BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG TABUNG WAKAF INDONESIA
C. Struktur Organisasi Tabung Wakaf Indonesia
D. Produk Tabung Wakaf Indonesia
Dalam mensosialisasikan wakaf tunai kepada masyarakat, Tabung Wakaf Indonesia mengeluarkan beberapa produk wakaf,1 yaitu:
1. Wakaf Naungan Ilahi
Wakaf Naungan Ilahi adalah wakaf yang diperuntukkan untuk lebih mendekatkan diri dan memiliki niatan khusus kepada Allah SWT, diantaranya: mendapatkan mapunan atas segala dosa yang telah dilakukan, terhindar dari musibah atau marabahaya yang mungkin akan terjadi, terhindar dari kerugian usaha, dll.
Wakaf yang terkumpul akan disalurkan untuk beberapa program keumatan:
1
Wawancara Pribadi dengan Destri Merriyana. Jakarta, 4 Januari 2009.
CR MARKETING MARKOM DIREKTUR DEWAN SYARIAH DIVISI SUPPORT DIVISI HRD & ADM & DIVISI INVESTASI SOSIAL PRODUKTIF
a. Sosial, yaitu: program penyaluran wakaf langsung untuk sarana dan prasarana institusi pelayanan umat:
1) LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) adalah rumah sakit mini khusus dhuafa.
2) SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah gratis unggulan SMP-SMA.
3) IKI (Institut Kemandirian Indonesia) merupakan Institut pencetak entrepreneur dari kalangan dhuafa.
4) Dan program sosial lain yang sedang direncanakan oleh Tabung Wakaf Indonesia.
b. Produktif, yaitu: program penyaluran wakaf untuk pemberdayaan dan kegiatan ekonomi umat, diantaranya:
1) BMT (Baitul Maal wa Tamwil) merupakan institusi pendamping pengusaha kecil.
2) Kampoeng Ternak merupakan program pemberdayaan dan peningkatan ekonomi peternak kambing.
3) Pengembangan usaha kecil menengah lainnya yang mampu meningkatkan perekonomian umat.
2. Wakaf Rindu Ilahi
Wakaf Rindu Ilahi diperuntukan bagi orang-orang yang menginginkan taqarrub illallah (mendekatkan diri kepada Allah), dan bertujuan demi
kemashlahatan umat tanpa mengharapkan harapan lain kecuali cinta dan ridha Allah SWT dengan segala kemuliaan-Nya diakhirat. Allah berfirman :
☺
⌧
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali-Imran/ 3: 92)
Wakaf ini akan disalurkan untuk beberapa program keumatan:
a. Sosial, yaitu: program penyaluran wakaf langsung untuk sarana dan prasarana institusi pelayanan umat:
1) LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) adalah rumah sakit mini khusus dhuafa.
2) SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah gratis unggulan SMP-SMA.
3) IKI (Institut Kemandirian Indonesia) merupakan Institut pencetak entrepreneur dari kalangan dhuafa.
4) Dan program sosial lain yang sedang direncanakan oleh Tabung Wakaf Indonesia.
b. Produktif, yaitu: program penyaluran wakaf untuk pemberdayaan dan kegiatan ekonomi umat, diantaranya:
1) BMT (Baitul Maal wa Tamwil) merupakan institusi pendamping pengusaha kecil.
2) Kampoeng Ternak merupakan program pemberdayaan dan peningkatan ekonomi peternak kambing.
3) Pengembangan usaha kecil menengah lainnya yang mampu meningkatkan perekonomian umat.
3. Wakaf Untaian Kasih
Wakaf Untaian Kasih adalah wakaf berupa uang tunai yang biasa dihadiahkan:
a. Orang yang dicintai seperti: suami, istri, anak, orang tua, atau siapa saja orang-orang yang anda cintai.
b. Saudara, baik itu kerabat jauh/ dekat, teman, maupun relasi bisnis.
c. Memberikan penghargaan kepada staf yang berprestasi atau karyawan yang teladan.
Wakaf ini akan disalurkan untuk beberapa program keumatan:
a. Sosial, yaitu: program penyaluran wakaf langsung untuk sarana dan prasarana institusi pelayanan umat:
1) LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) adalah rumah sakit mini khusus dhuafa.
2) SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah gratis unggulan SMP-SMA.
