BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISAS
% CAPAIAN KINERJA 1 2 3 4 5 Meningkat- nya Status Kesehatan dan Gizi Masyarakat
1 Menurunnya angka kematian ibu melahirkan menjadi 306 per 100.000 kelahiran hidup; 306/100.000 KH 76,2/100.000 KH 175,09
2 Menurunnya angka kematian bayi menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup;
24/1000 KH
9,02/1000KH 162,42%
LKjIP Dinas Kesehatan Kab. Ogan Komering Ulu Tahun 2016 34 neonatal menjadi 15 per 1.000
kelahiran hidup;
4 Jumlah anak balita gizi buruk tidak lebih dari 1 %;
≤1% 0,06% 104
5 Persentase ibu bersalin yang ditolongoleh Nakes terlatih (cakupan PN) sebesar 95%
91% 89,1% 97,9
6 Rasio Puskesmas, poliklinik, pustu persatuan penduduk
- Puskesmas (30.000) - Pustu (10.000) - Poskesdes/Poskestal (3000) 1:20.579 1:7.951 1:2.072 1:19.435 1:7.950 1:2.133 94,44 99,98 102,9
7 Bed Occupancy Rate ( BOR) 85% 50% 82,35
8 Average Legth of stay (ALOS 6- 8 hari) 6.8 hari 4 hari 58,82 9 Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan (1 TT/1.500 penduduk) 1:1.500 1 : 1.118 74,53 10 Rasio Dokter persatuan
penduduk (10.000) 1:10.000 1:3.644 274,29
11 Rasio tenaga kerja paramedis persatuan penduduk (10.000)
1:10.000 1: 441,15 204,41 12 Jumlah kecamatan yang
memiliki Puskesmas
14 13 92,86
13 Persentase Puskesmas rawat inap yang mampu PONED sebesar 100%;
4 2 50
14 Persentase RS Kab/Kota yang melaksanakan PONEK sebesar 100%
3 3 100
15 Cakupan kunjungan ibu hamil
K4 95 77,7 81,79
16 Cakupan Komplikasi kebidanan
yang ditangani 80 67,79 84,74
17 Cakupan Pelayanan Nifas 90 86 95,56
18 Cakupan Neonatus dengan
komplikasi yang ditangani 80 57,3 71,63
19 Cakupan kunjungan bayi 90 90,6 100,66
20 Cakupan pelayanan anak balita 90 83,9 93,22 21 Cakupan pemberian MP-ASI
pada anak keluarga miskin 100 100 100
22 Cakupan gizi buruk yang
LKjIP Dinas Kesehatan Kab. Ogan Komering Ulu Tahun 2016 35 Dalam tahun 2016 terdapat kenaikan pencapaian kinerja yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Keberhasilan terselenggaranya sasaran ditandai dengan prosentase pencapaian target yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat terdapat 15indikator yang memiliki capaian kinerja dengan kategori sangat berhasil ( x ≥ 85 %),6 indikator yang masuk kategori cukup berhasil ( 55 % x 85 %) dan 1 indikator yang termasuk kategori tidak berhasil (x ≤55 %), dengan penjelasan sebagai berikut :
-15 indikator yang memiliki capaian kinerja dengan kategori sangat berhasil (x ≥ 85 %) 1. Menurunnya Angka Kematian Ibu Melahirkan menjadi 306 per 100.000
Kelahiran Hidup.
