TINJAUAN PUSTAKA A.Kerangka Teoritis
1. Struktur Modal
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoritis
1. Struktur Modal
Struktur modal merupakan bagian dari struktur keuangan suatu perusahaan yang digunakan dalam mendanai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Struktur modal pada intinya terdiri dari dua bagian penting, yaitu debt dan equity. Nilai perusahaan didefinisikan sebagai penjumlahan nilai dari hutang dan ekuitas perusahaan (Ahmad Rodoni dan Herni Ali, 2010:138).
Struktur modal bertujuan memadukan sumber dana permanen yang digunakan perusahaan dengan cara yang akan memaksimumkan nilai perusahaan. Bagi sebuah perusahaan sangat penting untuk memperkuat kestabilan keuangan yang dimilikinya, karena perubahan dalam struktur modal diduga bisa menyebabkan perubahan nilai perusahaan (Irham Fahmi dan Yovi Lavianti, 2010:55).
Suad Husnan mengatakan struktur modal adalah perbandingan sumber dana jangka panjang yang bersifat pinjaman dengan modal sendiri. Dalam pengertian seluruh utang (utang jangka panjang dan utang jangka pendek), perbandingan tersebut disebut struktur finansial (Irham Fahmi dan Yovi Lavianti, 2010:56).
13 Menurut Ahmad Rodoni dan Herni Ali (2010:137), struktur modal adalah proporsi dalam menentukan pemenuhan kebutuhan belanja perusahaan, dimana dana yang diperoleh menggunakan kombinasi atau panduan sumber yang berasal dari dana jangka panjang yang terdiri dari dua sumber utama yakni yang berasal dari dalam dan luar perusahaan.
Menurut Gitman (2006) struktur modal adalah kombinasi dari debt dan equity yang dimiliki oleh perusahaan. Membahas mengenai struktur modal berarti membahas bagaimana sebuah perusahaan dapat mendanai operasi dan pertumbuhan yang ingin dicapai dengan menggunakan sumber dana yang berbeda-beda. Pendanaan menggunakan debt (debt financing) ketika perusahaan meminjam uang (hutang) untuk mendapatkan dana. Ada 2 jenis debt financing, yaitu :
Short term debt financing
Short term debt financing diperlukan untuk mendanai operasi bisnis sehari-hari, seperti membeli persediaan, perlengkapan atau untuk membayar gaji karyawan. Short term debt financing dikenal sebagai hutang operasi atau hutang jangka pendek karena jangka waktunya yang kurang dari 1 tahun.
Long term debt financing
Long term debt financing diperlukan untuk mendanai aset, seperti perlengkapan, bangunan, tanah, atau mesin. Disebut pendanaan jangka panjang karena waktu pengembalian hutang lebih dari 1 tahun.
14 Sedangkan equity financing adalah dana yang didapatkan dari laba ditahan dan saham. Laba ditahan didapatkan dari sisa net income setelah dikurangi dividen yang dibagikan kepada pemegang saham. Saham dijual kepada pemegang saham dalam 2 bentuk, yaitu common stock dan preferred stock. Pemegang saham menerima bagian kepemilikan dan bentuk mendapatkan bagian keuntungan perusahaan dalam bentuk dividen.
Kombinasi dari debt dan equity dalam struktur modal terangkum dalam debt equity ratio, yang merupakan pengukuran langsung dari leverage.
Menurut Brigham dan Houston (2006:42), apabila aktiva perusahaan cocok untuk dijadikan agunan kredit, maka perusahaan tersebut akan cenderung menggunakan jumlah hutang yang lebih besar. Dalam hal ini aset yang dapat dijadikan agunan berupa aktiva tetap (fixed asset/tangibility).
Keown dkk dalam Andi Setiawan (2010:16), mengatakan bahwa struktur keuangan adalah paduan semua pos yang muncul di sisi kanan neraca perusahaan yaitu hutang jangka pendek, hutang jangka panjang dan modal pemegang saham sedangkan struktur modal adalah paduan sumber dana jangka panjang yang digunakan oleh perusahaan.
Menurut Gosh et.al. dalam Andi Setiawan (2010:17), struktur modal adalah perbandingan antara hutang perusahaan (total debt) dengan total aktiva (total assets).
15 Menurut Warsono (2003:235) struktur modal berkaitan dengan penentuan bauran (mix) pembelanjaan jangka panjang perusahaan. Struktur modal mempunyai pengertian yang berbeda dengan struktur keuangan. Struktur keuangan merupakan kombinasi atau bauran dari pos yang termasuk dalam sisi kanan neraca keuangan perusahaan (sisi pasiva), sedangkan struktur modal merupakan bauran dari sumber pembelanjaan jangka panjang yang digunakan perusahaan. Jadi, struktur modal suatu perusahaan hanya merupakan sebagian dari struktur keuangannya.
Menurut Van Horne dan Wachowicz (1998:474), struktur modal adalah bauran (proporsi) pendanaan permanen jangka panjang perusahaan yang ditunjukkan oleh hutang, ekuitas saham preferen, dan saham biasa.
Menurut Warsono (2003:236), pada perusahaan yang berbentuk PT, struktur modal perusahaan dapat dilihat pada sisi pasiva, komponen struktur modal terdiri dari 3 komponen yaitu:
a. Utang jangka panjang (long term debt) adalah hutang yang masa jatuh tempo pelunasan lebih dari 1 tahun seperti hutang hipotek, obligasi, dan bentuk hutang jangka panjang lainnya seperti pinjaman jangka panjang dari bank.
b. Saham preferen (preferen stock) adalah bentuk komponen modal jangka panjang yang merupakan kombinasi antara modal sendiri (saham biasa) dengan hutang jangka panjang, saham preferen sering disebut juga dengan sekuritas hibrida (hybrid security).
16 c. Ekuitas saham biasa (common stock equity) adalah bentuk komponen modal jangka panjang yang ditanamkan oleh para investor yang pemegangnya memiliki klaim residual atas laba dan kekayaan perusahaan.
Menurut Warsono (2003:236), ada beberapa faktor yang mempengaruhi struktur modal antara lain sebagai berikut:
a. Laju pertumbuhan dan kemantapan penjualan dimasa yang akan datang, semakin tinggi pertumbuhan dan semakin stabil penjualan di masa yang akan datang, cenderung me-leverage semakin besar.
b. Struktur kompetitif dalam industri. Semakin kompetitif persaingan dalam industrinya, semakin kecil kecenderungan perusahaan untuk menggunakan hutang jangka panjang dalam struktur modal.
c. Susunan aset dari perusahaan sendiri. d. Resiko bisnis yang dihadapi perusahaan
e. Status kendali dari para pemilik dan manajemen
f. Sikap para kreditur modal terhadap industri dan perusahaan g. Posisi pajak perusahaan
h. Fleksibilitas keuangan atau kemampuan untuk menerbitkan modal dalam kondisi yang tidak baik
17 Penentuan struktur modal bagi suatu perusahaan merupakan salah satu bentuk keputusan keuangan yang penting, karena keputusan ini dapat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan manajemen keuangan perusahaan. Untuk mencapai tujuan manajemen struktur modal, mekanisme yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan bauran pembelanjaan sedemikian rupa sehingga dapat meminimumkan biaya modal (cost of capital) dan memaksimumkan nilai perusahaan (Warsono, 2003:238).
Brigham dan Houston dalam Andi Setiawan (2010:20), keputusan struktur modal secara langsung juga berpengaruh terhadap besarnya resiko yang ditanggung pemegang saham serta besarnya tingkat pengembalian atau tingkat keuntungan yang diharapkan.
Yuke dan Hadri dalam Andi Setiawan (2010:20-21), mengatakan bahwa keputusan struktur modal yang diambil oleh manajer tersebut tidak saja berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan, tetapi juga berpengaruh terhadap resiko keuangan yang dihadapi perusahaan.
Teori struktur modal menjelaskan apakah ada pengaruh perubahan struktur modal terhadap nilai perusahaan (yang tercermin dari harga saham perusahaan), kalau keputusan investasi dan kebijakan deviden dipegang konstan. Dengan kata lain, seandainya perusahaan mengganti sebagian modal sendiri dengan hutang (atau sebaliknya) apakah harga saham akan berubah, apabila perusahaan tidak merubah keputusan-keputusan keuangan lainnya.
18 Dengan kata lain, kalau perubahan struktur modal tidak merubah nilai perusahaan, berarti tidak ada struktur modal yang terbaik. Semua struktur modal adalah baik. Akan tetapi, kalau dengan merubah struktur modal ternyata nilai perusahaan berubah, maka akan diperoleh struktur modal yang terbaik. Struktur modal yang dapat memaksimumkan nilai perusahaan, atau harga saham adalah struktur modal yang terbaik. Yang dimaksud dengan nilai perusahaan adalah harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual (Suad Husnan, 2000:299).
19 2. Trade off Theory
Teori trade off merupakan hasil pengembangan dari teori struktur modal modern pertama yang diperkenalkan oleh Modigliani dan Miller pada tahun 1958. Teori ini mengasumsikan bahwa struktur modal perusahaan adalah hasil trade off dari biaya keagenan dan biaya kesulitan keuangan dimana sebagai imbangan dari manfaat penggunaan hutang. Dari model ini dapat dinyatakan bahwa perusahaan yang tidak menggunakan pinjaman sama sekali dan perusahaan yang menggunakan pembiayaan investasinya dengan pinjaman seluruhnya adalah buruk. Keputusan terbaik adalah keputusan yang moderat dengan mempertimbangkan kedua instrument pembiayaan. Trade off theory merupakan model yang didasarkan pada trade-off antara keuntungan dengan kerugian penggunaan hutang. Berdasarkan realita yang berasal dari hutang dalam jumlah besar, penggunaan modal sendiri mempunyai manfaat dan kerugian bagi perusahaan. Menurut (Brigham : 2001) dalam Fadli (2010), hutang mempunyai keuntungan pada :
a. Biaya bunga yang mempengaruhi penghasilan kena pajak, sehingga hutang menjadi lebih rendah.
b. Kreditur hanya mendapatkan biaya bunga yang bersifat relatif tetap, kelebihan dan keuntungan akan menjadi klaim bagi pemilik perusahaan.
20 Trade off theory menjelaskan bahwa tingkat leverage perusahaan merupakan hasil trade off perusahaan antara manfaat pajak atas penggunaan hutang dengan meningkatnya biaya keagenan dan financial distress yang muncul akibat peningkatan penggunaan hutang, teori ini memiliki dasar pemikiran untuk menghindari keputusan ekstrim, (penggunaan hutang 100%, atau penggunaan modal sendiri 100%). Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa dengan meminjam, perusahaan akan dapat melindungi pendapatannya dari pajak sedangkan apabila meminjam terlalu banyak, maka akan menyebabkan timbulnya biaya kebangkrutan.