BAB III BENTUK-BENTUK PENDAMPINGAN PASTORAL
K. Strategi Pendampingan Pastoral Bagi Jemaat
Sejak awal perintisan, para pemimpin gereja JKI Injil Kerajaan melakukan serangkaian proses yang telah tersistem untuk dapat diakui menjadi jemaat. Bagi jemaat yang hendak mendaftar baptisan air, mereka harus mengikuti kelas pengajaran atau biasa disebut katekisasi. Pada hari pertama jemaat yang hendak dibaptis akan diajar tentang kasih bapa, keselamatan dan ketuhanan Yesus. Hari kedua akan diajar tentang pribadi Roh Kudus dan baptisan Roh Kudus. Hari terakhir di dalam kelas katekisasi, calon baptisan akan diajar tentang pribadi Tuhan dan pengenalan gereja lokal. Kelas pengajaran dilakukan selama tiga hari berturut-turut sebelum dilaksanakan baptisan air.
76
Didasarkan pada analisa wawancara kepada beberapa anggota jemaat, baik pada saat selesai ibadah, maupun di daerah pemukiman jemaat JKI Injil Kerajaan pada rentang waktu 5 – 20 Oktober 2011.
72
Kelas pengajaran yang lain diadakan bagi pasangan pra nikah, atau biasa disebut dengan konseling pernikahan. Apabila ada jemaat yang hendak menikah, mereka harus mendaftarkan diri terlebih dahulu untuk dapat dijadwalkan pada kelas konseling pernikahan. Kelas ini berlangsung selama enam bulan. Adapun mekanisme dalam kelas ini adalah pasangan tersebut menghadap kepada konselor secara pribadi untuk dapat dilakukan proses konseling. Langkah selanjutnya pasangan akan diberi dua buku yang wajib untuk dibaca, untuk kemudian akan dibahas bersama dengan konselor. Selain dari pada itu, pasangan juga diwajibkan untuk mengisi kuesioner yang berupa tes kejujuran dari tes pertama sampai dengan tes kesepuluh. Proses ini sedemikian rupa dibuat dengan landasan bahwa pernikahan adalah hal yang sakral dan dilakukan satu kali seumur hidup. Di samping itu, para pemimpin gereja mempunyai pandangan bahwa melalui konseling pernikahan yang matang, mereka telah mempersiapkan satu generasi baru77 melalui pasangan tersebut.
Banyaknya ragam kelas pengajaran merupakan sebuah strategi untuk dapat mengetahui situasi dan kondisi dalam jemaat. Ini semua dilakukan dengan teratur dan rapi berlandaskan sebuah paradigma bahwa gereja adalah keluarga, sehingga nilai-nilai yang dibagikan harus sama sebagai sebuah keluarga.78 Untuk mendukung penanaman nilai-nilai tersebut, maka dibuat sebuah sistem administrasi di dalam gereja yang teratur, sehingga gereja mempunyai data lengkap dari jemaat.
Pada saat jemaat baru hendak bergabung, mereka diwajibkan mengisi sebuah form yang berisi data pribadinya, menyangkut alamat dan pekerjaannya. Dari data tersebut, petugas administrasi gereja memasukkan datanya ke dalam sistem komputer
77
Diolah dari VCD Building Your Life “JKI Profile”, Life Production 2003, Media JKI Injil Kerajaan 78
73
untuk mempermudah pendataan jemaat. Di dalam program komputer tersebut sudah memuat informasi lengkap berkenaan dengan jemaat, termasuk data-data dan catatan-catatan pribadinya. Data ini terus di-up date berdasarkan perkembangan jemaat yang ada. Apabila terjadi perpindahan atau masalah di dalam jemaat tertentu, maka informasi tersebut akan segera dimasukkan ke dalam catatan pribadi jemaat. Sistem komputerisasi yang dibuat, juga didesain untuk melihat statistik jemaat per wilayah di Semarang. Oleh sebab itu, jumlah jemaat dari tahun ke tahun dapat terpantau secara signifikan.
Strategi penanganan jemaat pada awal masuk menjadi jemaat, merupakan sebuah langkah awal penyaringan “masalah” di dalam jemaat. Berbagai masalah yang telah terdeteksi sejak dini dapat ditangani lebih cepat. Bila digeneralisasi, berdasarkan pelaku pastoral, yaitu Pdm. Victor Purnama masalah yang berkembang di jemaat adalah masalah ekonomi dan hubungan sosial, baik dalam micro sosial maupun makro sosial. Penanganan bagi jemaat yang mengalami masalah akan lebih mudah, karena para pelaku pastoral telah sedikit memahami karakteristik jemaat pada saat awal masuk menjadi jemaat.
Strategi dalam menangani permasalahan ekonomi yang terjadi di dalam jemaat adalah
1. Gereja menjadi fasilitator. Pihak gereja berusaha menjembatani jemaat kelas menengah ke atas dengan menengah ke bawah. Jemaat yang membutuhkan pekerjaan akan disalurkan kepada jemaat yang mempunyai perusahaan.
2. Memperlengkapi jemaat dengan keterampilan. Jemaat yang belum memiliki
74
Kerja milik gereja. Seusai mengikuti pelatihan tersebut, jemaat akan difasilitasi sampai mendapat pekerjaan.
3. Membukakan ladang pekerjaan. Gereja membutuhkan banyak pekerja guna merawat area gereja yang sangat luas dan mendukung ragam kegiatan gereja yang bervariasi. Jemaat mendapatkan prioritas apabila gereja membuka tempat pekerjaan yang baru. Alhasil, banyak jemaat yang bekerja di areal gereja, baik sebagai security, sopir, guru sekolah, petugas kantin, perawat taman, perawat lapangan sepak bola, staf sekolah dan staf gereja.
4. Beasiswa. Bagi jemaat yang mengalami kesulitan dalam hal pendidikan, gereja memberikan beasiswa secara subsidi ataupun secara penuh. Bahkan bagi jemaat yang mengalami kendala transportasi menuju ke sekolah, gereja memberikan bantuan bus sekolah gratis kepada jemaatnya.
5. Membuka kelas bisnis. Bagi jemaat yang mempunyai usaha sendiri, gereja memberikan pelatihan–pelatihan bisnis yang alkitabiah. Para trainer yang telah berhasil di bidangnya diundang sebagai fasilitator. Langkah ini diambil sebagai sarana memberi dasar pemahaman bisnis yang alkitabiah, sarana motivasi, menjadi solusi kebuntuan bisnis, sekaligus bentuk pendampingan pastoral kepada jemaat kelas menengah ke atas.
6. Menyediakan konsultan. Gereja menyediakan konsultan bisnis bagi para pelaku dunia usaha. Ada beberapa jemaat yang memang bekerja sebagai konsultan bisnis. Kekuatan dalam diri jemaat inilah, yang kemudian dikembangkan untuk disalurkan kepada jemaat lainnya.
75
Bagi jemaat yang mempunyai permasalahan sosial, baik dalam keluarga maupun kepada masyarakat sekitarnya, gereja menjadi pendamping dalam menemukan solusi atas permasalahannya tersebut. Upaya yang dilakukan oleh gereja adalah secara proaktif melakukan pendampingan bagi keluarga yang mengalami masalah. Ujung tombak dari pastoral adalah para pemimpin Mezbah Keluarga (kelompok sel). Para pemimpin Mezbah Keluarga inilah yang secara intens melakukan pendampingan secara signifikan. Bila diketemukan masalah yang dibutuhkan penanganan khusus, maka pemimpin Mezbah Keluarga akan berkoordinasi dengan pendeta setempat.
Untuk membiasakan jemaat bersentuhan langsung dengan masyarakat umum, gereja memfasilitasi dengan menyelenggarakan pasar murah. Kegiatan ini menuntut kerjasama dari jemaat untuk dapat melayani pembeli yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Melalui kegiatan ini, gereja mengajarkan jemaat untuk peduli kepada sesama, terutama bagi orang yang membutuhkan. Rasa sosial jemaat juga dipupuk melalui kegiatan ini. Langkah ini diambil sebagai strategi dalam mengatasi problem jemaat yang kurang bisa bersosialisasi dengan masyarakat luas.