3) IKI (Institut Kemandirian Indonesia) merupakan Institut pencetak entrepreneur dari kalangan dhuafa.
4) Dan program sosial lain yang sedang direncanakan oleh Tabung Wakaf Indonesia.
b. Produktif, yaitu: program penyaluran wakaf untuk pemberdayaan dan kegiatan ekonomi umat, diantaranya:
1) BMT (Baitul Maal wa Tamwil) merupakan institusi pendamping pengusaha kecil.
2) Kampoeng Ternak merupakan program pemberdayaan dan peningkatan ekonomi peternak kambing.
3) Pengembangan usaha kecil menengah lainnya yang mampu meningkatkan perekonomian umat.
4. Wakaf Syukur Nikmat
Wakaf Syukur Nikmat adalah wakaf tunai yang diperuntukan sebagai ungkapan rasa syukur terdalam setelah mendapatkan karunia yang berlimpah, seperti:
a. Mendapatkan bonus,
b. Keuntungan besar dari sebuah bisnis, c. Mendapatkan kesembuhan dari penyakit, d. Mendapatkan jodoh,
e. Mendapatkan keturunan,
Dengan menunaikan Wakaf Syukur Nikmat, sehingga rizki yang melimpah semakin berlipat ganda manfaatnya. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah swt surat Ibrahim ayat 7 :
⌧ ⌧
⌧
⌧
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim/ 14: 7)
Wakaf ini akan disalurkan untuk beberapa program keumatan:
a. Sosial, yaitu: program penyaluran wakaf langsung untuk sarana dan prasarana institusi pelayanan umat:
1) LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) adalah rumah sakit mini khusus dhuafa.
2) SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah gratis unggulan SMP-SMA.
3) IKI (Institut Kemandirian Indonesia) merupakan Institut pencetak entrepreneur dari kalangan dhuafa.
4) Dan program sosial lain yang sedang direncanakan oleh Tabung Wakaf Indonesia.
b. Produktif, yaitu: program penyaluran wakaf untuk pemberdayaan dan kegiatan ekonomi umat, diantaranya:
1) BMT (Baitul Maal wa Tamwil) merupakan institusi pendamping pengusaha kecil.
2) Kampoeng Ternak merupakan program pemberdayaan dan peningkatan ekonomi peternak kambing.
3) Pengembangan usaha kecil menengah lainnya yang mampu meningkatkan perekonomian umat.
5. Wakaf Pohon Produktif
Banyaknya musibah yang selalu menimpa bangsa Indonesia dikarenakan perbuatan manusia itu sendiri. Banjir, longsor, gempa bumi, kekeringan dan kelaparan merupakan rentetan musibah yang murni disebabkan karena faktor lingkungan hidup. Penebangan liar, berkurangnya daerah resapan air, pembangunan gedung-gedung yang tidak mengindahkan saluran dan resapan air, membuang sampah sembarangan, adalah deretan kesalahan manusia yang mengakibatkan kerusakan lingkungan dan kehancuran yang membawa korban nyawa manusia dan menghancurkan tata lingkungan dan tentunya penghasilan masyarakat.
Milyaran rupiah sudah dikeluarkan oleh pemerintah dan masyarakat untuk membantu korban bencana, tetapi dana tersebut tidaklah cukup untuk dapat memulihkan semuanya seperti sediakala, belum lagi kalau dihitung kerugian secara psikologis, kesehatan, dan lain-lain. Melihat keadaan ini, Tabung Wakaf Indonesia (TWI) menawarkan solusi secara dini kepada masyarakat untuk bersama-sama melakukan kegiatan penanggulangan
bencana dengan secara dini dengan melakukan penanaman pohon produktif di daerah yang menjadi resapan air, sehingga air dan tanah tidak menjadi musibah justru memberikan berkah bagi kehidupan umat.
Adapun tujuan Tabung Wakaf Indonesia (TWI) meluncurkan program ini adalah:
a. Mensosialisasikan dan menggalang dana wakaf tunai
b. Membuat program yang marketable dan mempunyai dampak multiplier effect
c. Mengoptimalkan peran wakaf dalam bidang konservasi lingkungan hidup d. Merupakan program recovery terhadap daerah yang menjadi korban
bencana alam
e. Merupakan program preventif terhadap daerah yang rawan bencana f. Meningkatkan kesejahteraan umat.
