• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pengembangan Potensi Ekonomi Kreatif

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Umum Kota Medan

4.4 Hasil Penelitian dan Pembahasan .1 Karakteristik Responden .1 Karakteristik Responden

4.4.3 Strategi Pengembangan Potensi Ekonomi Kreatif

Dalam menentukan strategi pengembangan potensi ekonomi kreatif di Kota Medan, dapat diketahui melalui kondisi usaha ekonomi kreatif yang berada di Kota Medan. Kondisi tersebut dapat dilihat dari gambaran usaha, potensi dan permasalahan yang saat ini menjadi tantangan dalam perkembangan ekonomi kreatif di Kota Medan.

Secara umum dari total 42 responden mengungkapkan bahwa kegiatan usaha yang mereka jalani bersumber dari modal sendiri, hal ini diutarakan oleh 35 responden atau sekitar 83,3% dan sebanyak 7 orang responden atau sekitar 16,6 % mengungkapkan bahwa modal yang mereka dalam memulai usaha berasal dari modal pinjaman dan modal pribadi yang mereka miliki (campuran). Hal ini diketahui pada tabel 4.12.

Tabel 4.12

Sumber Modal Pelaku Usaha

No Sumber Orang Persen

1. Sendiri 35 83,3

2. Campuran 7 16,6

Jumlah 42 100

Terkait temuan tersebut, penulis juga menemukan bahwa dampak dari kemajuan usaha yang mereka miliki telah mampu membuka cabang usaha lainnya, di mana hal ini di sampaikan oleh 28 responden. Namun, jenis cabang usaha yang ada tidak semuanya bergerak pada jenis usaha yang sejenis. Sedangkan 14 orang responden dari hasil wawancara mengatakan bahwa mereka tidak memiliki cabang usaha di mana pun. Hal ini dikarenakan kondisi usaha yang masih baru dan berkembang sehingga masih sangat sulit untuk membuka cabang usaha yang baru.

Selain itu, terkait kondisi usaha ekonomi kreatif di Kota Medan, terdapat juga beberapa kendala yang dijumpai dilapangan, hal ini dipertegas melalui dari hasil wawancara kepada 42 responden yang bergerak di bidang usaha kreatif yang mengemukakan beberapa kendala dalam menjalankan usahanya, hal tersebut digambarkan oleh tabel 4.13.

Tabel 4.13

Kendala yang Dihadapi Oleh Responden

No. Kendala Jumlah Persen (%)

1. Kurangnya Modal Usaha 19 45,23

2. Tingginya Harga Bahan-bahan Produksi 8 19,04 3. Kurangnya Sarana dan Prasarana 3 7,14

4. Kurangnya Pemasaran 12 28,60

Jumlah 42 100

Sumber: Diolah oleh penulis.

Dari hasil temuan di atas, menunjukkan bahwa sebagian besar usaha ekonomi kreatif memiliki permasalah pada kurangnya modal. Hal ini ditemukan pada 19

responden atau sekita 45,23% yang mengatakan bahwa modal masih menjadi masalah utama dalam mengembangan usaha yang mereka miliki. Bagi 19 responden yang menjadikan modal sebagai kendala utamanya beralasan bahwa tingginya permintaan atas barang hasil produksi sehingga disatu sisi tidak mampu dipenuhi kebutuhannya atas permintaan produksi barang tersebut. Selain itu, adapula yang beranggapan modal menjadi hal terpenting dalam membuka cabang usaha yang baru yang berkaitan jenis usaha atau diluar dari usaha yang mereka jalankan.

Kemudian, terdapat 12 responden mengatakan bahwa kurangnya pengetahuan atas pemasaran produk yang mereka miliki menjadikan permasalahan utama dalam menjalankan usahanya, dalam hal ini penulis menemukan bahwa keterbatasan akses informasi atas pemasaran produk yang mereka miliki menjadi alasan kurangnya pemasaran produk yang mereka produksi. Sebagaian besar dari 12 responden tersebut menginginkan adanya perhatian khusus terkait pemasaran produk yang mereka miliki secara lebih luas lagi.

Di samping itu adapula responden yang mengungkapkan bahwa tingginya harga bahan-bahan produksi telah menyebabkan adanya kendala utama terhadap keberlangsungan usaha. Bahan –bahan produksi yang menjadi kendala dalam berusaha lebih ditekankan oleh responden pada penyediaan bahan baku dan alat-alat produksi yang sering mengalami pergesaran harga secara tidak menentu. Setidaknya sebanyak 8 responden atau 19,04 % mengatakan demikian.

Selanjutnya, yang terakhir adalah sebanyak 7,14 % atau 3 orang dari total keseluruhan responden mengungkapkan bahwa kurangnya sarana dan prasarana

menjadi permasalahan utama mereka dalam menjalankan usahanya. Responden yang mengungkapkan permasalahan tersebut, beralasan bahwa lemahnya proses distribusi barang yang berasal dari infrastruktur kedaerah-daerah tertentu sering menghambat perkembangan ekspansi pasar industri yang mereka jalankan.

Berkaitan dengan temuan tersebut, berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Nurdin Asyhari selaku Kepala Pembinaan dan Pengembangan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan, mengungkapkan bahwa terdapat strategi penting dalam mengembangkan usaha ekonomi kreatif di Kota Medan. Adapun strategi tersebut sebagai berikut:

1. Mengikutsertakan usaha-usaha ekonomi kreatif dalam bentuk pelatihan ditingkat kecamatan hingga tingkat nasional.

2. Mengikutsertkan para perajin usaha untuk mengikuti pameran atau event. 3. Mengembangkan ketersediaan informasi dan teknologi yang berkaitan

dengan pelaku usaha ekonomi kreatif.

