• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Masyarakat Indonesia

Dalam dokumen SISTEM SOSIAL - BUDAYA INDONESIA (Halaman 32-36)

INTEGRASI NASIONAL

1. Struktur Masyarakat Indonesia

Struktur masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk memang menemui persoalan integrasi. Masyarakat negara yang sedang berkembang seperti Indonesia pada dasarnya belum merupakan suatu kesatuan sehingga Integrasi umumnya menjadi permasalahan yang lebih utama dibandingkan dengan masalah pembangunan ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan banyak terjadinya konflik dimana – mana. Keadaan seperti ini menggambarkan bahwa unsur – unsur yang ada di Indonesia belum berfungsi secara satu kesatuan. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah bagaimana membuat unsur-unsur yang ada di Indonesia menjadi suatu sistem yaitu adanya jalinan kesatuan antara satu unsur dengan unsur yang lain, atau bagaimana membuat Bangsa Indonesia dapat terintegrasi secara nasional.

Pluralisme atau kemajemukan suatu masyarakat itu dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu secara horizontal dan secara vertikal.

• Secara horizontal dilihat dari kenyataan yang menunjukkan adanya satuan-satuan sosial yang keragamannya dicirikan oleh perbedaan suku bangsa, agama, adat istiadat atau tradisi, serta unsur-unsur kedaerahan lainnya.

• Secara vertikal umumnya digambarkan dengan adanya stratifikasi sosial, ekonomi, dan politik. Menurut pandangan fungsionalisme struktural, di dalam masyarakat plural, menganggap bahwa semua disfungsi, semua ketegangan, dan berbagai penyimpangan sosial

mengakibatkan terjadinya perubahan sosial berupa timbulnya diferensiasi sosial yang semakin kompleks, dan itu merupakan akibat dari pengaruh faktor-faktor yang datang dari luar. Pluralitas agama, budaya, ras, bahasa, dan adat-istiadat yang seharusnya merupakan investasi yang sangat berharga terkait dengan konsep integrasi, sering kali dianggap sebagai kendala dalam menyatukan keinginan-keinginan untuk bersama.

Upaya integrasi dengan mewujudkan suatu etika yang dilandasi oleh konsep universal justru meniadakan mereka yang berbeda (otherness) di dalam kehidupan sosial. Kekerasan juga muncul karena adanya cara pandang yang masih dikungkung oleh pemikiran yang logosentris, di mana pihak penguasa berupaya mengubah keragaman agama dan budaya menjadi kekuatan-kekuatan untuk mengatur dan menyatukan perbedaan sedemikian rupa sehingga dikuasai oleh nalar dogmatis. Parahnya, logosentrisme cenderung menutup diri dalam melihat eksistensi unsur-unsur historis, sosial, budaya, dan etnik masyarakat sehingga ia cenderung menjadi satu-satunya konsep lahiriah yang harus dipatuhi padahal ia mengabaikan aspek-aspek spiritual.

Konsep primordialisme, memang memiliki sifat equilibrium, tetapi, dalam implementasinya, ia cenderung memunculkan unsur-unsur yang negatif, dan ini sering kali terjadi pada banyak kasus konflik antar kelompok masyarakat, khususnya di Indonesia. Hal ini, jika dicermati, disebabkan oleh adanya penonjolan yang dilebih-lebihkan terkait dengan faktor subjektivitas dari masing-masing elemen masyarakat seperti unsur-unsur keagamaan, unsur sosial, unsur politik, dan ciri-ciri etnis atau ke-sukubangsa-an. Sementara faktor-faktor yang bersifat objektif, yaitu kenyataan sebagai masyarakat yang pluralistik, cenderung ditutup-tutupi karena adanya

berbagai kepentingan politis yang menonjolkan ke-eka-annya dibanding dengan ke-bhinneka-annya.

Atas hal ini, konflik dapat terjadi karena tumbuhnya sikap primordialistik yang secara sosio-kultural di dalamnya telah ada benih-benih perbedaan dan persaingan antar kelompok/golongan. Di sinilah peran pemerintah, peran negara, dalam mengakomodasi kepentingan rakyat di mana pemerintah harus menjadi mediator dalam berbagai penyelesaian konflik dengan mengemukakan atau upaya-upaya persuasif dan menanamkan nilai-nilai kerukunan dan kebersamaan tanpa dibarengi tindakan-tindakan koersif atau represif.

