• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pengembangan Perikanan Bubu .1 Prioritas pengembangan

Sesuai dengan penelitian Sultan (2004), prioritas pengembangan perikanan tangkap yang memfokuskan pada aspek lingkungan dan keberlangsungan sumberdaya akan memberikan dampak yang berkelanjutan pada nelayan itu sendiri. Pengembangan perikanan demersal melalui modifikasi bubu sebaiknya difokuskan pada aspek yang memperhatikan keberlangsungan sumberdaya. Pertimbangan nilai pendapatan bagi nelayan akan dapat ditingkatkan apabila produktivitas hasil penangkapan juga tidak bersifat sementara. Pemerintah melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara telah berperan dalam mengurangi IUU fishing di Sibolga. Dukungan dari nelayan dan para stakeholder akan turut mempercepat pengembangan perikanan demersal di Sibolga.

6.7.2 Strategi pengembangan

SWOT mengkombinasikan dua faktor untuk menghasilkan strategi. Strategi SO merumuskan pengelolaan perikanan yang berkembang. Hal ini dapat dilakukan karena banyaknya kekuatan yang dimiliki internal perikanan bubu Sibolga dengan peluang yang ada di luar. Peningkatan regulasi untuk mempermudah pemasaran hasil perikanan demersal juga perlu dilakukan agar hasil tangkapan nelayan dapat termanfaatkan dengan baik. Kedua strategi ini bertujuan untuk melakukan ekspansi perikanan bubu demersal.

Dukungan pemerintah dalam merealisasikan strategi pengembangan usaha perikanan demersal dapat ditempuh dengan menyediakan sarana pendukung kegiatan ekspor. Ikan merupakan bahan yang bersifat perishable (mudah busuk).

Dengan memperpendek mata rantai transportasi perdagangan ikan demersal, maka kualitas hasil tangkapan nelayan Sibolga akan semakin baik.

Strategi WO menghasilkan tiga rumusan strategi, yaitu: penyuluhan pada nelayan seputar pengetahuan mengenai perikanan tangkap serta polaritas investasi penyempurnaan kapal, mesin dan alat tangkap. Penyuluhan pada nelayan perlu ditingkatkan untuk memperbaiki kondisi internal perikanan bubu. Beberapa penyuluhan yang penting untuk dilakukan adalah penggunaan BBM, es dan air tawar serta penyuluhan mengenai kemajuan teknologi pada perikanan tangkap seperti alat tangkap maupun DPI. Polaritas investasi penyempurnaan kapal, mesin dan alat tangkap ditujukan untuk memperbaiki operasi penangkapan perikanan bubu. Hal ini secara tidak langsung akan berdampak terhadap minat investor dan pemasaran yang baik karena semakin tingginya permintaan terhadap produk perikanan.

Strategi ST mengkombinasikan kekuatan internal dan ancaman dari eksternal perikanan bubu Sibolga. Strategi yang dihasilkan antara lain: pengelolaan sumberdaya ikan secara lestari dan berkelanjutan, penggunaan BBM secara efisien dengan memperbaiki teknik dan waktu operasi dan penyatuan persepsi antar sektor. Penerapan unit penangkapan ikan yang ramah lingkungan hendaknya mulai diperkenalkan untuk dapat mengelola sumberdaya ikan dengan lestari. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa bubu modifikasi dapat menjadi salah satu alat tangkap yang ramah lingkungan. Teknik pengoperasian bubu yang ada di Sibolga saat ini (bubu nelayan) memerlukan waktu perendaman yang cukup lama yaitu 7-10 hari. Hal ini ternyata tidak memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah dan hasil tangkapan, selain itu perendaman bubu yang lama akan menyebabkan kanibalisme di dalam bubu yang sudah berisi hasil tangkapan karena kurangnya makanan di dalam bubu. Lamanya perendaman juga berpengaruh terhadap kecepatan terjadi proses pengkaratan pada bubu. Penggunaan BBM akan efisien jika bubu mudah ditemukan, sehingga diperlukan alat bantu atau rekonstruksi unit penangkapan yang tidak mengalami banyak pergeseran selama proses perendaman. Penyatuan persepsi stakeholder penting dilakukan agar sistem perikanan bubu di pantai Barat Sumatera dapat memiliki visi yang jelas untuk kemajuan dan keberlanjutan perikanan demersal.