Peningkatan kesehatan ibu telah menjadi salah satu komitmennegara-negara di dunia.Salah satu indikator yang menggambarkan besaran masalahkesehatan ibu di suatu wilayah adalah Angka Kematian Ibu (AKI). AKI mencerminkan resiko yang di hadapi ibu-ibu selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi olehkeadaan sosial ekonomi, keadaan kesehatan yang kurang baik menjelang kehamilan serta kejadian sebagai komplikasi pada kehamilan maupun kelahiran, serta kemampuan dan kualitas pelayanan kesehatan yang kurang memadai. Selain menunjukkan capaian status kesehatan penduduk, AKI juga mengindikasikan kualitas pendidikan dan pengetahuan masyarakat, kualitas kesehatan lingkungan, sosial budaya serta hambatan dalam memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan.Angka kematian ibu juga digunakan sebagai indikator MDG’s yang bukan saja harus digunakan tahun 2016 tetapi juga sebagai alat untuk monitoring pencapaian atau posisi kematian ibu tiap tahunnya melalui pencapaian goal kelima SDG’s yaitu peningkatan kesehatan ibu dengan salah indikator globalnya adalah penurunan kematian ibu sampai dengan 3/4 dari standar nasional 306 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu (AKI) adalah jumlah kematian ibu sebagai akibat komplikasi kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidensil) selama kehamilan, melahirkan maupun dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.Perhitungan AKI di setiap kabupaten sangat sulit dilakukan karena jumlah kelahiran hidup tidak mencapai 100.000 kelahiran hidup. Untuk mengurangi bias perhitungan AKI yang direkomendasikan WHO dalam 100.000 KH maka digunakan rasio kematian ibu. Jumlah kematian ibu di Kab.OKU selama tahun 2016 sebanyak 6 orang dari 7.873 kelahiran hidup (KH).Berdasarkan asumsi, maka AKI di Kab. OKU tahun 2016 adalah 76,2 per 100.000 KH. Angka tersebut jauh dibawah angka nasional yang sebesar 306/100.000 namun tidak menutup kemungkinan adanya ”missed opportunities" terhadap kematian yang tidak terlaporkan. Pencapaian target penurunan kasus kematian ibu melahirkan dalam RPJMD Kab. OKU 2016 – 2021 sebanyak 7 kasus kematian sedangkan kasus kematian ibu tahun 2016 ditemukan sebanyak 6 kematian yang disebabkan oleh perdarahan (2 kasus), hipertensi selama kehamilan (1 kasus), gangguan sistem peredaran darah (1 kasus) dan penyebab lain-lain sebanyak 2 kasus sehingga untuk indikator capaian kinerja mencapai 175,09% atau termasuk dalam kategori sangat berhasilsesuai penjelasan grafik berikut ini :
LKjIP Dinas Kesehatan Kab. Ogan Komering Ulu Tahun 2016 36 Grafik 3.1.
Distribusi Kasus Kematian Ibu Berdasarkan Penyebab Kematian Di Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2016
2. Menurunnya angka kematian bayi menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup Infant Mortality Rate atau Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1000 Kelahiran Hidup pada tahun yang sama. Angka Kematian Bayi merupakan gambaran status kelangsungan hidup di suatu wilayah yang dipengaruhi oleh status kesehatan anak serta didukung olehadanya status pelayanan kesehatan anak yang optimal. Angka kematian Bayi merupakan aspek penting dalam menilai keberhasilan pembangunan kesehatan.
Kesehatan bayi di Kabupaten OKU terus membaik yang ditunjukkan dengan angka kematian bayi yang masih dibawah angka nasional. Kasus kematian bayi tahun 2016 sebanyak 79 kasus dengan perhitungan Angka Kematian Bayi sebesar 9,02/1.000KH. Angka tersebut lebih rendah dari target nasional dan target SPM 2016 sebesar 24 per 1000KH sehingga pencapaian kinerja sebesar 162,42%.
3. Menurunnya angka kematian neonatal menjadi 15 per 1.000 kelahiran hidup Sebagian besar penyebab kematian bayi di Kab. OKU tahun 2016 adalah masalah yang terjadi pada bayi usia 8 – 28 hari. Sekitar 75% kematian bayi tersebut terjadi pada bulan pertama kehidupannya dan 76% diantaranya berada pada minggu pertama kehidupannya. Penyebab kematian pada masa neonatal pada umumnya berkaitan dengan kesehatan ibu selama hamil, kesehatan janin selama di dalam kandungan dan proses pertolongan persalinan yang diterima ibu/bayi. Angka kematian neonatal di Kab. OKU memiliki capaian kinerja 156%, dimana target 2016 sebesar 15 per 1000 kelahiran hidup dan realisasi sebesar 6,6 per 1000 KH. Dapat dilihat bahwasanya angka kematian neonatal Kab. OKU sebesar 30% angka nasional. Hal ini dibantu dengan penentuan Kab.OKU sebagai Kabupaten Fokus dalam menurunkan angka kematian ibu, bayi dan balita dengan lima Puskesmas Prioritas yaitu : Puskesmas Tanjung Agung, Lubuk Batang, Peninjauan, Sukaraya dan Tanjung Legkayap.Untuk akselerasi penurunan angka kematian tersebut, pada tahun 2017 akan ditambah Puskesmas Fokus sebanyak lima Puskesmas yang terdiri : Puskesmas Kemalaraja,
2 1 1 2 Perdarahan Hipertensi Kehamilan Gangguan Sistem Peredaran Darah Lain - Lain
LKjIP Dinas Kesehatan Kab. Ogan Komering Ulu Tahun 2016 37 Penyandingan, Ulak Pandan, Lubuk Rukam dan Batumarta II. Puskesmas Fokus diberikan tugas untuk pendataan Keluarga Sehat yang merupakan base line dari semua data dasar sasaran yang menjadi target kinerja program kesehatan Ibu – Anak, Kesehatan Reproduksi, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular maupun Tidak Menular serta Penyehatan Lingkungan.
