• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN

B. Kajian Teori

4) Strategi perusahaan dan pesaing

Strategi perusahaan dan pesaing dalam diamond model juga penting karena kondisi ini akan memotivasi perusahaan atau industri untuk selalu meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan dan selalu mencari inovasi baru. Dengan adanya persaingan yang sehat, perusahaan akan selalu mencari strategi baru yang cocok dan berupaya untuk selalu meningkatkan efisiensi.42

Selain keempat faktor tersebut, Porter menambahkan dua faktor tambahan yang berasal dari luar klaster yaitu peran pemerintah dan peluang. Secara grafis, keenam model Porter bersifat dinamis dan komprehensif karena mencakup tidak hanya kondisi faktor, sebagaimana sebagian besar model tradisional, tetapi juga mencakup variabel penting lainnya secara simultan. Karena itu, di samping keempat faktor tersebut ditambahkan pula faktor modal sosial (social capital) sebagai penentu daya saing. Kelima faktor tersebut diharapkan dapat menjelaskan faktor-faktor penentu daya saing yang menumbuh kembangkan klaster industri.43

42 Nugroho, Panduan Pengembangan Klaster Industri, (Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan Inovasi Teknologi, 2011), lampiran 1.

43 Heti Mulyati, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Klaster UMKM Alas Kaki di Kota Bogor, 17.

Gambar 2.1

Model bintang lima klaster UMKM yang berdaya saing.44

Pada Gambar terdapat modifikasi suatu teori diamond Porter yang ditambahkan modal sosial sebagai suatu pendekatan yang memengaruhi pengembangan UMKM dalam pendekatan klaster. UMKM memiliki potensi yang besar dalam pengembangan modal sosial.

Pendekatan klaster dianggap strategis untuk proses penumbuhan kembali modal sosial, peningkatan kapasitas internal UMKM, dan upaya penggalangan tindakan bersama untuk menghadapi dari pihak luar yang semakin dinamis. Modal sosial merupakan aset tak berwujud dimana terdapat hubungan sosial yang lebih menekankan pada rasa kepercayaan dan kebersamaan anggotanya.

44 Nefa Fadhilah, Analisis Kondisi Yang Mempengaruhi Pembentukan Klaster Umkm Pengolahan Pala Di Desa Dramaga, Kabupaten Bogor, 24.

Strategi perusahaan, struktur dan persaingan

Faktor input Modal sosial

Industri pendukung

dan terkait Kondisi permintaan

Modal sosial dapat menjadi pemecahan masalah yang efektif bagi masyarakat masa kini. Melalui modal sosial UMKM dapat membentuk jaringan horizontal yang akan memunculkan kondisi saling menguntungkan karena akan terjadi kerjasama dan koordinasi yang lebih baik.45 c. Klaster Industri Menurut Nugroho

Klaster industri merupakan kelompok usaha spesifik yang dihubungkan oleh jaringan mata rantai proses penciptaan/

peningkatan nilai tambah, baik melalui hubungan bisnis maupun non bisnis. Secara skema, pendekatan klaster industri dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.2

Model Generik Klaster Industri.46

45 Heti Mulyati, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Klaster UMKM Alas Kaki di Kota Bogor, 25.

46 Nugroho, Panduan Pengembangan Klaster Industri, (Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan Inovasi Teknologi, 2011), 4.

Para pelaku (stakeholders) dalam suatu klaster industri biasanya dikelompokkan kepada industri inti, industri pemasok, industri pendukung, industri terkait, dan pembeli, serta institusi pendukung (”non industri”).

Istilah inti, pendukung dan terkait menunjukkan peran pelaku dalam klaster industri tertentu dan tidak ada hubungan dengan tingkat kepentingan para pelaku. Peran tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja tergantung pada tingkat ekonomis dari hubungan rantai nilai tertentu. Beberapa pengertian elemen-elemen dalam klaster industri antara lain adalah sebagai berikut:

1) Industri Inti

a) Industri yang merupakan fokus perhatian atau tematik dan biasanya dijadikan titik masuk kajian;

b) Dapat merupakan sentra industri;

c) Industri yang maju (dicirikan dengan adanya inovasi).

