KAJIAN TEKSTUAL AHOI
5.3 Struktur Pantun Dalam Teks Lagu-Lagu Melayu
Untuk mengetahui bagaimana struktur pantun di dalam nyanyian ahoi, ada baiknya dicari dulu apa pengertian pantun agar dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan bahan pertimbangan.
Menurut Harun Mat Piah sebagaimana yang dikutip oleh M. Takari dalam bukunya Budaya Musik dan Tari Melayu (2008:139), pantun adalah sejenis puisi pada umumnya, yang terdiri dari: empat baris dalam satu rangkap, empat perkataan sebaris, mempunyai rima akhir a-b-a-b, dengan sedikit variasi dan kekecualian. Tiap-tiap rangkap terbagi ke dalam dua unit, yaitu: pembayang (sampiran) dan maksud (isi). Setiap rangkap melengkapi satu ide.
Pantun Melayu memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri-ciri tersebut dapat dilihat berdasarkan dua aspek penting, yaitu aspek eksternal dan aspek internal. Aspek eksternal adalah dari segi struktur dan seluruh ciri-ciri visual yang dapat dilihat dan didengar, yang termasuk dari hal-hal berikut ini.
1. Terdiri dari baris-baris yang sejajar dan berpasangan, 2,4,6,8,10, dan seterusnya. Tetapi yang paling umum adalah empat baris (kuatrin)
2. Setiap baris mengandung empat kata dasar.
3. Adanya klimaks, yaitu perpanjangan atau kelebihan jumlah unit suku kata atau perkataan ada dua kuplet maksud.
4. Setiap stanza(Footnote) terbagi kepada dua unit. Yaitu sampiran dan maksud (isi); karena itu sebuah kuatrin mempunyai dua kuplet; satu kuplet sampiran dan satu kuplet maksud.
5. Adanya skema rima yang tetap, yaitu rima akhir a-b-a-b, dengan sedikit variasi a-a-a-a. Mungkin juga terdapat rima internal, atau rima pada
64
perkataan-perkataan yang sejajar, tetapi tidak sebagai ciri penting. Selain rima, asonansi juga merupakan aspek yang dominan dalam pembentukan sebuah pantun.
6. Setiap stanza pantun, apakah itu dua, empat, enam, dan seterusnya, mengandung satu pikiran yang bulat dan lengkap. Sebuah stanza dipandang sebagai satu kesatuan.
Aspek-aspek internal adalah unsur-unsur yang hanya dapat dirasakan secara subjektif berdasar pengalaman dan pemahaman pendengar, termasuk :
7. Penggunaan lambang-lambang yang tertentu berdasarkan tanggapan dan dunia pandangan (world view) masyarakat.
8. Adanya hubungan makna antara pasangan pembayang dengan pasangan maksud, baik itu hubungan konkrit atau abstrak atau melalui lambang-lambang.
Dalam lagu-lagu Melayu Sumatera Utara, ciri-ciri pantun seperti yang dikemukakan Harun Mat Piah terebut juga berlaku. Namun karena pantun ini diajikan secara musikal, maka ada lagi beberapa ciri pantun lagu-lagu Melayu, yaitu:
1. Pantun biasanya disajikan berulang-ulang mengikuti ulangan-ulangan melodi.
2. Walau prinsipnya teks lagu-lagu Melayu mempergunakan pantun, namun tidak sembarangan pantun dapat dimasukkan.
3. Pantun dalam lagu Melayu juga dapat diulur dan dipadatkan sesuai dengan kebutuhan melodi musik yang dimasukinya.
4. Pantun dalam lagu-lagu Melayu juga dapat disisipi oleh kata-kata seperti : ala sayang, sayang, hai, lah, tuan, puan, abang, pak Ucok, Bang Ucok, juga
65
judul-judul lagu seperti Gunung Sayang, Dondang Sayang, Serampang Laut, dan lain-lainnya di tempat awal, tengah, atau akhir baris.
5. Selain empat hal di atas, dalam satu baris tidak harus mutlak terdiri dari empat kaya atau sepuluh suku kata. Tetapi bisa lebih melebar dari ketentuan pantun secara umum. Hal ini memungkinkan terjadi, karena teks tersebut disampaikan secara melodis, bukan dalam gaya berpantun. Misalnya untuk memperpanjang beat, dapat dipergunakan dengan teknik melismatik, sebaliknya dengan teknik silabik dengan durasi yang relatif pendek.
