BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Hasil Penelitian
3. Struktur Dasar Keseluruhan
Peneliti menemukan bahwa pada subjek satu atau T merasa tidak siap
ketika suami meninggal karena proses yang dialami berlangsung cepat dan
tidak pernah ada keluhan sakit yang dirasakan suami sebelumnya. T kaget
dan tidak mengira jika suami akan meninggal. T tidak ikhlas dengan
kepergian suami yang mendadak. T merasa sedih, bingung menjalani hidup,
memikirkan anak-anak dan biaya hidup. T seperti tidak punya kejelasan
akan masa depan untuk diri dan anak-anaknya. Saat suami T meninggal, T
berpikir bahwa sebaiknya ia tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang
lain terutama laki-laki karena mengingat status yang disandang T sekarang
adalah janda. T membutuhkan waktu satu tahun agar dapat beraktifitas
normal seperti sebelumnya. Setelah suami meninggal, T tidak berdaya
menjalani hari-harinya tanpa sang suami. T mulai menarik diri dari
lingkungan karena masih merasa sedih dan bingung menjalani hidup. Dalam
hari-hari berdukanya, T lebih mendekatkan diri pada Tuhan. T setiap hari
pergi ke masjid untuk solat dan mendengarkan ceramah agar membuat
batinnya tenang. T juga berhenti berjualan soto karena dengan membuka
warung soto membuat intensitas pertemuan yang sering dan panjang dengan
pembeli dan T menghindari itu karena T tidak ingin banyak berinteraksi
dengan lawan jenis. Saat suami meninggal, T merasa putus harapan, T putus
asa dengan kejadian yang menimpanya.
Tetapi T mendapatkan dukungan sosial yang besar dari keluarga dan
anak-anak. Dukungan yang didapat berupa dukungan emosi dan
instrumental. T tidak mendapatkan dukungan keuangan dari keluarga tetapi
anak tertua T membantu perekonomian keluarga. Dukungan ini menjadikan
T dapat bangkit dan meneruskan hidup demi diri dan anak-anak. T tetap
harus bertahan hidup tanpa suami dan mencari nafkah sendiri untuk
keluarga.
Setelah suami meninggal, T mulai dapat merelakan kepergian suami.
Walaupun begitu, T masih mengingat kenangan kebersamaan dengan suami
dan anak-anaknya. T mengenang saat-saat menyenangkan bersama
suaminya. Suami T sering mengajak berjalan-jalan sepulang kerja.
Kenangan akan sifat-sifat suaminya juga masih membekas hingga sekarang.
Maka dari itu, T mulai menghindari tempat atau situasi yang dapat
mengingatkan tentang suaminya. T masih teringat dan merasa sedih. Lalu T
mulai beradaptasi dengan status janda yang disandang. Muncul perasaan
minder dengan status janda yang disandang sekarang. T memandang negatif
status janda yang disandang karena T merasa rendah jika bergaul dengan
pria beristri di lingkungan tempat tinggalnya, T merasa tidak berharga.
Selain itu, T juga memikirkan pandangan orang lain terhadap dirinya. T
berpikir jika ia tidak bangkit dan mulai menjalani kehidupannya, orang akan
memandang T tidak dapat berbuat apa-apa setelah suami meninggal. Oleh
karena itu, T mulai menjaga jarak dengan lingkungan karena T merasa tidak
bebas ketika bergaul dengan pria beristri dengan status jandanya. T bersikap
hati-hati di masyarakat. T mengurangi berkumpul dan mengobrol dengan
tetangga terutama dengan pria beristri. Hal ini dilakukan untuk menjaga
perasaan dan juga untuk menghindari perbincangan di lingkungan.
T sudah dapat bangkit dan bertahan hidup tanpa suami. T menjalankan
usaha laundry untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. T harus bekerja dari
pagi untuk mulai mencuci baju-baju di laundry. Anak pertama T yang
memberikan modal untuk usaha laundry. Banyak perubahan aktifitas yang
dirasakan T. Sewaktu suami T masih hidup, ia tidak perlu bekerja dari pagi
dan jika T sakit ia bisa berhenti bekerja. Tetapi sekarang T tidak punya
pilihan lain selain harus bekerja dalam kondisi apapun. Tetapi T merasa
bebas dalam mengurus rumah tangga karena sudah tidak melayani suami dan
T mengalami perubahan tanggungjawab sebagai seorang istri.
