• Tidak ada hasil yang ditemukan

dengan nun. Contoh: نوملسم dan نيملسم

F. STRUKTUR KALIMAT SINTAKSIS DIDALAM BAHASA ARAB

Didalam sintaksis bahasa Arab sendiri secara sederhananya terdapat sebuah kategori atau dapat dipahami dengan golongan bahasa yang pada setiap anggotanya berperilaku sintaksis serta kesamaan dalam hubungan. Didalam kategori sendiri terdapat fungsi yang membersamainya. Jika pada pembahasan sebelumnya telah terbahas tentang bagian maka didalam sebuah bagian yang sempurna atau bagian yang struktur akan tersusun pula sebuah kategori, serta fungsi lalu bagimana dengan klausa dan frasa? Nampaknya, dalam bahasa Arab klausa memiliki banyak jenis atau macamnya. Bahasa Arab klausa terdapat didalam (jumlah mubtada’, jawabul qosam, jumlah al’itirodiyah dan lain sebagainya,) (Gilar, 2014) dapat disimpulkan oleh penulis bahwasanya, bentuk dan pembagian klausa dalam bahasa Arab tersebut hampir sama dengan kalimat bahasa Arab.

Untuk frasa dalam bahasa Arab, kajian frasa ini jarang dilakukan dalam bahasa Arab, akan tetapi bukan berarti hilang dan tidak terdapat sama sekali pembahasan dari frasa ini sendiri, beberapa ahli bahasa Arab, memberikan sebuah pengertian dari frasa dalam bahasa Arab yang kemungkinan besar dirumuskan sebagai, takrib atau ibarah, yang diartikan, satuan bahasa yang mana pada satuan yang saling memiliki keterkaitan serta memiliki fungsi khusus dalam struktur kalimat dan hubungannya dalam sebuah konstruksi kalimat tidak menunjukkan adanya predikat, serta jika dalam sintaksis, ia dikatakan sebagai kata tunggal atau satu yang mana dapat satu kata tersebut dapat diganti dengan satu kata lain beberapa bagian frasa berada pada ( frasa na’at dan man’ut, athf, badal, dzharf, syibhul jumlah, mudhof, mudhof ilaih) dan lain sebagainya. (Andriani, 2016) seperti contoh berikut:

ا َت ْحَت ُةَر َج َّشل

Di bawah pohon Konstruksinya menjadi:

Menempati frasa syibhul jumlah (dzharf) atau preposisi, karena menunjukkan penggunaan kata depan. (dzharf makan) (

ناكملا فرظ

)

َت ْحَت

Ism rafa’ dengan kategori (nomina) (dan

menempati posisi mudhof ilaih)

ِةَر َج َّشلا

Kategori atau dalam bahasa Arab sendiri sederhananya terbagi menjadi (ism) yang berperan sebagai nomina (kata benda), (fi’il) yang berperan sebagai verba (kata kerja) yang berhubungan dengan kata kerja dan (harf) yang berperan sebagai preposisi (kata depan) yang mana memiliki hubungan dengan kata depan pembagian ini adalah pembagian yang paling umum. berikut sebagai contoh bagianya:

87

ِل ْص َفلا ْيِف ٍصَاصَر ُمَلَقلا ًّيِلَع ُفَجَن

Konstruksinya menjadi:

Pada kalimat ini memiliki arti (Ali meraut) dikatakan bahwa verba atau (fi'il yang berhubungan dengan kata kerja dijelaskan pada kata

ُف ُجْنَي

(meraut) yang menempati kategori sebagai fi’il (fi’il mudhori’))

ًّي ِلَع ُفَجَن

Pada penggalan kalimat yang berartikan (Ali meraut pensil ini) yang menunjukkan nomina atau ism ialah

ٍص َاصَر ُمَلَقلا

karena

pada bagian kata yang berarti pensil ini, menunjukkan kata ism atau nama benda.

ٍص َاصَر ُمَلَقلا ًّي ِلَع

Pada kalimat yang beartikan (di kelas) ini menanggapi kategori preposisi, atau kata depan ditunjukkan oleh kata

ْي ِف

(didalam) yang menunjukkan bagiannya sebagai harf, atau huruf karna makna didalam menunjukkan kata atau kategori preposisi.

