Studi ini didekati dengan sejumlah tahapan kegiatan/aktivitas sebagai berikut: 1. Persiapan : Rekrutmen Aslok, Penyiapan Lapangan dan Pengumpulan Data Sekunder
Pada tahap persiapan, akan direkrut 1 (satu) orang Asisten Lokal di masing-masing kota lokasi studi dengan mempertimbangkan sejumlah kriteria: (a) berdomisili di kota lokasi penelitian yang telah ditentukan, (b) pernah terlibat dalam kegiatan penelitian/pendampingan, serta (c) mempunyai relasi yang luas dengan berbagai pihak yang terkait untuk keperluan studi ini, (d) mampu mengorganisir suatu kegiatan diskusi. Asisten lokal ini juga sekaligus membantu proses penyiapan teknis di lokasi studi, seperti penginapan, transportasi dan beberapa informasi awal terkait kelurahan yang menjadi lokasi penelitian.
Terkait dengan data skunder, dilakukan pengumpulan data awal seperti Pedoman Umum P2KP tahap 2, P2KP tahap 3, dan PNPM-Mandiri Perkotaan, laporan studi/kajian yang sejenis, dan potret Kota dalam angka.
2. Penyusunan Disan Studi
Desain penelitian merupakan deskripsi yang lebih detail tentang metode dan tahap-tahap yang harus dilakukan selama penelitian dilakukan. Disain studi akan menjadi cetak biru pelaksanaan penelitian ini. Di dalamnya akan dituangkan mengenai lokasi penelitian; panduan wawancara yang sudah final untuk keperluan SSI, FGD, wawancara biografi berdasarkan informasi yang dibutuhkan guna menjawab pertanyaan penelitian; rencana dan jadual kerja; analisis data; serta outline laporan yang lebih detail. Dalam menyusun desain studi ini tim sudah mendapatkan masukan yang cukup banyak dari konsultan kajian evaluasi, maupun expert lainnya yang terkait (ahli kualitatif dan ahli gender), baik yang diperoleh dalam workshop persiapan yang
dilaksanakan oleh proyek, maupun yang diperoleh dalam konsultasi langsung dengan tim kajian evaluasi.
3. Field Study: Pengumpulan Data Primer
Setelah disain studi dan panduan pertanyaan pokok telah selesai disusun, tim akan turun lapangan guna mengumpulkan data primer. Sesuai dengan pendekatan yang telah ditentukan, pengumpulan data dilakukan dengan FGD, SSI dan wawancara biografi. Dalam kerja lapangan ini, tim dibagi 2, yaitu: Tim Jender A, terdiri dari 4 (empat) peneliti yang akan melakukan pengumpulan data di 6 kota (Makasar, Gorontalo, Medan, Bengkulu, Surabaya dan Pasuruan); dan Tim Jender B, terdiri dari 2 (dua) peneliti yang secara terfokus akan melakukan pengumpulan data di Bima dan Mataram, Nusa Tenggara Barat. Tim peneliti akan selalu menyampaikan perkembangan dalam pelaksanaan studi di lapangan kepada tim konsultan evaluasi (melalui email, telepon, tatap muka atau sms).
Waktu yang digunakan untuk penelitian lapangan sekitar 2 bulan lebih yaitu pada bulan ke-3 an bulan ke-4. Karena penelitian ini dilakukan pada 6 kota yang berbeda (kecuali Mataram dan Bima) oleh 4 oprang peneliti, dengan tiap kota terdiri dari dua kelurahan, maka masing-masing kota akan dilakukan penelitian selama 10 hari. Untuk Mataram dan Bima akan dilakukan secara terpisah oleh 2 orang peneliti yang berbeda dengan durasi penelitian lapangan sekitar 15 hari untuk setiap kelurahan. Sebagai
catatan, jadwal penelitian untuk kota Lhokseumawe dan Banda Aceh akan
dibicarakan kemudian.
