, irigasi sistem tetes dan sebagainya. Pemilihan mesin-mesin tersebut sebaiknya mempertimbangkan kondisi agroekologi daerah yang umumnya daerah tropis dan kondisi topografi yang bergelombang dan tingkat penguasaan masyarakat yang masih perlu peningkatan keterampilan. Tingkat keterampilan yang dibutuhkan selain untuk pengoperasian mesin juga untuk pemeliharaan dengan dukungan ketersediaan suku cadang di daerah yang sesuai dengan persyaratan mesin tersebut.

2 . 2 . 2 . 2 .

2 . Sarana PSarana PSarana PSarana PSarana Pengengengengolah Hasil Prengolah Hasil Prolah Hasil Prolah Hasil Prolah Hasil Pr oduksioduksioduksioduksioduksi P

PP P

Pada bagian mesin-mesin dibagi menjadi tigada bagian mesin-mesin dibagi menjadi tigada bagian mesin-mesin dibagi menjadi tigada bagian mesin-mesin dibagi menjadi tiga subada bagian mesin-mesin dibagi menjadi tiga suba suba subbagian ya subbagian ybagian ybagian ybagian yaitu:aitu:aitu:aitu:aitu: Pertama, untuk pengolahan dari bahan baku menjadi setengah jadi.

Tipe mesin-mesin yang dibutuhkan pada bagian ini akan digunakan untuk proses seleksi atau sortir, pencucian, penghancuran, dan pengeringan.

Kedua, untuk pengolahan dari bahan setengah jadi menjadi bahan jadi.

Tipe mesin-mesin yang dibutuhkan pada bagian ini akan digunakan untuk proses-proses penghancuran, pencampuran, pembakaran, pencetakan, pengendalian kualitas, serta pengepakan.

Ketiga, untuk pengolahan dari bahan jadi menjadi produk siap di konsumsi. Tipe mesin-mesin yang dibutuhkan terbatas pada pengepakan dan pemberian label. Ketiga subbagian ini juga masih memerlukan alat-alat bantu seperti timbangan dan alat-alat ukur dalam pengendalian kualitas.

Jika tahapan proses dalam penyediaan bahan baku dan pabrikasi dapat diketahui dengan seksama maka tahapan selanjutnya adalah menentukan kebutuhan mesin-mesin yang harus dibeli, baik karena skala prioritas dengan pertimbangan waktu dan biaya serta kemampuan pengelolanya maupun karena kebutuhan untuk memenuhi target bisnis yang telah ditetapkan dalam pembangunan suatu usaha.

Pemikiran untuk pembelian mesin-mesin pertanian mungkin dapat menggunakan tahapan dasar dalam pemilihan pengering yang menjadi ilustrasi dari logika Mujumdar, A. S. (2001). Diawali dengan penentuan target yang akan dicapai, kemudian dilakukan pemilihan awal dan kondisi informasinya, dan dilakukan pengujian dan validasi, serta evaluasi ekonomi sebelum sampai pada tahap keputusan ke penjual atau pabrik.

79

Pemikiran lanjutan yang perlu diambil dari Gambar 1. adalah tahapan validasi pilihan dengan melakukan uji coba dan indikator yang perlu digunakan dalam evaluasi ekonomi. Validasi pilihan dapat dilakukan dengan mengkaji ulang berbagai mesin yang memiliki fungsi sama supaya dapat perbandingan teknis. Contoh kasus adalah pemilihan mesin pengering yang memiliki keragaman tinggi karena masing-masing memiliki prinsip kerja yang berbeda. Pengering ada yang menggunakan sistem pemanas biasa dan sifatnya statis dan ada yang dinamis karena menggunakan ban berjalan. Bahkan sistem bahan bakar yang digunakan juga berbeda seperti bahan bakar minyak, tenaga listrik, dan kayu bakar atau tempurung kelapa. Sudah tentu ini semua akan mempengaruhi biaya produksi dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan.

Gambar. 1. Logika dasar dalam pemilihan pengering.

