TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kebijakan Hutang
2.2 Struktur Modal
2.2 Struktur Modal
Struktur modal bertujuan memadukan sumber dana permanen yang selanjutnya digunakan perusahaan dengan cara yang diharapkan akan mampu memaksimumkan nilai perusahaan. Bagi sebuah perusahaan sangat dirasa penting untuk memperkuat kestabilan keuangan yang dimilikinya, karena perubahan dalam struktur modal diduga bisa menyebabkan perubahan nilai perusahaan.
Struktur modal dapat diartikan sebagai gambaran dari bentuk proporsi finansial perusahaan yaitu antara modal yang dimiliki yang bersumber dari utang jangka panjang (long-term liabilities), dan modal sendiri (shareholder’s equity) yang menjadi sumber pembiayaan suatu perusahaan (Fahmi 2012 : 184). Pendanaan dengan modal sendiri dapat dilakukan dengan menerbitkan saham (stock), sedangkaan pendanaan dengan utang (debt) dapat dilakukan dengan menerbitkan obligasi (bonds), right issue atau berutang ke bank, bahkan ke mitra bisnis (Fahmi 2012 :189).
Melakukan analisa struktur modal dianggap sebagai suatu hal yang penting karena dapat mengevaluasi risiko jangka panjang dan prospek dari tingkat penghasilan yang didapatkan perusahaan selama menjalankan aktivitasnya. Penggunaan modal dari pinjaman akan meningkatkan risiko keuangan berupa biaya bunga yang harus dibayar, walaupun perusahaan mengalami kerugian. Akan
tetapi biaya bunga adalah tax deductible, sehingga perusahaan dapat memperoleh manfaat karena bunga diberlakukan sebagai biaya. Bila perusahaan menggunakan modal sendiri ketergantungan terhadap pihak luar berkurang, tetapi modalnya tidaklah merupakan pengurang pajak. Secara lebih umum, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keputusan struktur modal adalah stabilitas penjualan, struktur aktiva, leverage operasi, tingkat pertumbuhan, profitabilitas, pajak, pengendalian, sikap manajemen, sikap pemberi pinjaman, kondisi pasar, kondisi internal perusahaan dan fleksibilitas keuangan. Beberapa peneliti yang menjelaskan tentang teori struktur modal adalah sebagai berikut :
2.2.1 Teori Mogdiliani-Miller (MM)
Teori struktur modal modern yang pertama adalah teori Mogdiliani dan Miller (teori MM). Menurut Mogdiliani dan Miller bahwa pengunaan hutang akan selau lebih menguntungkan apabila dibandingkan dengan penggunaan modal sendiri terutama dengan meminjam kepada bank. MM dalam Frensidy menyatakan bahwa rasio hutang tidak relevan dan tak ada struktur modal yang optimal. Asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah tidak ada pajak, tidak ada asimetri informasi, tidak ada biaya transakasi. Teori MM tanpa pajak dianggap tidak realistis dan kemudian MM memasukkan faktor pajak ke dalam teorinya. Asumsi yang diubah adalah adanya pajak terhadap penghasilan perusahaan. Dengan adanya pajak ini, MM menyimpulkan bahwa penggunaan utang akan meningkatkan nilai perusahaan karena biaya bunga utang adalah biaya yang mengurangi pembayaran pajak. Teori MM tersebut dianggap kurang relevan, implikasi teori tersebut adalah perusahaan sebaiknya menggunakan
hutang sebanyak-banyaknya. Dalam praktiknya, sisi positif dari hutang adalah hutang dapat menurunkan biaya keagenan dan juga dapat mendisipinkan manajemen untuk tidak sembarangan dalam menggunakan aktiva perusahaan, namun bukan berarti sebuah perusahaan harus memperoleh utang sebanyak banyaknya, karena semakin tinggi tingkat hutang suatu perusahaan, akan semakin tinggi juga kemungkinan kebangkrutannya.
2.2.2 Trade-off Theory
Model teori ini menyatakan bahwa pengunaan utang dalam perusahaan akan meningkatkan nilai dari perusahaan sampai pada titik tertentu namun setelah titik tertentu penggunaan hutang justru akan menurunkan nilai perusahaan apabila keuntungan dan penggunaan hutang tidak sebanding. Perusahaan akan berhutang sampai pada tingkat hutang tertentu, atau dapat dikatakan perusahaan dapat menentukan target rasio hutang (leverage) yang optimal. Rasio hutang yang optimal ditentukan berdasarkan perimbangan antara manfaat dan biaya kebangkrutan, karena perusahaan memiiki hutang. Perusahaan tidak akan mencapai nilai optimal apabila semua sumber pendanaannya adalah hutang atau jika tidak ada hutang sama sekali. Hutang menyebabkan perusahaan memperoleh manfaat sedangkan biaya kebangkrutan merupakan biaya administrasi, biaya hukum, biaya keagenan dan biaya pengawasan untuk mencegah perusahaan mengalami kebangkrutan. Sedangkan nilai optimal adalah titik yang menunjukkan manfaat pajak atas setiap tambahan rupiah hutang sama besarnya dengan kenaikan biaya kebangkrutan (Bangkcruptcy cost) atas
penambahan hutang tersebut. Frydenberg dalam penelitiannya yang berjudul Theory of Capital Structure (2004 : 8) mengatakan bahwa
the original static trade-off theory is actually a sub theory of the general theory of capital structure because there are only two assumptions that are broken here, the no tax incentive assumption and the no bankruptcy cost assumption. In the more general trade off theory several other arguments are used for why firms might try to adjust their capital structure to some target. Leverage also depends on restrictions in the debt-contracts, takeover possibilities and the reputation of management.
Trade-off theory dalam menentukan struktur modal yang optimal memasukkan beberapa faktor antara lain pajak, biaya keagenan dan biaya kesulitan keuangan (financial distress). Namun teori ini mengabaikan adanya asimetri informasi dan besarnya biaya untuk melakukan subsitusi hutang ke ekuitas atau ekuitas ke hutang.
2.3.3. Pecking Order Theory
Pecking order theory menyatakan bahwa perusahaan akan lebih cenderung menggunakan sumber dana internal daripada dana eksternal, yaitu pertama laba ditahan, diikuti dengan hutang, dan yang terakhir ekuitas baru. Misalnya saja mencari tambahan dana dengan cara menjual aset yang dimilikinya. Seperti menjual gedung (build), tanah (land), peralatan (inventory) yang dimilikinya dan asset asset lainnya termasuk dengan menerbitkan dan menjual saham di pasar modal (capital market) dan adan yang berasal dari laba ditahan (retained earnings). Tetapi apabila sumber dana internal tidak memadai maka dana eksternal akan dipilih sebagai dana eksternalnya.
2.2.4. Teori Signaling
Struktur modal dengan tingkat leverage yang tinggi digunakan sebagai sinyal untuk membedakan perusahaan yang baik dan yang buruk. Hanya perusahaan yang sehat dan kuat yang dapat berhutang dengan menanggung risikonya. Sehingga untuk meminimalkan biaya informasi dari pelepasan saham, maka suatu perusahaan lebih menyukai menggunakan hutang daripada ekuitas jika perusahaan tampak undervalued, dan menggunakan ekuitas dari pada hutang jika perusahaan tampak overvalued. Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa diperlukan keseimbangan optimal antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri.
Dengan prinsip hati-hati, aturan struktur finansial konservatif dalam mencari struktur modal akan optimal. Trade off theory memandang bahwa struktur modal optimal dapat ditentukan. Trade-off theory dalam menentukan struktur modal yang optimal memasukkan beberapa faktor antara lain pajak, biaya keagenan dan biaya kesulitan keuangan (financial distress) tetapi tetap mempertahankan asumsi efisiensi pasar dan symmetric information sebagai imbangan dan manfaat penggunaan hutang. Tingkat hutang yang optimal tercapai ketika penghematan pajak mencapai jumlah yang maksimal terhadap biaya kesulitan keuangan.
2.2.5 Teori arus kas bebas ( Free Cash Flow Theory)
Hal utama yang perlu selalu diperhatikan yang mendasari dalam mengatur arus kas adalah memahami dengan jelas fungsi dana/uang yang dimiliki oleh perusahaan. Pertama menyangkut mengenai fungsi likuiditas,
apakah dana yang tersedia untuk tujuan memenuhi kebutuhan perusahaan dan dapat dicairkan dalam waktu singkat relatif tanpa ada pengurangan investasi awal. Kedua, fungsi anti inflasi, dana yang disimpan guna menghindari resiko penurunan pada daya beli di masa datang yang dapat dicairkan dengan relatif cepat. Ketiga, capital growth, dana yang diperuntukkan untuk penambahan/perkembangan kekayaan dengan jangka waktu yang panjang. Arus kas bersih positif mencerminkan jumlah yang tersedia bagi aktivitas bisnis setelah penyisihan untuk pendanaan dan investasi yang diperlukan untuk mempertahankan kapasitas produksi pada tingkat sekarang.
Free Cash Flow (aliran kas bebas) menggambarkan tingkat fleksibilitas keuangan perusahaan. Michael J Jensen, dalam penelitiannya mengenai Agency Cost Of Free Cash Flow, Corporate Finance, and Takeovers, mengatakan bahwa arus kas bebas adalah arus kas lebih yang dibutuhkan untuk mendanai semua proyek yang memiliki nilai sekarang neto (NPV) positif dengan biaya model yang relevan.
Perusahaan dengan aliran kas bebas berlebih akan memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan perusahaan lainnya karena mereka dapat memperoleh keuntungan atas berbagai kesempatan yang mungkin tidak dapat diperoleh perusahaan lain. Perusahaan dengan aliran kas bebas tinggi bisa diduga lebih survive dalam situasi yang buruk. Sedangkan aliran kas bebas negatif berarti sumber dana internal tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan investasi perusahaan sehingga memerlukan tambahan dana eksternal baik dalam bentuk hutang maupun penerbitan saham baru.
