• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Keluarga dalam Masyarakat Industri

BAB III STRUKTUR KELUARGA MASYARAKAT AGRARIS

3.2. Struktur Keluarga dalam Masyarakat Industri

Pertumbuhan ekonomi yang pesat diperkuat oleh urbanisasi dan industrialisasi membawa dampak besar terhadap kehidupan rumah tangga. Salah satu perubahan yang mencolok adalah meningkatnya jumlah orang yang tinggal di dalam keluarga inti, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Pada tahun 1955, sebanyak 44 persen dari semua rumah tangga terdiri dari keluarga besar, tetapi rasio ini berangsur-angsur menurun dan merosot menjadi 19 persen pada tahun 1970, 16,2 persen pada tahun 1980 dan 15,2 persen pada tahun 1985. Rasio keluarga inti meningkat menjadi 61,1 persen dari jumlah seluruh rumah tangga pada tahun 1985 ( Jepang dewasa ini, 1989:79 )

Menurut Sodei (1995:219-230),ada beberapa faktor penyebab menurunnya proporsi jumlah generasi muda yang tinggal bersama dengan orang tua.

Pertama, menurunnya jumlah anak perpasangan. Pada zaman Meiji ( 1868-1912 ) jumlah anak dalam satu keluarga adalah lima orang. Salah satu penyebabnya adalah anak berfungsi sebagai tenaga kerja pertanian mereka. Akan tetapi, seiring dengan industrialisasi, jumlah ini terus menurun menjadi tiga sampai dua orang dalam satu keluarga pada masa Showa ( 1926-1989 ).

Kedua, meningkatnya mobilitas penduduk dari desa ke kota, khususnya pada tahun 1960, yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang cepat menyebabkan meningkatnya permintaan untuk tenaga kerja dalam sektor industri dan jasa. Sektor ini membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Banyak pemuda yang semula bekerja di bidang pertanian ( primer ) pindah pekerjaan ke industri sekunder atau tersier. Untuk mendukung pekerjaannya, mereka juga pindah dari desa ke kota. Keinginan bekerja di bidang industri yang tidak ada di desanya menyebabkan anak laki-laki pertama yang mungkin juga anak laki-laki satu-satunya meninggalkan rumah. Oleh karena itu, di wilayah pedesaan kaum tua atau lansia menjadi orang yang kesepian karena ditinggalkan oleh anak-anaknya.

Ketiga, perubahan sikap terhadap pengaturan tempat tinggalindustrialisasi, modernisasi, dan urbanisasi mempunyai hubungan langsung dalam mengubah sikap terhadap living arrangement ( pengaturan tempat tinggal ) ini.

Keempat, kurangnya perumahan di wilayah perkotaan. Tingginya harga tanah menyulitkan pasangan muda untuk memiliki rumah sendiri. Perumahan dengan sewa murah cenderung berada di luar kota, sehingga tidak mudah untuk menemukan ukuran rumah atau apartemen yang memadai bila pasangan muda dan orang tuanya ingin hidup bersama.

b. Posisi Orang Tua dan Kondisi Perawatannya Pada Zaman Sekarang

Setelah sistem ie dihapuskan, kedudukan pria dan wanita menjadi setara dalam undang-undang. Dalam hal kewajiban fuyou terhadap orang tua, terdapat perubahan dari undang-undang sebelumnya.

Berikut undang-undang baru Showa berkenaan dengan roushin fuyou, yaitu : - Pasal 877 :

1. Kerabat langsung berdasarkan hubungan darah dan saudara laki-laki dan perempuan mempunyai kewajiban untuk memberi fuyou satu sama lain.

2. Jika ada kondisi khusus, pengadilan keluarga dapat membebankan kewajiban untuk memberikan fuyou diantara shinzoku ( kerabat dekat ) dalam tiga shinto ( tingkat kekerabatan ) selain dari yang diterangkan dalam paragraf sebelumnya.

3. Jika keputusan menurut ketetapan paragraf sebelumnya telah dibuat, apabila telah terjadi perubahan keadaan, pengadilan keluarga dapat mencabut kembali keputusannya.

