• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pendidikan Karakter

BAB II PEMBENTUKAN KARAKTER DASAR

C. Proses Penerapan Pendidikan Karakter

1. Strategi Pendidikan Karakter

Betapa pentingnya disiplin sehingga banyak perusahaan dan Lembaga mengejar predikat dalam sistemnya dengan label setifikat ISO yang inti didalamnya adalah untuk meningkatkan kelas dengan spesifikasi kelas dunia, sehingga terjadi peningkatan pada produk, layanan, hingga memastikan kualitas dan efisiensi.

Inti dari ISO pada dasarnya hanya 2 hal. Pertama, “catat apa yang engkau kerjakan”. Kedua, “Lakukan apa yang engkau catat”.82 Tujuan dari ISO pada dasarnya adalah untuk mendidiplinkan pekerjaan, akan tetapi Ketika sebuah Lembaga atau perusahaan sudah berpredikat ISO belum juga menjadikan disiplin bagi karyawan dan pekerjaannya, maka memang demikian sifat disiplin harus dibangun dari setiap individu.

C. Proses Penerapan Pendidikan Karakter

berkesinambungan. Pendekatan pendidikan moral tersebut adalah:

pembiasaan dan pembudayaan, memberikan pengetahuan tentang hal-hal yang baik, memberikan pengetahuan akan rasa mencintai kebaikan, bertindak terpuji, bercermin pada hal-hal yang baik dari lingkungan sekitar, dan bertaubat.85

Lebih lanjut penjabaran atas strategi diatas sebagaimana dijelaskan oleh fadhilah, dkk dalam tujuh strategi sebagai berikut;

a. Strategi pertama adalah strategi yang mengajarkan pengetahuan tentang budi pekerti atau Moral Knowing. Strategi ini adalah aspek pertama yang memiliki enam fondasi yaitu kesadaran moral, pengetahuan tentang nilai-nilai moral, penentuan sudut pandang, logika moral, kebenaran mengambil menentukan sikap, dan pengenalan diri.86

Implementasi strategi ini bisa diterapkan dengan diskusi atau analisa film. Hal yang paling ditekankan dalam strategi moral knowing ini, bagaimana pendidik dapat membuat peserta didik memahami akan karakter yang baik dan yang manakah perangai yang buruk. Selain itu, para peserta didik juga bisa merasakan perbedaan dari nilai yang ditanamkan, apakah memberikan dampak yang baik ataukah negatif. Hal ini bermaksud agar para peserta didik bisa lebih arif dan bijaksana dalam mengklarifikasi nilai-nilai yang akan menjadi kebiasaan dalam kesehariannya sehingga mereka tidak akan goyah dari pengaruh buruk di lingkungan masyarakat.87

b. Strategi kedua adalah strategi Moral Modelling. Secara umum dalam dunia pendidikan, metode ini dipandang sebagai strategi yang paling efektif dalam menumbuhkan karakter positif. Pendidik memberikan contoh ucapan atau perbuatan yang baik untuk ditirukan oleh peserta

85 Fadhilah, Pendidikan Karakter, 49.

86 Sudrajat, Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah (Bandung: Pustaka Setia, 2011), 50.

87 Cahyono, “Pengaruh Media Sosial Terhadap Perubahan Sosial Masyarakat Di Indonesia,” Jurnal Ilmu Sosial & Ilmu Politik Diterbitkan Oleh Fakultas Ilmu Sosial & Politik, Universitas Tulungagung 9 (2016): 87.

didik sehingga mereka pun memiliki ucapan dan perbuatan yang baik.88

Seringkali dikatakan bahwa “Nilai-nilai hidup adalah didapatkan, bukan diajarkan.” Hak tersebut merupakan kenyataan yang setengah benar. Kebenaran yang sebenarnya adalah nilai-nilai hidup didapatkan melalui contoh atau teladan yang baik dan diajarkan melalui penjelasan langsung.89

Dalam penerapan strategi ini guru merupakan model utama yang mencontohkan ucapan, sikap, prilaku dan Tindakan baik yang akan dijadikan teladan bagi peserta didik. Seperti dalam filosofi jawa bahwa guru itu digugu dan ditiru jika prilaku guru tidak mencerminkan karakter baik tentu peserta didik akan jauh melebihi itu.

c. Strategi ketiga adalah menumbuhkan rasa mencintai kebaikan.