4. Mendorong dalam pemberian fasilitas sarana dan prasarana dalam membangun usaha ekonomi kreatif di Kota Medan.

5. Penciptaan iklim usaha yang mendukung daya saing usaha ekonomi kreatif di Kota Medan.

Strategi pengembangan ekonomi kreatif yang dihimpun dari hasil wawancara dengan bapak Nurdin Asyhari selaku Kepala Pembinaan dan Pengembangan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan menunjukkan permasalahan pelatihan dan pemasaran produk menjadi hal yang utama yang harus diperhartikan dalam melakukan pengembangan pada setiap sektor ekonomi kreatif. Hal ini tentu

berkaitan dengan tantangan yang saat ini dihadapi oleh pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya. Sejalan dengan hasil wawancara tersebut, dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis dapat pula dihimpun bahwa pelatihan menjadi sangat penting dalam meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Pelatihan tersebut dapat berupa program padat karya bagi masyarakat yang secara umum mampu diberdayakan melalui pelatihan disektor informal, tentu hal ini secara tidak langsung akan memberi efek yang sangat baik bagi masyarakat yang secara pendidikan formal kurang mampu bersaing, namun secara ketrampilan mampu diberdayakan melalui program pelatihan ekonomi kreatif.

Disamping itu, pemasaran juga merupakan hal yang paling mendasar dalam pengembangan sektor kreatif yang ada di Kota Medan. Kegiatan yang berupa pameran produk tentu sangat memberi manfaat yang sangat besar bagi pelaku usaha terutama untuk memperkenalkan produk-produk yang lebih berinovasi lagi. Dengan adanya kegiatan tersebut bukan tidak mungkin akan memberikan pangsa pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha dalam menjalankan usahanya. Selain itu, adapun faktor berupa ketersediaan informasi yang baik akan memberi kemudahan bagi masayarakat dan pelaku usaha untuk mengetahui perkembangan kreativitas yang saat ini menjadi ketertarikan bagi masyarakat secara umum. Sehingga proses kreativitas dan inovasi tersebut akan mudah diterima apabila memiliki pengaruh yang baik bagi masayarkat. Adapun penyediaan sarana dan prasarana tentu akan sangat membantu bagi pelaku usaha ekonomi kreatif dalam melakukan proses distribusi barang produk hingga menuju kemasayarakat. Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh pelaku usaha ekonomi kreatif yang telah

diwawancarai oleh penulis (tabel 4.13) yang sebanyak 7,14% mengungkapkan bahwa sarana dan prasarana menjadi permasalah yang saat ini dihadapi oleh pelaku usaha. Permasalahan ini sebenarnya sudah menjadi permasalahan klasik yang ada di Indonesia, tidak hanya di Kota Medan namun berbagai daerah saat ini masih dibatasi oleh keterbatasan sarana dan prasarana yang mendukung pengembangan usaha yang mereka miliki. Solusi yang diberikan masih belum bisa dirasakan, tidak hanya bagi pelaku usaha namun bagi konsumen (masayarakat) yang juga masih memiliki keterbatasan dalam mendapatkan sarana dan prasarana yang baik dan aman.

Dengan melihat kondisi ekonomi kreatif di Kota Medan disamping strategi yang diberikan oleh pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan, penulis juga dapat menghimpun bahwa tidak hanya pelatihan, pemasaran, informasi, atau sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh pelaku usaha namun kemudahan dalam hal pembiyaan modal, kestabilan harga barang-barang baku, dan peningkatan kuantititas dan kualitas pendidikan yang mendukung penciptaan dan penyebaran orang kreatif secara berkelanjutan harus dijadiakan sebagai startegi dalam membangun potensi ekonomi kreatif yang ada di Kota Medan.

Kemudahan dalam pemberian modal susungguhnya menjadi harapan yang sangat besar bagi pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya. Kendala dalam pembiayaan masih menjadi momok tersendiri bagi pelaku usaha dalam malakukan proses peminjaman di lembaga keuangan. Selain itu, penciptaan bahan baku yang berkualitas, beragam, dan kompetitif dari sumber daya alam yang terbarukan

merupakan hal yang harus diperhatikan, sebab dengan adanya bahan baku yang terjangkau dan berkualitas akan memberi kemudahan bagi pelaku usaha dalam berinovasi. Namun, yang terpenting sesungguhnya berada pada sumber daya manusia, sebab ekonomi kreatif yang dikenal sangat menitikberatkan pada sumber daya manusianya untuk mengembangkan usahanya. Sehingga peningkatan kuatititas dan kualitas pendidikan yang mendukung penciptaan dan penyebaran orang kreatif secara merata dan berkelanjutan harus dijadiakan sebagai startegi dalam membangun potensi ekonomi kreatif yang ada di Kota Medan. Tidak hanya pelatihan, namun pendidikan juga penting dalam menunjang proses produks yang lebih maju dan berkembang.

Strategi pengembangan ekonomi kreatif yang ditawarkan oleh pemerintah Kota Medan dan dari hasil temuan penulis dilapangan, dapat dijadikan sebagai barometer untuk pengembangan industri kreatif yang ada di Kota Medan. Dengan melihat potensi yang dimiliki oleh Kota Medan, bukan tidak mungkin setiap strategi tersebut mampu dikembangkan sehingga secara khusus akan berdampak langsung pada kondisi industri kreatif dan kondisi perekonomin di Kota Medan pada umumnya.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait