• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stretching Exercise .1. Pengertian

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 46-51)

Streching exercise adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan / menguraikan beberapa maneuver pengobatan yang ditujukan untuk memperpanjang pemendekan susunan soft tissue secara patologis dan untuk menambah luas gerak sendi. Streching dapat juga berarti peregangan.

Dalam penelitian ini akan dipakai metode Active Isolated Strecthing. Adapun pengertian dari Active Isolated (AI) Stretching adalah bentuk baru dari peregangan yang dikembangkan Aaron L. Mattes, 2000. Peregangan ini dilakukan dengan melakukan kontraksi antagonis atau kelompok otot yang berlawanan yang mendorong kelompok otot yang diregangkan untuk mengendur. Prosedur dalam melakukan peregangan AI adalah sebagai berikut :

(1) pilih kelompok otot yang akan diregangkan dan kemudian ambil posisi untuk memulai peregangan, otot yang diregangkan adalah sternocleido mastuideus, otot trapezius, dan scalenius.

(2) lakukan kontraksi aktif pada otot antagonis atau kelompok otot yang berlawanan

(3) lakukan pergerakan dengan cepat dan perlahan

(4) tahan selama 1-6 detik dan kemudian lepaskan regangannya (5) ulangi empat hingga enam kali.

2.7.2 Mekanisme Kerja Stretching

Muscle spindle dan golgi tendon organ yang menyediakan informasi sensoris berperan dalam pemanjangan dan tegangan pada otot. Fungsi utama dari muscle spindle adalah untuk memonitor kecepatan dan durasi stretching pada sebuah otot melalui aksi reflek yang dimulai dengan sebuah kontraksi kuat untuk menurunkan stetching yang terjadi. Sedangkan golgi tendon organ berperan dalam mekanisme proteksi untuk menginhibisi kontraksi otot dan memiliki threshold yang sangat rendah setelah otot berkontraksi. Treshold dari golgi tendon organ akan meningkat saat otot dilakukan stretching exercise secara pasif.

Dengan diberikan stretching exercise akan terjadi peningkatan sirkulasi ke darah yang mengalami gangguan atau spasme. Dengan peningkatan sirkulasi ini akan membuat jaringan otot menjadi lebih fleksibel dan elastic. Spasme berkurang maka nyeripun akan berkurang.

2.7.3. Penerapan Prosedur Stretching

Dalam penerapan prosedur stretching, pasien menunjukan suatu kontraksi isometrik dari otot yang mengalami ketegangan sebelum secara pasif otot dipanjangkan. Alasan penerapan tekhnik ini adalah bahwa kontraksi isometrick yang

diberikan sebelum stretching dari otot yang mengalami ketegangan akan menghasilkan rileksasi sebagai hasil dari autogenic inhibition.

Adanya kontraksi isometrik akan membantu menggerakkan stretch reseptor dari muscle spindle untuk segera menyesuaikan panjang otot maksimal. Golgi tendon organ dapat terlibat dan menghambat tegangan pada otot sehingga dengan mudah otot dapat dipanjangkan. Ketika otot diberikan stretching, stretch refleks bekerja secara otomatis mengkontraksikan otot yang terulur untuk melindunginya dari stretching yang berlebihan. Ketika terjadi ketegangan pada otot yang diulur, golgi tendon organ akan teraktivasi dan segera menginhibisi ketegangan dengan relaksasi melalui pemanjangan otot. Jika stretching dipertahankan dalam waktu lama, sekurang-kurangnya 6 detik maka golgi tendon organ meresponnya dengan mengizinkan otot tersebut secara refleks untuk rileksasi (Patti and Finke,1998).

Stretching pada serabut otot dimulai dari sarkomer yang merupakan unit dasar dari kontraksi otot. Ketika sarkomer berkontraksi, area yang saling tumpang tindih menurun mengikuti serabut otot untuk elongasi atau memanjang. Ketika salah satu serabut otot berada pada panjang istirahat maksimum dan seluruh sarkomer terulur penuh, tambahan stretching berpengaruh pada jaringan ikat yang ada disekitarnya. Ketika tegangan meningkat, serabut kolagen pada jaringan ikat meluruskan diri selama diberikan stretching dengan kekuatan yang sama. Oleh karena itu saat dilakuan stretching, serabut otot yang mengalami ketegangan ditarik keluar sehingga panjang sarkomer bertambah, serabut kolagen pada jaringan ikat mengambil sisa-sisa kekenduran. Hal ini akan membantu meluruskan kembali abnormal cross link pada arah ketegangan sehingga akan membantu perbaikan pada jaringan parut ( Walker, 1971).