4. Analisis Data
Sesuai dengan prosedur penelitian kualitatif, proses analisis data dimulai dengan: pertama, mempelajari seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber baik yang didapat dari penelusuran dokumen (data sekunder), FGD, maupun wawancara (data primer). Pada tahap ini, data dikelompokkan dan dipelajari guna melihat relevansinya
terhadap aspek-aspek yang dikaji dalam penelitian. Kedua, melakukan reduksi data dengan jalan membuat abstraksi; yakni dengan membuat rangkuman inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga konsistensinya sehingga tetap dalam koridor tema penelitian. Pada tahap ini Peneliti membuat ringkasan terhadap substansi berbagai dokumen sekunder, salinan catatan lapangan, maupun transkrip atas proses FGD dan wawancara mendalam. Ketiga, membuat satuan dan kategorisasi. Dalam hal ini, kategorisasi dilakukan terhadap data primer hasil wawancara untuk kemudian dipilah-pilah berdasarkan aspek-aspek yang diteliti.
Data hasil penelitian lapangan kemudian diolah dan dianalisis oleh tim peneliti selama kurang lebih 1 bulan pada bulan ke-5. Pengolahan dan analisis data dilakukan melalui serangkaian diskusi internal dan lokakarya analisis. Hasil pengolahan data selanjutnya dijadikan bahan untuk pembuatan laporan hasil penelitian yang disusun melalui tahapan penyusunan draft, diskusi internal, perbaikan draft, diskusi eksternal yang melibatkan pihak dari P2KP,World Bank dan narasumber dari luar pada workshop analisis di bulan ke-5; selanjutnya dilakukan finalisasi laporan pada bulan ke-enam. Output akhir yang diperoleh dari penelitian ini adalah laporan hasil penelitian tentang partisipasi perempuan pada program PNPM Mandiri perkotaan, berikut kesimpulan dan rekomendasi yang dihasilkan.
Studi ini dilakukan lintas disiplin (anthropolog, ahli jender, sosiolog, dan ahli pemberdayaan masyarakat) yang melibatkan satu orang penanggung jawab/ team leader (TL), lima orang technical assistance (TA) dari Prospera dan 1 orang local assistance di tiap kota. Penanggung jawab bertugas untuk (a) mengkoordinir keseluruhan kegiatan penelitian mulai dari persiapan, pembuatan desain penelitian, pengumpulan data, analisis data hingga final laporan. (b) melakukan koordinasi dengan sekretariat pengelola penelitian(P2KP), (c) mempertanggungjawabkan sekaligus mempresentasikan hasil penelitian kepada pengelola kegiatan (P2KP).
5. Workshop untuk Pembahasan Hasil Studi (Laporan Sementara)
Untuk melengkapi hasil studi yang tertuang dalam Laporan Sementara, akan diselenggarakan lokakarya guna mempertajam dan melengkapi temuan studi. Lokakarya analisis ini juga bertujuan untuk membantu tim dalam pengembangan pandangan penting pada hasil analisis awal dan mengusulkan rencana analisis data yang sesuai. Tim peneliti akan mempersiapkan presentasi yang komprehensif menggunakan program Power Point dan bentuk lainnya. Hasil workshop ini diharapkan dapat memperkaya hasil studi sekaligus mempermudah bagi tim dalam merumuskan berbagai rekomendasi dan rencana tindaklanjut yang diperlukan sesuai maksud dan tujuan studi.
6. Penyusunan Laporan Final
Temuan-temuan studi akan dituliskan dalam sebuah laporan. Analisis akan dibuat berdasarkan kategori-kategori yang diperlukan sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian. Selanjutnya Tim Peneliti akan mempresentasikan temuan-temuan studi dan terbuka terhadap konfirmasi baik yang bersifat metodologis maupun teknis studi. Laporan akhir ini akan mencantumkan strategi implementasi dan semua hasil kajian, termasuk kesimpulan dan rekomendasi. Laporan akan didahului dengan ringkasan eksekutif (executive summary) yang komprehensif namun singkat. Semua alat penelitian dan instrumen akhir yang digunakan selama kajian juga akan dilampirkan.
Diagram 3
Tahapan pelaksanaan penelitian
2.6. Strategi Penelitian
Dalam realitasnya, kegiatan kajian partisipasi perempuan ini dimulai dari kontrak kerja konsultan tanggal 15 Maret 2009 hingga 15 Novermber 2009 (saal laporan akhir ini diserahkan kepada tim Kajian Evaluasi).
Berikut rentetan kegiatan dalam pelaksanaan kajian partisipasi perempuan:
Tabel 4 Kegiatan Kajian Partisipasi Perempuan
Item kegiatan Waktu Pelaksanaan
Kontrak kerja 15 Maret, 15 April, dan 15 Mei 20096
Pelatihan di Hotel Ambara 31 Maret – 4 April 2009
Inception report 15 Mei 2009
Turun lapangan Tahap I: 18 Mei – 31 Juli 2009
Tahap II: 13 Juli – 15 Agustus (Mataram) Diskusi Berseri di PKBI Awal-15 September setiap selasa dan
Kamis
Interim report Oktober 2009
Konsultasi penulisan laporan akhir I: 13 Oktober 2009 II: 28 Oktober 2009
6 Kontrak kerja antar anggota tim tidaklah sama sehubungan dengan terjadinya pergantian anggota tim. Ada yang dikontrak 6, 5, dan 4 bulan dengan sistem pembayaran salary bulanan. Sementara itu, pekerjaan molor dan otomatis waktu bertambah dalam penulisan laporan.
III: 22 Januari 2010
Penyerahan laporan akhir 15 dan 23 November 2009
Feed Back Tim KE 4 Desember 2009
Presentasi Hasil Kajian 10 Maret 2010
Untuk kegiatan lapangan pengumpulan data, berikut rangkaian jadual pelaksanaannya:
Tabel 5 Kegiatan pengumpulan data
Kota Waktu Pelaksanaan
Gorontalo 18 Mei – 26 Mei 2009
Makasar 27 Mei – 4 Juni 2009
Bengkulu 8 Juni – 16 Juni 2009
Medan 23 Juni – 1 Juli 2009
Pasuruan 15 Juli – 21 Juli 2009
Surabaya 21 Juli – 31 Juli 2009
Bima I 18 -31 Mei 2009
Bima II 9-22 Juni 2009
Mataram I 15-28 Juli 2009
Mataram II 2-15 Agustus 2009
Tim kajian Partisipasi Perempuan beranggotakan 6 orang, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Dalam tahapan penyelesaian laporan, pada akhir Oktober 2009, tim leader mengundurkan diri mengerjakan proyek lain dengan tanpa produk laporan dan sebagian besar data mentah berada padanya. Pada akhirnya, yang konsisten mengerjakan laporan kajian dari 6 orang anggota tim hanya tiga orang, yakni hanya yang berjenis kelamin perempuan saja. Sayang sekali, ketidakaktifan anggota tim tidak mendapat sanksi apapun, sedangkan salary hampir semua sudah mereka terima dan pada akhirnya tanggung jawab penyelesaian laporan akhir jatuh pada orang yang dikontrak paling sedikit mendapat imbalan.
Terkait dengan kasus tersebut di atas, baik untuk proyek, pihak manajemen, maupun leader umum tim evaluasi, tentunya harus dijadikan bahan refleksi sebab pada akhirnya dijumpai pihak-pihak tertentu yang dirugikan baik secara materi dan imateri. Bagi pihak manajemen perusahaan sebaiknya lebih jeli melihat kinerja para tenaga ahlinya apakah ia betul-betul bekerja ataukah ia hanya datang ke kantor sebatas ”setor muka” belaka. Dengan tanpa kejelian melihat kinerja mereka, pada akhirnya melahirkan ketidakadilan bagi pihak tertentu, apalagi tanpa ada sanksi apapun bagi mereka yang kurang dan tidak bertanggungt jawab. Akhirnya, keberadaan tenaga ahli seperti ini di samping merugikan anggota tim yang konsisten dan bertanggung jawab, juga merugikan pihak manajemen sendiri. Berikut adalah struktur tim kerja:
Struktur tim Pra Pengunduran Diri Team Leader
Struktur Tim Pasca Pengunduran Diri Team Leader
Dinamika kelompok seperti itu ”terpaksa” diungkap sebab menjadi hambatan besar dalam menyelesaikan laporan kajian ini baik menyangkut subtansi yang berelasi dengan data maupun ketidakefektifan waktu, tenaga, dan pikiran atas anggota tim yang masih terlibat serius dan bertanggung jawab. Selain itu, hampir saja kajian tema ini dikategorikan studi yang gagal. Hal yang tidak kalah penting dengan diungkapnya kasus dinamika di atas adalah agar berbagai pihak mengambil pembelajaran agar
Ratna Laelasari Y.
Team Leader/Spesialis Jender
Elly Fardiana Latief
Spesialis Pemberdayaan Masyarakat Spesialis Pemberdayaan Masyarakat Marini Purnomo Andy Ahmad.Zaelany
Team Leader
kegiatan serupa di masa mendatang tidak terulang dan perlu diantisipasi sejak dini. Selanjutnya adalah sebaran pengumpuan data di lapangan.
Tabel 6 Sebaran Pengumpulan Data Lapangan
Nama Lokasi Studi
Ratna Laelasari Y. Gorontalo, Makassar, Surabaya, Pasuruan, Bengkulu, Medan Elly Fardiana Latief Gorontalo, Makassar, Surabaya, Pasuruan, Bengkulu, Medan
Ary Wahyono Bima, Mataram
Marini Purnomo Bima, Mataram
Ahmad Fatony Gorontalo, Makassar, Surabaya, Pasuruan, Bengkulu, Medan Andy Ahmad Zaelany Gorontalo, Makassar, Surabaya, Pasuruan, Bengkulu, Medan Selain itu, strategi atau prosedur penelitian yang dijalankan untuk pengumpulan data primer di lapangan adalah sebagai berikut :
Pertama, memilih 20 rumah tangga secara acak (systematic sampling) berdasarkan daftar keluarga miskin yang tersedia di kelurahan setempat. Rumah tangga terpilih adalah yang mengetahui sedikit banyak tentang P2KP. Dari rumah tangga ini akan dilakukan wawancara semi struktural (SSI) terhadap seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berusia minimal 17 tahun, sehingga total informan keseluruhan adalah 40 orang per-kelurahan. Tema wawancara tentang pendapat informan akan manfaat program-program P2KP bagi mereka dan tentang akses perempuan dan pria terhadap manfaat program tersebut.
Kedua, melakukan wawancara kepada para relawan yang terdaftar di kelurahan terpilih. Untuk wawancara ini dilakukan metode survey, dengan menggunakan format kuesioner, dalam bentuk pertanyaan tertutup, mengenai demografi relawan. Informasi yang dicakup adalah gambaran tentang jenis kelamin, umur, etnis, status pernikahan, jumlah anak, pendidikan, kemampuan baca tulis, keterampilan tambahan, status sosial, pekerjaan dan status kepegawaiannya, keterlibatan dalam kelompok komunal, dan informasi lain yang terkait.
Ketiga, Melakukan FGD kepada 10-15 orang relawan pria dan 10-15 orang relawan perempuan yang terdaftar dalam kelompok terpisah. Peserta FGD akan merepresentasikan komposisi umur, status dan juga perbedaan tingkat kesejahteraan. Tema diskusi untuk kelompok ini mencakup motivasi dan harapan dari keikutsertaan sebagai relawan; hambatan, tantangan dan peluang atas keterlibatan mereka sebagai relawan. Perbedaan jenis kelamin dalam motivasi dan keterlibatan mereka dalam program P2KP merupakan sasaran informasi yang ingin digali dalam diskusi kelompok yang terpisah ini.
Keempat, Setelah FGD, terhadap para relawan akan dilakukan wawancara biografi dengan fokus pada sejarah keterlibatan mereka dalam pekerjaan volunter ini, kualitas dan juga pengalaman-pengalaman mereka sebagai relawan di masa yang lalu, hambatan dan peluang untuk keterlibatan mereka dalam proses kegiatan program, serta kemauan dan komitmen untuk pekerjaan volunter di waktu yang akan datang7. Tahap kedua (survey relawan) dalam prosedur ini juga bisa dilakukan secara bersamaan dengan tahapan ini.