Moral loving berakar dari pola pikir. Bagi yang berpikir positif terhadap unsur-unsur kebaikan maka dia akan merasakan arti dari perilaku positif tersebut. Jika seseorang telah merasakan dampak yang bermanfaat dari tabiat baiknya maka rasa itu akan menumbuhkan cinta pada perbuatan-perbuatan yang baik.90

Setiap manusia tercipta dalam kondisi fitrah. Fitrah merupakan symbol kebaikan yang didalamnya terdapat banyak factor yang mempengaruhinya. Perasaan cinta pada kebaikan akan meningkatkan hakikat manusia secara utuh dan menjadi motifasi untuk terus melakukan kebaikan.

Dalam implementasinya, strategi ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan action approach yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk bertindak dan menerapkan tindakan-tindakan yang mereka anggap terpuji. Dengan

88 Fadhilah, Pendidikan Karakter, 50.

89 Thomas Lickona, Mendidik Untuk Membentuk Karakter: Bagaimana Sekolah Dapat Memberikan Pendidikan Sikap Hormat Dan Bertanggung Jawab, 119.

90 Fadhilah, Pendidikan Karakter, 50.

memberikan pengetahuan akan rasa mencintai kebaikan maka peserta didik akan menjadi manusia yang berkarakter dan memperkuat emosi peserta didik akan kepribadian yang baik.

Penguatan ini berhubungan dengan wujud sikap yang harus dirasakan oleh peserta didik, yaitu kesadaran akan jati diri yaitu percaya diri, empati terhadap derita orang lain, menyukai kebaikan, pengendalian diri, dan kerendahan hati.91

d. Strategi keempat adalah Moral Acting. Dalam penerapannya, Moral Acting akan secara tidak langsung akan tumbuh setelah peserta didik memiliki pengetahuan akan karakter terpuji, bercermin pada teladan mereka, dan mampu membedakan nilai positif dan sebaliknya sebagaimana pengetahuan dan pengalamannya terhadap nilai-nilai yang akhirnya membentuk perilakunya. Sikap positif yang tertanam dan dilandasi oleh ilmu pengetahuan, pemahaman, kemandirian, perasaan, dan rasa cinta maka akan memberikan keahlian yang berharga dalam dirinya.92

Peran siswa dalam sebuah pembelajaran akan sangat menentukan hasil akhirnya. Seperti contoh siswa yang usianya lebih tua dapat diberi tanggungjawab yang lebih rumit perannya dalam pembelajran seperti menjadi fasilitator, asisten menentukan giliran, serta mengamati jalannya diskusi.93 Kegiatan semacam itu akan menjadi penting dalam menumbuhkan karakter seorang siswa karena berperan aktif dalam pembelajran.

e. Selanjutnya pada strategi kelima yaitu strategi tradisional, peserta didik diberitahukan secara langsung akan nilai-nilai mana yang baik dan mana yang buruk. Strategi ini juga disebut dengan strategi nasihat. Dalam strategi ini, guru memberikan bimbingan dan

91 Sudrajat, Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, 51.

92 Fadhilah, Pendidikan Karakter, 51.

93 Thomas Lickona, Mendidik Untuk Membentuk Karakter: Bagaimana Sekolah Dapat Memberikan Pendidikan Sikap Hormat Dan Bertanggung Jawab, 236.

pengarahan kepada peserta didik untuk menuju kepribadian positif yang dapat diterima masyarakat pada umumnya.94