ِل ْص َفلا ْيِف

Dari seluruh hubungan bagian, fungsi dan kategori atau dikatakan sebagai sintaksis dalam bahasa Arab ini lahirlah sebuah kalimat dalam bahasa Arab yang disebut Al-jumlah (

ْةَل ْم ُجلا

)

jumlah dalam bahasa Arab terbagi menjadi dua jenis, yakni, Jumlah ismiyah dan Jumlah fi’liyyah.

Serta didalam bahasa Arab terdapat suatu kalimat atau jumlah yang berbeda dari kebanyakan kalimat pada bahasa selain bahasa Arab, yaitu semi kalimat atau syibhul jumlah (

ْةَل ْم ُجلا ُهْب ِش)

Secara pembagian telah diketahui bahwa terdapat tiga jenis pembgian kalimat dalam bahasa Arab, salah satunya ialah jumlah ismiyyah, dapat dilihat dari kata ismiyyah, jumlah berawal atau dimulai dari ism, atau yang banyak diketahui ialah kalimat yang dengan permulaan mubtada’ dan khabaryang mengikutinya. Yang mana mubtada’ sebagai subjek dan khabar berposisi sebagai predikat. (

ٌرْيِغ َص ُر ْهَّنلا )

ُر ْهَّنلا

: yang artinya sungai menempati posisinya sebagai mubtada’ atau langsung secara kondisional, kata tersebut menempati posisi fungsinya sebagai subjek.

88

ٌرْيِغ َص

: yang artinya kecil atau pendek menempati posisinya sebagai khabar, atau langsung secara kondisional, kata tersebut menempati posisi fungsinya sebagai predikat.

Jika terdapat jumlah ismiyyah maka, terdapat pula jumlah fi’liyyah. Yang mana jumlah atau kalimat ini dimulai dengan fi’il (

لغف

) atau kata kerja, lalu ditambah faa’il sebagai subjeknya serta maf’ul biih (

ِهِب ٌلوُع ْفَم

) sebagai objek dari faa’il (

ُلٍع َفلا

). Contoh dari jumlah fi’liyyah ialah pada berikut:

ُة َسَر ْد َملا ْي لا ٌد َّم َح ُم َب َه َذ َ

Pada kata

َب َه َذ

didalam kalimat tersebut, menempatkan posisinya sebagai fi’il madhi (kata kerja yang telah lalu dilakukan), fi’il didalam jumlah fi’liyyah memiliki fungsi sebagai predikat, meskipun berada pada jumlah fi’liyyah.

َب َه َذ

kalimat

ٌد َّم َح ُم

menempati posisinya sebagai subjek atau faa’il (sang pelaku kegiatan tersebut).

ٌد َّم َح ُم

kalimat

ُة َسَر ْد َملا

, menempati posisinya sebagai maf’ul biih, atau bisa dikatakan sebagai (objek) pada kalimat tersebut.

ُة َسَر ْد َملا

Dan yang terakhir ialah semi kalimat, atau syibhul jumlah, Syibhul ialah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri, pada dasarnya syibhul jumlah membutuhkan kata yang bersandar kepadanya untuk menjadikannya kalimat yang sempurna. komponen dari syibhul jumlah ialah jar dan majruur, lalu dzorf dan mudhof ilaih contoh dari syibhul jumlah ialah sebagai berikut:

ِةَبْي ِق َحلا ي َلَع

Pada kata

ي َلَع

(yang memiliki arti diatas) didalam kalimat tersebut, menempatkan poisisinya sebagai harf atau huruf, namun pada fungsi nya ia diletakkan sebagai (harf jar) atau dapat diakatakan sebagai huruf yang menyatakan kata keteranagan sesuatu.

ي َلَع

89 Pada kata

ِةَبْي ِق َحلا

(memiliki arti’ tas itu’) didalam kalimat tersebut, menempatkan posisinya sebagai majrurr atau penjelas dari jar (jika jar menjelaskan tentang keterangan sesuatu,) maka majrurr adalah sesuatu yang diterangkan, atau dapat disimpulkan sebagai objek, (maf’ul biih)

ِةَبْي ِق َحلا

Setelah dipaparkan contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa diantara ketiga struktur kalimat dalam bahasa Arab yang paling sempurna ialah jumlah fi’liyyah, jumlah ismiyyah dan syibhul jumlah, karena apabila didalam jumlah (kalimat) terdapat fi’il maka sudah dipastikan terdapat faa’il, apabila terdapat mubtada maka dapat dipastikan terdapat khabar.

Beberapa komponen berikut seperti maf’ul bih, maf’ul muthlaq, maf’ul liajlih, maf’ul ma’ah, maf’ul fiihi, al-khaal, at-tamyiiz merupakan komponen-komponen yang hanya muncul apabila di butuhkan saja oleh fai’il dan fail. Seperti contoh berikut:

(

ِه َّللا ُدْبَع ْي َ شَم( )ي ِلَع َبَهَذ

) kalimat kalimat tersebut tidak mengandung maf’ul biih karena fi’il dan fa’il tidak memburtuhkan maf’ul bih (objek)

Jumlah fi’liyyah selalu diawali dengan fi’il. Fi’il terbagi menjadi 3 yaitu fi’il madhi (menunjukkan masa lampau), fi’il mudhori’ (menunjukkan masa kini, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi) dan fi’il amr (menunjukan perintah).

Jumlah fi’liyah memiliki ketentuan khusus didalam jumlah tersebut terdapat penggunaan

ناك اهتاوخْا و

(kaana wa akhwatuha), yaitu ketika (Kaa na) bertemu dengan (

ي ضاملا لغف

) fi’lun

maadhi maka ketentuanya ialah kalimat tersebut menunjukkan waktu yang lama. Kemudian ketika kata )

دقل

) bertemu dengan (kaa na) dan ditambah (

ي ضاملا لغف

) fi’lun maadhi maka ketentuanya ialah kalimat tersebut menunjukkan (waktu lama yang jauh dan mempertegas perbuatan tersebut)

Ketika (Kaa na) bertemu dengan (عراضملا لعف) fi’lun mudhori’ maka kalimat tersebut menjelaskan waktu yang telah lalu atau lampau akan tetapi masih berlanjut hingga saat ini.

Ketika kata (

دق

) bertemu dengan (

ناك

) dan bertemu dengan (

ع راضملا لعف

) fi’lun mudhori’

maka ketentuan ialah kalimat tersebut menunjukkan waktu yang telah lalu atau lampau akan tetapi masih berlanjut hingga saat ini dan menegaskan keadaanya dengan kata (

دق

)

Ketika (

داك

), bertemu dengan (

عراضملا لعف

) fi’lun mudhori’, maka ketentuan kalimatnya menunjukkan waktu lampau akan tetapi dekat (masa depan) yang nyaris terjadi.

90

Ketika kata (

دق

) bertemu dengan (

داك

), dan bertemu dengan (

عراضملا لعف

) fi’lun mudhori’

maka ketentuan kalimatnya menunjukkan, waktu lalu yang dekat (masa depan) yang nyaris terjadi serta tedas keadaannya dengan kata (

دق

)

Ketika (

داكي

) bertemu dengan (

عراضملا لعف

) fi’lun mudhori’, maka ketentuan kalimatnya menunjukkan kejadian yang pada saat ini dan nyaris terjadi.

Ketika (

لعج

) bertemu dengan (

عراضملا لعف

) fi’lun mudhori’, maka ketentuan kalimatnya menunjukkan kejadian yang segera terjadi akan tetapi dimasa yang lalu.

Ketika (

كفناام ,لظ ,تاب ,لازام

) bertemu dengan (

عراضملا لعف

) fi’lun mudhori’, maka ketentuan kalimatnya menunjukkan kejadian yang telah berlangsung pada masa lalu dan masih terdapat hubungan pada masa sekarang.

Ketika (

ىحضأ

) bertemu dengan (

عراضملا لعف

) fi’lun mudhori’, maka ketentuan kalimatnya menunjukkan kejadian yang saat ini masih terjadi namun masih berhubungan dengan masa lalu.

Ketika (

فوس /س

) bertemu dengan (

عراضملا لعف

) fi’lun mudhori’, maka ketentuan kalimatnya menunjukkan kejadian yang akan terjadi dimasa mendatang. (Nasution, Pengantar Lingusitik Bahasa Arab, 2017)