1. Kondisi Wilayah
2.3. Strategi Perubahan Perilaku
Berdasarkan data KAP Survey pra kampanye pada 10 desa dengan jumlah responden 210 orang yang seluruhnya laki-laki, berumur antara 36 – 40 tahun dengan mengindikasikan dimana pada umur tersebut merupakan pencapaian umur dewasa dalam pengambilan keputusan. Matapencaharian utama adalah nelayan penuh waktu 111 responden (52,9%), nelayan paruh waktu 83 responden (39,5%), dan nelayan musiman 14 responden (6,7%) selebihnya adalah nelayan sebagai profesi tetapi tidak memiliki alat tangkap, nelayan yang kini beralih profesi ke Tani dan semakin condong ke profesi petaninya 2 responden (1%).
Pengeluaran rata-rata per bulan berkorelasi dengan alat tangkap yang digunakan, dari hasil analisis data KAP survey pra intervensi kampanye nelayan yang menggunakan alat tangkap jubi (panah ikan) merupakan nelayan dengan pengeluaran rata-rata antara 1 juta – 1,5 juta per bulan, dari 87 responden yang menjawab pada pengeluaran bulanan tersebut, yakni sebanyak 37 responden (57,8%). Adapun nelayan yang memiliki pengeluaran kurang dari 1 juta dari 66 resonden yang menjawab adalah nelayan pancing 35 responden (34,7%).
38 Pengetahuan nelayan pada program PAAP di wilayah SPTN II Taman Nasional Bunaken masih rendah, dari 210 responden menjawab tidak tahu 181 responden (86,2%) dan selebihnya menjawab dengan kemampuan yang berfikir responden atas pengalaman dalam mengelola sumber daya laut serta pengalaman masa lalu atas kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga Balai TN Bunaken, DKP Kab./Provinsi, untuk itu dilakukan pengklasifikasi jawaban responden terhadap pengetahuan tentang PAAP menjadi : zona ini, wilayah yang torang kelola, pemantauan hasil laut, dan menjaga laut.
Panutan nelayan untuk menggunakan alat tangkap yang sesuai di lokasi PAAP responden menjawab bahwa tertinggi adalah sesama nelayan 58 responden (27,6%), yang kemudian diikuti oleh tidak ada 56 responden (26,7%) dan tidak tahu 38 responden (18,1%) yang menjadi panutan, kemudian secara berturut adalah BTNB, Penyuluh Perikanan, ketua kelompok nelayan, Hukum Tua, ANTRA, suami/istri, pengumpul dan patroli TN Bunaken.
Tabel 3. Model, Desain PAAP, dan Perilaku Yang akan dirubah
Rancangan atau Model PAAP
Perilaku yang dirubah
Manfaat yang akan ditawarkan ketika mengadopsi perilaku baru
Biaya yang akan diterima ketika tetap melakukan
perilaku lama Nelayan menangkap berdasarkan lokasi PAAP Nelayan menangkap ikan disemua lokasi dengan berbagai alat tangkap
Berkurangnya waktu melaut dengan adanya kestabilan tangkapan serta lebih banyak waktu untuk keluarga
Lokasi tangkap akan dinikmati oleh nelayan lain/ luar Ukuran ikan tangkapan Nelayan bersedia mencatatkan ikan tangkapan di lokasi PAAP
Bisa mengontrol potensi perikanan di lokasi tangkap dan memastikan dengan benar informasi perikanan (trend), merupakan aktivitas
berkelompok yang menambah penilaian dan dapat
meningkatkan grade, dengan adanya data tangkapan dapat informasi kemampuan
ekonomi sehingga bisa mandiri mapalus
Biaya yang dikeluarkan untuk melaut lebih rendah dan hasil tangkapan lebih pasti
Berpartisipasi dalam PAAP
Nelayan berperan aktif untuk berpartisipasi membentuk kelompok
Kelompok nelayan yang terlibat dalam PAAP diprioritaskan dalam pendampingannya dan fasilitasi oleh Balai TN Bunaken serta kolaborasi dengan pemerintah daerah
Tidak diberikan bantuan pendampingan
Terlibat dalam pengawasan
Nelayan bersedia melaporkan jika ada pelanggaran di lokasi PAAP
Nnelayan memiliki
kelengkapan data kepemilikan alat tangkap, jenis alat bantu tangkapan, kapal
penangkapan, lokasi penangkapan serta
mendapatkan jaminan dengan terbitnya kartu nelayan
Jika pelanggaran dilakukan penindakankan oleh Polhut dan dikeluarkan dari kelompok perikanan dan dicabut ijin penangkapan
39 Strategi implementasi program PAAP di SPTN Wilayah II Taman Nasional Bunaken sebagaimana telah dituangkan dalam Teori Perubahan dan Sasaran SMART program PAAP (penjelasan tabel 3 dan 4) dilakukan dalam bentuk pengembangan pesan yang ditujukan kepada khalayak target sasaran dalam bentuk media cetak seperti poster dan leaflet, media yang dapat dilihat dalam bentuk ukuran besar seperti Baliho, papan informasi baik di warung maupun di pasang di tepi jalan, papan pengumuman laporan hasil tangkapan yang di pasang pada rumah pengumpul, presentasi pada pemengaruh kunci, melakukan kegiatan social marketing PAAP, penyebarluasan media komunikasi, mobilisasi komunitas, pertemuan penjaringan relawan baik dengan wartawan dan praktisi lingkungan, penulisan karya ilmiah dan pemberitaan di media cetak serta elektronik baik local dan nasional.
Kampanye Kesiapan PAAP
Tabel 4. Strategi pendekatan pemengaruh kunci
No. Aktivitas Keterangan
1 Presentasi dengan para pihak
DKP Provinsi Sulawesi Utara, DKP Kabupaten Minahasa dan Minahasa Selatan, Akademisi, DMO Bunaken merupakan tata kelola destinasi yang menjadi jejaring media untuk mempromosikan kepariwisataan Bunaken, jejaring dengan televisi nasional seperti Metro Tv dan Trans 7
2 Jejaring Relawan, press release, dan menuliskan artikel
Media Communication Center dikelola oleh Purnama Nainggolan yang memiliki jejaring dengan media cetak Manado Post, Tribun Manado, Radio Smart FM, Radio RAL, Radio BBC London, TVRI Manado. Ronny Buol merupakan jurnalis dibidang lingkungan dari kompas, Manengkel komunitas peduli laut.
40 Media Adopsi Kampanye PAAP
Pemasaran social dengan membuat agenda yang terstruktur dilapangan, menyampaikan media kampanye seperti :
Tabel 5. Pemasaran Sosial
No. Aktivitas Keterangan
1 maskot "si Behang" nama lokal ikan target "behang" kemudian diplesetkan dengan "si Bohay"
2 Poster
digunakan untuk kegiatan sosialisasi bersama Balai TN Bunaken dan DKP Prov. Sulut/ DKP Kab Minahasa/ DKP Kab.. Minahasa selatan dan bisa dipasang di rumah-rumah nelayan, kantor pemerintahan
3 Leflet digunakan untuk menyasar segmentasi pembaca siswa SMP/SMA
4 Booklet digunakan untuk menyasar segmentasi pembaca siswa SMP/SMA,
pemerintahan, guide, dive center
5 Spanduk dipasang pada acara-acara ibadah/ kegamaan dan even
6 Baliho dipasang pada lokasi masuk desa
7 umbul-umbul dipasang pada acara khusus di desa seperti masamper
8 Stiker Dipasang pada rumah nelayan target
9 Muk Dibagikan dalam bentuk kuis
10 Jam dinding Dibagikan dalam bentuk kuis
11 papan nama
warung setiap warung belum memiliki nama
Tabel 6. Event tahunan yang direcanakan untuk dikembangkan
No. Aktivitas Keterangan
1 Festival Tatapaan Berhubungan dengan religi dan dilaksanakan setiap HUT GMIM Bersinode
2 Santaklause Even religi tahunan di akhir tahun
41 Tabel 7. Audio, visual, dan cetak
No. Aktivitas Keterangan
1 lagu PAAP/ Jinggle Akan dibuat oleh masyarakat
2 Goyang BB "behang bergoyang"
meyiapkan musik dengan sound sistem dan mencari tempat keramaian yang bisa mengundang warga untuk berkumpul
3 nonton "si napo" menyiapkan film-film untuk segmentasi pemuda/ remaja di desa
4 video klip
membuat dokumentasi film aktivitas nelayan dengan alat tangkap soma, jubi, dan pancing dan selanjutnya disebarkan dalam FB serta ikut diputar dalam selingan nonton "si Napo"
5. Kalender Aktivitas cerita untuk nelayan
Tabel 8. Sosial Media
No. Aktivitas Keterangan
1
pembuatan fontpage dari facebook dengan nama "Cahaya Tatapaan dan Cahaya Trans"
napo wilayah yang penangkapan, baronang disingkat dengan baron, dong perpendekan dari berondong istilah anak-anak muda kece yang disenangi kaum hawa yang lebih tua, sehingga dengan "barondong napo" berharap menyentuh perasaan anak-anak muda yang beraktivasi dengan digital native serta bisa menjadi bahan cerita dikalangannya dan menyebar pada segmentasi ibu-ibu yang menyukai teknologi
2
Pembuatan blog dengan nama “Cahaya Tatapaan dan Cahaya
42 Tabel 9. Teori Perubahan Taman Nasional Bunaken
Pengetahuan Meningkatnya pengetahuan nelayan aturan pengelolaan lokasi PAAP
Desa Poopoh dan Desa Popareng
Sikap Nelayan Desa Poopoh dan Desa Popareng menyetujui untuk melaporkan
hasil tangkapan ikan.
Komunikasi interpersonal Nelayan Desa Poopoh dan Desa Popareng ikut serta membicarakan
aturan-aturan pengelolaan yang ada pada lokasi PAAP
Penyingkiran Halangan Menyiapkan buku log kepada nelayan Desa Poopoh dan Desa Popareng
serta melatih cara pengisiannya untuk melaporkan hasil tangkapan ikan
Perubahan Perilaku Nelayan dari Desa Poopoh dan Desa Popareng menangkap ikan sesuai
aturan pengelolaan yang disepakati di lokasi PAAP
Pengurangan Ancaman Berkurangnya aktivitas penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan
dari luar Poopoh dan Popareng di wilayah PAAP
Capaian Konservasi Meningkatkan biomassa spesies Siganus sp pada lokasi PAAP Poopoh
dan PAAP Popareng
Capaian Sosial Meningkatnya pendapatan nelayan Desa Poopoh dan nelayan Desa
43 Sasaran SMART yang akan dicapai dalam program PAAP adalah :
SMART – K
Meningkatkan pengetahuan nelayan tentang PAAP Poopoh dan PAAP Popareng dari 13,8% pada Oktober 2015 menjadi 90% pada Oktober 2017.
SMART – A
Nelayan Desa Poopoh dan Desa Popareng yang setuju untuk melaporkan hasil tangkapan meningkat dari 5.2% pada Oktober 2015 menjadi 50% pada Oktober 2017.
SMART – IC
Nelayan Desa Poopoh dan Desa Popareng ikut serta dalam membicarakan pentingnya ukuran ikan yang ditangkap pada lokasi PAAP meningkat dari 2,9% pada Oktober 2015 menjadi 25% pada Oktober 2017.
SMART – BC
1. meningkatnya perilaku nelayan yang bersedia untuk menggunakan alat tangkap sesuai aturan lokasi PAAP dari 1,4% pada Oktober 2015 menjadi 25% pada Oktober 2017. 2. Meningkatnya perilaku nelayan untuk pengawasan pada lokasi PAAP dari 6,2% bulan
Oktober 2015 menjadi 25% pada bulan Oktober 2017.
3. Meningkatnya peran aktif nelayan untuk berpartisipasi dalam pengelolaan PAAP dari 8,5% pada Oktober 2015 menjadi 25% pada Oktober 2017.
4. Meningkatnya perilaku nelayan yang menangkap ikan sesuai dengan ukuran dari 1,4% pada Oktober 2015 menjadi 25% pada Oktober 2017.
SMART – TR
1. Berkurangnya jumlah nelayan dari luar Desa Poopoh yang melakukan penangkapan dari 30 orang per bulan pada bulan Oktober 2015 menjadi 10 orang per bulan pada akhir program bulan Oktober 2017.
2. Berkurangnya aktivitas penangkapan ikan spesies Siganus guttatus pada lokasi PAAP dari 5 kali per minggu pada bulan Oktober 2015 menjadi 3 kali per minggu pada akhir program bulan Oktober 2017.
3. Berkurannya jumlah aktivitas penangkapan ikan yang merusak terumbu karang dengan alat tangkap soma chang dari 5 unit menjadi 2 unit.
SMART – CR
1. Meningkatkan kelimpahan spesies Siganus guttatus 200 ekor/ha pada bulan Oktober 2015 menjadi 250 ekor/ha pada akhir program bulan Oktober 2017.
44 2. Mempertahankan biomassa ikan karang sebesar 4000 kg/ha pada akhir program bulan
Oktober 2017.
3. Mempertahankan persentase tutupan karang hidup 30,2 % pada akhir program bulan Oktober 2017.
SMART – SR
1. Meningkatnya pendapatan nelayan di Desa Poopoh dari Rp. 800.000,- pada bulan Oktober 2015 menjadi Rp. 1.200.000,- pada akhir program bulan Oktober 2017.
2. Meningkatnya jumlah nelayan Desa Poopoh yang memiliki armada penangkapan sendiri dari 10 orang nelayan di bulan Oktober 2015 menjadi 20 orang nelayan pada akhir program bulan Oktober 2017.
3. Meningkatnya jumlah anggota kelompok pengelola PAAP dari 10 orang di bulan Oktober 2015 menjadi 20 orang pada akhir program bulan Oktober 2017.
4. Meningkatnya jumlah nelayan yang memiliki kartu nelayan di SPTN Wilayah II Taman Nasional Bunaken dari 10 orang nelayan pada bulan Oktober 2015 menjadi 100 orang pada akhir program bulan Oktober 2017.
45