Kelima, Selanjutnya, tahap 1,2,3 akan diulang untuk semua penerima manfaat program yang terdaftar, terutama KSM-ekonomi. FGD dan wawancara biografi akan dilakukan terhadap mereka untuk mengidentifikasi masalah jender dengan penekanan pada akses untuk memperoleh manfaat dari program. Panduan wawancara khusus untuk anggota KSM ekonomi akan ditekankan pada penggunaan dan status dari mikro kredit yang diterima.
Keenam, Wawancara semi struktur8 (SSI) secara kelompok terhadap anggota BKM perempuan dengan penekanan pada jender spesifik, hambatan dan peluang yang dihadapi dalam menjadi anggota BKM, kemudian bagaimana kepentingan kaum perempuan terepresentasikan pada pembuatan keputusan di BKM di waktu yang akan datang.
7 Koentjaraningrat 1993. Metode penggunaan data pengalaman individu. Dalam Koentjaraningrat (ed.). Metode-metode penelitian masyarakat. Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama. Lewis, O 1959. Five families : Mexican case studies in the culture of poverty. New York, Basidc Books
8 Chambers, R. 1984. Metode pintas dalam pengumpulan data sosial untuk proyek-proyek pembangunan pedesaan. Jakarta, Balitbang Pertanian dan The Ford Foundation, hlm.11 – 12.
Ketujuh, Wawancara semi struktur secara berkelompok dengan aparat kelurahan (Lurah dan aparatnya) untuk melihat perspektif dan pengalaman mereka tentang faktor sosial, ekonomi, budaya yang mempengaruhi kualitas dan jumlah dari partisipasi wanita dalam konteks lokal dan peluang potensial di masa depan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam program, begitu juga dengan prasyarat-prasyarat pembangunan kapasitasnya.
Kedelapan, Pada tingkat kota, dua FGD terpisah terhadap fasilitator akan dilakukan dengan 10 perempuan dan 10 pria, dengan penekanan pada perspektif fasilitator, pengalaman dan pandangan mereka terhadap hambatan dan peluang untuk meningkatkan partisipasi wanita pada tingkat sukarelawan, pemimpin komunitas, dan penerima manfaat program. Selain itu, terhadap tiap fasilitator akan dilakukan wawancara semi struktur untuk biografi (khususnya biodata, pendidikan, kualifikasi profesional, sejarah keterlibatan pada program P2KP).
Kesembilan, Kemungkinan kami juga akan melakukan konsultasi berupa wawancara kelompok terhadap KorKot dan stafnya, begitu juga dengan KMW dan staf yang kami pilih, serta KMP yang merupakan pengelola program pada tingkat nasional. Penekanan wawancara tentunya tetap pada isu-isu strategi jender dan isu desain sensitif jender pada program kini dan program yang akan datang.
Namun demikian, tidak semua srategi penelitian tersebut dilakukan persis seperti disebutkan di atas. Dalam realitasnya, strategi penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi warga miskin sebagaimana terdapat di dokumen PJM Prognangkis. Nama-nama warga miskin yang terdapat di dokumen itu dipilih dan diwawancarai. Sementara, warga kelurahan yang menjadi anggota KSM diperoleh dari kantor Korkot, dan kemudian dipilih secara random untuk dapat diwawancarai. Data warga miskin dari PJM Pronangkis juga dicocokkan dengan daftar KSM dari Korkot. Dengan cara verifikasi ini diperoleh informasi seberapa besar daftar keluarga miskin yang telah di data menjadi KSM terutama KSM Ekonomi.
Demikian pula dengan relawan. Untuk melakukan wawancara dengan relawan peneliti berangkat dari data relawan yang ada di kantor Korkot. Dari data ini dipilih nama-nama relawan yang diwawancarai, yang dipilih secara random. Dengan cara seperti ini ditemukan ketidakcocokan antara nama tertulis dengan fakta yang sebenarnya. Misalnya, nama relawan yang tedaftar ternyata tidak ada, atau relawan merasa tidak lagi sebagai relawan, dsb. Dari wawancara dengan relawan ini diperoleh informasi pemilihan relawan dan BKM di tingkat basis dan kelurahan. Dari wawancara dengan relawan juga diperoleh daftar nama tokoh masyarakat yang harus diawancarai.