4. Jumlah anak balita gizi buruk tidak lebih dari 1%
Balita adalah anak usia di bawah 5 tahun (anak usia 0 s/d 3 bulan) yang ada di wilayah kerja pada ukuran waktu tertentu. Gizi buruk adalah status gizi berdasarkan indeks berat badan (BB) menurut panjang badan (PB) atau tinggi badan (TB) dengan nilai Z-Score -3 SD. Jumlah anak balita gizi buruk di Kab. OKU tahun 2016 sebanyak 18 orang. Berdasarkan batasan Capaian Indikator SPM bahwa gizi buruk diharapkan berada di bawah 1%.Realisasi persentase gizi buruk di Kab. OKU tahun 2016 sebesar 0,06% dengan capaian kinerja sebesar 104% dengan kategori sangat berhasil dalam upaya peningkatan surveilans gizi masyarakat.
Keberhasilan pelaksanaan program gizi oleh Dinas Kesehatan dan jaringannya berkat kerjasama dengan semua pihak yang terlibat.Dukungan pemerintah daerah yang secara konsisten berkomitmen terhadap penanggulangan dan pencegahan gizi buruk juga mempengaruhi status gizi balita. Disamping itu, meningkatnya peran serta masyarakat melalui posyandu yang setiap tahun bertambah jumlahnya sangat membantu memantau keadaan tumbuh kembang anak di wilayah kerja masing- masing.
5. Persentase ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih (cakupan PN) sebesar 95%.
Linakes adalah pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang profesional (dengan kompetensi kebidanan) dimulai lahirnya bayi, pemotongan tali pusat sampai keluarnya plasenta. Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi di masa persalinan. Hal ini antara lain disebabkan karenapertolongan persalinan yang tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan yaitu oleh dukun beranak.
Cakupan pertolongan persalinan oleh kesehatan Kab. OKU pada tahun 2016 sebesar 89,1%, target tersebut lebih rendah dibandingkan target indikator kinerja tahun 2015 sebesar 90% sehingga pencapaian kinerja sebesar 97,9% Pencapaian tersebut mengindikasikan bahwa adanya perbaikan surveilans KIA terkait persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan dengan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan serta belum menetapnya bidan di beberapa desa perifer dalam wilayah Kab.OKU sehingga terdapat persalinan yang tidak ditangani oleh tenaga yang berkompetensi.Kemitraan bidan dan dukun mendorong peran dukun beranak tidak lagi menolong persalinan tetapi sebagi pendamping bidan pada saat menolong persalinan.Disamping itu, hal ini didorong juga oleh peran aktif kader Poskesdes yang melakukan pendataan P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi dengan menempelkan stiker P4K pada rumah yang memiliki ibu hamil). Upaya di atas merupakan alternatif penyelesaian untuk meningkatkan persentase ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih.
LKjIP Dinas Kesehatan Kab. Ogan Komering Ulu Tahun 2016 38 6. Rasio Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Poliklinik persatuan penduduk
Rasio Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Poliklinik (Poskesdes/Poskestal) adalah perbandinganjumlah sarana kesehatan di Kabupaten Ogan Komering Ulu per satuan penduduk, dimana Puskesmas per 30.000 penduduk; Pustu per 10.000 penduduk dan Poskesdes per 3.000 penduduk. Puskesmas, Pustu dan Poliklinik (dalam hal ini adalah Poskesdes) merupakan sarana kesehatan strata pertama dimana berperan sebagai pemberi pelayanan kesehatan dasar tingkat pertama.
