• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Struktur Komunitas Zooplankton

Struktur komunitas zooplankton diartikan sebagai suatu susunan individu

dari beberapa jenis atau spesies zooplankton yang secara terorganisir membentuk

suatu komunitas. Struktur komunita s dapat dipelajari dengan mengetahui

beberapa aspek khusus tentang kondisi organik dari komunitas yang bersangkutan

seperti keanekaragaman, distribusi dan kelimpahan (Brower et al., 1990).

4.1.1 Komposisi dan Kelimpahan Zooplankton

Dari hasil pengamata n, di perairan Teluk Hurun ditemukan sebanyak 26

genera zooplankton yang termasuk ke dalam 7 kelas. Selain itu juga ditemukan

larva crustacea dalam stadia nauplius (Lampiran 1). Komposisi zooplankton yang

ditemukan di perairan Teluk Hurun selama penelitian terdiri dari kelas Crustacea,

Ciliata, Hydrozoa, Polychaeta, Urochordata, Rotifera dan Sagittoidea. Semua

kelompok zooplankton termasuk larva crustacea (nauplius) ditemukan pada setiap

pengamatan yaitu pada saat pasang dan pada saat surut, kecuali kelas Ciliata yang

hanya ditemukan pada saat pasang. Komposisi dari setiap kelas zooplankton yang

ditemukan di perairan Teluk Hurun selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Komposisi kelas zooplankton di perairan Teluk Hurun, Lampung

Komposisi (%)

Kelas Zooplankton Pasang Surut

Crustacea 87,35 87,32

Ciliata 0,44 Tidak ditemukan

Hydrozoa 1,88 0,94

Polychaeta 2,20 1,09

Urochordata 5,89 3,14

Rotifera 0,55 0,07

Sagittoidea 5,95 7,44

HYDROZOA, 1.88% ROTIFERA, 0.55% CILLIATA, 0.44% CRUSTACEA, 87.35% POLYCHAETA , 2.20% SAGITTOIDEA, 5.95% UROCHORDAT A, 1.89% (A) POLYCHAET A, 1.09% SAGITTOIDEA , 7.44% CRUSTACEA, 87.32% ROTIFERA, 0.07% UROCHORDA TA, 3.14% HYDROZOA, 0.94% (B)

Gambar 5. Komposisi kelas zooplankton di perairan Teluk Hurun saat pasang (A) dan saat surut (B).

Crustacea, 87.34% Sagittoidea, 6.69% Polychaeta, 1.64% Hydrozoa, 1.41% Urochordata, 2.51% Rotifera, 0.81% Ciliata, 0.22%

Gambar 6. Rataan komposisi kelas zooplankton di perairan Teluk Hurun

Komposisi zooplankton pada saa t pasang didominasi oleh kelas Crustacea

sebesar 87,35%, disusul oleh kelas Sagittoidea 5,95%, Polychaeta 2,20%,

Urochordata 1,89%, Hydrozoa 1,88%, Rotifera 0,55% serta Ciliata se besar 0,44%.

Dari total kelas Crustacea yang ditemukan, larva C rustacea (nauplius) ditemukan

dengan komposis i sebesar 11,39%. Pada saat surut, sama seperti pasang

komposisi zooplankton yang tertinggi ditempati oleh kelas Crustacea sebesar

87,32%, kemudian berturut-turut Sagittoidea 7,44%, Urochordata 3,14%,

Polychaeta 1,09%, Hydrozoa 0,94% serta Rotifera sebesar 0,07%. Adapun kelas

Ciliata tidak ditemukan pada pengamatan di waktu surut. Nauplius yang

ditemukan pada saat surut yaitu sebesar 4,91% dari total kelas Crustacea yang

ditemukan. Pada gambar 6 dapat dilihat komposisi rata-rata kelas zooplankton di

perairan Teluk Hurun selama pengamatan baik pada saat pasang maupun pada

saat surut. Dari total semua kelas zooplankton yang ditemukan selama

pengamatan, diperoleh komposisi terbesar yang ditemukan di Teluk Hurun yaitu

6,69%,Urochordata sebesar 2,51%, Polychaeta 1,64%, Hydrozoa 1,41%, serta

Rotifera dan Ciliata masing-masing sebesar 0,81% dan 0,22%.

Besarnya komposisi kelas Crustacea yang ditemukan selama penelitian

sesuai dengan yang dikemukan oleh Nybakken (1992) dan Kennish (1990) bahwa

pada umumnya zooplankton yang dominan di perairan estuari adalah Crustacea,

baik jumlah individu maupun jenisnya. Sedangkan keberadaan nauplius yang

selalu ditemukan pada setiap pengamatan menunjukkan bahwa reproduksi

Crustacea berlangsung secara terus -menerus ( continueous reproduction ).

Kelimpahan total zooplankton di perairan Teluk Hurun pada saat pasang

dan surut menunjukkan nilai yang berbeda antar stasiun pengamatan. Kelimpahan

total zooplankton pada saat pa sang dapat dilihat pada Gambar 7. Nilainya

berkisar antara 846 – 13.576 ind/m3, dengan kelimpahan terendah di stasiun 12

dan kelimpahan tertinggi di stasiun 2 (Lampiran 2). Kelimpahan total

zooplankton pada saat surut berkisar antara 731 – 9.366 ind/m3, dengan

kelimpahan terendah di stasiun 12 dan kelimpahan tertinggi di stasiun 1

(Lampiran 3). Kelimpahan total zooplankton pada saat surut dapat dilihat pada

Gambar 8. 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 stasiun kelimpahan (ind/m3) (A)

(B)

Gambar 7. Kelimpahan total (A) dan distribusi spasial (B) zooplankton di perairan Teluk Hurun pada saat pasang.

0 2000 4000 6000 8000 10000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 stasiun kelimpahan ((ind/m3) (A) -5.546°S -5.536°S -5.526°S -5.516°S

(B)

Gambar 8. Kelimpahan total (A) dan distribusi spasial (B) zooplankton di perairan Teluk Hurun pada saat surut

Berdasarkan posisinya, stasiun pengamatan dikelompokkan ke dalam tiga

kelompok yaitu kelompok I (stasiun 1, 2, 3) mewakili kelompok stasiun yang

berada di bagian dalam teluk, Kelompok II (stasiun 4, 5, 6, 7 dan 8) mewakili

stasiun yang terletak di bagian luar teluk dan ke lompok III (stasiun 9, 10, 11 dan

12) mewakili stasiun yang berada di perairan lepas yang jauh dari teluk.

Kelimpahan total zooplankton pada setiap kelompok stasiun pengamatan pada

saat pasang dan surut dapat dilihat pada Gambar 9. Kelompok I memiliki

kelimpahan tertinggi jika dibandingkan dengan kelompok stasiun yang lain, pada

saat pasang kelimpahan zooplankton sebesar 41.581 individu/m3 dan pada saat

surut kelimpahannya sebesar 25.104 individu/m3. Pada kelompok stasiun II

kelimpahan zooplankton yaitu sebesar 16.288 individu/m3 pada saat pasang dan

5.819 individu/m3 pada saat surut. Sedangkan untuk kelompok stasiun

pengamatan III , kelimpahan zooplankton sebesar 5.464 individu/m3 pada saat

-5.546°S -5.536°S -5.526°S -5.516°S

pasang dan pada saat surut menunjukkan nilai yang lebih besar yaitu sebesar 7.645 individu/m3. 41581 16288 5464 25104 5819 7645 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 I II III

Kelompok Stasiun Pengamatan

Kelimpahan total (ind/m3)

pasang surut

Gambar 9. Kelimpahan total zooplankton per kelompok stasiun pengamatan

Secara umum kelimpahan zooplankton di perairan Teluk Hurun berubah

secara dinamik dengan kelimpahan yang berbeda-beda. Hasil pengamatan

menunjukkan bahwa kelimpahan total zooplankton pada stasiun-stasiun yang

terletak pada bagian dalam teluk (stasiun 1, 2, 3) memiliki kelimpahan yang lebih

tinggi jika dibandingkan dengan stasiun yang terletak pada bagian luar teluk (

stasiun 4, 5, 6, 7 dan 8) dan bagian laut (stasiun 9, 10, 11 dan 12). Hal ini diduga

disebabkan karena melimpahnya jumlah makanan dalam hal ini fitoplankton yang

tersedia pada daerah tersebut. Tingginya kandungan zat hara yang terdapat pada

bagian dalam teluk yang berasal dari aliran masa air dari daratan diduga juga

mendukung melimpahnya jumlah zooplankton yang ditemukan di daerah ini.

Selain itu kondisi perairan bagian dalam teluk yang relatif lebih tenang juga

memungkinkan bagi zooplankton untuk tinggal di daerah ini.

Kelimpa han total zooplankton pada kelompok stasiun pengamatan I dan II

stasiun III kelimpahan zooplankton lebih tinggi terjadi pada saat surut. Hal ini

terjadi karena pola arus yang terbentuk selama pengamatan menunjukkan kondisi

yang berbeda antara pasang dan surut. Pola arus saat terjadi pasang menunjukkan

adanya arah yang berputar dan menuju ke satu pusat tertentu yaitu pada daerah

bagian dalam teluk yang menyebabkan zooplankton terbawa oleh arus dan

terkonsentrasi pada daerah ini (Gambar 10). Sedangkan pada saat surut, pola arus

yang terbentuk menunjukkan bahwa terjadi pertemuan arus air yang membawa

zooplankton pada daerah yang terletak jauh dari teluk (kelompok stasiun III),

sehingga menyebabkan konsentrasi zooplankton pada daerah ini tinggi (gambar

11). Selain itu kondisi pasang merupakan saat yang dimanfaatkan oleh

zooplankton untuk memperbanyak diri atau bereproduksi (recruitment) dan

mencari makan sehingga zooplankton banyak ditemukan di permukaan perairan.

Gambar 10. Pola arus permukaan perairan Teluk Hurun pada saat pasang (Juni 2005) . Sumber: P2O-LIPI

105.242°E 105.2545°E 105.267°E -5.546°S -5.536°S -5.526°S -5.516°S

Gambar 11. Pola arus permukaan pera iran Teluk Hurun pada saat surut (J uni 2005). Sumber : P2O - LIPI

4.1.2 Keanekaragaman, Keseragaman dan Dominansi

Nilai indeks keanekaragaman (H’), keseragaman (E) dan dominansi (D)

zooplankton diperairan Teluk Hurun dapat dilihat pada Lampiran 4. Kisaran nilai

indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi pada setiap waktu

penga matan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Kisaran nilai indeks keanekaragaman (H’), keseragaman (E) dan dominansi (D) zooplankton

Indeks

Waktu H' E D

Pasang 1.30 - 2.59 0.34 - 0.61 0.1 - 0.5 Surut 1.68 - 2.59 0.47 - 0.62 0.09 - 0.32

Data primer, diolah tahun 2005

105.242°E 105.2545°E 105.267°E -5.546°S -5.536°S -5.526°S -5.516°S

Nilai indeks keanekaragaman zooplankton pada saat pasang berkisar

antara 1,30 – 2,59 dengan keanekaragaman terendah pada stasiun 7 dan

keanekaragaman tertinggi pada stasiun 12. Pada saat surut nilai indeks

keanekaragama n zooplankton berkisar antara 1,68 – 2,59 dengan keanekaragaman

terendah pada stasiun 7 dan keanekaragaman tertinggi pada stasiun 5. Nilai

indeks keseragaman zooplankton pada saat pasang berada pada kisaran rendah

sampai tinggi yaitu sebesar 0,34 – 0,61, dengan keseragaman terendah pada

stasiun 6 dan keseragamna tertinggi pada stasiun 12. Pada saat surut berada pada

kisaran sedang sampai tinggi yaitu sebesar 0,47 – 0,62, dengan keseragaman

terendah pada stasiun 9 dan keseragamn tertinggi pada stasiun 12. Adapun indeks

dominansinya pada saat pasang berkisar antara 0,1 – 0,5 dengan dominansi

terendah pada stasiun 12 dan dominansi tertinggi pada stasiun 7. Pa da saat surut

