• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stres Kerja

Dalam dokumen BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 21-26)

Pada model penelitian diatas, stres kerja sebagai variabel dependen terlihat dipengaruhi oleh budaya organisasi sebesar 31 %, dan hubungan tersebut diperkuat sebesar 97% oleh adanya variabel moderasi yaitu work life conflict.

Dari hasil pengambilan data melalui kuesioner pada PT. Sumberdaya Seawatama, ada 12 butir pertanyaan yang dijadikan acuan untuk mengetahui gambaran hal-hal yang menyebabkan stres kerja di lingkungan PT. Sumberdaya Sewatama tersebut. Butir pertama mengenai kemampuan kebijaksanaan, menyatakan adanya keharusan didalam perusahaan untuk belajar hal-hal baru yang terkait dengan pekerjaannya membuat karyawan mengalami stres kerja. Sebesar 37,31 % responden menyatakan kurang setuju dengan pernyataan bahwa belajar hal-hal baru terkait dengan pekerjaannya membuat karyawan mengalami stres kerja. Alternatif jawaban lain yang terbesar yaitu 26,8 % responden mengatakan mereka merasa setuju jika mereka merasa

stres ketika mereka diharuskan untuk belajar hal-hal baru. Belajar hal-hal yang baru padahal dapat membuat para karyawan berkembang dan mendapat keahlian-keahlian serta pengetahuan baru mengenai bidangnya.

Indikator selanjutnya yang masih merupakan dimensi kemampuan kebijaksanaan adalah bahwa tugas yang mereka tangani membutuhkan tingkat keterampilan tinggi dan menyebabkan stres. 37,31% karyawan merasa kurang setuju dengan hal tersebut.

Mereka merasa bahwa tugas yang membutuhkan tingkat keterampilan tinggi bukan termasuk sumber stres di lingkungan perusahaan. Perusahaan cenderung mengukur pekerjaan anak buah nya sehingga jarang terjadi stres kerja di ligkungan karyawan yang disebabkan oleh keterampilan tinggi yang harus dimiliki karyawan untuk menangani hal-hal yang membutuhkan tingkat keterampilan tinggi. Indikator selanjutnya adalah tugas atau pekerjaan yang saya lakukan melakukan hal-hal sama dan dikerjakan secara berulang-ulang dan menyebabkan karyawan tersebut stres.

Menurut dimensi berikutnya yaitu mengenai keputusan autoritas yang diberikan kepada karyawan adalah adanya kebebasan untuk memutuskan bagaimana cara menyelesaikan pekerjaan justru membuat karywan menjadi stres. Hal ini mendapat respon 37,31% dari karyawan dan menyatakan kurang setuju dengan pernyataan ini.

Berdasarkan obrolan singkat dengan karyawan-karyawan, mereka lebih senang memang jika tidak terlalu diperlakukan secara kaku sehingga mereka tidak terpaku dengan satu cara saja. Sebab jika demikian, mereka akan sulit berkembang untuk menangani pekerjaan-pekerjaan lain yang memiliki tingkat fleksibilitas lebih tinggi.

Indikator berikutya adalah mengenai kesempatan untuk mengutarakan hal yang terjadi selama saya menyelesaikan pekerjaan setiap karyawan merupakan pemicu stres di lingkungan PT. Sumberdaya Sewatama. Sebanyak 56,7 % menyatakan setuju bahwa hal tersebut terkadang membuat karyawan stres. Stres yang dimaksud bisa jadi berasal dari tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk mengutarakan feedback mengenai apa yang seharusnya diusahakan perusahaan sehingga karyawan merasa terjadi komunikasi 2 arah diantara karyawan dan perusahaa agar tidak terlalu membuat karyawan stres jika memiliki hal yang harus dibicarakan kepada pihak perusahaan.

