• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

B. LAZAM dalam Analisis SWOT

1. Strength (Kekuatan)

Strength merupkan kondisi kekuatan yang terdapat dalam organisasi,

proyekatau konsep bisnis yang ada. Kekuatan yang dianalisis merupakan faktor yangterdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.

a) Sebagai satu-satunya lembaga pengelola zakat yang berada di sekitar masyarakat RW 1. Menimbulkan kekuatan sentral yang terletak pada satu titik. Sehingga, pendistribusian maupun penghimpunannya menjadi lebih komprehensif.

b) Kedua, LAZAM telah memiliki konsep panduan yang jelas serta manajemen dalam mengelola zakat.

c) Loyalitas dan integritas pengurus dalam menjalankan proses roda organisasi dalam pengembangan distribusi zakat sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

d) Telah memiliki muzakki tetap.

e) Medapat dukungan penuh dari masyarakat sekitar maupun lembaga atau instansi pemerintah.

2. Weakness (Kelemahan)

Weakness merupakan kondisi kelemahan yang terdapat dalamorganisasi,

proyek atau konsep bisnis yang ada, meliputi:

a) Tidak seimbangnya antara jumlah muzakki dan mustahiq. Mengakibatkan kurangnya jumlah dana dalam alokasi distribusi produktif.

b) Kurangnya profesionalisme kepengurusan, mengakibatkan ketidaksinambungan organisasi. Maka dalam hal ini seharusnya pengurus LAZAM bisa lebih cermat dalam mengurusi dinamika organisasi dan mampu mengalokasikan waktu di sela kesibukan masing-masing. Jadi,

kesinambungan organisasi dalam mengelola zakat akan lebih komprehensif.

c) sifat lembaga LAZAM yang masih berbasis sosial. Hal ini mengakibatkan kurangnya relasi maupun kerjasama dari pihak luar. Selain itu, sifatnya yang masih sosial juga menimbulkan kekurangan biaya operasional sehingga menghambat ruang gerak para pengurus dalam melejitkan pengelolaan zakat produktif. Jadi, adapaun solusinya ialah, segera untuk mengusulkan kepada pemerintah agar disahkan secara pemerintahan. Sehingga akan lebih mudah membangun jaringan kerja dan biaya operasional akan lebih lancar.

d) Tidak adanya pengawasan terhadap kinerja lanjut dalam distribusi produktif. Mengakibatkan seringnya terjadi penyelewengan dana zakat yang telah diberikan oleh LAZAM.

e) Belum adanya pendampingan dan pelatihan bagi kaum mustahiq dalam mengembangkan usaha dan modal yang telah diberikan oleh pihak LAZAM.

3. Opportunity(Peluang)

Opportunity merupakan kondisi peluang berkembang di masa datang

yang terjadi. Kondisi yang terjadi merupakan peluang dari luar organisasi,proyek atau konsep bisnis itu sendiri. Misalnya kompetitor, kebijakanpemerintah, kondisi lingkungan sekitar, meliputi:

a) Adanya stakeholder (muzaki, lembaga-lembaga sosial, lembaga pemerintah, lembaga swasta, dan lainnya) yang peduli dengan masalahkemiskinan.

b) Menjadi lembaga yang terdaftar di pemerintahan. Atau dengan kata lain, tidak lagi bersifat sosial.

c) Menjadi lembaga profesional yang berbasis kemasyarakatan, dengan menerapkan sistem kepercayaan.