dominansinya berkisar antara 0,09 – 0,32, dengan dominansi terendah pada

stasiun 5 dan dominansi tertinggi pada stasiun 7.

Dari uraian di atas, maka komunitas zooplankton di perairan Teluk Hurun

dicirikan oleh tingkat keanekaragaman yang sedang, keseragaman sedang sampai

tinggi dan dominansi yang rendah. Hal ini berarti bahwa keheterogenan genera

zooplankton di perairan Teluk Hurun tidak terlalu tinggi dengan jumlah genera di

semua lokasi sama atau hampir sama. Rendahnya nilai indeks domina nsi dan

tingginya nilai indeks keseragaman menunjukkan bahwa individu-individu dalam

populasi pada setiap stasiun selama pengamatan mempunyai komposisi yang

4.2 Pola Dispersi Zooplankton

Nilai indeks dispers i Morisita (Id) untuk setiap genera selama pengamatan

dapat dilihat pada Lampiran 5. Rataan nilai Id masing-masing genera

zooplankton selama pengamatan dapat dilihat pada Tabel 4. Nauplius tidak

disertakan dalam perhitungan nilai indeks dispersi Morisita (Id) karena stadia

nauplius belum bisa dikelompokkan ke dalam satu genera tertentu.

Tabel 4. Rataan nilai indeks dispersi Morisita (Id) Masing-masing genera zooplankton di perairan Teluk Hurun

No Genera Id x2 hitung x2 tabel

1 Aurelia 1.71 738.98 27.7 2 Favella 1.81 212.36 27.7 3 Parafavella 1.74 115.26 27.7 4 Brachionus 2.12 217.3 27.7 5 Naiades 2.62 747.68 27.7 6 Sagitella 1.59 707.69 27.7 7 Sagitta 1.91 6981.88 27.7 8 Khrohnitta 7 104.5 27.7 9 Evadne 1.51 12588.8 27.7 10 Cypridina 2.82 3188.64 27.7 11 Calanus 1.48 2481.3 27.7 12 Rhincalanus 1.23 2733.69 27.7 13 Haloptilus 3.02 365.94 27.7 14 Acartia 1.22 1562.23 27.7 15 Oithona 1.26 697.19 27.7 16 Mi crosetella 2.31 15691.6 27.7 17 Oxycephalus 4.67 1524.96 27.7 18 Hyperia 2.04 1803.93 27.7 19 Limacina 1.77 429.63 27.7 20 Janthina 1.63 608.88 27.7 21 Lucifer 2.23 5038.51 27.7 22 Euterpina 13 434.5 27.7 23 Sapphirina 13 429 27.7 24 Oikopleura 1.32 1666.49 27.7 25 Neomysis 1.26 4132.36 27.7 26 Sergia 4.5 3397.42 27.7

Data primer, diolah tahun 2005

Berdasarkan nilai indeks dispersi Morisita (Id) ini dapat diketahui bahwa

dalam kategori pola penyebaran mengelompok (Id > 1). Hasil uji chi-kuadrat

terhadap nilai Id = 1, dengan selang kepercayaan 90% (á = 0,10) menunjukkan

bahwa ÷2 hitung > ÷2 tabel untuk semua genera zooplankton. Hal ini berarti bahwa

pola penyebaran zooplankton di perairan Teluk Hurun berbeda nyata dengan aca k.