Pluralitas masyarakat bangsa Indonesia sebagai suatu realitas sosio-kultural dan realitas sejarah harus dilihat sebagai sesuatu yang seimbang, dalam arti bahwa semua konsep, semua wacana, dan semua realitas mengenai pluralitas suku-suku bangsa itu ditempatkan pada tingkatan yang sederajat. Dihubungkan dengan sikap primordialistik dan realitas majemuk masyarakat Indonesia yang melekat pada masyarakat daerah dan kebudayaan berbagai suku bangsa maka sifat pluralitas dan sikap primordialistik itu haruslah ditempatkan sebagai bagian dari tradisi atau realitas yang harus diterima eksistensinya, karena kenyataan ini adalah merupakan warisan sejarah bangsa Indonesia. Di mana aspek-aspek positif dari tradisi tersebut harus dikelola secara tepat dengan mengesampingkan unsur-unsur yang bersifat destruktif sehingga tradisi daerah dapat ditransformasikan menjadi tradisi kebangsaan yang kuat demi mempertebal rasa nasionalisme bangsa.

Masalah Etnis. Secara konseptual dan teoritis, etnisitas merupakan suatu konsep yang cukup kompleks. Berbagai ahli

memberikan definisi yang berbeda-beda tentang etnis. Ada ahli yang mendefinisikan etnis sebatas pada pengategorian manusia berdasar busanya, namun ada juga ahli lain yang mendefinisikan etnis lebih dari itu, yaitu adanya kandungan tentang relasi kekuasaan dan adanya peran dalam struktur masyarakat. Pada titik tertentu, etnisitas dapat berkembang menjadi negara, yaitu ketika suatu kelompok tertentu atas dasar keanggotaan etnis dan tetap bertahan dalam kurun waktu yang lama dan mereka percaya pada kesamaan asal usul.

Dalam interaksi yang terjadi di dalam masyarakat, identitas etnis memiliki tiga tingkatan, yaitu:

a. Identitas yang ditentukan sendiri oleh orang yang bersangkutan,

b. Identitas yang dipersepsikan oleh orang lain, serta c. Identitas yang ditentukan oleh negara.

Dalam kaitan sistem sosial, konsep etnisitas pada dasarnya merupakan bagian dari kategori sosial yang digunakan oleh masyarakat untuk menunjukkan identitas seseorang atau sekelompok orang dalam struktur masyarakat secara horizontal.

Makna dari etnisitas sendiri dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain dari pandangan primordialis, instrumentalis, serta konstruktivis. Indonesia sendiri merupakan suatu negara yang multi etnis, yang jumlah etisnya bisa mencapai 300 kelompok atau subkelompok etnis dengan jumlah anggota yang relatif kecil. Etnis yang ada di Indonesia bercampur satu dengan lainnya akibat adanya pemindahan secara paksa pada masa penjajahan, serta program transmigrasi yang dilakukan pemerintah. R William Liddle, seorang peneliti dan pengamat masyarakat Indonesia

mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia juga mengenal keberagaman etnis berdasar akar bahasa yaitu kelompok etnis berbahasa Indonesia di Indonesia barat yang merupakan kelompok terbesar dari keseluruhan warga Indonesia, serta kelompok yang berbahasa Melanesia dan Papua di Indonesia Timur.

Hubungan Antaretnis di Indonesia dan Integrasi Nasional Untuk melihat komposisi etnis di Indonesia kita bisa menggunakan tiga dimensi, yaitu dimensi historis, struktur sosial, serta interaksi kelompok.

• Dari dimensi historis kita bisa lihat mulai dari penjajahan Belanda, di mana peran penting kolonialis Belanda adalah menciptakan negara dengan sistem birokratis, dan model yang tepat untuk hubungan birokrasi pusat dan daerah.

• Dari dimensi struktur sosial etnis dilihat dengan mengaitkan antara peran pemerintah dan negara dalam mengatur hubungan antar etnis.

• Sedangkan dari dimensi interaksi kelompok etnis dilihat dalam konteks konflik sosial. Dalam melihat konflik sosial ini maka terdapat konflik komunal dan gerakan separatis. Teori yang bisa digunakan untuk melihat penyebab konflik antar etnis antara lain teori tentang dilema keamanan, perlindungan status, ambisi hegemoni, serta aspirasi kaum elit.

Dalam dokumen SISTEM SOSIAL - BUDAYA INDONESIA (Halaman 32-36)

Dokumen terkait