2) Industri Pemasok

a) Industri yang memasok dengan produk khusus;

b) Pemasok yang khusus (spesialis) merupakan pendukung kemajuan klaster industri. Yang dipasok antara lain adalah bahan baku utama, bahan tambahan, aksesori.

3) Pembeli

a) Dapat berupa distributor atau pemakai langsung;

b) Pembeli yang sangat “penuntut” merupakan pemacu kemajuan klaster industri. Pembeli antara lain terdiri dari distributor, pengecer, pemakai langsung.

4) Industri Pendukung

a) Meliputi industri jasa dan barang, termasuk layanan pembiayaan (Bank, Modal Ventura). Industri pendukung ini antara lain terdiri dari: Pembiayaan (Bank, Modal Ventura); Jasa (Angkutan, Bisnis Distribusi, Konsultan Bisnis); Infrastruktur (Jalan Raya, Telekomunikasi, Listrik); Peralatan (Permesinan, Alat Bantu); Pengemasan; Penyedia Jasa Pengembangan Bisnis (BDSP).

5) Industri Terkait

a) Industri yang menggunakan infrastruktur yang sama;

b) Industri yang menggunakan sumber daya dari sumber yang sama (misal kelompok tenaga ahli).

Istilah “terkait” di sini agak berbeda dengan yang dipakai sehari-hari. Industri terkait tidak bisnis secara langsung. Industri terkait antara lain terdiri dari:

Kompetitor; Komplementer; Substitusi.

6) Lembaga Pendukung

a) Lembaga pemerintah, yang berupa penentu kebijakan atau melaksanakan peran publik;

b) Asosiasi profesi yang bekerja untuk kepentingan anggota;

c) Lembaga Pengembang Swadaya Masyarakat yang bekerj pada bidang khusus yang mendukung.

Istilah klaster industri memiliki pengertian lebih luas dari

“sentra industri” yang telah dikenal umum. Sentra industri lebih merupakan pengelompokan aktivitas bisnis yang serupa di suatu lokasi. Suatu atau beberapa sentra industri bisa merupakan bagian integral dan sebagai

“titik masuk (entry point)” dari upaya pengembangan (perkuatan) klaster industri.47

d. Perspektif Kebijakan Cluster di Indonesia

Clustering merupakan mengorganisasi secara sadar sektor industri tertentu di sebuah wilayah yang sama. Clustering mengandalkan adanya manfaat ekonomis mengembangkan sektor tertentu dalam wilayah yang sama baik dari sudut bahan baku, alih teknologi, tenaga kerja maupun infrastruktur.

Membuat cluster agar berkembang dengan baik dibutuhkan prasyarat. Karena mengandaikan manfaat ekonomis atas wilayah yang sama maka cluster harus diarahkan sesuai dengan karakteristik lokal (economies of localization). Bila

47 Nugroho, Panduan Pengembangan Klaster Industri, 7.

tidak sesuai dengan karakteristik lokal maka economies of localization niscaya akan hilang.

Karena itu proses pembentukan cluster mau tidak mau harus partisipatif. Masyarakat dan pemerintah lokal-lah yang paling tahu cluster dengan sektor unggulan apa yang tepat untuk daerahnya. Clustering karenanya adalah kebijakan yang desentralis dan partisipatif.

Dalam perspektif kebijakan nasional, clustering dapat digambarkan sebagai untaian kebijakan yang berbeda-beda sesuai karakteristik wilayah namun tetap satu dalam payung kebijakan industri nasional. Seperti Puzzle, Indonesia adalah rangkaian cluster yang sambung menyambung dari Sabang sampai Merauke.

Strategi clustering tepat untuk diterapkan di Indonesia.

Alasan pertama dari strategi klastering adalah karena Indonesia merupakan negara yang amat besar dengan karakteristik lokal yang berbeda-beda. Diperlukan kebijakan yang desentralis dan partisipatif dalam pengembangan industri di setiap wilayah. Klastering adalah strategi yang menggunakan pendekatan regional / spatial based approach yang tepat bagi lingkungan Indonesia.

Alasan kedua karena Indonesia sudah memiliki beberapa calon Cluster potensial. Calon cluster ini dapat dikembangkan

lebih lanjut menjadi cluster yang kuat dan bermutu yang dapat bersaing dipasar global. Contohnya adalah Bandung sebagai Cluster tekstil memiliki industri tekstil dan garmen yang inovatif.

Alasan ketiga adalah karena Indonesia memiliki jutaan usaha kecil dan menengah. Clustering adalah kebijakan yang terbukti tepat bagi pengembangan UKM. Kebijakan yang fokus di wilayah tertentu dan sederhana aplikasinya oleh pemerintah daerah memberi harapan lebih baik pada perkembangan UKM daripada semua kebijakan pemihakan pemerintah tentang UKM yang selama ini diterapkan.

Alasan keempat karena kita sedang menghadapi keterbatasan sumber daya pemerintahan dan anggaran.

Pengembangan cluster lebih efisien khususnya dalam hal penyediaan infrastruktur oleh pemerintah dan fasilitas lainnya termasuk pelatihan atau dukungan perguruan tinggi.48

e. Segitiga pemerintah, industri dan perguruan tinggi

Secara umum pengembangan cluster membutuhkan tiga pilar utama: pemerintah, indsutri dan perguruan tinggi.

Berkembang tidaknya suatu cluster ditentukan oleh interaksi diantara segitiga ini. Semakin kuat mereka berperan sesuai posisinya semakin baik perkembangan cluster. Segitiga ini

48 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 56.

merupakan pilar utama, tetapi pelaku aktif yang turut menentukan tidak hanya mereka. Pelaku lain yang juga punya pengaruh adalah asosiasi profesi, asosiasi tenaga kerja, perbankan dan institusi jasa pendukung. Peran ketiga pilar tersebut tergambar pada tabel berikut:

Tabel 2.2

Pelaku dan peran dalam segitiga pengembangan cluster. 49

Pelaku Peran

Pemerintah Pusat Infrastruktur berat. Insentif perbankan dan kebijakan moneter. Insentif fiskal.

Daerah Infrastruktur ringan. Perda: fasilitas, perlindungan, PT daerah dll. Insentif pajak daerah.

Industri Informasi dan umpan balik. Dana untuk riset Perguruan tinggi (PT) Perguruan Tinggi Riset aplikatif. Pekerja terampil.

Informasi dan umpan balik kebijakan.

Pemerintah dapat diidentifikasi menjadi dua, pusat dan daerah. Pemerintah pusat diharapkan menyediakan infrastruktur dasar yang umumnya tidak dapat disediakan oleh pemerintah daerah. Selain itu pemerintah pusat juga menyediakan insentif perbankan dan fiskal seperti keringanan pajak dan besa masuk.

Pemerintah daerah punya peran yang lebih krusial. Selain menyediakan infrastruktur ringan, pemda wajib menetapkan positioning dasar daerah dalam arah pengembangan industri.

Di Indonesia umumnya daerah telah memiliki rencana strategi

49 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 59.

yang ditetapkan dalam bentuk perda. Di dalam renstrada ini pula penegasan posisi dan arah dasar pengembangan cluster seharusnya ditegaskan sehingga mengikat semua pelaku yang terlibat.

Pemerintah daerah juga dituntut untuk mendukung pengembangan perguruan tinggi di wilayahnya. Insentif dana dan fasilitas disediakan. Arah pengembangan perguruan tinggi ini harus sesuai dengan pola pengembangan industri yang ada.

Bila cluster yang akan dikembangkan adalah kelap sawit, maka perguruan tinggi yang dikembangkan selayaknya politeknik kelapa sawit yang menyediakan riset dan pendidikan yang relevan.

Selain itu, pemda juga dapat menyediakan insentif dan regulasi lain. Pemda sebaiknya membuat tata ruang yang konsisten dengan arah pengembangan cluster. Pemda dapat menyediakan insentif lain dari pelatihan, insentif pajak daerah, tanah dll.

Dalam hubungannya dengan pelaku lain akan tercipta pola interdependensi. Kalangan industri menyediakan informasi dan umpan balik kebijakan kepada pemerintah. Dalam batas tertentu, industri akan menyumbang pajak dan retribusi kepada pemerintah. Dalam hubungannya dengan perguruan tinggi, industri memberikan informasi kebutuhan yang perlu

diperhatikan perguruan tinggi baik dalam riset aplikatif maupun kebutuhan pelatihan.

Perguruan tinggi dituntut menyediakan hasil riset yang aplikatif dalam teknologi produksi dan manajemen yang relevan bagi industri terkait. Perguruan tinggi juga dituntut menyediakan pekerja terampil sesuai kebutuhan cluster. Dalam hubungan dengan pemda, perguruan tinggi membutuhkan perlindungan hukum, insentif dana dan fasilitas. Dengan demikian arah pengembangan cluster menjadi terjaga dan berkelanjutan. Pola hubungan selengkapnya dapat dilihat dalam gambar dibawah ini.50

Gambar 2.3

Pola hubungan segitiga cluster.51

50 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 60.

51 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 61.

Pemerintah

Industri Perguruan Tinggi

Infrastruktur, perda , insentif

pajak dll

Subsidi dana, Perda.

informasi informasi

Riset aplikatif, pekerja terampil Dana dan informasi.

f. Peran pemerintah dalam cluster industry

Pengembangan industri menuntut peran terpadu dari berbagai tingkatan pemerintahan. Skema clustering menekankan pentingnya keterpaduan ini. Menurut Porter fokus pengembangan daya saing industri tidak lagi terletak pada kebijakan negara pada perekonomian secara keseluruhan tetapi pada keterpaduan antar tingkatan pemerintahan. Secara lengkap porter menulis “For Government, thinking about the competitiveness of nations and states has focused on the overall economy, with national-level policy as the dominant influence. In the global economy, sound macroeconomic policies are necessary but not sufficient”.52

Dibawah ini diuraikan peran yang seharusnya diambil oleh pemerintah pusat dan daerah dalam pengembangan cluster industri. Yang diurai disini adalah peran spesifik diluar yang telah sering disebut dalam teori dan referensi mengenai industrialisasi.

a) Menetapkan arah regulasi oleh pemerintah daerah Pengembangan cluster di suatu daerah membutuhkan dukungan dari semua pelaku, masyarakat daerah dan berbagai lembaga terkait. Upaya ini juga membutuhkan proses yang berlanjut. Pengembangan cluster bukan

52 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 64.

pekerjaan suatu instansi saja dan juga bukan pekerjaan insidential.

Pengembangan cluster seharusnya juga merupakan bagian dari arah besar pembanguna daerah. Ia merupakan bagian terpadu dari upaya membangun kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Untuk memastikan dukungan semua pihak dan keberlanjutan maka diperlukan dasar hukum yang mengikat.

Sebaiknya Pengembangan cluster di suatu wilayah tertentu ditetapkan lewat peraturan daerah. Dengan demikian jaminan keberlanjutan dan dukungan lintas pelaku dapat diharapkan.53

Pemerintah daerah dapat menetapkan peraturan daerah (perda) khusus mengenai pengembangan cluster atau mengaturnya bersama dengan peraturan daerah yang lain.

Perda khusus ini mengatur semua hal terkait khususnya peran segitiga pemda-indstri dan perguruan tinggi.

Diantaranya adalah penetapan ruang/wilayah, positioning atau pilihan sektoral industri, berbagai insentif, koordinasi antar instansi daerah, pengembangan PT terkait, pengembangan asosiasi industri, peraturan ketenagakerjaan serta penyediaan dan pemeliharaan infrastruktur.

53 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 64.

Pemerintah daerah juga dapat menetapkan aturan pengembangan cluster ini bersama perda lain yang terkait namun terpadu. Dalam kaidah tata pemerintahan di Indonesia, arah pembangunan daerah tercantum di dalam dokumen yang dikenal dengan istilah rencana strategis daerah atau renstrada. Renstrada ditetapkan dalam bentuk peaturan daerah sehingga mengikat seluruh masyarakat dalam wilayah tersebut. Aturan mengenai pilihan sektoral industri, arah pengembangan PT, koordinasi antar instansi dan penyediaan infrastruktur dapat dicantumkan dalam perda renstrada ini. Dengan demikian setiap tahun dalam penetapan rencana pembangunan tahunan daerah (Repetada), agenda pengembangan cluster juga akan terikat untuk dimunculkan.54

Perda lain yang terkait dengan pengembangan cluster adalah perda mengenai tata ruang wilayah. Di dalamnya dapat diatur secara jelas peruntukan sebuah wilayah tertentu khususnya cluster, peta kantung pemukiman, peta bahan baku atau sumberdaya alam serta peruntukan untuk infrastuktur, misalnya pelabuhan dan pembangkit listrik.

Perda lain yang secara parsial terkait dengan pengembangan cluster adalah perda mengenai tenaga kerja,

54 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 65.

kependidikan dan perguruan tinggi, asosiasi industri, dsb.

Beberapa perda ini bervariasi antar daerah.

Sekalipun demikian, dalam hal regulasi ini pemerintah daerah tetap perlu untuk bersikap responsif. Perubahan pasar berlangsung cepat, kalangan industri karenanya dituntut untuk selalu berubah dan berkembang. Namun umumnya perubahan regulasi berlangsung lambat sehingga gagal mengantisipasi perubahan lingkungan persaingan.55 b) Pemda sebagai fasilitator antar pelaku

Selain regulasi, peran pemerintah daerah yang penting adalah menjadi fasilitator bertemunya para pelaku. Pelaku pengembangan cluster amat beragam dari kalangan industri, perguruan tinggi, para pekerja, penyedia bahan baku, asosiasi profesi, dsb. Pemerintah daerah selaku „tuan rumah‟ harus memerankan dirinya menjadi fasilitator sehingga tercipta dialog, komunikasi dan kerja sama diantara mereka.

Fasilitas pertama yang penting dilakukan adalah mendorong terbentuknya asosiasi industri. Asosiasi industri merupakan pelaku utama didalam cluster yang mutlak didengarkan aspirasi dan umpan baliknya dalam pengembangan cluster. Pun sebaliknya, komunikasi dengan

55 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 66.

mereka lebih mudah dilakukan bila terbentuk sebagai asosiasi.

Dengan adanya asosiasi, pemihakan terhadap industri dilakukan pada kelompoknya dan tidak pada satu-dua perusahaan saja. Selain lebih adil, pemihakan seperti ini akan mendorong kerja sama dan menggeser kompetisi internal untuk meraih keunggulan di pasar. Dengan demikian kompetisi tidak berfokus pada upaya mendapatkan kedekatan dengan pemda demi meraih insentif pemihakan tertentu, hal yang amat mudah terjadi di dalam masyarakat dan lembaga pemerintah kita yang ramah terhadap korupsi ini. 56

Sebagaimana diungkapkan Humphrey, pengalaman eropa membuktikan bahwa peran pemerintah amat penting dalam memfasilitasi hubungan dengan kalangan industri.

Pengalaman dari Denmark dan Chile mengingatkan bahwa spesialisasi dan kerja diantara UKM dan perusahaan di dalam cluster dapat ditingkatkan lewat institusi publik dalam hal ini pemerintah.

Selain aspirasi dan umpan balik dari kalangan industri, dengan adanya asosiasi maka berbagai langah bersama akan dapat diambil khususnya dalam aktifitas

56 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 67.

menekan biaya transaksi dan memfasilitasi belajar bersama.

Berbagai manfaat aktif cluster dapat diraih dengan usaha bersama dalam bidang pemasaran, pembelian, pelatihan, penggunaan fasilitas dan join testing-tes produk bersama.57

Fasilitasi berikutnya yang penting dilakukan adalah mempertemukan kalangan industri dengan perguruan tinggi serta kalangan lain yang terkait. Bahkan pemda dapat memfasilitasi pembentukan perguruan tinggi dengan melibatkan industri sebagai pendiri, anggota majelis wali amanat (MWA- semacam majelis yang menentukan arah pendidikan) dan bahkan dosen. Keterlibatan aktif mereka akan mendorong terciptanya perguruan tinggi dengan produk riset dan alumni dengan kualifikasi yang tepat bagi kebutuhan cluster tersebut.

Pemerintah daerah juga dituntut berperan mempertemukan pelaku cluster di wilayahnya dengan institusi lain yang berperan penting. Diantaranya yang paling dibutuhkan adalah kalangan perbankan nasional, investor, asosiasi tenaga kerja dan asosiasi profesi.

Khusus dalam masalah pembinaannya, Humphrey menyarankan bahwa sebaiknya pemerintah lebih mendorong cluster untuk lebih memperhatikan buyer driven

57 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 67.

daripada supply driven. Pendekatan untuk lebih customer orineted adalah elemen kunci dalam membantu mereka.

Orientasi supply (training, kredit, bahan baku, teknologi) pada umumnya lebih tidak efektif dibanding demand/customer oriented asisstance programmes. Contoh fasilitasi konkretnya adalah pastisipasi dalam pameran dagang, tender pembelian belanja pemerintah/publik dan bantuan kerjasama kontrak dengan perusahaan besar.58 c) Insentif dana pemerintah daerah

Insentif dana paling penting yang sebaiknya dilakukan pemerintah daerah adalah mendukung perkembangan awal perguruan tinggi di wilayahnya. Dalam hal ini insentif dana dan fasilitas dapat disediakan.

Untuk initial investmen, pemerintah daerah dapat menyediakan fasilitas tanah dan gedung serta biaya operasional selama beberapa bulan awal. Insentif dana untuk hal yang berlanjut sebaiknya diperuntukkan bagi kegiatan perguruan tinggi yang paling penting namun paling tidak ekonomis, khususnya dalam arti tidak mungkin dibiayai oleh kalangan industri di dalam cluster. Misalnya bagi riset-riset dasar, tunjangan bagi dosen dan peneliti

58 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 68.

tertentu atau bagi fasilitas pengembangan laboratorium dan perpustakaan.

Selain itu, pemerintah daerah juga dituntut menyediakan infrastruktur skala ringan. Misalnya penataan wilayah, jalan kabupaten/propinsi, air bersih serta penerangan. Dalam batas tertentu, pemda juga dapat menyediakan infrastruktur dasar dengan pembiayaan bersama dengan swasta atau pemerintah pusat.59

Pemerintah daerah dapat menyediakan fasilitas intensif pajak dan retribusi daerah. Berbagai aktifitas investasi, proses produksi dari industri di dalam cluster selayaknya diberikan insentif pembebasan pajak/retribusi.

Sebenarnya umumnya pelaku industri tidak keberatan untuk membayar pajak/retribusi daerah selama itu relevan dan tidak memberatkan. Industri dan investasi akan senang bekerja diwilayah yang (bahkan) sekedar menyediakan pembebasan pajak.

Dalam hal pajak dan retribusi daerah maka perspektif insentif dana ini harus lebih dikedepankan. Selama ini pemerintah daerah seakan berlomba meningkatkan PAD dengan membuat perda yang mengatur pajak dan retribusi daerah yang tidak perlu. Menurut survei CODB

59 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 69.

FEUI, saat ini ada sekitar 284 perda yang tidak perlu yang sangat menghambat perkembangan sektor industri.60

d) Pemerintah pusat dan inenstif pajak

Dalam segitiga pengembangan cluster, terdapat hubungan antara perguruan tinggi dan industri. Perguruan tinggi menyediakan hasil riset aplikatif dan tenaga kerja terampil bagi industri. Sebalknya industri menyediakan iinformasi khususnya menyangkut kebutuhan industri atas riset dan tenaga kerja serta menyediakan dana bagi perguruan tinggi.

Dalam perspektif pelaku, industri praktis mau memberikan dana riset bagi perguruan tinggi selama ia mendapat keyakinan bahwa investasinya mendapatkan kembalian. Kembalian itu berupa hasil riset yang relevan dan dapat dijual sebagai produk industri tersebut. Demikian pula hal penyediaan tenaga kerja terampil oleh perguruan tinggi.

Karena itu riset perguruan tinggi seharusnya market friendly. Dengan industri akan mau memberikan dananya bagi perguruan tinggi. Demikian pengembangan cluster maka harus dihindarkan dorongan riset perguruan tinggi

60 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 69.

setempat hanya ditujukan untuk alasan mengejar cum semata.