Berbagai kondisi perusahaan dapat mempengaruhi nilai aliran kas bebas, misalnya bila perusahaan memiliki aliran kas bebas tinggi dengan tingkat pertumbuhan rendah maka aliran kas bebas ini seharusnya didistribusikan kepada pemegang saham, tetapi bila perusahaan memiliki aliran kas bebas tinggi dan tingkat pertumbuhan tinggi maka aliran kas bebas ini dapat ditahan sementara dan bisa dimanfaatkan untuk investasi pada periode mendatang.
Pemberi pinjaman akan menyediakan dana bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan modal sekarang, yang akan datang, dan struktur modal bagi perusahaan. Faktor ini menetukan risiko bisnis dan risiko keuangan perusahaan. Jika pemberian pinjaman memberikan dana pada perusahaan, bunga dibebankan berdasarkan penilaian pemberi pinjaman atas risiko perusahaan.
Menurut Atmaja (2002) terdapat beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan tentang struktur modal yaitu:
1. Kelangsungan hidup jangka panjang
Manajer perusahaan memiliki tanggungjawab untuk menyediakan produk dan jasa yang berkesinambungan. Oleh karena itu, perusahaan harus menghindari tingkat penggunaan hutang yang dapat membahayakan kelangsungan hidup jangka panjang perusahaan.
2. Konservatisme manajemen
Manajer yang besifat konservatif cenderung menggunakan tingkat hutang yang sedikit.
3. Pengawasan
Pengawasan hutang yang besar dapat berakibat semakin ketat pengawasan dari pihak kreditor. Pengawasan ini dapat mengurangi keleluasaan manajemen dalam membuat keputusan perusahaan.
4. Struktur aktiva
Perusahaan yang memiliki aktiva yang dapat digunakan sebagai jaminan hutang cenderung menggunakan hutang yang relatif lebih besar.
5. Risiko bisnis
Perusahaan yang memiliki risiko bisnis tinggi cenderung kurang dapat menggunakan hutang yang besar karena kreditor akan meminta biaya hutang yang tinggi.
7. Tingkat pertumbuhan
Faktor lain dianggap tetap, perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi pada umumnya lebih tergantung pada modal dari luar perusahaan. 9. Pajak
Biaya bunga adalah biaya yang dapat mengurangi pembayaran pajak sehingga memperbesar daya tarik penggunaan hutang.
10. Profitabilitas
Pada umumnya, perusahaan yang memiliki tingkat keuntungan tinggi menggunakan hutang yang relatif kecil.
Ukuran Struktur modal yang digunakan dalam penelitian ini adalah
2.3. Profitabilitas
Hubungan laba yang diperoleh dengan investasi yang ditanamkan pemilik saham diamati secara teliti oleh khalayak keuangan. Profitabilitas perusahaan diindikasikan oleh laba yang merupakan hubungan antara pendapatan dan biaya dengan menggunakan aktiva produktif perusahaan berupa aktiva lancar maupun aktiva tetap. Hal tersebut menunjukkan rasio profitabilitas merupakan suatu kelompok rasio yang menunjukkan aspek likuiditas, manajemen aktiva dan besarnya operasional perusahaan yang dibiayai dari sumber hutang, yaitu pertama laba ditahan, diikuti dengan hutang, dan yang terakhir ekuitas baru. Dalam penelitian ini rasio yang dipakai untuk mengukur profitabilitas perusahaan adalah Return on Capital Employed (pengembalian atas modal yang digunakan). „‟Return on capital employed (ROCE) is a measure of the returns that a business is achieving from the capital employed, usually expressed in percentage terms. Capital employed equals a company's Equity plus Non-current liabilities (or Total Assets − Current Liabilities’’). Merupakan ukuran kinerja fundamental keuangan yang dihitung sebagai angka persentase laba sebelum bunga dan pajak terhadap uang yang diinvestasikan dalam bisnis. ROCE dapat mengindikasikan seberapa baik kinerja perusahaan dalam memanfaatkan modalnya untuk memperoleh profit yang maksimal. Umumnya ROCE dapat diungkapkan dengan dua pendekatan, yaitu gross capital employed dan net capital employed. Gross capital employed sering diartikan sebagai total aset, harta tetap dan harta lancar, sedangkan net capital employed mengacu pada total aset dikurang hutang. Di lain pihak, ROCE juga berarti total modal, cadangan modal, cadangan pendapatan, surat hutang dan hutang jangka panjang.
Return On Capital Employed (ROCE) merupakan rasio yang menunjukkan efisiensi dan profitabilitas dari investasi modal perusahaan. Dengan kata lain, ROCE merupakan indikator seberapa baiknya perusahaan dalam memanfaatkan modal untuk menghasilkan pendapatan. Rumus Menghitung ROCE adalah :