Ketika otot diulur, beberapa serabut akan memanjang tetapi masih ada serabut yang beristirahat. Hal ini tergantung pada jumlah serabut yang terulur.

Kekuatan untuk mengkontraksikan otot adalah hasil dari jumlah serabut yang diulur sehingga panjang otot bertambah selama diberikan stretching.

Stretching dapat dilakukan dengan cara mengkontraksikan otot lalu di ikuti dengan periode rileksasi dan stretching untuk memperoleh fasilitasi dan inhibisi pada otot dan gerakan yang terjadi mencakup otot dan persendian yang dilewati otot terkait, baik agonis maupun antagonis. Selain itu stretching merupakan metode terapi dengan tekhnik mobilisasi tidak langsung pada persendian, dimana mobilisasi ini penting karena keterbatasan gerak yang terjadi pada sendi atau terkuncinya persendian mengakibatkan terjadinya respon aktif pada otot sekitar sendi menjadi spasme.

2.7.4 Frekuensi

Frekuensi stretching yang terbaik adalah 3-5 kali perminggu. Frekuensi stretching yang sangat efektif dilakukan sebanyak 5 kali dalam setiap kali pertemuan ( Walker, 1971 ).

2.7.5. Intensitas

Peregangan bukan aktivitas yang menyakitkan, ia harus menyenangkan, santai dan bermanfaat. Tetapi banyak orang percaya bahwa untuk mendapat manfaat lebih dari peregangan maka mereka harus melakukan peregangan sampai merasakan sakit. Ini adalah salah satu kesalahan terbesar ketika kita melakukan peregangan.

Ketika otot diregangkan hingga ke titik rasa sakit maka tubuh akan mempertahankan mekanisme yang disebut stretch reflex. Ini adalah cara menjaga

keselamatan tubuh untuk mencegah cidera serius yang terjadi pada otot, tendon dan persendian. Peregangan merefleksikan proses perlindungan otot dan tendon lewat kontraksi.

Sehingga untuk menghindari refleksi regangan, hindari rasa sakit. Jangan pernah memaksakan peregangan sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Hanya peregangan pada titik di mana tegangan yang dapat dirasakan di otot. Dengan cara ini, cidera dapat dihindari dan manfaat maksimum bisa diperoleh (Walker, 1971).

2.7.6 Durasi Stretching

Banyak literatur yang menganjurkan durasi untuk stretching antara 10 hingga 30 detik. Pendapat lain merekomendasikan 12-18 detik dengan alasan relaksasi terjadi pada periode ini. Untuk melakukan peregangan isometrik, lakukan posisi peregangan pasif dan kemudian melakukan kontraksi otot yang diregangkan selama 10-15 detik. Pastikan semua gerakan bagian tubuh dibatasi. Kemudian kendurkan otot selama 20 detik. Prosedur ini harus diulangi lima kali ( Walker, 1971).

Gambar 2.13

Aplikasi Stretching Exercise

Gambar 2.14

Aplikasi Stretching Exercise

2.7.7 Efek streching

Secara umum stretching dilakukan untuk mendapatkan efek relaksasi dan pengembalian panjang dari otot dan jaringan ikat. Jaringan ikat membutuhkan waktu 20 detik untuk mencapai efek relaksasi, sedangkan otot membutuhkan waktu 2 menit untuk dapat mencapai efek relaksasi.

2.7.8 Mekanisme Penurunan nyeri oleh Streching

Stereching adalah tehnik penguluran pada jaringan lunak tubuh yang bertujuan untuk relaksasi otot dan, mengurangi nyeri meregangkan otot. Dimana pada kasus spondylosis cervical terjadi spasme pada otot-otot erector spine sehingga menimbulkan nyeri.

Dengan diberikan stretching akan terjadi peningkatan sirkulasi ke darah yang mengalami gangguan atau spasme. Dengan peningkatan sirkulasi ini akan membuat jaringan otot menjadi lebih fleksibel dan elastic. Spasme berkurang maka nyeripun akan berkurang.

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 46-51)

Dokumen terkait