4. Threats (Ancaman)

Threats merupakan kondisi yang mengancam dari luar.Ancaman inidapat

mengganggu organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri, meliputi: a) Jumlah kemiskinan yang semakin bertambah.

b) Banyaknya lembaga konfensional yang menawarkan pinjaman usahadengan pengembalian secara kredit berbunga.

c) Berkurangnya jumlah muzakki. Keterbatasan jumlah muzakki yang diiringi dengan masih banyaknya para mustahiq, menimbulkan ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Hal ini menimbulkan masih banyak dari kalangan mustahiq yang belum mendapat jatah bantuan dana zakat. Sehingga proses penggiliran yang dilakukan oleh LAZAM terbilang cukup lama. Sehingga dalam upaya pengentasan kemiskinan relatif memakan waktu yang cukup lama. Jadi, konsekwensi logis yang harus diterima ialah, LAZAM tidak mampu bergerak dengan cepat dalam menyelesaikan problematika umat Islam,

yaitu kemiskinan. Oleh sebab itu, solusi yang dapat penulis berikan ialah, menambah jadwal terbang para pengurus dalam melakukan sosialisasi terhadap masyarakat terutama kalangan menengah atas, untuk mau dan suka rela dalam memberikan kepercayaannya menyalurkan dana zakat kepada LAZAM. Sosialisasi bisa dilakukan dalam beberapa hal, seperti dalam pengajian, khotbah jum’at, maupun koran dan iklan. Maka, akan dicapai keseimbangan pemasukan dan pengeluaran jikalau jumlah

muzakki bertambah lebih banyak.

d) Kurangnya pengetahuan masyarakat akan urgensi nilai zakat. Lazimnya masyarakat hanya memahami ibadah zakat hanya sebagai bentuk rutinitas dalam menjalankan perintah Allah. Akan tetapi masyarakat belum mampu memahami nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah zakat pada dasarnya juga mengandung nilai horizontal (hamblum mninannash).

Oleh sebab itu, intensitas dalam melaksanakan zakat hanya terpaku pada satu sudut ibadah mahdhah.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pada prakteknya, mekanisme pengelolaan dan pendayagunaan dana zakat produktif diawali dengan cara menghimpun dana zakat. Biasanya muzakki

menyetorkan lebih dahulu zakatnya kepada pengurus LAZAM, ketimbang menunggu untuk ditarik oleh pengurus LAZAM. Dana yang telah dikumpulkan kemudian dikelola dengan mekanisme distribusi produktif. Distribusi produktif diwujudkan dalam bentuk bantuan modal untuk membangun usaha berupa bengkel dan tambal ban. Modal disalurkan kepada muztahiq secara bergantian untuk membangun usaha. Jika usaha yang dilakukan oleh muztahiq berkembang dengan baik, maka dalam pripsip peminjaman modal ini menerapkan sistem bagi hasil dengan presentase 60% untuk muztahiq dan 40% untuk LAZAM. Sehingga modal dapat digulirkan kepada muztahiq yang lain. Selain itu, distribusi produktif di samping bermaksud untuk menciptakan lapangan pekerjaan, juga dimaksudkan untuk memberdayakan kaum muztahiq untuk mau bekerja dan kreatif dalam menjalankan usahanya sehingga mampu menjadi muzakki baru. Maka, laju angka kemiskinan di Kelurahan Dukuh dapat ditekan dengan praktek pemberdayaan zakat produktif.

2. LAZAM sebagai lembaga yang mengelola zakat, tentu tidak akan terlepas dari kondisi internal dan eksternal. Dalam analisis SWOT didapatkan bahwa LAZAM memiliki kekuatan dan peluang dalam mengembangkan dana zakat seperti

munculnya dukungan dari kalangan masyarakat akan pentingnya sebuah pemberdayaan zakat yang terbukti dengan hadirnya beberapa muzakki tetap. Selain itu, LAZAM juga memiliki jajaran pengurus yang loyalitas dan integritas dalam mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Akan tetapi LAZAM juga mendapat ancaman dan kelemahan berupa sifatnya yang masih sosial menjadikan sempitnya ruang gerak dan kurangnya biaya operasional dalam memberdayakan zakat. Ditambah lagi belum adanya sistem pengawasan dan pendampingan terhadap muztahiq yang dilakukan oleh LAZAM, sehingga berpotensi terjadinya kecurangan dan kegagalan dalam membangun usaha.

3. Peran dan fungsi LAZAM sebagai organisasi pengelola zakat, memang belum begitu signifikan. Akan tetapi dalam perjalanannya telah banyak membantu kebutuhan masyarakat Dukuh. Walaupun upaya pengentasan kemiskinan yang ingin dicapai belum terealisasi, terbukti LAZAM telah banyak membantu perekonomian masyarakat serta menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat Dukuh.

B. Saran

LAZAM hendaknya lebih meningkatkan implementasi fungsi actuating

(penggerak) secara optimal sebagai wujud tindak lanjut dari perencanaan program yang sudah dilakukan dengan baik. Penambahan aspek pemberian bimbingan dan pengawasan kepada bidang pendayagunaan zakat produkitf sehingga pengembangan zakat produktif bisa ditingkatkan secara optimal untuk dapat mencapai kesejahteraan masyarakat (welfare state)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mawardi, Imam. 2007. Al Ahkam As Sulthoniyyah; Hukum-Hukum

Penyelenggaraan Negara. Terjemahan oleh Bahri Fadli. Jakarta:

Darul Falah.

Ansori, Abdul Ghofur. 2006. Hukum dan Pemberdayaan Zakat: Upaya Sinergis

Wajib Pajak di Indonesia. Yogyakarta: Pilar Media (ANGGOTA

IKAPI).

Departemen Agama. 1974. Al Qur’an dan Terjemahanya. Jakarta: PT. Bumi Restu.

Departmen Agama. 1983. Ilmu Fiqh Jilid I. Jakarta: Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam.

Fajri, Em Zul dan Senja, Ratu Aprilia. tth.Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Dofa Publiser.

Hafidhuddin, Didin. 2002. Zakat dalam Perekonomian Modern. Jakarta: Gema Insani.

Khasanah, Umrotul 2010.Manajemen Zakat Modern; Instrumen Pemberdayaan Ekonomi Umat. Malang: UIN Maliki Press.

Margono, S. 2004. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Pineka Cipta.

Marimin. 2004. Tehnik Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Jakarta: PT Gresindo.

Mas’ud, Muhammad Ridwan. 2005. Zakat & Kemiskinan Instrumen

Pemberdayaan Ekonomi Umat. Yogyakarta: UII Press.

Maslah, Arif. 2012. Pengelolaan Secara Produktif Sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan. Skripsi, Jurusan Syariah, STAIN Salatiga.

Mochlasin. 2014. Manajemen Zakat dan Wakaf di Indonesia. Salatiga: STAIN Salatiga Press.

Mubasirun. 2013. Distribusi Zakat dan Pemberdayaan Ekonomi Umat. Inferensi,

Mursyid, 2006. Mekanisme Pengumpulan Zakat dan Shodaqoh (Menurut Hukum Syara’ dan Undang-undang). Yogyakarta: Magistra Insania Press. Nafi’ati. 2013. Pemberdayaan Mustahiq Melalui Pendayagunaan Zakat

Produktif; Studi Kasus di Baitul Maal Hudatama Semarang 2011.

Skripsi, Fakultas Dakwah, IAIN Walisongo Semarang.

Qadir, Abdurrachman. 2001. Zakat: dalam Dimensi Mahdah dan Sosial. Jakarta: Raja Grafndo Persada.

Qardhawi, Yusuf. 1991. Fiqh Al-Zakat. Bogor: Litera Antar Nusa.

Rangkuti, Freddy. 2001. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Rifa’i, Moh, dkk. 1982. Tarjamah Khulashah Kifayatul Akhyar. Semarang: CV Toha Putra.

Shihab, Quraish. 1994. Membumikan Al-Qur’an Fungsi dan Pperan Wahyu

Dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.

Subhan. 2014. Strategi Pendayagunaan Zakat Untuk Membangun Ekonomi Masyarakat; Studi Kasus di Pos Keadilan Peduli Umat PKPU

Semarang. Skripsi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, IAIN

Walisongo Semarang.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat.

Zuhayly, Wahbah. 1995. Zakat Kajian Berbagai Mazhab. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Dokumen terkait