Pemikiran lain adalah jaminan pelayanan purna jual dari perusahaan penyedia mesin pertanian. Mereka harus memberikan perbaikan dan penyediaan suku cadang, serta pelatihan untuk pengoperasian dan pemeliharaan mesin. Hal ini mendorong pihak manajemen untuk segera mempersiapkan SDMnya sehingga dapat melaksanakan tugas perusahaan.

SDM PENGELOLA PABRIK

Sumberdaya manusia merupakan kalimat kunci yang perlu diperhitungkan dengan baik dalam pengelolaan agroindustri, terutama pada tahap pengolahan bahan baku di pabrik. Oleh karena itu, diperlukan SDM yang memiliki karakteristik dasar sebagai kandidat profesional di perusahaan. Karakteristik dasar yang dibutuhkan adalah kemauan untuk belajar dan bekerja keras disamping juga diperlukan tingkat kecerdasan dan loyalitas.

Keempat karakteristik dasar itu merupakan pondasi yang diperlukan untuk menjamin upaya teknis yang akan diberikan perusahaan sehingga mereka memiliki tingkat keterampilan operasional di pabrik. Khususnya dalam pengoperasian dan pemeliharaan mesin, serta tingkat pengamanan kerja dan suasana kerja sehingga pabrik dapat berjalan dan mencapai target produksi perusahaan.

Untuk mencapai target keterampilan operasional ini, maka perusahaan melalui departemen pengembangan harus membuat dan melaksanakan modul-modul pelatihan secara berjenjang dan berkesinambungan terhadap karyawannya. Bentuk pelatihan tersebut disesuaikan dengan tingkatan dalam pabrik. Dimulai dari tingkat operator, tingkat pemelihara (maintenance), dan hingga supervisor.

Jika target pelatihan ini tercapai maka sudah tentu memberikan konsekuensi baru bagi karyawan berupa apreasi dari perusahaan. Hal ini dapat diwujudkan kenaikan insentif, tunjangan dan gaji ataupun bonus sehingga karyawan terjaga loyalitas dan kinerjanya pada peningkatan produktivitas perusahaan. Namun demikian, upaya ini sebelum didahului dengan peningkatan produktivitas perusahaan yang dapat diukur dari peningkatan kuantitas produk, terjaganya target kualitas dan akhirnya peningkatan keuntungan perusahaan.

81

PENUTUP

Pelaksanaan dan pengembangan agroindustri di suatu daerah untuk mencapai misi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peingkatan PAD tidak hanya dilakukan dengan mendirikan sebuah pabrik canggih dengan dukugan mesin-mesin mahal dan terotomatisasi. Tetapi juga harus disinergikan dengan sentra produksi dan kemampuan produksi bahan baku yang akan diolah di pabrik, kemudian kemampuan sumberda manusianya yang harus memiliki kemampuan teknis operasional yang diperoleh melalui pelatihan secara berjenjang dan berkesinambungan.

83

T T T T

Tujuan Pujuan Pujuan Pujuan Pujuan Penulisanenulisanenulisanenulisanenulisan T

T T T

Tujuan penulisan makalah:ujuan penulisan makalah:ujuan penulisan makalah:ujuan penulisan makalah:ujuan penulisan makalah:

1. Untuk mengajukan konsep penerapan kemitraan dalam wirausaha teknologi melalui pembentukan inkubator bisnis dengan melibatkan perusahaan swasta yang bergerak di sektor jasa keuangan non bank dan sektor riil di masyarakat.

2. Untuk mengkaji potensi-potensi teknologi dan peluang bisnis yang dapat ditekuni sebagai profesi untuk mendukung agroindustri di daerah. Diharapkan peluang ini dapat dimanfaatkan oleh generasi muda berpendidikan sarjana.

Sasaran P Sasaran P Sasaran P Sasaran P

Sasaran Penulisan:enulisan:enulisan:enulisan:enulisan:

Sasaran penulisan ini adalah pihak pemerintah daerah, CEO perusahaan, Dinas Tenaga Kerja, dan perguruan tinggi yang terlibat langsung dengan problematika tenaga kerja di daerah.

INKUBATOR WIRAUSAHA

Dalam dokumen Agroindustri untuk Otonomi Daerah Indonesia (Halaman 84-94)