Strategi WT menghasilkan dua rumusan strategi yaitu peningkatan pelayanan pelabuhan dan integrasi pengawasan perairan Barat Sumatera. Kedua hal ini dilakukan untuk bertahan agar kegiatan perikanan demersal di pantai Barat Sumatera dapat terus berlangsung. Peningkatan pelayanan pelabuhan dapat dilakukan dengan cara menjaga stabilitas bahan-bahan operasional nelayan seperti BBM, es dan air bersih. Integrasi pengawasan diharapkan dapat mengawasi masalah IUU fishing dan trawl yang masih beroperasi. Pengawasan akan mempersatukan beberapa sektor untuk dapat bekerja sama menjaga keamanan perairan. Selain itu dengan sistem pengawasan yang baik informasi mengenai keadaan cuaca yang buruk atau pun kondisi perairan dapat cepat diketahui nelayan.

6.7.3 Pengembangan bubu ramah lingkungan

Secara teknis pengoperasian bubu kawat tidak membahayakan nelayan. Dampak sosial alat tangkap ini juga tidak mempengaruhi hasil tangkapan nelayan tradisional karena alat tangkap ini berada pada daerah yang jauh dari garis pantai. Saat ini alat tangkap ikan demersal yang digunakan nelayan Sibolga hanya berupa pancing (hand line), bahkan tidak sedikit nelayan yang mengkombinasikan pengoperasian bubu dengan alat tangkap ini. Bubu yang dioperasiakan nelayan Sibolga pada umumnya berada pada kedalaman 30 sampai 70 meter, sehingga jarang mengalami konflik dengan nelayan tradisional kecuali pukat harimau yang masih sering beroperasi di pantai Barat Sumatera.

Secara ekologi, pengoperasian bubu sedikit memberikan dampak negatif terhadap spesies ikan yang dilindungi. Pada bubu modifikasi dan bubu nelayan masih sering ditemukan ikan napoleon yang merupakan kelompok ikan yang dilindungi. Tingginya keanekaragaman hasil tangkapan bubu di pantai Barat Sumatera juga berpengaruh terhadap keberlangsungan sumberdaya ikan demersal. Menurut Jeyaseelan (1998), interaksi antara komunitas penghuni ekosistem karang yang terganggu akan memberikan dampak terhadap speies lainnya. Ikan kakap merah yang berumur dewasa akan bermigrasi ke daerah mangrove untuk melakukan pemijahan. Jika ikan-ikan yang dalam kondisi matang gonad tertangkap pada bubu maka dampak terhadap keberlangsungan ikan kakap akan

semakin terganggu. Sesuai dengan hasil penangkapan bubu di pantai Barat Sumatera, ikan-ikan yang tertangkap bubu merupakan ikan yang sudah berukuran dewasa.

Berdasarkan kualitas hasil tangkapan, ikan demersal yang tertangkap bubu pada umumnya masih dalam keadaan baik dan hidup. Pengembangan usaha hatchery dapat dilakukan jika ikan-ikan yang telah matang gonad dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya.

Secara umum pengoperasian bubu di pantai Barat Sumatera berdasarkan kriteria CCRF masih cukup baik dan dapat dikembangkan. Perbaikan metode pengoperasian untuk mengurangi by catch dan mencegah ikan-ikan yang dilindungi tertangkap dapat menjadi fokus perbaikan alat tangkap. Perbaikan alat tangkap bubu sebaiknya tidak hanya berfokus pada profitabilitas tetapi juga pada keberlangsungan sumberdaya ikan demersal (Cann, 1990).

Dokumen terkait