• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Penanaman Nilai Entrepreneurship

B. Urgensi Penanaman Nilai-nilai Entrepreneurship dalam Dunia Pendidikan

3. Strategi Penanaman Nilai Entrepreneurship

Nilai-nilai entrepreneurship dapat di tanamkan ataupun diintegrasikan menggunakan beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh masyarakat sekolah. Pengintegrasian diawali dengan mengkaji standar kompetensi lulusan dan standar isi pada satuan pendidikan dalam rangka pemetaan nilai-nilai dan kompetensi lulusan terkait dengan pendidikan entrepreneurship. Setelah mengetahui nilai-nilai entrepreneurship yang akan di integrasikan, kemudian diinfuskan kedalam mata pelajaran, proses pembelajaran, kegiatan ekstrakulikuler, pengembangan diri, kultur sekolah dan muatan lokal.

Pendidikan entrepreneurship bertujuan untuk membentuk insan indonesia yang secara utuh memiliki pemahaman dan keterampilan sebagai seorang entrepreneur. Pendidikan entrepreneurship harus diterapkan oleh seluruh warga sekolah, baik itu oleh kepala sekolah, guru, staf sekolah maupun oleh peserta didik. Nilai-nilai entrepreneurship perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum dengan memperhatikan jenis-jenis kegiatan di sekolah yang dapat merealisasikan pendidikan entrepreneurship, pengintegrasian nilai-nilai entrepreneurship yaitu sebagai berikut:

a. Integrasi ke dalam mata pelajaran

Nilai-nilai entrepreneurship diinternalisasikan ke dalam pembelajaran sehingga diperoleh kesadaran, terbentuknya karakter entrepreneur, dan pembiasaan dalam tingkah laku sehari-hari. Semua mata pelajaran mempunyai peluang yang sama untuk menerima nilai-nilai tersebut.

Pelaksanaannya integrasi melewati tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Pada tahap perencanaan, dilakukan dengan cara mengadaptasi silabus dan

RPP dengan menambahkan pada materi, langkah-langkah, dan penilaian terhadap nilai-nilai entrepreneurship. Prinsip pembelajarannya ialah mengusahakan peserta didik dapat menerima, merespons, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan menginternalisasikan nilai-nilai entrepreneurship menjadi karakter.

b. Integrasi ke dalam kegiatan ekstrakulikuler

Kegiatan ekstrakulikuler adalah kegiatan pendidikan yang berada di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling. Tujuannya adalah untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan bakat, minat, dan potensi, serta tumbuhnya kemandirian yang berguna untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Contoh kegiatan yang dapat diberi muatan entrepreneurship adalah seni budaya, pramuka, olahraga, koperasi, dan lain-lain. Dalam mengikuti kegiatan ekstrakuikuler kewirausahaan harus sudah mengikuti mata pelajaran kewirausahaan.

c. Pengembangan diri

Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan karakter atau kepribadian, termasuk karakter entrepreneur. Dilakukan melalui kegiatan bimbingan dan konseling berkenaan dengan masalah pribadi, sosial, belajar, pengembangan karier dan kegiatan ekstrakulikuler. Pengembangan diri secara khusus bertujuan untuk mengembangkan bakat, minat, potensi, kreativitas, kebiasaan, keagamaan, kemampuan belajar, kegiatan sosial, wawasan dan perencaaan karir, kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian.

Kegiatan pengembangan diri dapat dibedakan menjadi kegiatan terprogram dan kegiatan tidak terprogram. Kegiatan terprogram adalah kegiatan yang direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Kegiatan tidak terprogram adalah kegiatan yang tidak rencanakan secara khusus dan dilaksanakan langsung oleh pendidikan dan tenaga pendidikan serta diikuti oleh seluruh peserta didik.

Dalam program pengembangan diri, perencanaan dan pelaksanaan pendidikan kewirausahaan dapat dilakukan memalui pengeintegrasian kedalam kegiatan sehari-hari disekolah misalnya kegiatan “business day” (bazar, karya peserta didik, dll).24

d. Perubahan pembelajaran dari teori ke praktik berwirausaha

Perubahan pembelajaran dari teori ke praktik berwirausaha diarahkan pada pencapaian tiga kompetensi yang meliputi penanaman karakter entrerpreneur, pemahaman konsep, dan skill. Bobot kompetensi karakter dan skill entrepreneur lebih besar dibandingkan dengan pemahaman konsep.

Pembelajaran entrepreneurship diharapkan mampu membentuk karakter entrepreneur yang mantap dalam diri peserta didik. Selain itu, pembelajaran entrepreneurship juga diharapkan dapat membentuk peserta didik yang terampil dalam mengimplementasikan ide-ide kreatif yang keluar dari karakter entrepreneur. Oleh karena itu, model pembelajaran entrepreneurship hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif dalam menginternalisasikan nilai-nilai entrepreneur melalui pelaksanaan tugas-tugas mendiri.

24 http://www.google.com/amp/s/akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/06/29/konsep- kewirausahaan-dan-pendidikan-kewirausahaan/amp/. diakses 21:53 WIB, 01/12/2016.

Salah satu model pembelajaran entrepreneurship yang dapat membentuk karakter dan perilaku entrepreneur ialah model project-based learning yaitu model pembelajaran yang berfokus pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama (central) dari suatu disiplin, melibatkan peserta didik dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainnya, memberi peluang peserta didik bekerja secara otonom mengkonstruksi belajar mereka sendiri, dan puncaknya menghasilkan produk karya peserta didik bernilai dan realistik.25

e. Integrasi ke dalam buku ajar

Pendidikan entrepreneurship dapat diintegrasikan ke dalam buku ajar baik dalam pemaparan materi, tugas maupun dalam evaluasi. Jadi, guru harus kreatif memadukan nilai-nilai entrepreneurship ke dalam buku ajar.

f. Integrasi ke dalam kultur sekolah

Budaya sekolah/madrasah merupakan sesuatu yang dibangun dari hasil pertemuan antara nilai-nilai (value) yang dianut oleh kepala sekolah/madrasah sebagai pemimpin dengan nilai-nilai yang dianut oleh guru-guru dan para karyawan yang ada dalam sekolah/madrasah tersebut. Nilai-nilai tersebut dibangun oleh pikiran-pikiran manusia yang ada dalam sekolah/madrasah. Pertemuan pikiran-pikiran manusia tersebut kemudian menghasilkan apa yang disebut dengan “pikiran organisasi” ( Kasali, 2006). Dari pikiran organisasi itulah kemudian muncul dalam bentuk nilai-nilai yang diyakini bersama, dan kemudian nilai-nilai tersebut akan menjadi bahan utama pembentukan budaya sekolah/madrasah. Dari budaya tersebut kemudian muncul dalam berbagai simbol dan tindakan yang kasat indra yang dapat diamati dan dirasakan dalam kehidupan sekolah/madrasah sehari-hari. 26

Ketika nilai-nilai entrepreneurship sudah menjadi kultur sekolah maka hal ini menjadi indikator keberhasilan pendidikan entrepreneurship. Kultur sekolah adalah suasana kehidupan sehari- hari di sekolah di mana ada interaksi antarwarga sekolah dengan masyarakat. Warga sekolah saling berinteraksi dengan

25

Barnawi & Mohammad Arifin, School Preneurship, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2012), h. 133.

26

Muhaimin dkk., Manajemen Pendidikan Aplikasinya Dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, ( Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), h. 48.

menggunakan prinsip kejujuran, komitmen, tanggung jawab, optimis, kreatif, dan lain-lain.