T tidak menikah kembali setelah menjadi janda. T takut untuk kembali
menikah. Suami T pernah berpesan sebelum meninggal bahwa T tidak boleh
menikah lagi jika suami meninggal. Hal itu yang menjadikan T tetap
menjanda hingga sekarang. Selain itu, T takut jika mendapatkan suami yang
tidak sama dengan suami terdahulu sehingga membuat T masih merasa rindu
dengan suaminya.
T memiliki harapan untuk masa depannya bersama anak-anak. T
berharap agar diberi kesehatan sehingga dapat bersama anak-anak dan
mengasuhnya sampai tua. T juga berharap agar anak-anak dapat
menyelesaikan kuliahnya seperti pesan suami sebelum meninggal.
2.
Subjek 2
Pada subjek dua atau E telah mengetahui jika suami memiliki penyakit
sejak muda. Ketika suami meninggal, E merasa sedih, bingung menjalani
hidup, memikirkan anak-anak dan biaya hidup. Setelah suami meninggal, E
juga menarik diri dari lingkungan karena masih merasa sedih dan bingung
menjalani hidup. Dalam kesedihannya, E tidak mengikuti kegiatan apapun. E
hanya berdiam diri di rumah dan mengurus anak-anak. E membutuhkan
waktu satu tahun agar dapat beraktifitas normal seperti sebelumnya. Tetapi E
memiliki harapan untuk segera bangkit dari kesedihan dan melanjutkan
hidup demi diri dan anak-anak.
E mendapatkan dukungan sosial yang besar dari keluarga, teman,
tetangga dan anak-anak. Dukungan ini menjadikan E dapat bangkit dan
meneruskan hidup demi diri dan anak-anak. Tantangan yang harus dihadapi
E adalah harus bertahan hidup tanpa suami dan mencari nafkah sendiri untuk
keluarga serta membesarkan anak-anak. E mendapatkan bantuan biaya dari
keluarga besar untuk kebutuhan anak-anak.
Setelah suami meninggal, E mulai dapat merelakan kepergian suami
masing. E mulai beradaptasi dengan status janda yang disandang. Muncul
perasaan minder dengan status janda yang disandang sekarang. E merasa
minder dengan status jandanya karena ia melihat teman-teman dan
saudaranya belum ada yang menjadi janda seperti dirinya. Tetapi E mencoba
berpikir positif dan E tidak mempedulikan omongan di masyarakat tentang
status jandanya. E tetap beraktifitas seperti biasa dan bergaul di masyarakat.
Hal yang dipikirkan E adalah bagaimana mencari uang untuk anak-anak dan
fokus membesarkan anak-anak. E juga sering mengenang kebersamaan
dengan suami. Sewaktu hidup suami E sering mengajak pergi anak-anak ke
taman bermain ketika akhir pekan. Hal itu sering dilakukannya.
E mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan membuka usaha salon,
laundry dan kost-kostan. Usaha ini juga sebagai penyaluran hobi E yang
senang untuk memotong rambut. E menjadikan hobi sebagai penyaluran dari
rasa sedih dan juga untuk mencari nafkah. Banyak perubahan yang E
rasakan ketika menjadi janda. Sewaktu suami masih hidup, E tidak harus
bekerja karena sumber keuangan utama berasal dari suami. Tetapi sekarang
E harus bekerja sendiri. E juga kehilangan teman berbagi karena E terbiasa
menceritakan segala hal pada suaminya. Sekarang peran teman berbagi
digantikan oleh ketiga anak perempuan E.
Setelah menjadi janda,E tidak menikah kembali E takut untuk kembali
menikah karena suami E pernah berpesan sebelum meninggal bahwa E tidak
boleh menikah lagi jika suami meninggal. Hal itu yang menjadikan E tetap
menjanda hingga sekarang. Jika E menikah kembali, ia harus meninggalkan
rumah dan anak-anak. E memilih untuk tidak menikah karena ia tidak rela
meninggalkan anak-anak.
Sekarang E sudah dapat menerima dirinya sebagai seorang janda. E
merasa bahwa menjadi janda adalah sebuah takdir yang harus dijalani. E
sudah terbiasa menjalani hari-harinya. E juga tidak perduli omongan orang
yang memandang negatif status jandanya. Di dalam masyarakat, E
berperilaku seperti orang pada umumnya. E juga memiliki harapan untuk
masa depannya bersama anak-anak. E berharap agar diberi kesehatan
sehingga dapat bersama anak-anak dan mengasuhnya sampai tua. E juga
berharap agar anak-anak dapat menyelesaikan kuliahnya seperti pesan suami
sebelum meninggal.
E.PEMBAHASAN
Kedua subjek merasakan kesedihan dan pilu hati saat suami meninggal.
Kedua subjek mengalami pengalaman masing-masing saat suami meninggal.
Subjek satu atau T merasa tidak siap saat suami meninggal karena suami
meninggal secara mendadak. Sedangkan subjek dua atau E merasa siap menerima
kepergian suami. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa E tidak mengalami kesedihan.
Keduanya mengalami hal yang sama yaitu sedih, bingung, belum ikhlas, tidak
berdaya, murung walaupun proses meninggalnya suami berbeda. Kedua subjek
berada dalam tahap Initial response seperti yang dijelaskan Lemme (1995) bahwa
tahap pertama dalam Grief adalah initial response, dimulai dari kematian dan
berlanjut sampai kira-kira tiga minggu. Reaksi awal adalah terkejut dan tidak
percaya. Individu mungkin merasakan mati rasa, linglung, kosong, dan
disorientasi. Perasaan ini merupakan rintangan dari rasa sakit akan kehilangan,
memberikan rasa dukacita yang mendalam, menangis dalam periode yang lama,
terus takut dan timbul kecemasan. Hal ini juga yang dirasakan oleh kedua subjek.
Terlebih untuk T karena suami meninggal secara mendadak. T merasa kaget dan
tidak mengira suaminya akan meninggal. Kedua subjek fokus berpikir tentang
anak-anak dan mencari biaya hidup. Hal ini sesuai dengan penelitian Sh
Khosravan dkk (2010) yang menyatakan bahwa para janda tidak lagi memikirkan
tentang diri sendiri. Anak-anak adalah masa depan mereka dan para janda harus
membesarkan dan menggantikan peran ayah untuk anak-anak.
Kedua subjek mulai menarik diri dari lingkungan saat suami meninggal. T
merasa malas untuk beraktifitas karena masih merasa kaget dan sedih. T tidak
melakukan kegiatan seperti biasanya dan tidak melakukan kegiatan di masyarakat.
Setiap hari T pergi ke masjid untuk solat dan mendengarkan ceramah untuk
menghilangkan kesedihannya. Kegiatan ini dilakukan untuk menenangkan diri dari
rasa berduka yang dialami. Hal ini disebabkan juga karena T memiliki pemikiran
bahwa dengan menarik diri dari lingkungan, ia menjadi tidak banyak berinteraksi
terutama dengan lawan jenis. T juga berhenti berjualan soto karena dengan banyak
bertemu pembeli terutama laki-laki akan menjadi masalah untuk T yang menjadi
janda sekarang. Sedangkan E merasa sedih dan murung. E juga tidak beraktifitas
dan hanya berdiam diri dirumah karena masih merasa sedih dengan kepergian
suaminya. Penelitian yang dilakukan Lopata (dalam Barrett, 1970) menjelaskan
bahwa menjadi janda menandai berkurangnya peran sosial. Banyak janda
mengalami isolasi sosial setelah kematian suami. Suami menjalani peran sebagai
patner seksual, ayah dari anak-anak, teman menjalani aktivitas bersama, dan
kontributor untuk mengatur rumah. Kematian suami mungkin menghilangkan
hubungan istri dengan kerabat suami, dengan teman satu pekerjaan, teman
dekatnya, dan komunitas yang diikutinya. Banyak janda mengalami isolasi sosial
setelah kematian suami. Mereka kesulitan menemukan kegiatan yang memuaskan
untuk mereka ikuti (Lopata, dalam Barrett 1970). Oleh karena itu, meninggalnya
suami menghilangkan semangat atau gairah istri untuk beraktifitas seperti biasa di
masyarakat karena istri terbiasa menjalani aktifitas bersama suami.
Carstensen, dan Lang (dalam Papalia, 2008), fungsi orisinal dan pengaturan
emosi dari kontak sosial kembali menjadi penekanan. Dengan kata lain, orang-
orang usia paruh baya makin mencari orang lain yang membuat mereka merasa
nyaman dan menekankan hubungan yang dekat secara emosional. Walaupun pada
awalanya, kedua subjek menarik diri dari lingkungan tetapi mereka tetap
membutuhkan kedekatan hubungan dengan lingkungan karena lingkungan
membuat mereka merasa nyaman dan memberi dorongan untuk bangkit.
Ketika menarik diri dari lingkungan, kedua subjek tetap harus melanjutkan
hidup dan bangkit dari kesedihan. Kedua subjek berpikir tentang anak-anak dan
biaya hidup. T merasa bingung dengan masa depan diri dan anak-anak karena T
tidak memiliki keahlian atau ketrampilan. T tidak tahu akan mencari nafkah
dengan cara apa. T merasakan ketidakjelasan tentang masa depannya. Hal ini
dikarenakan tingkat pendidikan yang rendah pula. Di sisi lain, E memiliki keahlian
dalam hal tata rias karena pernah menempuh pendidikan di bidang tersebut. E
menggunakan keahlian tersebut untuk mencari nafkah bagi keluarganya.
Kedua subjek dapat menjalani hidup setelah suami meninggal salah satunya
adalah karena mendapat dukungan sosial yang besar dari lingkungan. T
mendapatkan dukungan dari keluarga dan anak-anak sedangkan E mendapat
dukungan dari keluarga, teman dan tetangga untuk bangkit dan meneruskan hidup.
Dukungan sosial menjadi penting untuk wanita yang janda dalam menghadapi
kepergian suami. Lopata (dalam Lemme, 1995) dalam krisis, dukungan sosial dari
lingkungan sekitar sangat diperlukan. Anak-anak perlu saling mendukung dengan
orang tua. Anak perempuan biasanya lebih membantu dalam hal dukungan emosi
daripada anak laki-laki. Anak laki-laki lebih membantu dalah hal mengerjakan
tugas-tugas. Rakhmat (2008) mengatakan bahwa bila orang berada dalam keadaan
yang mencemaskannya atau harus memikul tekanan emosional, ia akan
menginginkan kehadiran orang lain. Kedua subjek membutuhkan dukungan sosial
dari lingkungan agar dapat bangkit dari kesedihan. Menurut Elliot Aronson (dalam
Rakhmat, 2008) pertambahan perilaku yang menyenangkan dari orang lain akan
berdampak positif pada diri kita. Perilaku dari lingkungan membuat subjek dapat
bangkit dan melanjutkan hidupnya. T dan E mendapat dukungan emosional yaitu
mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap orang yang
bersangkutan (Smet, 1994). Kedua subjek juga mendapat dukungan instrumental
yaitu mencakup bantuan langsung seperti pinjaman uang atau membantu dalam
pekerjaan pada waktu mengalami stress (Smet, 1994). Ketika sudah mendapatkan
dukungan sosial dari lingkungan, kedua subjek dapat menjalankan peran dan
identitas baru sebagai janda.
Menurut Smet (1994) kalau anda merasa didukung oleh lingkungan, segala
sesuatu dapat menjadi lebih mudah pada waktu mengalami kejadian-kejadian yang
menegangkan. Kedua subjek dapat bangkit dari kesedihan karena lingkungan yang
mendukung untuk terus menjalani hidup walaupun suami tidak ada. Lingkungan
dapat mempengaruhi aspek-aspek psikologis yang dirasakan subjek. Menurut
Woodworth (dalam Gerungan, 2009) ada empat jenis hubungan individu dengan
lingkungannya yaitu individu dapat bertentangan dengan lingkungannya, individu
dapat menggunakan lingkungannya, individu dapat berpartisipasi dengan
lingkungannya, dan individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Dalam hal ini, kedua subjek menggunakan lingkungan sebagai pendorong untuk
bangkit dan melanjutkan hidup. T dan E memiliki kekuatan setelah menjadi janda
karena peran lingkungan yang besar. Setelah mendapatkan dukungan sosial yang
besar dari lingkungan, kedua subjek dapat beradaptasi dengan status baru sebagai
janda. Peran yang dijalankan dalam rumah tangga yaitu sebagai ibu dan bapak.
Menurut Antonucci & Akiyama (dalam Papalia, 2008) ada teori konvoi
sosial yaitu orang-orang berpindah melalui kehidupan yang dikelilingi oleh konvoi
sosial: berbagai lingkaran teman dan keluarga dekat dengan berbagai kadar
kedekatan, yang dapat mereka andalkan untuk bantuan, kesejahteraan, dan
dukungan sosial dan kepada mereka juga kita menawarkan kepedulian, perhatian
dan dukungan. Kedua subjek menggunakan peran lingkungan untuk mendapatkan
kepedulian, perhatian, dan dukungan agar menjadi kuat untuk menjalani peran
baru sebagai seorang janda.
Sebagai janda, kedua subjek mempunyai tanggung jawab untuk merawat
anak-anak sementara subjek juga mencari nafkah untuk keluarga. T menafkahi
keluarga dengan membuka usaha laundry sedangkan E membuka usaha salon. Hal
ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sh Khosravan dkk
(2010) bahwa dari 24 janda di Iran berumur 25-55 tahun dengan (Mean= 42 tahun)
mereka berperan menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Para janda
mengutamakan kepentingan anak-anak mereka dibandingkan diri mereka sendiri.
Mereka juga rela melakukan apapun demi anak-anak dengan bekerja keras agar
anak-anak tumbuh dalam situasi yang baik dan memiliki masa depan. Allport
(dalam Schultz, 1991) menjelaskan bahwa orang yang matang harus menjadi
partisipan langsung dan penuh hal ini dinamakan “partisipasi otentik”. Apabila
mengerjakan suatu pekerjaan karena percaya bahwa pekerjaan itu penting, karena
pekerjaan itu menantang kemampuan-kemampuan atau karena pekerjaan itu
membuat enak maka anda merupakan seorang partisipan otentik dalam pekerjaan
itu. Aktivitas itu lebih berarti daripada pendapatan yang diperoleh. Semakin
seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas atau orang atau ide, maka
semakin sehat juga secara psikologis. E dengan usaha salon yang dimillikinya,
telah berpartisipasi otentik terhadap pekerjaan yang dilakukannya karena E
memiliki kemampuan dan senang melakukan pekerjaannya di salon. Lain halnya
dengan T, usaha laundry ia jalankan semata-mata karena mencari nafkah untuk
keluarga. Tetapi T tidak menikmati pekerjaan yang dilakukannya karena ia merasa
memiliki beban dengan pekerjaan yang dilakukan. T mengeluh dengan
pekerjaannya yang harus ia lakukan dari pagi hari dan walaupun T sakit, ia tetap
harus bekerja.
Kedua subjek juga memiliki perasaan minder dengan status barunya sebagai
janda. T dan E merasa minder dengan status janda yang disandang. T memandang
negatif status janda yang disandangnya. T merasa tidak berharga jika bergaul di
lingkungan terlebih dengan pria beristri. T hanya nyaman bergaul dengan sesama
janda atau duda. Lain halnya dengan E, dulu E merasa iri pada teman-teman yang
memiliki pasangan. E juga merasa minder ketika melihat saudara-saudaranya dan
teman-teman belum ada yang menjadi janda seperti dirinya. Tetapi E berpikir
positif. Hurlock (1990) mengungkapkan bahwa seorang janda segera akan
menemukan bahwa tidak ada tempat untuknya apabila ada diantara pasangan yang
menikah kecuali hal itu terjadi karena ada undangan dari para janda atau duda
untuk bergabung dalam kegiatan sosial dan untuk berpasangan dengan mereka.
Menurut Myers (2012) ketika kita berpikir baik mengenai diri kita, ini akan
membantu kita berpikir baik juga tentang diri kita sendiri. T dan E memiliki
pandangan masing-masing tentang status janda yang disandang. T memandang
rendah status jandanya dan berpikir negatif sedangkan E berpikir positif tentang
status jandanya.
Peran lingkungan juga yang mempengaruhi pandangan subjek terhadap diri
mereka masing-masing. T merasa minder dengan status yang disandangnya karena
T pernah di cemburui oleh istri tetangga. T merasa bahwa dengan statusnya
sebagai janda, ia adalah penggangu rumah tangga orang dan menjadi janda adalah
rendah statusnya di mata masyarakat. Oleh karena itu, T mempunyai pandangan
diri yang negatif. T adalah seorang yang negativis. Selain itu, lingkungan tempat
tinggal T yang berada di gang sempit menjadikan T seperti tidak punya privasi dan
hal kecil yang terjadi dapat menjadi perbincangan di masyarakat. Sedangkan E
juga merasa minder karena statusnya tetapi E tidak memperdulikan omongan
orang tentang statusnya. E adalah seorang positivis. E tetap menjalani hidup dan
memandang status jandanya positif. Selain itu, lingkungan tempat tinggal E yang
berada di pinggir jalan besar membuat interaksi dengan tetangga tidak sering
seperti T. Menurut Perls (dalam Schultz, 1991) orang yang sehat dapat mengatur
diri mereka sendiri tanpa campur tangan kekuatan-kekuatan dari luar, biarpun itu
kebutuhan atau tuntutan dari orang lain atau kritik-kritik dari undang-undang
sosial. Seperti E yang tetap dapat hidup dan mengatur diri sebagai seorang janda
tanpa perduli pandangan masyarakat tentang statusnya.
Kedua subjek tidak menikah lagi setelah suami meninggal. Suami T
berpesan sebelum meninggal agar tidak menikah lagi, begitu pula dengan E.
Keluarga Tmendukung tetapi T memilih untuk tetap single parent. T memutuskan
untuk tetap menjanda dan fokus membesarkan anak-anak. Sedangkan E, tidak
memiliki keinginan untuk menikah lagi karena anak-anak tidak setuju. Mereka rela
mengorbankan diri mereka untuk anak-anak. Hurlock (1990) mengungkapkan
bahwa kecil kemungkinan untuk wanita menikah lagi karena sejalan dengan usia
yang semakin tua.
Setelah beradaptasi dengan status jandanya, kedua subjek memiliki harapan
untuk masa depan. T memiliki harapan agar dapat diberi kesehatan dan dapat
mengasuh anak-anak hingga dewasa. T juga berharap agar anak-anaknya dapat
menyelesaikan kuliah dan memiliki masa depan yang cerah. Begitu pula dengan
E. E juga berharap dapat membesarkan anak seperti orang lain. anak-anak dapat
selesai kuliah dan dapat menikahkan anak-anaknya. Harapan atau optimisme yang
dimiliki oleh kedua subjek menjadikannya dapat bertahan hidup tanpa suami dan
bangkit menjalani hidup. Seperti yang diungkapkan oleh Peterson (dalam Hoyer
dan Roodin, 2003) optimisme berkorelasi tinggi dengan kesehatan, umur panjang,
prestasi, tercapainya tujuan, mood positif, kesuksesan dan kebahagiaan. Menurut
Allport (dalam Schultz, 1991) orang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh
tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Orang-orang ini mempunyai
suatu perasaan akan tujuan, suatu tugas untuk bekerja sampai selesai. Allport
menyebut dorongan yang mempersatukan ini “arah” (directness). Arah itu
membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu alasan untuk hidup. T
dan E memiliki harapan hidup ke depan sehingga tetap memiliki alasan untuk
hidup walaupun tanpa suami.
Kedua subjek menggunakan pengalaman pada masa lampau untuk menjadi
acuan agar dapat terus hidup di masa kini dan yang akan datang. Seperti yang
dijelaskan Perls (dalam Schultz, 1991) di sini dan kini adalah satu-satunya
kenyataan yang kita miliki dan kita harus memikul tanggung jawab untuk
membenamkan diri kita sepenuhnya dalam setiap saat dan mengambil kegunaan
dari pengalaman-pengalaman tersebut. Pengalaman meninggalnya suami tetap ada
dalam kenangan kedua subjek. Tetapi kehidupan tetap harus berjalan dan bergerak
maju. Pengalaman itu dijadikan penggerak agar subjek dapat tetap hidup. Menurut
Perls (dalam Schultz, 1991) masa lampau mengandung situasi-situasi yang belum
selesai yang harus di selesaikan, pengalaman-pengalaman yang menggembirakan
yang menyenangkan kalau diingat kembali, dan pengalaman-pengalaman yang
dapat membantu kita untuk menyesuaikan diri dengan masa sekarang. Kita harus
menyadari masa lampau tetapi kita tidak boleh hidup disana.
79
BAB V
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Pengalaman yang dimiliki oleh wanita dewasa madya setelah ditinggal
suami meninggal menggambarkan betapa sulitnya proses yang dialami karena
perubahan status dan peran dalam rumah tangga. Subjek mengalami kesedihan dan
kebingungan yang mendalam ketika menghadapi kematian suami. Saat awal
menjadi janda, subjek memiliki keyakinan bahwa janda itu tidak baik karena
Dalam dokumen
Dinamika psikologis pengalaman hidup wanita usia dewasa madya setelah kematian pasangan.
(Halaman 69-87)