Berdasarkan ciri-ciri yang telah disebutkan di atas, maka penulis akan menganalisis struktur pantun yang menjadi teks dalam nyanyian ahoi dengan hasil sebagai berikut.
1. Pantun dalam nyanyian ahoi terdiri dari rangkap-rangkap yang berasingan. Setiap rangkap terdiri empat baris (kuatrin). Contoh dapat kita lihat pada pantun nomor 1:
Bebirik lah batang bebirik Baris 1 Batang bayam sandaran dulang Baris 2 Mengirik kita mengirik Baris 3 Kokok ayam kita pe pulang Baris 4
Selain pantun nomor 1, seluruh pantun-pantun lain yang dipakai dalam nyanyian ahoi ini terdiri dari empat baris (Kuatrin)
2. Setiap baris dalam pantun yang dinyanyikan dalam nyanyian ahoi mayoritas mengandung empat kata dasar. Contoh dapat kita lihat pada pantun nomor 3.
Kalau tidak karena bulan Mana bintang meninggi hari
66 Jika tidak karena tuan
Mana kami datang kemari
3. Terdapat klimaks, yaitu perpanjangan atau kelebihan jumlah unit suku kata atau perkataan ada dua kuplet maksud. Contohnya adalah pantun nomor 4
Kalau ada kaca di pintu Kaca lama lah kami pecahkan Kalau ada kata begitu lah sayang Badan dan nyawa kami serahkan
4. Setiap stanza pantun dalam nyanyian ahoi terbagi kepada dua unit. Yaitu pembayang (sampiran) dan maksud (isi). Contohnya adalah pantun nomor 2 berikut.
Bukan batang sembarang batang Batang padi di atas pedang Maek kabar tuan yang datang Mari mengirik sambil berdendang
5. Dalam setiap pantun yang dinyanyikan dalam nyanyian ahoi ini, terdapat skema rima yang tetap, yaitu rima akhir a-b-a-b, dengan sedikit variasi a-a-a-a.
a. Contoh pantun yang berima a-a-a-a terdapat pada pantun nomor 2 berikut. Bukan batang sembarang batang a
Batang padi di atas pedang a Maek kabar tuan yang datang a Mari mengirik sambil berdendang a
Kuplet sampiran
67
b. Contoh pantun yang berima a-b-a-b adalah pantun nomor 8 berikut. Kalau tuan mempunyai sapi a
Enak dimasak denganlah rebung b Hati-hati menghembus api a Jangan sampai terbakar hidung b
6. Setiap stanza pantun, apakah itu dua, empat, enam, dan seterusnya, mengandung satu pikiran yang bulat dan lengkap. Sebuah stanza dipandang sebagai satu kesatuan.
7. Pantun yang dinyanyikan dalam kegiatan mengirik padi ini disisipi oleh kata-kata tambahan.
Contohnya dapat kita lihat pada pantun nomor 4, yaitu sebagai berikut Kalau ada kaca di pintu
Kaca lama lah kami pecahkan Kalau ada kata begitu (lah sayang) Badan dan nyawa kami serahkan
Pantun di atas, tepatnya pada kuplet isi baris pertama jika dilihat dari strukturnya seharusnya berhenti pada kata begitu. Namun dalam nyanyian ini, baris tersebut ditambahi kata“lah sayang”
8. Pantun yang dinyanyikan dalam nyanyian ahoi ini tidak mutlak terdiri dari empat kata atau sepuluh suku kata. Hal ini terjadi karena teks tersebut disampaikan secara melodis, bukan dalam gaya berpantun.
68 5.4 Makna Teks Nyanyian Ahoi
Makna ialah sesuatu yang tersirat dibalik bentuk atau aspek isi dari suatu kata atau teks kalimat. Teks atau syair yang terdapat pada nyanyian ahoi tersebut akan menghasilkan makna. Ada dua jenis makna yang biasanya terkandung di dalam sebuah nyanyian. Makna tersebut adalah makna konotatif , yaitu makna yang terkandung arti tambahan, dan yang kedua adalah makna denotatif , yaitu makna yang tidak mengandung arti tambahan atau disebut dengan makna yang sebenarnya (Groce Kraft, 1991 : 25). Berikut akan dijelaskan apa saja makna yang tersirat di dalam beberapa teks nyanyian ahoi yang mewakili nilai-nilai kehidupan sosial yang terdapat pada masyarakat kebudayaan Melayu.
