BAB IV STRUKTURASI NIKAH MALEM SONGO
E. Nikah Malem Songo Perspektif Teori Strukturasi
2. Struktur Nikah Malem Songo
104
tidak terikat dengan struktur yang ada. Maka dari itu tidak heran meskipun banyak yang menikah di malem songo, juga banyak yang menikah di bulan Jawa yang dianggap baik, misalnya Junaedi dan Agus yang menikah menurut bulan-bulan tertentu yang dinilai baik. Atau bahkan menikah dengan mengacu pada peristiwa sejarah Nabi Saw dengan Siti ‘Āishah yakni pada bulan Syawal, sebagaimana Mukhlis yang menikahkan putrinya pada bulan Syawal tahun 2019. Mereka tunduk pada struktur yang berlainan.
Ketundukan pada struktur yang berlainan ini adalah bukti bahwa manusia pada dasarnya memiliki free will (kebebasan berkehendak). Manusia bebas menentukan tindakan yang ia pilih. Ia bebas memihak pada struktur apa pun atau justru mengabaikannya secara totalitas. Kebebasan agen tidak dapat diabaikan jika hendak mengkaji masyarakat dalam perspektif teori strukturasi.
2. Struktur Nikah Malem Songo
Struktur menurut sebagian para ahli adalah penggambaran detail dari suatu lembaga sosial. Dalam Sosiologi, struktur sosial merujuk pada prinsip perilaku yang berulang-ulang dengan bentuk dan cara yang sama tujuannya untuk menggambarkan tatanan sosial. Konsep struktur dapat diterapkan pada lembaga, kelompok, atau proses sosial.15 Sedangkan Giddens mendefinisikan struktur secara ringkas sebagai rules and
105
resources (aturan dan sumber daya) yang terbentuk dari dan sekaligus membentuk perulangan praktik sosial. Aturan sebagai salah satu wujud struktur bukanlah aturan atau hukum positif melainkan semacam pedoman yang menjadi prinsip masyarakat untuk melakukan suatu praktik sosial secara berulang dalam waktu dan tempat tertentu.
Nikah malem songo telah menjadi sebuah pedoman bagi masyarakat yang ingin melangsungkan pernikahan tanpa terikat lagi dengan segala kerumitan perhitungan Jawa. Namun pada dasarnya tetap tidak menganggalkan nilai kebaikan dan keberkahan yang tersemat dalam waktu-waktu tertentu. Praktik nikah malem songo dilakukan berulang kali dari tahun ke tahun oleh masyarakat Desa Bumirejo dan masyarakat di daerah lain di Kecamatan Kepohbaru. Lebih luas lagi, praktik nikah malem songo dilakukan oleh berbagai masyarakat yang membentang dari Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan bagian selatan dan barat, dan Kabupaten Jombang bagian utara.
Secara aplikatif, struktur menurut Giddens terbagi ke dalam tiga dimensi. Pertama adalah struktur signifikansi. Atau struktur yang wujudnya adalah pemaknaan dan penilaian terhadap suatu perbuatan. Proses interaksi sosial yang berada pada struktur ini adalah komunikasi. Kedua adalah struktur dominansi. Struktur ini melibatkan institusi politik dan ekonomi. Ketiga adalah struktur legitimasi. Yang terakhir ini melibatkan adanya institusi hukum.16
16 Anthony Giddenss, The Constitution of Society: Outlines of the Theory of Stucturation
106
Struktur nikah malem songo berada pada dimensi signifikansi. Individu yang menikah pada malem songo terikat pada makna dan nilai bahwa malem tersebut adalah malem yang mendatangkan keberkahan bagi siapa saja yang menikah. Makna tersebut tidak diciptakan berdasarkan ijtihad murni manusia, namun terdapat kepercayaan yang berasal dari doktrin agama bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang paling diberkahi Tuhan dari bulan-bulan lainnya.
Terbentuknya struktur nikah malem songo tidak melibatkan lembaga politik, ekonomi, maupun hukum. Sehingga, domain nikah malem songo tidak pada dominasi dan legitimasi. Struktur nikah malem songo terbentuk berdasarkan proses interaksi masyarakat lewat komunikasi yang meyakini kebaikan dan keberkahan malem songo. Mayoritas berasal dari anjuran atau terkadang paksaan orang tua. Hal ini dialami oleh Atok dan Tika yang memiliki kesadaran terhadap nikah malem songo karena ada pengaruh dari orang tua mereka. Sedangkan Zakiyah menyadari nikah malem songo dari sepupunya. Proses tersebut hanya berlangsung lewat komunikasi dan tidak melibatkan institusi politik, ekonomi, dan hukum.
Struktur tersebut mampu mengikat masyarakat untuk melangsungkan pernikahan hanya pada malem songo, tidak pada malam-malam lainnya dalam bulan Ramadan atau bahkan di bulan lain. Mereka tunduk pada struktur yang mereka buat sendiri dan mereka lakukan berulang kali dalam ruang dan waktu yang sama. Terbukti pada malem songo selalu ramai calon pengantin. Setiap tahunnya, di Kecamatan
107
Kepohbaru terdapat sekitar 60 pasangan. Mereka tidak mengenal malem yang lain selain malem songo. Termasuk tidak terdapat upaya dari mereka untuk membentuk struktur baru yang berbeda dari sebelumnya.
Misalkan, ketika peneliti menanyakan kepada—Tika—pelaku nikah malem songo terkait alasannya mengapa harus di malem songo, tidak pada malam lain. Peneliti menanyakan demikian sebab para pegawai KUA Kepohbaru harus bekerja ekstra untuk melayani masyarakat yang menikah
di malem songo di tengah bulan Ramadan dan libur hari Raya Idul Fitri.
Barangkali ada upaya untuk meringankan beban para pegawai KUA melayani ledakan pengantin. Namun pada akhirnya tetap memilih malem songo sebagai hari pernikahannya. Ia dan keluarganya tetap terikat pada struktur nikah malem songo yang sudah terbentuk dan disepakati oleh masyarakat.
Jika diteliti lebih lanjut, analisis tersebut erat kaitannya dengan sosiologi makro. Artinya, perilaku sosial masyarakat terikat kuat dengan struktur yang ada. Peran mereka sepenuhnya ditentukan oleh struktur. Meski demikian, perubahan sosial masih berpotensi terjadi walaupun memerlukan waktu yang panjang. Sudah menjadi konsensus bahwa malem songo adalah malam yang mendatangkan keberkahan. Hal tersebut sudah disepakati sejak dahulu dan diterima oleh masyarakat hingga hari ini.
Kajian struktur menjadi fokus bahasan kedua dalam teori strukturasi. Di samping juga mempertimbangkan kemampuan individu atau agen yang memiliki free will dalam bertindak. Inilah yang menjadi nilai spesial dari
108
teori strukturasi yang tidak mengabaikan salah satu aspek antara agen maupun struktur dalam memahami realitas sosial yang ada. Pertentangan antara kedua paradigma tersebut dijembatani di dalam teori ini sehingga hasil penjelasannya dapat komprehensif dan berimbang.