BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
B. Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi adalah salah satu unsur yang penting dalam organisasi. Karena struktur organisasi mempunyai peran dan fungsi untuk dapat mengatur pembagian tugas dan tata kerja serta tanggung jawab mereka masing-masing sebagai anggota dalam perusahaan.
Melihat struktur organisasi PT. Mega Distribusi Utama maka dapat dikatan bahwa struktur organisasi yang diterapkan pada perusahaan ini adalah
struktur organisasi garis. Berikut ini dijelaskan tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian yang ada dalam PT. Mega Distribusi Utama Pekanbaru.
1. Komisaris
Tugas dan wewenang Komisaris sesuai dengan akta pendirian perusahaan adalah sebagai berikut :
a. Dewan komisaris setiap waktu dalam jam kerja kantor perseroan berhak memasuki bangunan dan halaman atau tempat lain yang dipergunakan atau yang dikuasai oleh perseroan dan berhak memeriksa semua pembukuan, surat dan tanda bukti lainnya, memeriksa dan mencocokkan keadaan uang kas dan lain-lain serta berhak untuk mengetahui segala tindakan yang telah dijalankan oleh Direksi.
b. Direksi dan setiap anggota direksi wajib untuk memberikan penjelasan tentang segala hal yang ditanyakan oleh Dewan Komisaris.
c. Apabila seluuh anggota direksi diberhentikan sementara dan perseroan tidak mempunyai seorangpun anggota direksi maka untuk sementara Dewan Komisaris diwajibkan untuk mengurus perseroan. Dalam hal demikian dewan komisaris berhak untuk memberikan kekuasaan sementara kepada seorang atau lebih diantara anggota Dewan Komisaris atas tanggungan Dewan komisaris.
35
d. Dalam hal hanya ada seorang anggota dewan komisaris, segala tugas dan wewenang yang diberikan kepada Komisaris Utama atau anggota Dewan Komisaris dalam anggaran dasar ini berlaku pula baginya.
2. Direksi/Direktur
Tugas dan wewenang Direksi/Direktur sesuai dengan akta pendirian perusahaan adalah sebagai berikut :
a. Direksi berhak mewakili perseroan didalam dan diluar pengadilan tentang segala hal dan dalam segala kejadian, mengikat perseroan dengan pihak lain dan pihak lain dengan perseroan, serta menjalankan segala tindakan, baik yang mengenai kepengurusan maupun kepemilikan, akan tetapi dengan pembatasan bahwa untuk:
1. meminjam atau meminjamkan uang atas nama perseroan (tidak termasuk mengambil uang perseroan di Bank)
2. mendirikan suatu usaha baru atau turut serta pada perusahaan lain baik di dalam maupun di luar negeri harus dengan persetujuan Dewan Komisaris
b. 1. Direktur utama berhak dan berwenang bertindak untuk dan atas nama direksi serta mewakili perseroan.
2. Dalam hal direktur utama tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun juga, yang tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga, maka salah seorang anggota direksi lainnya berhak dan
berwenang bertindak untuk dan atas nama direksi serta mewakili perseroan.
3. Accounting
a. Terselenggaranya kegiatan pembukuan di perusahaan b. Tersedianya laporan keuangan
c. Terlaksananya sistem pengarsipan dokumen akuntansi d. Tersedianya dana bagi perusahaan dan proyek
e. Tersedianya rencana pembayaran yang sudah jatuh tempo
f. Terselenggaranya kegiatan pengalokasian dana secara optimal untuk kepentin gan operasional.
g. Terselenggaranya pengendalian keuangan melalui kegiatan administrasi dan pelaporan keuangan.
4. Administrasi
a. Menerima dan mengeluarkan uang tunai, cek, giro setelah ada approval dari jabatan yang berwenang.
b. Menghitung gaji karyawan, uang lembur, dan tunjangan-tunjangan karyawan lainnya.
c. Mengurus kebutuhan kantor, seperti bukti pengeluaran dan penerimaan alat tulis dan surat-surat.