Nasihat sendiri dalam Bahasa arab disebut juga Mau’idzah Hasanah. Mau'izhah berasal dari kata wa'azha, yang artinya memberi pelajaran akhlak/karakter yang terpuji serta memotivasi pelaksanaannya dan menjelaskan akhlak/karakter yang tercela serta memperingatkannya atau meningkatkan kebaikan dengan apa-apa yang melembutkan hati. Adapun nasehat adalah kata yang terdiri dari huruf nun-shad dan ha yang ditempatkan untuk dua arti, yakni murni atau tetap, berkumpul dan menambal. Dikatakan, “nashaha asy-syaiˋ, maksudnya benda itu asli atau murni, karena orang yang menasehati pada dasarnya sedang memurnikan orang yang dinasehati dari kepalsuan. Jadi nasehat adalah memerintah atau melarang atau menganjurkan yang dibarengi dengan motivasi dan ancaman. Strategi nasehat adalah strategi yang penting digunakan untuk menggugah perasaan peserta didik.95

Strategi ini bisa dilaksanakan dengan cara-cara yang lembut dan menyentuh hati. Nasihat pada dasarnya adalah kebaikan tetapi Ketika dilakukan dengan cara yang tidak baik tentu menjadikan penerima nasihat tidak bisa menyerap inti dari kebaikan tersebut.

f. Adapun pada strategi keenam yaitu strategi Hadiah dan Hukuman.

Hadiah dalam bahasan Arab ialah Tsawâb dan Hukuman ialah 'Iqâb, dalam pandangan Islam/bahasa Arab hadiah diistilahkan dengan tsawâb. Artinya “pahala, upah, dan balasan”. Kata ini banyak dikemukakan dalam Al-Quran, khususnya ketika Al-Quran berbicara tentang apa yang akan diterima seseorang berupa balasan baik ketika berada di dunia maupun di akhirat. Tsawâb merupakan penghargaan yang didaptkan oleh seseorang karena suatu perbuatan,

94 Fadhilah, Pendidikan Karakter, 52.

95 Samsul Nizar dan Zainal Efendi Hasibuan, Hadits Tarbawi: Membangun Kerangka Pendidikan Ideal Perspektif Rasulullah (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), 75–76.

sikap, atau tingkah laku positifnya, baik penghargaan yang sifatnya materi maupun non materi.

Sementara 'iqâb atau hukuman adalah suatu bentuk kerugian atau kesakitan yang ditimpakan kepada orang yang berbuat salah.

Hukuman adalah suatu cara yang sederhana untuk mencegah terjadinya pelanggaran terhadap peraturan, dengan tujuan agar tidak terulangnya perbuatan itu lagi dan untuk mencegah peserta didik lain tidak menirunya.96

Selanjutnya hukuman dalam Islam, termasuk salah satu alat untuk mendidik umat agar selalu melaksanakan syari’at Islam, melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

Rasulullah SAW juga membolehkan orang tua dan pendidik memukul anak-anak yang berbuat kesalahan, apabila anak yang sudah berusia sepuluh tahun, namun tidak mau melaksanakan shalat.

Strategi hadiah dan hukuman adalah strategi yang efektif sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran dan kehati-hatian peserta didik, agar tetap dalam jalan-Nya. Hanya saja, dalam memberikan kedua strategi ini harus memperhatikan teknik dan pendekatan yang tepat. Teknik dan pendekatan yang salah, dapat mengakibatkan kedua Strategi tersebut tidak memberi manfaat ataupun hasil apa-apa.97

g. Pada strategi yang ketujuh ini, yaitu strategi pembiasaan, akan menggunakan pendekatan action yang cukup ampuh ditunjukkan (dicontohkan bagaimana seharusnya bersikap atau memberikan teladan) oleh para guru dalam menumbuhkan karakter positif pada peserta didiknya.98

96 Hasibuan, Hadits Tarbawi: Membangun Kerangka Pendidikan Ideal Perspektif Rasulullah, 86–

91.

97 Hasibuan, Hadits Tarbawi: Membangun Kerangka Pendidikan Ideal Perspektif Rasulullah, 92–

96.

98 Fadhilah, Pendidikan Karakter, 53.

Strategi pembiasaan merupakan bagian paling penting dalam proses Pembentukan karakter, seperti membiasakan bersikap disilin, jujur dan tidak egois. Ketikan sifat-sifat tersebut dilakukan secara konsisten tentuk akan tertanam dalam diri peserta didik dan akan menjadi karaktar dalam diri peserta didik tersebut.

Dokumen terkait