Sasaran Wakaf Pohon Produktif ini adalah daerah korban bencana alam yang disebabkan kerusakan lingkungan, baik diperkotaan maupun dipedesaan/pedalaman, dan daerah-daerah yang rawan bencana karena sudah terdapat tanda-tanda kerusakan alam.
Adapun yang dilakukan Tabung Wakaf Indonesia (TWI) dalam program wakaf pohon produktif adalah:
a. Menggalang dana wakaf tunai untuk kegiatan lingkungan berupa penanaman pohon di wilayah yang gundul korban bencana atau daerah
yang rawan bencana. Program dapat dilakukan didaerah perkotaan atau didaerah pedesaan/pedalaman.
b. Pohon yang dipilih adalah pohon produktif dengan kriteria merupakan pohon yang mempunyai usia lama, mempunyai struktur akar batang yang kokoh, mempunyai nilai jual tinggi pada buah/batang dan lainnya.
c. Penggunaan dana wakaf meliputi; pembelian pohon dan pemeliharaan sampai dengan pohon dapat menghasilkan.
d. Keuntungan dari pohon yang sudah dapat menghasilkan dipergunakan untuk kemashlahatan umat.
e. Tanah untuk penanam pohon menggunakan tanah pemerintah yang dikhususkan untuk cagar alam, tanah adat masyarakat atau tanah wakaf. f. Apabila ada pohon yang mati maka dapat diganti dengan hasil dari wakaf
NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF TUNAI PADA TABUNG WAKAF INDONESIA
A. Sekilas Isi Kandungan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf tunai
Tujuan Negara Republik Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 antara lain adalah memajukan kesejahteraan umum. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu menggali dan mengembangkan potensi yang terdapat dalam pranata keagamaan yang memiliki manfaat ekonomis.
Salah satu langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan umum, perlu meningkatkan peran wakaf sebagai pranata keagamaan yang tidak hanya bertujuan menyediakan berbagai sarana ibadah dan sosial, tetapi juga memiliki kekuatan ekonomi yang berpotensi, antara lain, untuk memajukan kesejahteraan umum, sehingga perlu dikembangkan pemanfaatannya sesuai dengan prinsip syariah.
Praktik wakaf yang terjadi dalam kehidupan masyarakat belum sepenuhnya berjalan tertib dan efisien sehingga dalam berbagai kasus harta benda
wakaf tidak terpelihara sebagaimana mestinya, terlentar atau beralih ketangan pihak ketiga dengan cara melawan hukum. Keadaan demikian itu, tidak hanya karena kelalaian atau ketidak mampuan nazhir dalam mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf tetapi karena juga sikap masyarakat yang kurang peduli atau seharusnya dilindungi demi untuk kesejahteraan umum sesuai dengan tujuan, fungsi, dan peruntukan wakaf.
Berdasarkan pertimbangan di atas dan untuk memenuhi kebutuhan hukum dalam rangka pembangunan hukum nasional perlu dibentuk Undang-Undang Tentang Wakaf. Pada dasarnya ketentuan mengenai perwakafan berdasarkan syariah dan peraturan perundang-undangan dicantumkan dalam undang-undang ini, namun terdapat pula berbagai pokok pengaturan yang baru anatara lain sebagai berikut:
1. Untuk menciptakan tertib hukum dan administrasi wakaf guna melindungi harta benda wakaf, Undang-Undang ini menegaskan bahwa perbuatan hukum wakaf wajib dicatat dan dituangkan dalam akta ikrar wakaf dan didaftarkan serta diumumkan yang pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan tata cara yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang mengenai wakaf dan harus dilaksanakan. Undang-Undang ini tidak memisahkan antara wakaf-ahli yang pengelolaan dan pemanfaatan harta benda wakaf terbatas untuk kaum kerabat (ahli waris) dengan wakaf-khairi yang dimaksudkan untuk kepentingan masyarakat umum sesuai dengan tujuan dan fungsi wakaf.
2. Ruang lingkup wakaf yang selama ini dipahami secara umum cenderung terbatas pada wakaf benda tidak bergerak seperti tanah dan bangunan, menurut undang-undang ini wakif dapat pula mewakafkan sebagian kekayaanya berupa harta benda wakaf bergerak, baik berwujud atau tidak berwujud yaitu uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak kekayaan intelektual, hak sewa, dan benda bergerak lainnya. Dalam hal benda bergerak berupa uang, wakif dapat mewakafkan melalui Lembaga Keuangan Syariah. Yang dimaksud Lembaga Keuangan Syariah adalah Badan Hukum Indonesia yang dibentuk sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku yang bergerak di bidang keuangan syariah, misalnya badan hukum dibidang perbankan syariah. Dimungkinkan wakaf benda bergerak melalui Lembaga Keuagan Syariah dimaksudkan agar memudahkan wakif untuk mewakafkan uang miliknya.
3. Peruntukan harta benda wakaf tidak semata-mata untuk kepentingan sarana ibadah dan sosial tetapi juga diarahkan untuk memajukan kesejahteraan umum dengan cara mewujudkan potensi dan manfaat ekonomi harta benda wakaf. Hal itu memungkinkan pengelolaan harta benda wakaf dapat memasuki wilayah kegiatan ekonomi dalam arti luas sepanjang pengelolaan harta tersebut sesuai dengan prinsip manajemen dan ekonomi syariah.
4. Untuk mengamankan harta benda wakaf dari campur tangan pihak ketiga yang merugikan kepentingan wakaf, perlu meningkatkan kemampuan profesional nazhir.
5. Undang-Undang ini juga mengatur pembentukan Badan Wakaf Indonesia yang dapat mempunyai perwakilan didaerah sesuai dengan kebutuhan. Badan tersebut merupakan lembaga independen yang melaksanakan tugas dibidang perwakafan yang melakukan pembinaan terhadap nazhir, melakukan pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf berskala nasional dan internasional, memberikan persetujuan atas perubahan peruntukan dan status harta benda wakaf, dan memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah dalam penyusunan kebijakan di bidang perwakafan.
Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf terdiri atas sebelas bab, tujuh puluh satu pasal, meliputi pengertian tentang wakaf, syarat-syarat sahnya wakaf, fungsi wakaf, tata cara mewakafkan dan mendaftarkan wakaf, perubahan benda wakaf, penyelesaian perselisihan, pembinaan dan pengawasan wakaf, Badan Wakaf Indonesia (BWI), ketentuan pidana, dan ketentuan peralihan.
Dalam ketentuan umum Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang perwakafan secara garis besar mencakup beberapa hal yang saling berkaitan satu sama lainnya, diantaranya sebagai berikut:
1. Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan atau kesejahteraan umum menurut syariah.
2. Wakif adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya.
3. Ikrar Wakaf adalah pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan dan atau tulisan kepada nazhir untuk mewakafkan harta benda miliknya.
4. Nadzir adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukkannya.
5. Harta benda wakaf adalah harta benda yang memilki daya tahan lama dan atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan oleh wakif.
6. Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf, selanjutnya disingkat PPAIW adalah pejabat yang berwenang oleh yang ditetapkan oleh Menteri untuk membuat akta ikrar wakaf.
7. Badan Wakaf Indonesia adalah lembaga Independen untuk mengembangkan perwakafan di Indonesia.
8. Pemerintah adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri.
9. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang Agama.
Beberapa ketentuan hukum perwakafan menurut Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf yang merupakan pengembangan dari penyempurnaan terhadap materi perwakafan yang ada pada perundang-undangan sebelumnya, antara lain:
1. Objek wakaf menurut Undang-undang No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf, bahwa objek wakaf tersebut tidak hanya berupa tanah milik sebagaimana disebutkan dalam PP No. 28 Tahun 1977. Objek wakaf menurut undang-undang No. 41 Tahun 2004 tersebut lebih luas. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam pasal 1 poin 5, yaitu harta benda wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama dan atau bersifat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan oleh wakif. Lebih lanjut dipertegas dalam pasal 16 poin 1, yaitu harta benda wakaf terdiri dari: a. benda tidak bergerak, b. benda bergerak. Poin 3 yaitu benda bergerak yang sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf b adalah benda yang tidak bisa habis karena konsumsi, meliputi: a. uang, b. logam mulia, c. surat berhaarga, d. kendaraan, e. hak atas kekayaan intelektual, f. hak sewa, g. benda bergerak lainnya sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Nazhir
Pasal 12 disebutkan bahwa dalam melaksanakan tugasnya, nazhir dapat menerima imbalan dari hasil bersih atas pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf yang besarnya tidak melebihi 10 % (sepuluh persen).
3. Wakaf benda bergerak berupa uang
Wakif dapat mewakafkan benda bergerak berupa uang melalui lembaga keuangan syariah yang ditunjuk oleh menteri (pasal 28) dan lebih lanjut dalam pasal 29 ayat 2 disebutkan bahwa wakaf benda bergerak berupa uang sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diterbitkan dalam bentuk sertifikat wakaf uang yang dimaksud pada ayat 2 diterbitkan dan disampaikan oleh lembaga keuangan syariah kepada wakif dan nazhir sebagai bukti penyerahan harta wakaf.
4. Badan Wakaf Indonesia (BWI)
Pasal 47 ayat 1 menyebutkan bahwa dalam rangka memajukan dan mengembangkan perwakafan nasional dibentuk Badan Wakaf Indonesia (BWI), ayat 2 bahwa Badan Wakaf Indonesia berkedudukan di Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan dapat membentuk perwakilan di Provinsi dan atau Kabupaten/ Kota sesuai dengan kebutuhan. Adapun tugas dan wewenang Badan Wakaf Indonesia seperti termuat dalam pasal 49 ayat 2 adalah:
a. Melakukan pembinaan terhadap nazhir dalam mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf.
b. Melakukan pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf berskala nasional dan internasional.
c. Memberikan persetujuan dan atau izin atas perubahan peruntukkan dan status harta benda wakaf.
d. Memberhentikan dan mengganti nazhir.
e. Memberikan persetujuan atas penukaran harta benda wakaf.
f. Memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam penyusunan kebijakan di bidang perwakafan.
Demikian beberapa peraturan dan perundang-undangan yang berkaitan dengan wakaf terbaru, Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf cakupannya lebih luas dalam artian harta yang diwakafkan itu tidak hanya benda tidak bergerak saja seperti yang telah diatur oleh Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5 Tahun 1960. Akan tetapi benda yang nergerak seperti yang telah disebutkan di atas dapat diwakafkan.
B. Peran Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf Tunai pada Tabung Wakaf Indonesia
Peraturan perundang-undangan tentang wakaf di Indonesia menjadi persoalan yang cukup lama belum terselesaikan secara baik. Peraturan kelembagaan dan pengelolaan wakaf selama ini masih pada level di bawah UU, yaitu Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Agama, Peraturan Dirjen Bimas Islam Depag RI, dan beberapa aturan serta sedikit disinggung dalam UU No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria. Hingga sampai akhir tahun 2004 (27 tahun) dengan lahirnya UU No. 41 tahun 2004 tentang wakaf sehingga kemauan yang kuat dari umat Islam untuk memaksimalkan peran wakaf mengelami kendala-kendala formil. Tidak seperti kelembagaan dibidang zakat yang sudah mencapai pada fenomena kemajuan yang cukup baik dan sudah diatur dalam UU RI No. 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat dan Keputusan Menteri Agama RI No. 581 Tahun 1999.1
Sehingga kelembagaan wakaf dan pengelolaan benda-benda wakaf masih jauh dari memuaskan karena masih diatur oleh beberapa peraturan yang belum integral dan lengkap. Paling tidak, sebelum lahirnya UU No. 41 tahun 2004 tentang wakaf terdapat kendala-kendala formil yang sangat memberikan warna bagi pengelolaan dan pengembangan wakaf.
1
Achmad Djunaidi dan Thobieb Al-Asyar, Menuju Era Wakaf Produktif: Sebuah Upaya Progresif untuk Kesejahteraan Umat (Jakarta: Mitra Abadi Press, 2006), h. 54-55.
Di Indonesia, perwakafan diatur dalam PP No. 28 Tahun 1977 sebelum lahirnya UU No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf, tentang Perwakafan Tanah Milik dan sedikit disinggung dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria. Karena keterbatasan cakupannya, kedua peraturan perundang-undangan tersebut belum memberikan peluang yang maksimal bagi tumbuhnya pemberdayaan benda-benda wakaf secara produktif dan profesional. Alhamdulillah, pada tanggal 27 Oktober 2004, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf diundangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Undang-undang tersebut memiliki urgensi, yaitu selain untuk kepentingan ibadah mahdhah, juga menekankan perlunya pemberdayaan wakaf secara produktif untuk kepentingan sosial (kesejahteraan umat).2
Untuk konteks Indonesia, lembaga wakaf yang secara khusus akan mengelola dana wakaf dan beroperasi secara nasional itu berupa Badan Wakaf Indonesia (BWI). Tugas dari lembaga ini adalah mengkoordinir nazhir-nazhir (membina) yang sudah ada dan atau mengelola secara mandiri terhadap harta wakaf yang dipercayakan kepadanya, khususnya wakaf tunai.
Sebelum pemberlakuan UU No. 41 tahun 2004 tentang wakaf, pengaturan wakaf hanya menyangkut perwakafan benda tak bergerak yang lebih banyak dipergunakan untuk kepentingan konsumtif, seperti; masjid, madrasah, kuburan,
2Ibid., h. 89-90.
yayasan yatim piatu, pesantren, sekolah, dan sebagainya. Namun saat ini sudah berkembang dan sudah dipraktikan oleh sebagian lembaga Islam terhadap wacana wakaf benda bergerak, seperti uang (cash waqf), saham atau surat-surat berharga lainnya seperti yang diatur dalam Undang-Undang wakaf.3
Pembaharuan paham wakaf tersebut bukan untuk dibelanjakan secara konsumtif seperti kekhawatiran sebagian orang hingga habis yang berarti menyalahi konsep dasar wakaf itu sendiri. namun, bagaimana agar uang, saham, atau surat berharga lainnya yang dimiliki seseorang atau lembaga (badan hukum) dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat banyak. Aspek kemanfaatan dzat (benda yang diwakafkan) menjadi esensi dari jenis benda wakaf ini, bukan aspek dzat benda wakaf itu sendiri.
C. Analisa Efektivitas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf Tunai pada Tabung Wakaf Indonesia
Berkaitan dengan judul dan ruang lingkup skripsi ini yang berkaitan dengan Efektivitas Pelaksanaan Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf Tunai Pada Tabung Wakaf Indonesia Jakarta. Maka sebelum penulis
3
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam,
Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, (Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, 2006), h. 102.
memberikan analisis tentang keefektivan atau tidaknya pelaksanaan Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang wakaf tunai yang diterapkan oleh Tabung Wakaf Indonesia Jakarta, alangkah baiknya menguraikan sekilas dari teori efektivitas.
Adapun salah satu konsep utama dalam mengukur prestasi kerja (performance) manajemen adalah efisiensi dan efektivitas. Menurut ahli manajemen Peter Drucker memberikan definisi efektivitas adalah melakukan pekerjaan dengan benar (doing the right things), sedangkan efisiensi adalah melakukan pekerjaan dengan benar (doing things right).4 Efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang tekah ditetapkan.
Efektivitas dalam kamus besar bahasa Indonesia berasal dari kata efektif yang diartikan dengan : a). adanya efek (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), b). manjur atau mujarab., c). dapat membawa hasil, berhasil guna, d). hal murni berlakunya undang-undang atau peraturan.5 Jadi pada intinya efektivitas yang penulis analisis di sini mengacu pada Efektivitas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf pada Tabung Wakaf Indonesia.
4
Amirullah dan Haris Budiyono, Pengantar Manajemen, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004), h. 8.
5
Departemen Pendidikan dan kebudayaan, kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka 1998), h. 219.
Wakaf uang yang diperbolehkan saat ini dinilai berpotensi mematikan esensi wakaf yang sesungguhnya. Direktur Tabung Wakaf Indonesia (TWI) Zaim Saidi menjelaskan dalam praktiknya uang yang diwakafkan tersebut akan dibekukan di bank kemudian di investasikan dalam bentuk deposito, obligasi, reksadana, atau pasar saham. Jika wakaf uang hendak di investasikan, syaratnya harus investasi dalam bentuk sektor financial, kata Zaim Saidi saat menjadi pembicara seminar Quo Vadis Wakaf Indonesia, di Jakarta.6
Zaim melanjutkan implikasi dari kebijakan wakaf uang tersebut justru akan mematikan wakaf produktif yang sesungguhnya. Wakaf seharusnya dalam