- Pasal 878 :

Jika dalam kasus dimana ada dua orang atau lebih yang berkewajiban untuk memberikan fuyou, tidak terdapat persetujuan yang dicapai untuk memungkinkan antara pihak yang berhubungan dan perintah pemberian fuyou, perintah tersebut akan diputuskan melalui pengadilan keluarga.

Dalam kasus dimana ada dua orang atau lebih berhak untuk diberi fuyou, jika kemampuan keuangan orang yang berkewajiban memberikan fuyou tidak mencukupi untuk membantu mereka semua, caranya sama seperti ditetapkan di atas.

- Pasal 879 :

Jika tidak ada persetujuan yang dicapai atau memungkinkan antara pihak yang berhubungan dengan cara dan standar fuyou, pengadilan keluarga akan memutuskan persoalan seperti itu, dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan orang yang berkewajiban memberikan fuyou dan seluruh keadaan lainnya ( Soichi Nasu, 1985:24-26 ).

Pada pasal 887 ayat 2 di atas, dikatakan bahwa kewajiban untuk melakukan perawatan dapat dibebankan dalam kekerabatan tiga shinto. Shinto adalah wilayah kekerabatan dalam shinzoku. Shinzoku mempunyai arti hubungan kekerabatan yang dipusatkan pada ego sebagai titik tolak dan hubungan dengan para kerabatnya baik yang bersifat ketsuzoku ( berdasarkan hubungan darah atau keturunan dengan ego ) maupun inzoku ( hubungan kekerabatan yang terjadi antara ego dengan keluarga istri dan suami ).

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

1. Sejak zaman tokugawa sampai akhir perang dunia II, sistem keluarga Jepang diatur oleh konsep Ie dan bahkan mendapat pengakuan secara hukum dalam kode hukum sipil Meiji ( 1868-1912 ).

2. pembentukan sebuah ie tidak ditekankan pada ikatan perkawinan dan hubungan darah, tetapi lebih ditekankan pada kelompok yang menyelenggarakan kehidupan ekonomi dan sosial secara bersama. 3. Pada zaman Meiji, hampir seluruh kegiatan masyarakat Jepang adalah

pertanian. Sehingga masyarakat Jepang dikatakan masyarakat agraris. 4. Pada zaman dahulu, Figur ayah sering disamakan sebagai hal yang ditakuti

oleh anggota ie lainnya, seperti jishin (gempa), kaminari (petir), kaji (kebakaran), dan oyaji (ayah).

5. Setelah sistem ie dihapuskan, kedudukan pria dan wanita menjadi setara dalam undang-undang.

5.2.Saran

Setelah mempelajari kehidupan masyarakat Jepang dari zaman dahulu sampai sekarang. Saya menyarankan bahwasannya segala sesuatu yang sudah menjadi tradisi dari dahulu, hendaknya dilestarikan dan diterapkan pada masa sekarang. Karena semua yang sudah ditradisikan itu tujuannya untuk membuat masyarakat Jepang hidup lebih baik dan terarah.

DAFTAR PUSTAKA

Befu. 1971:18.

Benedict. 1979:105. Konsep On.

Fukutake, Tadashi. 1989. Rural Society in Japan ( Masyarakat Pedesaan di Jepang ). Terjemahan haryono. Jakarta : PT. Gramedia.

Http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Jepang Kazuo, Aoi. 1974:67. Kazoku To Wa Nanika.

Murdock, G.P. 1971:358. Konsep Family Sebagai Kekerabatan.

Mientosih, Sri ( dkk ). 1995. Perubahan Nilai Hubungan Anak dan Orang Tua pada Masyarakat Peralihan dari Kebudayaan Agraris kepada Kebudayaan Masyarakat Industri. Studi Kasus Perubahan Sosial Masyarakat Sunda di Bandung. Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional

Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Nakane, Chie. 1967. Kiship and Economic Organization in Rural Japan. London : the Atholone Press, University of London.

Sodei. 1995:219-230. Faktor Penyebab Menurunnya Proporsi Jumlah Generasi Muda yang Tinggal Bersama Orang Tua.

Torigoe. 1993:9. Pengertian Ie. Yamamoto. 1974:118.

Dokumen terkait