Tahun 2016 jumlah Puskesmas di Kabupaten OKU sebanyak 18 Puskesmas, terdiri dari 12 Puskesmas non perawatan 6 puskesmas perawatan. Jika dibandingkan dengan target rasio Puskesmas per satuan penduduk (1 : 19.435) maka capaian rasio Puskesmas persatuan penduduk sebesar 94,44% (di kabupaten OKU direncanakan 19 Puskesmas). Akan tetapi mengingat penyebaran penduduknya yang tidak merata dan kondisi wilayah perbukitan yang mengakibatkan jarak tempuh dari desa ke Puskesmas cukup jauh sehingga masih diperlukan penambahan jumlah Puskesmas dalam rangka mendekatkan akses pelayanan kesehatan pada masyarakat. Untuk saat ini dengan adanya 18 Puskesmas, maka rasio Puskesmas persatuan penduduk tahun 2016 adalah 1:19.435.
Jumlah Puskesmas pembantu di Kabupaten OKU sebanyak 44 Pustu yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan, jika dibandingkan dengan target rasio Pustu per satuan penduduk sebesar 1:10.000, maka target tersebut sebesar 99,98%. Rasio Puskesmas Pembantu per satuan penduduk tahun 2016 adalah 1: 7.950, mengingat belum semua bangunan Puskesmas Pembantu dalam kondisi baik sehingga masih dibutuhan upaya rehabilitasi.Jumlah Poskedes di Kabupaten OKU sebanyak 167 poskesdes, terdiri dari 126 unit bangunan milik pemerintah, 4 unit bangunan PNPM, 36 di rumah bidan/masyarakat dan 1 unit bangunan CSR PT Semen Baturaja. Bangunan Poskesdes yang ada jika dibandingkan dengan target rasio Poskesdes per satuan penduduk (1:2.072), maka target tersebut sudah tercapai yaitu 102,9% dimana rasio Poskesdes per satuan penduduk tahun 2016 adalah 1:2.133, hanya saja tidak semua bangunan Poskesdes tersebut dalam kondisi baik, sehingga masih perlu direhabilitasi agar menjadi layak huni melalui dana APBD, APBN (Dana Desa) maupun CSR.
7. Rasio Dokter persatuan penduduk (10.000)
Jumlah seluruh dokter di Kabupaten OKU sebanyak 96 orang baik di RSUD Ibnu Sutowo maupun di Puskesmas, dengan rincian sebagai berikut:
- Dokter umum di RSUD sebanyak 63 orang, terdiri dari 25 orang dokter spesialis dan 38 orang dengan kualifikasi dokter umum.
- Dokter di Puskesmas sebanyak 33 orang, terdiri dari 7 orang dokter PNS dan 26 orang dokter PTT
Jika dibandingkan dengan target rasio dokter per satuan penduduk tahun 2016 sebesar (1:10.000), maka rasio dokter per satuan penduduk di Kabupaten OKU sebesar 1:3.644 sudah melampaui target capaian kinerja sebesar 274,29% hanya penyebarannya yang tidak merata. Dokter umum banyak terdistribusi di Puskesmas dalam wilayah perkotaan (rata – rata 3 sampai 4 dokter per Puskesmas) sedangkan Puskesmas di luar wilayah perkotaan rata – rata sudah memiliki dokter dengan jumlah minimal yaitu 1 (satu) orang sesuai Permenkes nomor 75 tahun 2015.Yang saat ini masih belum memiliki tenaga dokter adalah Puskesmas Lubuk Rukam dan
LKjIP Dinas Kesehatan Kab. Ogan Komering Ulu Tahun 2016 39 Ulak Pandan.Kebutuhan dokter umum bagi Puskesmas Rawat Inap yang mampu PONED minimal harus 2 orang dokter mengingat Puskesmas PONED harus memberikan pelayanan selama 24 jam sehingga jam tugas dokter jaga dibagi dalam 2 (dua) shift.
8. Rasio tenaga kerja paramedis persatuan penduduk (10.000)
Rasio tenaga kerja paramedis adalah perbandingan jumlah tenaga kerja perawat dan bidan yang bekerja di rumah sakit dan Puskesmas/jaringannya baik itu tenaga PNS, PTT dan Honor Daerahterhadap jumlah penduduk.Pada tahun 2016, ditargetkan 1 per 10.000penduduk untuk kabupaten Ogan Komering Ulu artinya 1 tenaga paramedis melayani 10.000 penduduk dalam wilayah kerjanya. Sedangkan realisasi pada tahun 2016, jumlah tenaga Paramedis adalah 1:441,15 atau 204,41%. Artinya pada tahun 2016, 1 orang tenaga paramedis melayani 441penduduk Kabupaten Ogan Komering Ulu atau ada 25 orang tenaga paramedis per 10.000 jumlah penduduk. Maka jika rasio tenaga paramedis dibandingkan dengan jumlah penduduk dalampencapaian kinerja untuk rasio tenaga kerja paramedis sudahjauh melebihi target yang ditetapkan. Yang perlu dipertimbangkan ke depan adalah status tenaga paramedis yang masih PTT Pusat, PTT Daerah, Honor Daerah maupun Tenaga Kerja Sukarela yang masih memerlukan pengangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil Daerah agar pelayanan yang diberikan dapat disertai dengan pertanggungjawaban yang sepadan.
9. Jumlah Kecamatan yang memiliki Puskesmas ( 100%)
Pada tahun 2015 jumlah Kecamatan di Kabupaten Ogan Komering Ulu sebanyak 13 Kecamatan (terdapat pemekaran Kecamatan Peninjauan yaitu Kecamatan Kedaton Peninjauan Raya terhitung September 2015) dengan jumlah Puskesmas 18 unit. Kecamatan yang memiliki lebih dari satu Puskesmas adalah Kecamatan Baturaja Timur (4 Puskesmas) meliputi Puskesmas Sukaraya, Sekar Jaya, Kemalaraja dan Tanjung Baru; Kecamatan Peninjauan ( 2 Puskesmas) yaitu Puskesmas Lubuk Rukam dan Puskesmas Peninjauan serta Kecamatan Semidang Aji (2 Puskesmas) adalah Puskesmas Pengaringan dan Ulak Pandan. Jika dibandingkan jumlah Puskesmas dengan Jumlah Kecamatan yang ada ( 18 Puskesmas : 14 Kecamatan), maka target minimal ada 1 Puskesmas per Kecamatan belum tercapai yaitu sebesar 92,86% mengingat di wilayah Kecamatan Lubuk Batang diusulkan pembangunan Puskesmas Gunung Meraksa mengingat daya tempuh beberapa desa ke Puskesmas Lubuk Batang untuk kasus – kasus emergensi membutuhkan waktu yang relatif lama (lebih dari 20 menit). Rencana pembangunan Puskesmas Gunung Meraksa tersebut diagendakan pada tahun 2019 melalui Dana Alokasi Khusus Bidang Pelayanan Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan.
10. Persentase RS Kab/kota yang melaksanakan PONEK sebesar 100%
Rumah sakit di Kabupaten Ogan Komering Ulusampai dengan bulan Desember 2016 sebanyak 3 Rumah sakit, terdiri dari 1 rumah sakit pemerintah ( RSUD Dr.Ibnu Sutowo), 1 rumah sakit Tentara ( RS Tk.IV Dr. Noesmir) dan 1 rumah Sakit Swasta ( RS. St Antonio). Dimana ketiga rumah sakit tersebut telah melaksanakan PONEK (100%). Pencapaian indikator kinerja untuk Rumah Sakit Kab./Kota yang melaksanakan PONEK sebesar 100%.
LKjIP Dinas Kesehatan Kab. Ogan Komering Ulu Tahun 2016 40 11. Cakupan pelayanan nifas
Masa nifas adalah masa 6-8 minggu setelah persalinan dimana organ reproduksi mengalami pemulihan untuk kembali normal. Akan tetapi, pada umumnya,organ- organ reproduksi akan kembali normal dalam waktu tiga bulan pasca persalinan. Kunjungan nifas bertujuan untuk deteksi dini komplikasi dengan melakukan kunjungan minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu:1 ) kunjungan nifas pertama pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari;2) kunjungan nifas kedua di lakukan pada minggu ke-2 setelah persalinan; 3) kunjungan nifas ketiga dilakukan pada minggu ke-6 setelah persalinan. Diupayakan kunjungan nifas ini dilakukan bersamaan kunjungan neonatus di Posyandu (Kemkes RI,2009). Dalam masa nifas, ibu akan memperoleh pelayanan kesehatan yang meliputi pemeriksaan kondisi umum, (tekanan darah, nadi respirasi, dan suhu), pemeriksaan lochia dan pengeluaran pervaginam lainya, pemeriksaan payudaran serta anjuran ASI ekslusif 6 bulan, pemberian kapsul vitamin A 200.00 IU sebanyak 2 kali ( 2x24 jam) serta pelayanan KB pasca persalinan. Perawatan nifas yang tepat akan memperkecil risiko kelainan atau bahkan kematian pada ibu nifas.
Yang dimaksuddengan cakupan pelayanan nifas adalah pelayanan kepada ibu dan neonatal pada masa 6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan sesuai standar. Cakupan pelayanan nifas di Kab. OKU tahun 2016 sebesar 86% yang dengan capaian indikator kinerja pelayanan nifas sebesar 95,56%. Pencapaian target tersebut menunjukkan semakin tinggi kesadaran ibu nifas untuk memeriksakan kesehatannya dan sudah semakin baiknya akses pelayanan ibu bersalin maupun nifas di sarana kesehatan. Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa petugas kesehatan makin proaktif dalam melakukan pelayanan pada ibu nifas dalam upaya memperkecil risiko kelainan bahkan kematian pada ibu nifas melalui kunjungan rumah.
12. Cakupan kunjungan bayi
Kunjungan bayi adalah kunjungan anak usia kurang dari satu tahun (29 hari-11 bulan)yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh dokter, bidan atau perawat disarana kesehatan. Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi imunisasi dasar lengkap, stimulasi deteksi dini tumbuh kembang dalam penyuluhan perawatan kesehatan bayi.Cakupan kunjungan bayi di Kab. OKU tahun 2016 sebesar 90,6% dengan capaian indikator kinerja sebesar 100,66%. Capaian tersebut telah melebihi target Kabupaten maupun target nasional (90%). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa petugas kesehatan semakin proaktif melakukan pemantauan kesehatan pada bayi melalui Kunjungan Neonatus sebanyak 3 kali (KN Lengkap) sebesar 90,6% dari 8.395 jumlah bayi yang dilahirkan guna menurunkan Angka Kematian Ibu(AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
13. Cakupan pelayanan anak balita
Yang dimaksud dengan cakupan pelayanan kesehatan balita adalah cakupan anak balita ( 12-59 bulan) yang memperoleh pelayanan sesuai standar, meliputi pemantauanpertumbuhan minimal 8 x setahun, pemantauan perkembangan minimal 2x setahun , pemberian kapsul vitamin A 2x setahun dan pemberian imunisasi dasar lengkap. Secara keseluruhan, cakupan kunjungan balita di Kab. OKU tahun 2016 sebesar 83,9%. Angka tersebut masih jauh dari target Dinkes OKU maupun target nasional (90%). Melihat kondisi tersebut menunjukkan bahwa, petugas kesehatan
LKjIP Dinas Kesehatan Kab. Ogan Komering Ulu Tahun 2016 41 belum seluruhnya proaktif melakukan pelayanan kesehatan pada balita dalam rangka menurunkan AKABAmelalui peningkatan kesadaran masyarakat untuk memantau tumbuh kembang balitanya setelah status imunisasi lengkap di posyandu.Guna meningkatkan cakupan kunjungan balita upaya yang secara rutin dilakukan adalah pembentukan kelas balita dan pemilihan balita sehat mulai tingkat Desa sampai Provinsi Sumatera Selatan.
14. Cakupan gizi buruk yang mendapat perawatan (100%)
Kekurangan gizi terutama pada anak-anak balita dapat menyebabkan meningkatnya risiko kematian, terganggunya pertumbuhan fisik dan perkembangan mental maupunkecerdasannya.Dalam beberapa hal dampak kekurangan gizi bersifat permanen yang tidak dapat diperbaiki walaupun pada usia berikutnya kebutuhan gizinya terpenuhi. Kekurangan gizi biasanya biasanya terjadi secara tersembunyi dan sering terlewatkan dari pengelihatan atau pengamatan biasa.