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Odum (1971), bahwa pola

penyebaran individu dalam populasi dengan tingkat pengelompokan yang

bermacam-macam merupakan bentuk penyebaran yang paling umum terjadi di

alam. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya perbedaan respon dari masing-masing

populasi terhadap perbedaan habitat dan adanya kemiripan antara karakter

individu masing-masing dalam populasi.

Pola penyebaran mengelompok ditentukan oleh kompetisi zooplankton

dalam menempati habitat yang layak bagi kelangsungan hidupnya atau

memperoleh makanan alami yang cukup dan berkualitas atau keduanya. Kualitas

habitat berupa kondisi fisika-kimia dan kelimpahan fitoplankton di perairan Teluk

Hurun yang beragam, mengakibatkan pola penyebaran mengelompok hanya dapat

terbentuk apabila semua genera zooplankton peka terhadap perubahan kualitas

habitat tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pola penyebaran

mengelompok zooplankton terbentuk karena semua genera zooplankton peka

terhadap perubahan kualitas habitat.

4.3 Parameter Fisika-Kimia Perairan Teluk Hurun

Parameter fisika -kimia perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor,

diantaranya musim, cuaca dan lokasi. Pengamatan dilakukan pada bulan juni

2005 yang merupakan musim kemarau. Hasil pengukuran parameter fisika-kimia

Lampiran 6 dan 7. Sedangkan rataan nilai parameter fisika-kimia perairan Teluk

Hurun dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Kisaran Nilai Parameter Fisika -Kimia Perairan Teluk Hurun

Parameter Fisika Kimia Pasang Surut Suhu(oC) 30.47 - 31,02 30.3 - 30.53 Salinitas (‰) 32.66 - 32.89 32.71 - 32.86 pH 6.98 – 7.65 7.08 – 7.6 Oksigen terlarut (ml/l) 3.4 – 4.91 4.26 – 4.84 Nitrat (µgA/l) 0.09 – 0.78 0.1 – 0.47 Fosfat (µgA/l) 0.22 – 3.83 0.26 – 0.43

Data primer, diolah tahun 2005

4.3.1 Suhu

Kisaran suhu perairan Teluk Hurun yaitu sebesar 30.47 - 31.02 oC pada

saat pasang, sedangkan pada saat surut sebesar 30.3 - 30.53 oC. Suhu perairan

terendah pada saat pasang terjadi pada stasiun 9 dan suhu tertinggi terjadi pada

stasiun 4. Pada saat surut, suhu terendah terjadi pada stasiun 10 sedangkan suhu

terendah terjadi pada stasiun 9.

Dari kisaran suhu yang terukur selama pengamatan menunjukkan bahwa

perairan di sekitar teluk Hurun masih sangat sesuai untuk kelangsungan hidup dan

perkembangan zooplankton, yaitu pada kisaran suhu 25oC atau lebih (Riley,

1967).

4.3.2 Salinitas

Salinitas perairan Teluk Hurun setiap stasiun selama pengamatan pada saat

pasang berkisar antara 32.66 - 32.89 ‰, dengan nilai terendah terjadi pada stasiun

7 dan tertinggi pada stasiun 1. Sedangkan pada saat surut nilai salinitas berkisar

tertinggi terjadi pada stasiun 7. Tinggi rendahnya nilai salinitas suatu perairan

ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya curah hujan, evaporasi serta masukan

air tawar dari sungai. Kisaran salinitas yang terukur pada saat pasang dan surut

menunjukkan nilai yang tidak berbeda jauh, hal ini terjadi karena waktu

pengamatan yang berdekatan dan masih dalam satu hari yang sama, yaitu pada

siang hari. Kisaran salinitas yang tercatat selama pengamatan menunjukkan

bahwa perairan Teluk Hurun masih sangat cocok bagi kehidupan zooplankton.

Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Odum (1971) bahwa organisme laut

sebagian besar merupakan organisme stenohaline yang mampu hidup pada kisaran

salinitas 30 – 40 ‰.

4.3.3 Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) di perairan Teluk Hurun memiliki kisaran 6.98 –

7.65 pada saat pasang, dimana nilai pH terendah terjadi pada stasiun 2 dan nilai

pH tertinggi pada stasiun 12. Pada saat surut, nilai pH berkisar antara 7.08 – 7.6,

nilai pH terendah terjadi di stasiun 4 dan nilai tertinggi terjadi pada stasiun 12.

Sebaran nilai pH antar stasiun selama penelitian menunjukkan bahwa

semakin dekat dengan muara sungai nilai pH semakin rendah, kemudian akan

meningkat pada stasiun yang terletak jauh dari muara sungai. Nilai pH yang

renda h di daerah sekitar muara sungai dan pantai kemungkinan disebabkan oleh

masukan air tawar dari sungai yang yang membawa limbah dari pemukiman dan

industri yang berada di sekitar Teluk Hurun. Kondisi perairan dengan nilai pH

seperti ini masih sangat baik untuk kehidupan zooplankton. Hal ini berdasarkan

pendapat bahwa nilai pH optimum untuk tumbuh dengan baik berkisar antara 7

4.3.4 Oksigen Terlarut (DO)

Konsentrasi oksigen terlarut di perairan Teluk Hurun memiliki nilai yang

relatif sama pada semua stasiun pengamatan. Kisaran nilai konsentrasi oksigen

terlarut pada saat pasang yaitu antara 3.40 – 4.91 ml/l denagan nilai terendah

terjadi pada stasiun 9 dan tertinggi pada stasiun 11. Pada saat surut konsentrasi

oksigen yang terlarut di perairan berkisar antara 4.26 – 4.84 ml/l, nilai terendah

terjadi pada stasiun 5 dan nilai tertinggi pada stasiun 11.

Sebaran konsentrasi oksigen terlarut di perairan Teluk Hurun

menunjukkan bahwa daerah muara sungai dan dekat dengan pantai mempunyai

konsentrasi oksigen terlarut yang lebih rendah jika dibandingkan dengan daerah

laut lepas yang berada jauh dari pantai. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut di

stasiun 5 diduga dipengaruhi oleh faktor masukan massa air yang berasal dari

daratan karena posisi stasiuin 5 ini arahnya lurus dengan muara sungai. Selain itu,

pengamatan di lapangan juga menunjukkan bahwa di sekitar stasiun 5 terdapat

budidaya rumput laut, yang diduga mempengaruhi konsentrasi oksigen yang

terlarut dalam perairan.

4.3.5 Nitrat

Sebaran nitrat di perairan Teluk Hurunpada saat pasang berkisar antara

0.09 – 0.78 µgA/l. Pada saat surut kisaran kandungan nitrat di perairan adalah 0.1

– 0.47 µgA/l. Pada saat pasang konsentrasi nitrat terendah terjadi pada stasiun 7

dan konsentrasi tertinggi terjadi di stasiun 5. Sedangkan pada saat surut

konsentrasi terendah di stasiun 3 dan konsentrasi tertinggi di stasiun 5.Konsentrasi

nitrat ini secara horizontal membentuk pola penyebaran yang semakin meningkat

posisi stasiun 5 yang lurus dengan sungai, sehingga masukan air tawar dari sungai

membawa nutrient termasuk nitrat ke perairan yang menyebabkan tingginya

konsentrasi nitrat di stasiun 5.

4.3.6 Fosfat

Kandungan fosfat yang terukur selama pengamatan yaitu berkisar antara

0,22 – 3,83 µgA/l pada saat pasang dan pada saat berkisar antara 0,26 – 0,43

µgA/l. Kisaran ini merupakan nilai yang sangat baik untuk suatu perairan.

Kandungan fosfat tertinggi selama pengamatan baik pada saat pasang maupun

surut terjadi pada stasiun yang letaknya di bagian dalam teluk yang kemudian

akan menurun pada stasiun yang jauh dari teluk.

Dokumen terkait