Kemajuan suatu sekolah sangat ditentukan oleh budaya sekolah yang tertanam dalam setiap diri warga sekolah. Hal ini cukup beralasan karena budaya sekolah yang mengandung kekuatan yang dapat menggerakkan kehidupan sekolah. Budaya sekolah mengarahkan pikiran, ucapan, dan tindakan seluruh warga sekolah. Budaya sekolah yang terkonsep dengan baik sesuai dengan tujuan sekolah memiliki nilai strategis, daya ungkit untuk berprestasi sekaligus mengantarkan warga sekolah pada gerbang kesuksesan. Namun, apabila budaya sekolah tidak dikelola dengan baik, dibiarkan liar begitu saja justru membahayakan keberlangsungan hidup sekolah.27

Tidak mudah menumbuhkan budaya atau semangat entrepreneurship di dalam diri seseorang. Oleh sebab itu diperlukan strategi-strategi jitu di antaranya adalah:

1) Melalui komitmen pribadi

Jiwa entrepreneur ditandai dengan adanya komitmen pribadi untuk dapat mandiri, mencapai sesuatu yang diinginkan, menghindari ketergantungan pada orang lain, agar lebih produktif dan untuk memaksimalkan potensi diri.

2) Lingkungan dan pergaulan yang kondusif

Dorongan untuk menumbuhkan jiwa wirausaha dapat berasal dari lingkungan pergaulan teman, famili, sahabat, karena mereka dapat berdiskusi tentang ide wirausaha, masalah yang dihadapi dan cara–cara mengatasinya. Sehingga mempunyai semangat, kemampuan dan pikiran untuk menaklukan cara berpikir lamban dan malas.

27

Barnawi & Mohammad Arifin, Mengelola Sekolah Berbasis Entrepreneurship, ( Jogjakarta: Ar- ruzz Media, 2013), h. 67.

3) Pendidikan dan pelatihan

Keberanian untuk membentuk jiwa entrepreneur juga didorong oleh guru atau dosen disekolah atau lembaga pelatihan. Mereka memberikan mata pelajaran entrepreneurship yang praktis dan menarik sehingga membangkitkan minat siswa untuk berentrepreneurship (berwirausaha).

4) Keadaaan terpaksa

Banyak orang yang sukses karena dipaksa oleh keadaan. Mungkin pada awalnya tujuannya hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Tetapi karena usahanya yang keras, tidak gampang menyerah dan berputus asa, sehingga akhirnya menjadi entrepreneur yang sukses.

5) Proses berkelanjutan

Menjadi entrepreneur tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan. Ia membutuhkan proses yang panjang dan melelahkan. Maka setiap orang yang memutuskan untuk menjadi entrepreneur harus sadar bahwa ia sedang menempuh sebuah proses yang panjang dan berkelanjutan.

6) Otodidak

Melalui berbagai media seseorang bisa menumbuhkan semnagat berwirausaha. Misalnya melalui biografi pengusaha sukses (success story), media televisi, radio majalah koran dan

berbagai media yang dapat diakses untuk

menumbuhkembangkan jiwa wirausaha yang ada di diri seseorang. 28

Jadi, dalam menumbuhkan budaya entrepreneurship disekolah harus dimulai dengan komitmen antara orang yang berada dalam organisasi seperti sekolah, lingkungan pun harus mendukung seperti adanya pelatihan-pelatihan entrepreneur

28

Herni Ali, dkk, Teologi Entrepreneurship, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,2010) , cet. I, h. 72.

dan pembelajaran entrepreneur disekolah dan menumbuhkan budaya entrepreneurship pun harus berkelanjutan.

g. Integrasi kedalam muatan lokal

Mata pelajaran ini mememberikan peluang kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya yang diangap perlu oleh daerah yang bersangkutan. Mata pelajaran muatan lokal harus memuat karakteristik budaya lokal, nilai-nilai luhur setempat, keterampilan, mengangkat masalah sosial dan lingkungan. Dengan demikian pada akhirnya diharapkan peserta didik memiliki keterampilan hidup sebagai bekal dalam kehidupan untuk menciptakan lapangan kerja secara luas.29

Berdasarkan uraian yang dikemukakan diatas, startegi penanaman nila-nilai entrepreneurship itu melalui beberapa cara yaitu melalui mata pelajaran, ekstrakulikulier, pengembangan diri, praktik berwirausaha, buku ajar, kultur sekolah, muatan lokal yang secara bertahap yang implementasikan oleh sekolah sesuai dengan kebutuhannya dan jenjang pendidikannya.

4. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat dalam melakukan