Cakupan balita gizi buruk yang mendapat perawatan pada tahun 2016 sebesar 100% dengan jumlah balita gizi buruk sebanyak 18 orang dengan penyebaran kasus sebagai beriku : Puskesmas Tanjung Agung (4 kasus), Puskesmas Kemalaraja (2 kasus), Puskesmas Tanjung Baru (2 kasus) dan Puskesmas Ulak Pandan sebanyak 10 kasus gizi buruk. Cakupan perawatan gizi 100% artinya semua balita gizi buruk yang ditemukan pada tahun bersangkutan telah mendapat perawatan sesuai standar.Faktor yang mempengaruhi pencapaian target ini adalah :
a) Tersedianya pendidikan gizi, pelayanan gizi dan tata laksana gizi buruk yang baik di fasilitas kesehatan
b) Terdeteksinya kasus gizi buruk secara dini oleh kader posyandu / kader desa
15. Cakupan Pemberian Makanan Tambahan pada anak keluarga miskin
Capaian kinerja indikator pemberian makanan tambahan pada anak keluarga miskin pada tahun 2016sebesar 100%dengan indikasi gizi kurang sebanyak 100 orang. Namun jumlah anak di atas 2 tahun pada keluarga miskin tidak tersedia datanya sehingga cakupan PMT pada keluarga miskin tidak dapat dihitung. Pemberian makanan tambahan dimonitoring secara berkala oleh petugas kesehatan Puskesmas untuk meminimalkan kesalahan penerima makanan tambahan. Angka ini menunjukkan kesinambungan program Pemberian Makanan Tambahan pada keluarga miskin dengan sasaran anak usia > 2 tahun. Faktor yang mendukung tercapainya kinerja ini adalah :
a) Keluarga miskin yang mempunyai anak dengan kondisi gizi buruk akan diberikan bantuan PMT berupa susu, roti dan vitamin
b) Adanya penyuluhan dan pendidikan gizi ke masyarakat
c) Peran aktif kader Posyandu dalam penemuan balita bawah garis merah (BGM).
LKjIP Dinas Kesehatan Kab. Ogan Komering Ulu Tahun 2016 42 - 6 indikator yang capaian kinerjanya yang termasuk kategori cukup berhasil ( 55
˂ x ≤ 85% )
1. Bed Occupancy Rate (BOR)
BOR adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu tertentu indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit.Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005).Pada tahun 2016, persentase pemakaian tempat tidur (BOR) RS. Dr Ibnu Sutowo Kabupaten Ogan Komering Ulu adalah 70%, artinya berada diatas parameter ideal dari BOR, ini menunjukkan adanya peningkatan kasus yang memerlukan perawatan tenaga medis. Hal ini dapat disebabkan karena sarana tempat tidur di RS Daerah sudah sangat memadai sebanyak 246 Tempat Tidur , hal juga dapat dilihat dari realisasi rasio tempat tidur per penduduk pada tahun 2016 sebesar 1 TT : 1.837 penduduk (standar : 1 TT : 1.500 penduduk) sehingga RS Dr Ibnu Sutowo perlu melakukan peningkatan mutu pelayanan dan memperketat peranan”Gate-keeper” Puskesmas dalam menyaring kasus yang perlu dirujuk ke unit pelayanan yang lebih tinggi. Jika dilihat dari pengukuran capaian kinerja, indikator BOR masih mencapai 70% dari target yang ditetapkan sebanyak 85% dengan nilai capaian kinerja sebesar 82,35%. Peningkatan mutu pelayanan, pengembangan sarana, penambahan prasarana maupun peralatan kesehatan perlu dilakukan sedini mungkin sebagai upaya kompetitif dengan Rumah Sakit Swasta dalam rangka menuju pengembangan RSUD H. Dr. Ibnu Sutowo sebagai rumah sakit rujukan regional.
2. Average Lenght of Stay ( av. LOS 6-8 hari) yakni 4 hari
ALOS atau rata-rata rawat inap adalah rerata lama hari dirawatnya seorang pasien. Indikator ini memberikan gambaran tingkat efisien dan mutu pelayanan, apabila diterapkanpada diagnose tertentu untuk perwatan lebih lanjut. Idealnya rata-rata rawat inap antara 6-9 hari kecuali pada penyakit kronis. Manfaat