5. Penanggung jawab teknik
a. Menyelesaikan dan memastikan proyek pekerjaan sudah sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
37
b. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan pengerjaan proyek secara berkala serta melakukan koordinasi.
c. Melakukan penyusunan laporan setiap bulan dan tahunan mengenai pengerjaan proyek untuk ditujukan kepada direktur.
d. Menyusun dan membuat rencana pelaksanaan proyek-proyek perusahaan.
e. Menyajikan data-data untuk evaluasi pelaksanaan proyek yang meliputi waktu, mutu dan biaya proyek.
f. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek dilapangan 6. Tenaga teknik
Bagian ini bertugas mengawasi kelancaran jalannya kegiatan proyek sehari-hari, dan mengawasi karyawan yang bekerja dilapangan.
B. Aktivitas Perusahaan
Kegiatan utama dari perusahaan PT. Mega Distribusi Utama Pekanbaru adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, pengadaan, mekanikal dan elektrikal, salah satu diversifikasi usahanya adalah bergerak dalam bidang masalah kelistrikan yaitu pemeliharaan dan perbaikan.
Pelaksanaan konstruksinya didapatkan dari kontrak kerja dengan pihak pemerintah atau swasta. Suatu proyek tender didapatkan melalui negoisasi bersama pihak yang memberi kerja kontrak atau pun dengan cara mengikuti lelang proyek.
38 BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Perolehan Aset Tetap
Dalam penerapan akuntansi aset tetap, penulis menemukan permasalahan mengenai harga perolehan aset tetap yaitu perusahaan tidak memasukkan biaya-biaya yang berhubungan dengan aset tetap kedalam perolehan aset tetap tersebut.
Pada tahun 2017 perusahaan membeli 1 unit Mobil bekas Daihatsu Pick Up seharga Rp. 77.000.000 ( Lampiran 7), sebelum digunakan perusahaan melakukan pemasangan kabin mobil sebesar Rp. 1.500.000 (Lampiran 9). Akan tetapi, perusahaan tidak memperhitungkan biaya tersebut sebagai penambah harga perolehan dari aset tetap, melainkan perusahaan melakukan pencatatan biaya tersebut dalam laporan laba rugi sebagai beban operasional. Pencatatan yang dilakukan perusahaan sehubungan perolehan Mobil Daihatsu Pick Up adalah sebagai berikut:
Kendaraan Rp. 77.000.000
Kas Rp. 77.000.000
Biaya Operasional Rp. 1.500.000
Kas Rp. 1.500.000
Seharusnya biaya pemasangan kabin mobil dengan total biaya Rp.
1.500.000 dimasukkan sebagai penambah harga perolehan Mobil Daihatsu Pick Up dan seharusnya dijurnal sebagai berikut:
Kendaraan Rp. 78.500.000
Kas Rp. 78.500.000
39
Bertambahnya harga perolehan Mobil Daihatsu Pick Up tersebut, membuat perhitungan penyusutannya untuk tahun 2017 pun ikut berubah dan dijunal sebagai berikut:
Beban penyusutan Rp. 4.906.250
Akumulasi penyusutan Rp. 4.906.250 Rp. 78.500.000 : 8 tahun x 6/12 = Rp. 4.906.250
Biaya pemasangan kabin mobil yang tidak dikapitalisasi oleh perusahaan ke dalam harga perolehan aset tetap, menyebabkan harga perolehan aset tetap dan penyajian pembebanan penyusutan dalam laporan keuangan perusahaan menjadi lebih kecil (under value ) dari yang seharusnya.
B. Penyusutan Aset Tetap
Untuk melakukan perhitungan mengenai beban penyusutan, perusahaan memakai metode penyusutan garis lurus namun dalam hal ini perusahaan tidak memperhatikan kapan aset tetap tersebut diperoleh. Hal ini dapat dilihat pada tanggal 26 Maret 2017 perusahaan membeli sepeda motor Honda Vario seharga Rp. 14.000.000. Dengan perusahaan perhitungan untuk beban penyusutan sepeda motor Honda Vario tahun 2017 adalah sebesar Rp. 875.000 (Lampiran 6), jika dihitung dari tanggal aset diperoleh sampai dengan 31 Desember 2017, seharusnya kendaraan tersebut sudah 9 bulan digunakan. Sedangkan perusahaan menghitung beban penyusutannya untuk 6 bulan saja. Persusahaan menjurnal sebagai berikut:
Beban Penyusutan Rp. 875.000
Akumulasi Penyusutan Rp. 875.000
Perusahaan tidak memeperhitungkan saat perolehan aset tetap berupa sepeda motor Honda Vario tersebut yakni tanggal 26 Maret 2017, seharusnya perusahaan melakukan perhitungan penyusutan untuk 9 bulan. Sehingga beban penyusutan yang seharusnya adalah:
Beban Penyusutan Rp. 1.312.500
Akumulasi Penyusutan Rp. 1.312.500
Kesalahan pencatatan ini membuat laba di dalam laporan laba rugi perusahaan pada periode tersebut menjadi lebih tinggi. Hal ini terjadi karena pembebanan penyusutan yang terlalu rendah (understated), sedangkan aset tetap yang dibukukan terlalu tinggi. Ketidakpastian ini disebabkan karena akumulasi penyusutan terlalu rendah yang menyebabkan nilai pada aset tetap menjadi tinggi dan juga menambah laba periode akuntansi yang bersangkutan, serta nilai buku di neraca menjadi lebih tinggi.
C. Pengeluaran Setelah Masa Perolehan Aset Tetap
Dalam pengeluaran setelah masa perolehan terdapat permasalahan, yaitu pada tanggal 28 November 2016 perusahaan melakukan perbaikan kursi ruang tunggu dengan biaya Rp. 2.000.000 (Lampiran 12) perbaikan tersebut dilakukan karena bagian-bagian kursi sudah mengalami kerusakan. Perusahaan mencatat pengeluaran tersebut sebagai biaya operasional dan menggolongkannya sebagai pengeluaran pendapatan, seharusnya pengeluaran tersebut digolongkan sebagai pengeluaran modal, karena perbaikan tersebut cukup material dan dapat meningkatan umur ekonomis kursi ruang tunggu tersebut. Pencatatan Jurnal yang dilakukan oleh perusahaan adalah sebagai berikut:
41
Biaya operasional Rp. 2.000.000
Kas Rp. 2.000.000
Pencatatan yang seharusnya dibuat oleh perusahaan ketika perbaikan kursi ruang tunggu dilakukan adalah sebagai berikut :
Akumulasi Penyusutan Peralatan Rp. 2.000.000
Kas Rp. 2.000.000
Setelah perbaikan tersebut kursi ruang tunggu ditaksir masih dapat dipakai 4 tahun lagi , maka perhitungan penyusutan berubah menjadi yaitu:
Harga perolehan kursi ruang tunggu Rp. 2.500.000 Akumulasi penyusutan sampai tahun 2016
Tahun 2015 Rp. 625.000 Tahun 2016
11/12 x Rp. 625.000 = Rp. 572.916,67 Rp. 1.197.916,67
Akumulasi penyusutan debit Rp. 2.000.000 - (Rp. 802.083,33) - Nilai buku setelah perbaikan Rp. 3.302.083,33 Penyusutan untuk tahun 2017 sampai tahun berikutnya
Rp. 3.302.083,33 : 4 tahun = Rp. 825.520,83
Beban penyusutan Rp. 825.520,83
Akumulasi penyusutan Rp. 825.520,83
Perusahaan tidak membedakan antara pengeluaran modal dan pengeluaran pendapatan, hal ini akan mempengaruhi laporan keuangan dari perusahaan sendiri yaitu diantaranya laporan keuangan memberikan informasi yang keliru untuk periode-periode setelah terjadinya pengeluaran tersebut.
Ketidaktepatan pencatatan pengeluaran aset tetap akan menimbulkan kesalahan karena aset dinilai lebih rendah dari sebenarnya dan perhitungan mengenai penyusutan di tahun-tahun berikutnya juga menjadi salah.
D. Pelepasan Aset Tetap
Selanjutnya, dalam pelepasan aset tetap pada perusahaan ini ditemukan permasalahan mengenai 1 unit Printer Canon yang diperoleh dengan harga Rp.
500.000 (Lampiran 13), pada bulan Juli 2017 tidak lagi berfungsi karena rusak.
Tetapi oleh perusahaan pada akhir tahun 2017, aset tetap tersebut masih saja disajikan dalam laporan aset tetap perusahaan, seharusnya dalam hal ini perusahaan melakukan penghapusan terhadap aset tetap tersebut. Jurnal penghapusan yang seharusnya dilakukan perusahaan:
Akumulasi Penyusutan Rp. 437.500
Kerugian Penghentian Aset Tetap Rp. 62.500
Peralatan Rp. 500.000
Akibat dari tidak dihapusnya aset tetap yang tidak digunakan lagi pada kegiatan operasional perusahaan, maka nilai yang tercantum didalam laporan keuangan menjadi tidak akurat. Hal ini dapat dilihat dari nilai aset tetap yang terlalu tinggi karena perusahaan masih mencatumkan aset tetap tersebut di daftar aset dan laporan keuangan maka seolah-olah aset tersebut masih memberikan manfaat dalam kegiatan operasional perusahaan.
E. Penyajian Aset Tetap
Penyajian aset tetap di perusahaan ini merinci aset tetap yakni tanah, bangunan, kendaraan dan mesin, serta inventaris kantor. Penyajian aset tetap ini
43
telah dipisahkan antara harga perolehan aset tetap, akumulasi penyusutan, dan nilai buku aset tetap. Dalam hal ini, penyajian aset tetap PT. Mega Distribusi Utama telah sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Perusahaan dalam menghitung harga perolehan aset tetap terjadi kesalahan sehingga harga perolehan menjadi rendah, beban penyusutan kecil dan nilai buku menjadi besar. Ketika menghitung penyusutan, perusahaan juga tidak memperhatikan tanggal perolehan aset tetap tersebut, begitu pula dalam hal pengeluaran setelah masa perolehan aset tetap, perusahaan tidak memperhatikan antara pengeluaran pendapatan dan pengeluaran modal. Selanjutnya saat terjadi pelepasan aset tetap perusahaan tidak memperhatikan adanya keuntungan atau kerugian. Karena hal tersebut penyajian aset aset tetap PT. Mega Distribusi Utama tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.
44 BAB VI PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan masalah yang penulis lakukan pada PT. Mega Distribusi Utama, maka penulis dapat membuat beberapa kesimpulan beserta saran sebagai berikut:
A. Kesimpulan
1. Dalam hal penetapan harga perolehan aset tetap, perusahaan mencatat harga perolehan sebesar harga belinya saja, tanpa melihat biaya-biaya lainnya yang dikeluarkan sehubungan dengan perolehan aset tersebut.
2. Ketika menghitung penyusutan, perusahaan tidak memperhatikan bulan perolehan aset tetap, aset tetap tersebut disusutkan setengah tahun padahal penggunaannya sudah lebih dari setengah tahun.
3. Untuk pengeluaran setelah masa perolehan aset tetap, perusahaan tidak membedakan antara pengeluaran modal dengan pengeluaran pendapatan. Seluruh pengeluaran yang terjadi dibebankan langsung pada periode terjadinya pengeluaran tersebut.
4. Untuk pelepasan aset tetap yang sudah rusak dan tidak dipakai lagi, perusahaan tidak melakukan penghapusan dan memperhitungan adanya keuntungan atau kerugian terhadap aset tetap tersebut.
5. Secara umum perlakuan akuntansi aset tetap pada PT. Mega Distribusi Utama belum sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berterima Umum.
45
B. Saran
1. Dalam penentuan harga perolehan aset tetap seharusnya perusahaan mengkapitalisasi semua biaya-biaya yang berhubungan ke dalam harga perolehan aset tetap tersebut.
2. Dalam menghitung biaya penyusutan, sebaiknya perusahaan memperhatikan tanggal perolehan aset tetap, untuk menghtung besarnya penyusutan yang terjadi berdasarkan masa manfaatnya.
3. Untuk pengeluaran setelah masa perolehan aset tetap, sebaiknya perusahaan membedakan antara pengeluaran modal dengan pengeluaran pendapatan.
4. Sebaiknya perusahaan memperhatikan aset tetap yang sudah tidak digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan dan mengakui adanya keuntungan atau kerugian mengenai pelepasan aset tetap tersebut.
5. Sebaiknya PT. Mega Distribusi Utama Pekanbaru menerapkan akuntansi aset tetap sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berterima Umum.
DAFTAR PUSTAKA
Baridwan, Zaki. 2014. Intermediate Accounting. Penerbit BPFE- Yogyakarta.
Yogyakarta.
Dunia, Firdaus Ahmad. 2010. Ikhtisar Lengkap Pengantar Akuntansi. Edisi Ketiga. Fakultas Ekonimo Universitas Indonesia. Jakarta.
Kartikahadi, Hans, dkk. 2012. Akuntansi Keuangan Berdasarkan SAK Berbasis IFRS. Jilid-1. Salemba Empat. Jakarta.
Harahap, Sofyan Syafri. 2011. Akuntansi Aktiva Tetap. Edisi Pertama. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Harnanto. 2012. Akuntansi Keuangan Menengah. Penerbit BPFE-Yogyakarta.
Yogyakarta.
Alhalik. 2015. Panduan Praktis PSAK terkini berbasis IFRS terkait OCI VS SAK ETAP. Jakarta : IAI Wilayah Jakarta.
Hery. 2012. Akuntansi Keuangan Menengah 1. Bumi Aksra. Jakarta.
Hery dan Widyawati Lekok. 2011. Akuntansi Keuangan Menengah 2. Bumi Aksara. Jakarta.
Kasmir. 2012. Analisis Laporan Keuangan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Kieso, Donald E., Jerry J. Weygandt, Terry D. Warfield. 2012. Akuntansi Intermediate. Edisi 12. Erlangga. Jakarta.
Manurung, Elvy Maria. 2011. Akuntansi Dasar (Untuk Pemula). PT. Erlangga.
Jakarta.
Mulyadi. 2011. Pemeriksa Akuntan. Edisi Ke Tiga. Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN. Yogyakarta.
Rudianto. 2012. Pengantar Akuntansi: Konsep dan Teknik Penyusunan Laporan Keuangan. Erlangga. Jakarta.
Skousen, K. Fred dan Jay M. Smith. 2009. Akuntansi Intermediate. Edisi 9.
Erlangga. Jakarta.
Ikatan akuntan Indonesia. 2012. Standar Akuntansi Keuangan. Salemba Empat.
Jakarta.
Stice, Earl K., James D Stice, K. Fred Skousen. 2009. Akuntansi Keuangan Menengah. Edisi 16. Buku 2. Edisi Bahasa Indonesia. Terjemahan Oleh Ali Akbar. Salemba Empat. Jakarta.
Wahyuni, Tri Ersa dan Ng Eng Juan. 2012,. Standar Akuntansi Keuangan.
Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia.