BAB I PENDAHULUAN
I.2 STRUKTUR ORGANISASI DAN SUMBER DAYA MANUSIA
Berdasarkan SK Kepala BPOM No. 02001/SK/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan, struktur Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN) seperti pada gambar 1. PPOMN dipimpin oleh seorang Kepala Pusat (eselon 2), membawahi 5 Bidang, dan Sub-Bagian Tata Usaha. Adapun struktur organisasi tersebut adalah sbb:
a. Bidang Produk Terapetik dan Bahan Berbahaya;
b. Bidang Obat tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen;
c. Bidang Pangan;
Bidang Produk Terapetik terdiri dari: 1. Seksi Kimia Fisika Obat dan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif lain (NAPZA), serta 2. Seksi Alat Kesehatan, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) dan Produk Diagnostik. Laboratorium Rokok berada di bawah koordinasi bidang ini. Dengan demikian Bidang Produk Terapetik dan Bahan Berbahaya membawahi laboratorium:
3. Pengujian Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT);
4. Pengujian Narkotika Psikotropika dan Zat adiktif lain (NAPZA); dan 5. Pengujian Rokok;
Bidang Obat Tradisional (OT), Kosmetik dan Produk Komplemen terdiri dari 1. Seksi Obat Tradisional dan Produk komplemen (Suplemen Kesehatan) dan 2. Seksi Kosmetika, bertugas menguji secara kimia Obat Tradisional yang pada saat ini lebih terfokus pada identifikasi adanya cemaran Bahan Kimia Obat (BKO) dan cemaran lainnya, serta adanya bahan tambahan yang diijinkan (pengawet) serta menguji kandungan vitamin dan cemaran BKO atau bahan dilarang dalam Produk Komplemen (Suplemen Kesehatan).; Pengujian kosmetik terfokus pada identifikasi adanya bahan yang dilarang dalam kosmetik sesuai SK Kepala Badan POM, pedoman ACD (ASEAN Cosmetic Directory),
Bidang Pangan terdiri dari 1. Seksi Nutrisi dan 2. Seksi Keamanan Pangan. Seksi Nutrisi bertugas menguji kandungan gizi dan mutu produk pangan termasuk pengujian proksimat, kadar vitamin, protein serta zat gizi lainnya. Seksi Keamanan Pangan melakukan pengujian terhadap adanya Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang digunakan dalam produk pangan sesuai ketentuan, penyalahgunaan bahan berbahaya dalam pangan serta kemungkinan adanya cemaran yang berasal dari proses produksi dan lingkungan serta migrasi kemasan pangan.
Bidang Produk Biologi terdiri atas 1. Seksi Vaksin serta 2. Seksi Toksikologi dan Farmakologi. Laboratorium Toksikologi selain melakukan pengujian toksisitas vaksin, juga melakukan uji toksisitas spesifik untuk alat kesehatan serta produk lainnya. Pengujian vaksin dilakukan berdasarkan pedoman yang diterbitkan oleh WHO, seksi ini berkembang cepat selaras dengan meningkatnya jenis vaksin yang dibutuhkan untuk mencegah penyakit infeksi.
Secara rutin WHO memonitor kegiatan pengujian vaksin di Indonesia, terkait produk Biofarma yang merupakan salah satu produsen untuk pemasok kebutuhan vaksin di dunia.
Tetapi pengujian farmakologi berkurang dengan berkembangnya Metode Analisis kimia yang mengurangi pengujian secara biologi menggunakan hewan uji, pengujian yang masih dilakukan adalah uji pirogrnitas sediaan steril dan uji endotoksi Metode LAL.
Bidang Mikrobiologi terdiri dari 1. seksi Cemaran Mikroba serta 2. seksi Potensi Antibiotika dan Sterilitas. Pengujian cemaran bakteri dilakukan terhadap berbagai jenis produk dari ke empat bidang pengujian lainnya. Uji potensi antibiotika untuk sediaan tertentu dan uji sterilitas untuk sediaan parenteral dan tetes mata. Laboratorium mikrobiologi juga mengembangkan bakteri pembanding untuk pengujian mikrobiologi. Disamping Kelima
bidang tersebut diatas, terdapat laboratorium penunjang yang masing-masing dikoordinasi oleh Koordinator Laboratorium yang bersifat non-struktural: 1. Laboratorium Kalibrasi; 2.
Laboratorium Bioteknologi,; 3. Laboratorium Baku Pembanding; dan 4. Laboratorium Pemeliharaan Hewan Percobaan. Struktur keempat laboratorium penunjang tersebut digambarkan pada lampiran 7 dalam SK Ka BPOM No. 02001/SK/KBPOM. Koordinator laboratorium merupakan jabatan non-struktural.
Gambar 2.
Struktur Organisasi PPOMN sesuai SK Ka BPOM No. 02001/SK/KBPOM tahun 2001
Jumlah staf di PPOMN adalah 158 orang, dibagi dalam 5 Bidang Pengujian , 1 Sub-bagian Tata Usaha dan 4 Laboratorium penunjang, dimana 31 orang diantaranya bekerja di sub-bagian Tata Usaha. Sebanyak 127 staf bekerja di laboratorium pengujian yang berjumlah 16 jenis laboratorium, seperti pada Tabel 1. Staf ditempatkan sesuai dengan beban kerja masing-masing laboratorium, walaupun demikian dengan meningkatnya jenis dan jumlah produk yang harus diuji oleh staf PPOMN, maka parameter uji yang harus dilakukan pengujiannya juga meningkat.
Terdapat sejumlah laboratorium yang masih kekurangan staf penguji jika dilihat dari beban kerjanya. Jumlah staf di Sub-Bagian Tata Usaha cukup banyak karena termasuk di dalamnya adalah teknisi yang bertugas merawat gedung (laboratorium, WC, saluran air, waduk, aula), mesin (pompa, genset, AC, AHU dan insenerator), gudang (ATK, reagen, alat gelas, media)
Kepala PPOMN
dan fasilitas lainnya sementara untuk menangani kegiatan administrasi, surat menyurat Teknologi informasi (pelaporan), penanganan sampel dan keuangan jumlah staf sangat terbatas. Beberapa unit kerja masih ditunjang oleh tenaga honorer, seperti petugas pemelihara hewan percobaan (mengganti kandang, mencuci kandang, membersihkan kandang, sterilisasi kandang dan lain-lain), laboran, cleaning service serta Satpam.
Tabel 1. Jumlah pegawai PPOMN
Mengingat pentingnya peran penerima dan administrasi sampel, maka direkrut seorang purnabakti laboratorium untuk melayani penerima sampel yang dalam pelaksanaan tugasnya dapat juga berfungsi sebagai "Public Relation" memberikan informasi tentang pengujian produk serta persyaratannya. Serta staf sekretariat yang membantu tugas Kepala PPOMN dalam pengaturan jadwal kegiatan, pengelolaan surat menyurat, menerima tamu dan operator telfon.
Jumlah kelompok staf PPOMN dengan usia diatas 50 tahun adalah 42 orang atau 27,63%.
Kelompok ini adalah kelompok yang sangat berpengalaman dalam lingkup laboratorium dalam waktu dekat akan memasuki masa purna bakti. Perlu dipertimbangkan bagaimana rencana pengembangan PPOMN ke depan agar jangan terjadi penurunan kinerja ketika kelompok tersebut telah menjalani masa purnabakti. Kelompok umur dengan pengalaman 23-38 tahun sebagian besar berada di Sub Bag Tata Usaha (15 orang). Beberapa diantaranya memiliki latar belakang pendidikan rendah (non sarjana), yang pada saat ini tugasnya lebih banyak sebagai pemelihara waduk, genset, mengganti kandang hewan, memelihara AC dan
saluran listrik serta pekerjaan tukang lainnya. Perlu dipertimbangkan ke depannya jika pekerjaan tersebut dilakukan oleh tenaga honorer terlatih atau “out sourching”.
Gambar 3
Profil Pegawai PPOMN berdasarkan kelompok usia dan masa kerja
Lama Bekerja 31 – 38 tahun Lama Bekerja 23 – 30 tahun Lama Bekerja 21 – 22 tahun Lama Bekerja 15– 20 tahun Lama Bekerja 10 – 14 tahun Lama Bekerja 06 – 10 tahun Lama Bekerja 0 – 06 tahun
Kelompok usia 30-34 tahun dengan masa kerja 6-10 tahun menunjukkan angka cukup banyak (40 orang) dan rata-rata memiliki latar belakang pendidikan sarjana. Untuk meningkatkan keterampilan kerja, maka sebagian dari mereka diikutkan dalam program pelatihan reguler secara terstruktur. Tetapi pendidikan lanjutan seperti program S1 untuk yang berlatar belakang D3 atau SMU dan S2 (Master degree) untuk staf S1 atau apoteker masih tetap diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi serta profesionalitas mereka.
Melihat kondisi ini perlu dipertimbangkan rencana pengembangan SDM PPOMN ke depan dengan mengutamakan peningkatan kemampuan teknis pengujian dan manajerial, agar PPOMN tidak tertinggal dengan institusi sejenis lainnya. Disamping teknisi laboratorium, teknisi IT, teknisi mekanik dan listrik juga sangat dibutuhkan untuk perawatan alat listrik, jaringan serta peralatan laboratorium lainnya termasuk timbangan dan instrument lainnya.
Berdasarkan kelompok pendidikan, dengan adanya pola penerimaan yang mengutamakan mereka yang berpendidikan sarjana (S1) atau Apoteker, maka pada saat ini jumlah sarjana yang bekerja di PPOMN relatif cukup banyak dibandingkan kelompok lainnya. Beberapa diantaranya pada saat ini menjalani pendidikan lanjutan untuk program S2, berdasarkan progam kompetensi yang dibutuhkan oleh masing-masing Bidang dan Laboratorium. Dengan
adanya jenjang pendidikan yang lebih tinggi ini diharapkan kemampuan pengujian PPOMN dalam mengawal kebijakan Kepala Badan POM untuk pengawasan obat dan makanan dapat terpenuhi.
Gambar 4.
Profil staf PPOMN berdasarkan pendidikan.
PPOMN sebagai laboratorium Pusat merupakan laboratorium acuan bagi Balai Besar/Balai POM dalam melakukan pengawasan produk melalui pengujian. Jika Balai mengalami kendala dalam melaksanakan tugasnya, maka PPOMN merupakan tempat berkonsultasi. Untuk memantau ketepatan Balai dalam melaksanakan pengujian sesuai parameter uji pada Prioritas Sampling, PPOMN diminta untuk melakukan evaluasi laporan bulanan yang disusun oleh seluruh Balai. Jumlah sampel dan evaluasi pelulusan vaksin yang diterima oleh PPOMN pada periode 2010 – 2014 adalah seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar 5. Gambar 6.
Jumlah sampel Jumlah Evaluasi Pelulusan Vaksin
Disamping itu anggaran yang dikelola oleh PPOMN adalah seperti tabel dibawah ini, dimana anggaran tersebut. adalah termasuk anggaran yang diperuntukkan untuk pengadaan program pelatihan pengujian bagi staf Balai Besar dan Balai POM, pertemuan Manajer teksnis