Dimensi ketiga adalah tentang tuntutan psikologis. Dan pernyataan selanjutnya mengenai stres yang kemudian timbul ketika pekerjaan membuat karyawan menjadi

sangat sibuk. Ada dua respon yang memiliki persentase sama, yaitu 40,29 % menyatakan bahwa mereka kurang setuju dengan pernyataan tersebut, 40,29 % kemudian menyatakan setuju dengan pernyataan tersebut, dan sisanya adalah pilihan jawaban lainnya. Untuk responden yang menyatakan setuju dengan pernyataan stres kerja timbul ketika pekerjaan membuat karyawan menjadi sangat sibuk adalah bisa jadi mereka merupakan orang-orang yang kelebihan beban kerja dan mereka tidak termasuk orang-orang yang workaholic, jadi mereka terpaksa harus membawa pekerjaan yang belum selesai ke rumah sehingga pikiran dirumah teralih ke pekerjaan. Hal tersebut jika dibiarkan dapat mendorong terjadinya work-life conflict. Untuk responden yang menyatakan kurang setuju dengan pernyataan bahwa stres kerja dapat timbul ketika pekerjaan membuat karyawan menjadi sangat sibuk dapat dikatakan kebalikan dari responden yang sebelumnya dijelaskan. Mereka dapat digolongkan menjadi tipe seorang workaholic sehingga mereka sangat menikmati pekerjaan-pekerjaan yang harus mereka selesaikan dikantor, tidak peduli sesibuk dan sebanyak apapun pekerjaan tersebut.

Sehingga, pekerja tipe ini mengetahui akan konsekuensi menjadi workaholic, sehingga mereka berusaha memaksimalkan sesedikit apapun waktu yang mereka miliki diluar pekerjaan. Untuk mengatasi kedua tipe pekerja tersebut, maka departemen SDM memiliki peran penting didalamnya. Mencari tahu mengenai bagaimana masing-masing individu merupakan tipe pekerja yang seperti apa, dan bagian apa yang ia senangi agar pekerjaan yang dikerjakan sesuai dengan kemampuan karyawan tersebut, ia menikmati pekerjaan yang dikerjakan, dan tidak memberikan pekerjaan-pekerjaan tambahan diluar jobdesc orang tersebut. Ketika perusahaan dapat memperhatikan hal tersebut, maka walaupun karyawan merasa dirinya sangat sibuk, ia akan merasa bahwa apa yang dikerjakan sesuai dengan kemampuan, kapasitasnya, dan tidak merasa bahwa pekerjaan yag dilakukan diluar tanggungjawab nya yang mengakibatkan stres. Indikator berikutnya adalah mengenai konflik di lingkungan kerja terkait dengan tuntutan pekerjaan.

Berdasarkan kuesioner, 46,2 % mengatakan bahwa mereka kurang setuju jika konflik di lingkungan kerja terkait dengan tuntutan pekerjaan membuat mereka stres. Hal ini menandakan karyawan di PT. Sumberdaya Sewatama secara mayoritas dapat dengan baik menghindari konflik terkait dengan tuntutan pekerjaan. Mungkin ini juga

dikarenakan budaya PT. Sumberdaya Sewatama yang kekeluargaan sehingga konflik di lingkungan kerja terkait dengan tuntutan pekerjaan dapat diminimalisir.

Dimensi yang keempat adalah mengenai status kepegawaian. Indikator pertama adalah mengenai stres yang dikarenakan status kepegawaian karyawan yang belum menjadi karyawan tetap sehingga membuat karyawan tersebut merasa tidak aman dan stres. 29,8% memberikan respon kurang setuju dengan pernyataan tersebut, 28,35 % menyatakan setuju dengan pernyataan tersebut. Dengan kata lain, permasalahan mengenai stres kerja yang dikarenakan oleh status kepegawaian menurut sebagian pegawai tidak dipermasalahkan. Yang merasa stres dengan terkait hal tersebut yaitu 28,35 % lainnya adalah hal yang wajar ketika orang tersebut merasa cemas akan status kepegawaiannya yang belum tetap, takut tiba-tiba tidak diperpanjang kembali dan sebagainya. Oleh karena itu, perusahaan harus tetap dapat meretain orang-orang tersebut terutama yang berkinderja baik agar stres terkait status kepegawaiannya itu tidak mempengaruhi perilakunya terhadap perusahaan.

Dimensi selanjutnya adalah dimensi mengenai aktivitas fisik pegawai. Indikator dari dimensi ini adalah saat seseorang yang dalam pekerjaannya diharuskan melakukan upaya fisik yang dapat menyebabkan stres. 37,3 % merespon kurang setuju dengan pernyataan jika aktifitas fisik yang diharuskan saat melakukan pekerjaan dapat membuatnya menjadi stres.Mungkin memang tidak banyak aktifitas fisik yang dilakukan di lingkungan kantor merupakan mengapa mereka tidak merasa stres dengan hhal demikian Dan ketika perusahaan menghadapi karyawan yang merasa stres dengan hal tersebut, pihak perusaan dapat dengan mengatur variasi pekerjaan agar tidak menjadi suatu kendala bagi seorang karyawan untuk bekerja.

Dimensi terakhir mengenai stres kerja adalah mengenai dukungan sosial dari rekan dan supervisor. Pernyataan pertama adalah adanya konflik dengan orang-orang yang bekerja satu tim membuat pekerja stres. 43,8 % merasa setuju jika stres terjadi saat adanya konflik dengan orang-orang yang bekerja satu tim. Hal ini dikarenakan di setiap organisasi pasti merupakan kumpulan orang-orang yang berbeda karakter, perilaku, kebiasaan, dan sebagainya. Hal ini adalah tugas departemen sumberdaya manusia, di mana dalam pemilihan anggota tim dari kelompok-kelompok kerja harus dipertimbangkan mengenai siapa saja dan apa yang harus dikerjakan agar satu sama lain

dapat saling support dan meminimalisir konflik antar rekan satu tim, hal ini dapat berakibat negatif terhadap pekerjaan terutama dalam mencapai sebuah tujuan tim.

Selanjutnya stres yang diakibatkan oleh tidak adanya dukungan dari atasan dalam menyelesaikan pekerjaan yang membuat seorang karyawan stres. Artinya, atasan hanya memberikan soal dan pekerjaan tanpa memikirkan apakah pekerjaan itu masih dalam ruag lingkup kapasitas karyawan tersebut, apakah deadline ang diberikan cukup untuk pengerjaannya, dan sebagai nya yang merupakan segala hal yang memungkinkan menimbulkan kendala dalam pengerjaan pekerjaan tersebut. 37,3 % menyatakan bahwa mereka setuju dengan hal tersebut. Sebaiknya kontrol mengenai hal ini dapat lebih ditingkatkan, karena yang menurut pegawai pada PT. Sumberdaya Sewatama takutkan adalah terjadi nya penumpukan pekerjaan yang dikarenakan oleh deadline yang menumpuk dan datangnya pekerjaan yang tiba-tiba dengan deadline sempit. Indikator yang terakhir adalah tentang tidak ada dukungan dari rekan kerja terkait dengan pekerjaan yang dilakukan sehingga membuat karyawan tersebut merasa stres. 32,83%

menyatakan setuju apabaila stres kerja yang ditimbulkan juga berasal dari tidak ada dukungan dari rekan kerja terkait dengan pekerjaan yang dilakukan sehingga membuat karyawan tersebut merasa stres. Sebab, karyawan merasa tidak tau akan siapa yang dapat dijadikan kawan diskusi untuk memudahkan pengerjaan suatu pekerjaan. Sebab, beban pekerjaan dan tingkat kesulitan pekerjaan satu dan karyawan lainnya berbeda-beda. Jika mayoritas pekerja bersikap individual, maka pernyataan ini dapat dibenarkan bahwa stres juga dapat timbul akibat hal tersebut. Yang harus ditanamkan oleh perusahaan adalah bagaimana karyawan antara satu dan yang lain dapat menanamkan rasa organizational citizenship behavior di mana perasaan dan tindakan karyawan yang ditujukan untuk membantu rekan kerja yang mengalami kesulitan untuk melakukan pekerjaan yang berlebih, lebih sulit, dan sebagainya.

Karyawan di PT. Sumberdaya Sewatama ternyata walaupun menurut karyawannya berbudaya yang baik yaitu menerapkan budaya kekeluargaan tetapi masih terdapat cukup banyak karyawan yang merasa memiliki perasaan stres terhadap pekerjaan. Jika kontrol akan stres kerja dapat ditingkatkan, maka hal ini dapat membuat organisasi lebih cepat berkembang dan encapai visi dan misi perusaahaannya.

Dalam dokumen BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 21-26)

Dokumen terkait