mengukur hasil yang didapatkan oleh petani dalam bentuk rupiah selama melakukan kegiatan usahatani. Hal yang harus diperhatikan dalam perhitungan analisis pendapatan usahatani adalah mencari penerimaan dan pengeluaran.
Penerimaan usahatani merupakan hasil perkalian antara jumlah padi hibrida/ inbrida dengan harga jual dari hasil produksi tersebut. Pengeluaran usahatani merupakan penjumlahan dari biaya tetap tunai, biaya tetap non tunai, biaya variabel tunai, dan biaya variabel non tunai.
Biaya tetap tunai merupakan biaya yang dikeluarkan langsung oleh petani dan jumlah yang dikeluarkan relatif tetap tidak dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Komponen biaya tetap tunai dalam usahatani padi hibrida dan inbrida adalah pajak atas kepemilikan lahan sawah, sewa traktor, dan biaya pengairan. Pajak merupakan pungutan yang dibebankan oleh petani terhadap lahan yang dimilikinya. Pajak lahan sawah dibayarkan oleh petani kepada petugas pajak setiap tahunnya. Besarnya pajak yang dibebankan petani tergantung oleh besarnya luas lahan yang dimiliki. Sewa traktor merupakan biaya yang dikeluarkan oleh petani ketika kegiatan persiapan lahan. Traktor ini digunakan petani untuk membantu membajak sawah karena menghemat waktu dan tenaga. Biaya pengairan merupakan biaya yang dikeluarkan atas jasa pihak yang mengatur pasokan air pada lahan pertanian milik petani. Biaya yang dikeluarkan untuk biaya pengairan adalah 100 kg gabah basah/hektar. Biaya tetap non tunai merupakan biaya yang dikeluarkan secara tidak langsung oleh petani dan jumlah yang dikeluarkan relatif tetap tidak dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Biaya tetap non tunai dalam usahtani padi hibrida dan inbrida ini adalah biaya penyusutan alat-alat pertanian yang digunakan dan biaya sewa lahan. Biaya penyusutan dihitung berdasarkan jumlah barang yang digunakan terhadap umur ekonomis dari barang tersebut.
Biaya variabel tunai merupakan biaya yang dikeluarkan langsung oleh petani dan jumlah yang dikeluarkan dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Komponen biaya variabel tunai dalam usahatani padi hibrida dan inbrida adalah biaya benih, biaya pupuk, biaya pestisida, biaya tenaga kerja luar keluarga, dan biaya kearifan lokal tenaga kerja. Biaya pupuk dan biaya pestisida juga dikeluarkan oleh petani sesuai dengan lahan dan jumlah benih yang mereka tanam. Pupuk yang digunakan oleh petani dibedakan menjadi dua macam yaitu pupuk padat dan pupuk cair. Pupuk padat yang digunakan petani yaitu pupuk organik, pupuk TSP, pupuk Urea, pupuk Phonska, dan pupuk ZA sedangkan
pupuk cair yang digunakan petani yaitu Bayfolan. Sama seperti pupuk, pestisida juga dibedakan menjadi dua macam yaitu pestisida cair dan pestisida padat. Pestisida cair yang digunakan yaitu Spontan, Decis, Regent, Fastac, Matador dan
Score sedangkan pestisida padat yang digunakan yaitu Ally Plus. Biaya tenaga kerja luar keluarga merupakan biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk membantu dalam proses kegiatan usahatani padi sama seperti biaya kearifan lokal tenaga kerja. Hal yang membedakan biaya tenaga kerja luar keluraga dengan biaya kearifan lokal tenaga kerja adalah tenaga kerja luar keluarga merupakan biaya yang dikeluarkan langsung setelah buruh tani bekerja dalam upah harian sedamgkan kearifan lokal tenaga kerja merupakan biaya yang dikeluarkan oleh petani setelah padi selesai panen. Biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam biaya tenaga kerja luar keluarga berupa uang sedangkan biaya kearifan lokal tenaga kerja dapat berupa pembagian hasil panen berdasarkan proporsi hasil panen yang didapat dan dapat berupa uang berdasarkan proporsi hasil panen yang didapat. Petani yang melakukan kearifan lokal tenaga kerja merupakan petani yang tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar buruh tani secara harian langsung. Biaya kearifan lokal tenaga kerja dibedakan menjadi tiga macam yaitu biaya kedokan, biaya borongan, dan biaya upah panen berdasarkan karakteristik tempat. Biaya kedokan dan biaya borongan merupakan biaya kearifan lokal tenaga kerja untuk Desa Suru dan biaya upah panen merupakan biaya kearifan lokal tenaga kerja untuk Desa Clumprit. Biaya kedokan merupakan pembagian hasil panen yang dilakukan oleh petani Desa Suru dengan proporsi seperdelapan dari hasil panen yang didapat. Buruh tani bekerja membantu petani pemilik lahan pada kegiatan penanaman benih dan pemanenan. Biaya borongan merupakan biaya yang dikeluarkan oleh petani Desa Suru dengan biaya 35 ribu rupiah untuk setiap kuintal hasil panen yang didapat. Petani yang melakukan borongan selain membayar biaya 35 ribu rupiah juga menjual hasil penen kepada pemborong. Pemborong membantu petani pemilik lahan pada saat kegiatan pemanenan. Biaya upah panen merupakan pembagian hasil panen yang dilakukan oleh petani Desa Clumprit dengan proporsi seperenambelas dari hasil panen yang didapat. Buruh tani bekerja membantu pemilik lahan pada kegiatan pemanen.
Biaya variabel non tunai merupakan biaya yang dikeluarkan secara tidak langsung oleh petani dan jumlah yang dikeluarkan dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Biaya yang termasuk variabel non tunai adalah biaya tenaga kerja dalam keluarga. Biaya tersebut tidak dikeluarkan secara langsung oleh petani namun tetap diperhitungkan dalam analisis pendapatan usahatani. Tenaga kerja dalam keluarga digunakan petani pemilik lahan untuk menghemat pengeluaran dalam kegiatan usahatani. Struktur biaya usahatani padi hibrida dan padi inbrida per hektar per musim tanam dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20 Struktur biaya usahatani padi hibrida dan padi inbrida per hektar per musim tanam Komponen Biaya Hibrida Inbrida Nilai (Rp/hektar) Persentase (%) Nilai (Rp/hektar) Persentase (%) A. Biaya Tunai Biaya Tetap 1 Pajak 483 333 3.11 483 333 3.41 2 Sewa Traktor 1 000 000 6.44 1 000 000 7.06 3 Biaya Pengairan 175 000 1.13 175 000 1.23 Sub Total Biaya Tunai Tetap 1 658 333 10.68 1 658 333 11.70
Biaya Variabel
4 Benih inbrida 0 0.00 227 912 1.61
5 Pupuk 1 660 348 10.69 1 538 761 10.86
6 Pestisida 498 167 3.21 456 036 3.22
Tenaga Kerja
7 Tenaga Kerja Luar Keluarga 1 026 593 6.61 1 052 863 7.43
8 Borongan 373 100 2.40 401 450 2.83
9 Kedokan 547 155 3.52 489 988 3.46
10 Upah Panen 474 845 3.06 401 940 2.84
Sub Total Tenaga Kerja Luar
Keluarga 2 421 693 15.59 2 346 241 16.56
Sub Total Biaya Tunai Variabel 4 580 207 29.49 4 568 949 32.24 Total Biaya Tunai 6 238 541 40.17 6 227 283 43.95
B. Biaya Non Tunai
Biaya Tetap
1 Nilai Penyusutan Alat Pertanian 6 125 0.04 5 931 0.04 2 Sewa Lahan 5 833 333 37.56 5 833 333 41.17 Sub Total Biaya Non Tunai Tetap 5 839 458 37.60 5 839 264 41.21 Biaya Variabel
3 Benih hibrida 1 218 457 7.85 0 0.00
4 Tenaga Kerja Dalam Keluarga 2 232 363 14.38 2 103 791 14.85 Sub Total Biaya Non Tunai Variabel 3 450 820 22.22 2 103 791 14.85 Total Biaya Non Tunai 9 290 278 59.83 7 943 055 56.05 Total Biaya Usahatani 15 528 819 100.00 14 170 338 100.00
Sumber : Olahan Data Primer (2013)
Berdasarkan Tabel 20, Biaya usatahani padi hibrida lebih besar dibandingkan biaya usahatani padi inbrida. Komponen biaya terbesar usahatani padi hibrida dan padi inbrida adalah sewa lahan masing-masing sebesar 37.60% dan 41.21%.
Struktur biaya usahatani pada padi hibrida dan inbrida dapat dibedakan berdasarkan luas lahan. Biaya usahatani padi hibrida pada lahan luas dan lahan sempit lebih besar dibandingkan biaya usahatani padi inbrida pada lahan luas dan lahan sempit. Biaya usahatani padi hibrida pada lahan luas lebih besar dibandingkan biaya usahatani padi hibrida pada lahan sempit, padi inbrida pada lahan luas dan padi inbrida pada lahan sempit. Komponen biaya terbesar usahatani padi hibrida pada lahan luas dan lahan sempit serta padi inbrida pada lahan luas dan lahan sempit adalah sewa lahan masing-masing sebesar 43.02%, 43.80%, 47.62%, dan 48.12%. Struktur biaya usahatani padi hibrida dan padi inbrida per hektar per musim tanam berdasarkan luas lahan dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21 Struktur biaya usahatani padi hibrida dan padi inbrida per hektar per musim tanam berdasarkan luas lahan Komponen Biaya
Hibrida Inbrida
Lahan Luas Lahan Sempit Lahan Luas Lahan Sempit
Nilai (Rp/hektar) Persentase (%) Nilai (Rp/hektar) Persentase (%) Nilai (Rp/hektar) Persentase (%) Nilai (Rp/hektar) Persentase (%) A. Biaya Tunai Biaya Tetap 1 Pajak 483 333 3.56 483 333 3.63 483 333 3.95 483 333 3.99 2 Sewa Traktor 1 000 000 7.38 1 000 000 7.51 1 000 000 8.16 1 000 000 8.25 3 Biaya Pengairan 175 000 1.29 175 000 1.31 175 000 1.43 175 000 1.44
Sub Total Biaya Tunai Tetap 1 658 333 12.23 1 658 333 12.45 1 658 333 13.54 1 658 333 13.68 Biaya Variabel
4 Benih inbrida 0 0.00 0 0.00 232 756 1.90 202 275 1.67
5 Pupuk 1 689 949 12.46 1 661 283 12.47 1 553 153 12.68 1 482 866 12.23
6 Pestisida 469 811 3.47 427 888 3.21 396 310 3.24 368 512 3.04
Tenaga Kerja
7 Tenaga Kerja Luar Keluarga 1 012 810 7.47 1 069 129 8.03 1 049 921 8.57 1 058 127 8.73
8 Borongan 385 350 2.84 364 350 2.74 410 200 3.35 407 400 3.36
9 Kedokan 549 850 4.06 546 770 4.11 488 880 3.99 486 885 4.02
10 Upah Panen 476 735 3.52 475 370 3.57 401 205 3.28 398 650 3.29
Sub Total Tenaga Kerja Luar
Keluarga 2 424 745 17.88 2 455 619 18.44 2 350 206 19.19 2 351 062 19.39 Sub Total Biaya Tunai Variabel 4 584 506 33.81 4 544 790 34.13 4 532 426 37.00 4 404 715 36.34 Total Biaya Tunai 6 242 839 46.05 6 203 124 46.58 6 190 759 50.54 6 063 048 50.02 B. Biaya Non Tunai
Biaya Tetap
1 Nilai Penyusutan Alat Pertanian 6 312 0.05 6 214 0.05 5 844 0.05 5 582 0.05 2 Sewa Lahan 5 833 333 43.02 5 833 333 43.80 5 833 333 47.62 5 833 333 48.12 Sub Total Biaya Non Tunai Tetap 5 839 645 43.07 5 839 547 43.85 5 839 177 47.67 5 838 915 48.17 Biaya Variabel
1 Benih hibrida 1 253 650 9.25 1 042 493 7.83 0 0.00 0 0.00
2 Tenaga Kerja Dalam Keluarga 221 981 1.64 232 001 1.74 219 871 1.79 220 087 1.82 Sub Total Biaya Non Tunai Variabel 1 475 631 10.88 1 274 494 9.57 219 871 1.79 220 087 1.82 Total Biaya Non Tunai 7 315 276 53.95 7 114 042 53.42 6 059 048 49.46 6 059 002 49.98 Total Biaya Usahatani 13 558 115 100.00 13 317 165 100.00 12 249 808 100.00 12 122 051 100.00
Biaya usahatani padi hibrida dan padi inbrida dapat dilihat juga berdasarkan biaya yang dikeluarkan per kg output yang dihasilkan. Biaya yang dikeluarkan per kg output tersebut didapatkan dengan membagi biaya yang dikeluarkan per hektar dengan rata-rata hasil panen yang diperoleh. Biaya usahatani padi inbrida per kg output per musim tanam pada lahan luas dan lahan sempit lebih besar dibandingkan biaya usahatani padi hibrida per kg output per musim tanam pada lahan luas dan lahan sempit. Biaya usahatani padi inbrida per kg output per musim tanam pada lahan sempit lebih besar dibandingkan biaya usahatani per kg output per musim tanam padi inbrida pada lahan luas, padi hibrida pada lahan luas, dan padi hibrida pada lahan sempit Hal ini karena hasil panen padi hibrida dan lahan luas lebih banyak dibandingkan padi inbrida dan lahan sempit dengan rata-rata hasil panen padi hibrida lahan luas sebesar 7 264.22 kg/hektar, padi hibrida lahan sempit sebesar 7 013.90 kg/hektar, padi inbrida lahan luas sebesar 5 882.11 kg/hektar, dan padi inbrida lahan sempit sebesar 5 690.02 kg/hektar. Biaya usahatani padi hibrida dan padi inbrida per kg output per musim tanam berdasarkan luas lahan dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22 Biaya usahatani padi hibrida dan padi inbrida per kg output per musim tanam berdasarkan luas lahan
Komponen Biaya
Hibrida Inbrida
Lahan Luas Lahan Sempit Lahan Luas Lahan Sempit Nilai (Rp/hekt ar) Persenta se (%) Nilai (Rp/hekt ar) Persenta se (%) Nilai (Rp/hekt ar) Persenta se (%) Nilai (Rp/hekt ar) Persenta se (%) Biaya Tunai 644 41.53 656 39.27 905 44.28 906 45.96 Biaya Non Tunai 1 007 58.47 1 014 60.73 1 030 55.72 1 065 54.04 Total Biaya Usahatani 1 651 100.00 1 670 100.00 1 935 100.00 1 970 100.00
Sumber: Olahan Data Primer (2013)
Penerimaan usahatani merupakan perkalian antara hasil panen padi dengan
harga padi. Harga jual padi hibrida dan padi inbrida bernilai sama yaitu Rp 3 500/kg. Pendapatan usahatani padi hibrida dan inbrida diperoleh dari selisih
penerimaan dan biaya usahatani. Pendapatan usahatani dibedakan menjadi dua macam, yaitu pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Pendapatan atas biaya tunai merupakan selisih dari penerimaan dengan biaya tunai, sedangkan pendapatan atas biaya total merupakan selisih dari penerimaan dengan biaya total. Pendapatan atas biaya tunai, pendapatan atas biaya total, R/C rasio atas biaya tunai, R/C rasio atas biaya total padi hibrida pada lahan luas lebih
banyak dibandingkan Pendapatan atas biaya tunai, pendapatan atas biaya total, R/C rasio atas biaya tunai, R/C rasio atas biaya total padi hibrida pada lahan sempit, padi inbrida lahan luas dan lahan sempit. Hal ini menunjukan bahwa usahatani padi hibrida pada lahan luas lebih menguntungkan. Pendapatan usahatani padi hibrida dan padi inbrida per hektar per musim tanam dan R/C rasio padi hibrida dan padi inbrida berdasarkan luas lahan dapat dilihat pada Tabel 23. Tabel 23 Pendapatan usahatani padi hibrida dan padi inbrida per hektar per musim
tanam dan R/C rasio padi hibrida dan padi inbrida berdasarkan luas lahan
No Keterangan Hibrida (Rp/ha) Inbrida (Rp/ha) Lahan Luas Lahan Sempit Lahan Luas Lahan Sempit 1 Penerimaan 25 424 770 24 548 685 20 587 385 19 915 070 2 Biaya
1 Biaya Tunai 4 676 424 4 600 974 5 324 930 5 152 348 2 Biaya Non Tunai 7 315 276 7 114 042 6 059 048 6 059 002 3 Biaya Total 11 991 700 11 715 015 11 383 979 11 211 351 4 Pendapatan atas Biaya Tunai 20 748 346 19 947 711 15 262 455 14 762 722 5 Pendapatan atas Biaya Total 13 433 070 12 833 670 9 203 406 8 703 719 6 R/C Rasio atas Biaya Tunai 5.44 5.34 3.87 3.86 7 R/C Rasio atas Biaya Total 2.12 2.10 1.81 1.78
Sumber: Olahan Data Primer (2013)
6.3 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi Hibrida