HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Keadaan Perekonomian
1. Struktur Ekonomi Kota Makassar
Struktur perekonomian pada suatu wilayah digambarkan oleh besarnya pe-ranan dari besarnya masing-masing sektor ekonomi dalam menciptakan total pen-dapatan. Salah satu ciri suatu wilayah dikatakan perekonomiannya cukup mapan yaitu apabila struktur ekonominya didominasi oleh sektor tersier, salah satunya yaitu sektor industri pengolahan. Struktur ekonomi pada sektor pengolahan yaitu paling besar kontribusinya terhadap pembentukan pendapatan Kota Makassar yaitu sektor per-dagangan hotel dan restoran yakni sebesar 29,43 persen. Sementara urutan kedua adalah sektor industri pengolahan yaitu sebesar 18,90 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sektor industri memberikan kontribusi terhadap pembentukan pendapatan. Besarnya peranan sektor memberikan suatu indikator dimana kondisi ekonomi Kota Makassar dapat dikatakan relatif mapan. 2. Pertumbuhan Ekonomi Kota Makassar
Salah satu indikator untuk menilai keberhasilan pembangunan suatu daerah adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi diharapkan mampu meningkatkan kemampuan faktor-faktor produksi yang merangsang bagi ber-kembangnya ekonomi daerah dalam skala yang lebih besar. Searah dengan ke-bijaksanaan pemerintah setelah mulai diterapkannya otonomi daerah kabupaten/kota sejak tahun 2003, diharapkan pembangunan di daerah dapat lebih mendorong pe-merataan pembangunan, dan juga mempercepat pemulihan perekonomian. Pertumbuhan ekonomi yang stabil akan berdampak
pada semakin meningkatnya pendapatan penduduk yang pada akhirnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
C. Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja, Upah dan Modal Pada Industri Percetakan di Kota Makassar Periode 2008-2016.
Berdasarkan hasil pengumpulan data yang diperoleh, maka dengan itu peneliti dapat menggambarkan variabel-variabel yang masuk dalam penelitian ini dimana variabel independen adalah upah dan modal kerja yang akan mempengaruhi variabel dependen yaitu penyerapan tenaga kerja pada sektor industri percetakan di Kota Makassar secara lengkap apakah variabel independen mempunyai signifikan dan hubungan positif terhadap variabel dependen atau sebaliknya.
Adapun variabel independen dan variabel dependen yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Penyerapan Tenaga Kerja
Perkembangan industri percetakan di Kota Makassar dari tahun ke tahun semakin meningkat hal ini dibuktikan pada tahun 2008 hanya mempunyai 24 industri percetakan sampai 2016 dengan 173 industri percetakan.1Ini menunjukkan bahwa indsutri percetakan mempunyai pendapatan yang bagus dan mampu menyerap tenaga kerja yang ada di Kota Makassar.
Adapun data yang menunjukkan bahwa industri percetakan yang ada di Kota Makassar mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dari tahun 2008-2016 sebagai berikut:
1
Table 4.1 Data Jumlah Penyerapan Tenaga Kerja yang Diserap Pada Industri Percetakan Di Kota Makassar Tahun 2008-2016
Tahun Jumlah Penyerapan
Tenaga Kerja (jiwa)
Petumbuhan (%) 2008 120 - 2009 233 94.17 2010 320 37.34 2011 428 33.75 2012 645 50.70 2013 887 37.52 2014 1124 26.72 2015 1365 21.44 2016 1627 19.19
Sumber: Disperindag Kota Makassar 2016
Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa jumlah tenaga kerja yang diserap pada industri percetakan dari tahun 2008-2016 terus mengalami peningkatan. Penyerapan tenaga kerja yang paling tinggi terjadi ditahun 2009 dengan pertumbuhan 94,17% dan 2012 dengan pertumbuhan 50,7%. Sementara peningkatan terendah terjadi ditahun 2014 dengan pertumbuhan 4,17% dan 2015 dengan pertumbuhan 4,44%.Barang dan produk yang dihasilkan di sini tidak memerlukan pengolahan lebih lanjut seperti halnya industri anyaman, industri konveksi, industri makanan dan minuman. Dalam hal ini pengembangan dan kemajuan industri ini belum sepenuhnya dilakukan. Persoalan kebutuhan akan tenaga kerja yang terampil dan terdidik, sehingga menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan. Selain itu dukungan terhadap peningkatan industri ini dapat menjadi penopang dalam kemajuan industri ini.
Sesuai dengan tujuan pembangunan maka kebijaksanaan yang di-ambil dalam industrialisasi selalu diarahkan pada pengembangan industri yang bersifat padat karya. Sehingga diharapkan dapat menciptakan
ke-sempatan kerja, yang pada akhirnya dapat memperluas daya serap tenaga kerja. Untuk menyikapi hal di atas salah satu kebijakan pasar kerja yang dapat dilakukan dalam rangka menciptakan kesempatan kerja adalah menciptakan lapangan kerja melalui investasi modal pada industri atau dapat dikatakan kebijakan dari sisi permintaan.2 Dengan investasi modal diharapkan akan muncul keterkaitan antara investasi modal pada industri-industri dengan pembukaan lapangan kerja baru atau dapat meningkatkan produktifitas di salah satu sektor usaha yang kurang berkembang, sehingga dapat menjadi sektor unggulan dan semakin memperluas kesempatan kerja.
2. Upah
Upah adalah imbalan yang terima pekerja atau jasa kerja yang diberikannya dalam proses memproduksi barang atau jasa diperusahaan. Kuantitas tenaga kerja yang diminta akan menurun sebagai akibat dari kenaikan upah. Apabila tingkat upah naik sedangkan harga input lain tetap, berarti harga tenaga kerja relatif mahal dari input lain. Situasi ini mendorong pengusaha untuk mengurangi penggunaan tenaga kerja yang relatif mahal dengan input-input lain yang harga relatifnya lebih murah guna mempertahankan keuntungan yang maksimum.
Tabel 4.2 Perkembangan Upah Pada Sektor Industri Percetakan di Kota Makassar Periode 2008-2016 Tahun Upah (Rupiah) Petumbuhan (%) 2008 740000 - 2009 905500 22.36 2010 1000000 10.44 2011 1100000 10.00 2012 1200000 9.09 2013 1440000 20.00 2014 1800000 25.00 2015 2000000 11.11 2016 2250000 12.50
Sumber: Disperindag Kota Makassar 2016
Pada tabel 4.2 dapat dilihat bahwa UMP setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dapat dilihat bahwa upah yang paling tinggi adalah pada tahun 2014 yaitu sebesar 25%. Hal ini disebabkan oleh tingkat harga kebutuhan di pasar yang setiap tahunnya mengalami peningkatan sehingga disesuaikan dengan biaya hidup karyawan. Selain itu juga dilihat dari tingkat pendapatan daerah dan iklim investasi setiap daerah. Secara umum, kondisi upah di Kota Makassar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring dengan semakin tingginya harga berbagai macam kebutuhan hidup masyarakat. Namun yang terjadi, besarnya upah yang ditetapkan tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan hidup para tenaga kerja. Hal ini disebabkan karena peningkatan upah dibarengi juga dengan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok khususnya pasca kenaikan BBM.
3. Modal
Dalam industri kecil cenderung menggunakan tenaga manusia, pada intinya tidak menggunakan teknologi yang canggih. Modal yang berupa uang dan barang yang ada cenderung digunakan untuk membeli bahan mentah untuk mem-produksi barang yang diinginkan, sehingga dengan adanya penanaman bahan mentah untuk memproduksi barang maka akan menambah penggunaan tenaga kerja.
Tabel 4.3 Perkembangan Modal Pada Sektor Industri Percetakan di Kota Makassar Periode 2008-2016 Tahun Modal (miliar rupiah) Petumbuhan (%) 2008 1,086 - 2009 1,204 10.87 2010 1,495 24.17 2011 2,657 77.73 2012 4,673 75.88 2013 4,820 3.15 2014 4,854 0.71 2015 6,180 27.32 2016 8,199 32.67
Sumber : Disperindag Kota Makassar2016
Pada tabel 4.3 dapat dilihat perkembangan modal pada sektor industri di Kota Makassar dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena perkembangan industri di Kota Makassar cukup pesat khusunya industri percetakan. Kota Makassar sebagai salah satu pusat pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan mendorong berkembangnya industri percetakan di kota tersebut. Perkembangan industri percetakan banyak terjadi disekitar sarana pendidikan seperti sekolah maupun universitas. Jumlah pelajar dari luar daerah di Kota
Makassar terbilang besar, hal ini meningkatkan minat masyarakat untuk melakukan investasi di bidang industri percetakan.