Untuk mendorong hubungan mutualisme yang lebih kuat diantara industri dengan perguruan tinggi diperlukan fasilitasi pemerintah. Salah satu yang efektif adalah insentif pajak pemerintah.61

Beberapa skema insentif pajak ini adalah, pertama bahwa sumbangan pada institusi pendidikan/riset diperlakukan sebagai pengurang pajak. Sumbangan dan dana sponsorship untuk pendidikan/riset dapat dibebankan sebagai cost/biaya dan bukan sebagai expense/beban.

Konsekuensinya dalam laporan keuangan versi pajak62, sumbangan tersebut dilaporkan sebagai cost/biaya yang akan mengurangi laba versi pajak. Laba yang berkurang akan mengurangi pula Pajak Penghasilan yang harus dibayarkan perusahaan. Skema ini akan mendorong perusahaan untuk menyumbang ke dunia pendidikan/riset karena akan dapat diklaim sebagai pengurang pajak.

Skema kedua adalah pembebasan PPN untuk sumbangan pada institusi pendidikan/riset. Selama ini setiap

61 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 70.

62 Dunia usaha mengenal dua tipe laporan keuangan. Yaitu pertama, laporan keuangan untuk publik yang akan diaudit oleh auditor independen. Laporan ini disusun menurut Standar Akuntansi Keuangan Indonesia. Kedua, laporan keuangan untuk keperluan pajak. Ada beberapa perlakuan berbeda diantara kedua tipe ini. Namun penyusunan yang berbeda diperbolehkan peraturan perundangan.

sumbangan dana dari perusahaan/institusi khusunya WAPU (wajib pungut) dikenakan PPN sebesar 10%. Dengan skema ini diharapkan mendorong dunia usaha untuk memperbesar sumbangan pada institusi pendidikan.63

Skema ketiga adalah pembebasan PPN untuk buku.

Selama ini buku dikenai PPN padahal buku merupakan barang yang penting dalam proses pengembangan sains dan teknologi khususnya pendidikan dan riset. Dengan ini diharapkan akan menekan harga jual buku serta mendorong naiknya aktifitas ekonomi dalam industri buku khususnya dalam aspek distribusinya.

Skema yang lain adalah pembebasan PPN pada barang dan jasa yang dibeli oleh institusi pendidikan/riset.

Selama ini semua barang yang dibeli oleh institusi pendidikan/riset dikenakan PPN yang dapat dipungut dari pembeli (institusi pendidikan/riset) atau penjual. Skema ini dapat diterapkan dengan mengharuskan PPN dipungut oleh institusi pendidikan/riset serta dibebaskan secara langsung dengan memberikan laporan pajaknya. Manfaatnya adalah menekan biaya yang harus dikeluarkan institusi pendidikan/riset.

63 Hartarto, Strategi Clustering dalam Industrialisasi Indonesia, 70.

Insentif pajak seperti ini merupakan kewenangan pemerintah pusat. Selain demi kepentingan pengembangan cluster disebuah wilayah, kebijakan ini dipercaya juga akan bermanfaat bagi pengembangan industri serta dunia pendidikan tinggi secara nasioanal karenanya sebaiknya pemerintah mengadopsinya sebagai kebijakan nasional.

Insntif seperti ini bekerja dalam „logika pasar‟ sehinga dunia usaha bersedia menyokong pola ini karena menguntungkan atau setidaknya „tidak merepotkan‟.

Seperti juga sudah sering diulas para pengamat, pemerintah pusat juga dapat menyediakan berbagai insentif fiskal lainnya. Selain menyediakan kebijakan ekonomi internasional yang tepat, pemerintah pusat juga dapat menyediakan insentif kredit perbankan serta berbagai bentuk keringanan pajak serta bea masuk yang relevan.

g. Riset dan perguruan tinggi

Dalam konteks pengembangan cluster, pengembangan pendidikan tinggi kejuruan lebih layak untuk dikembangkan.

Baik model politeknik yang memiliki kejuruan lebih banyak atau akademi dengan kejuruan tertentu.

Mendirikan politeknik atau bentuk pendidikan tinggi kejuruan lainnya merupakan pilihan paling layak. Bentuk pendidikan seperti ini lebih mudah proses perijinannya dan

Dokumen terkait