1. Bebirik batang bebirik
Batang bayam sandaran dulang Mengirik kita mengirik
Kokok ayam kita pe pulang
Lirik di atas merupakan sebuah pantun yang terdiri dari dua baris sampiran dan dua baris isi. Isi dari pantun di atas menyatakan sebuah pemberitahuan dan ajakan untuk ikut dalam kegiatan mengirik seperti yang tertulis dalam baris ke tiga. Selain itu diberitahukan juga tentang waktu pelaksanaannya sebagaimana yang tertulis dalam bait ke empat, waktu yang dibutuhkan hanyalah satu malam dan ketika ayam berkokok, padinya pasti sudah selesai diirik dan para pengirik boleh pulang.
2. Bukan batang sembarang batang Batang kuis lah di deli serdang Maye kabar tuan yang datang Mari mengirik sambil berdendang
69
Makna yang terkandung di dalam pantun kedua ini sudah jelas terlihat. Dalam pantun ini ada sapaan kepada semua pelaku kegiatan mengirik dan ajakan untuk bernyanyi sambil mengirik.
3a. Kalau tidak karena bulan 3b. Kalau ada kaca di pintu
Mana bintang meninggi hari Kaca lama lah kami pecahkan Jika tidak karena tuan Kalau ada kata begitu lah sayang Mana kami datang kemari Badan dan nyawa kami serahkan
Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, kegiatan mengirik ini juga dapat dijadikan sebagai ajang mencari jodoh antara si pengirik dan pengemping, karena dalam kegiatan ini waktu untuk bertemu dan berkomunikasi cukup lama, yaitu selama kegiatan mengirik berlangsung. Dua buah Lirik pantun yang ketiga tersebut menyiratkan makna tentang perasaan salah seorang pengemping terhadap salah seorang pengirik dengan menyatakan bahwa dia menaruh hati pada salah seorang pengirik dan jika bukan karena si pengirik tersebut juga hadir disitu, dia pasti tidak akan hadir disitu.
Makna yang terkandung dalam pantun tersebut dimengerti oleh si pengirik dan dibalas dengan pantun yang kedua. Makna yang terkandung di dalam pantun 3a di atas adalah menyatakan bahwa si pengirik merasa terhormat dengan pernyataan si gadis pengemping yang menyatakan bahwa dia menaruh hati pada dirinya, sehingga si pengirik menyatakan bahwa dia siap memberikan seluruh jiwa raganya untuk kebahagiaan si gadis.
4a. Kalau tuan mempunyai sapi Enak dimasak denganlah rebung Hati-hati menghembus api Jangan sampai terbakar hidung
70 4b. Kami memang punya rebung
Tidak dimasak dengan daging sapi Biarlah terbakar hidung
Asal sampai hajat di hati
Lirik di atas merupakan contoh dari pantun yang berbalasan antara pengirik dan pengemping dalam ahoi. Pantun pertama menyiratkan tentang sindiran si pengirik kepada si pengemping, agar ketika mengemping hati-hati menghembus apinya supaya asapnya tidak terkena wajah dan membuat wajah menjadi hitam dan tidak enak dipandang mata.
Para pengemping tidak mau kalah dan membalasnya dengan pantun b yang maknanya menyatakan rayuan kepada para pengirik. Rayuannya adalah mereka tidak mempermasalahkan walau hidung mereka menghitam karena terkena asap seperti yang dikatakan si pengirik, asalkan hajat atau maksud di hati mereka tersampaikan, yaitu hajat untuk bergaul dengan para pengirik.
Dalam pantun yang dinyanyikan dalam ahoi ini, ada juga pantun yang isi atau maknanya adalah ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan karena diberikan hasil panen yang melimpah. Hal tersebut dapat kita lihat dalam pantun di bawah ini.
5. Ambil upih tampungkan hujan Daun ubi di ikat ikat
Terima kasih kepada Tuhan Tahun ini bisa berzakat
Dalam baris ke 3 dan ke 4 dinyatakan bahwa ada ucapan syukur kepada Tuhan atas panen yang melimpah sehingga sebagian hasil panen tersebut bisa dibagi-bagi
71
kepada para tetangga dalam bentuk emping dan lemang yang dimasak ketika kegiatan mengirik berlangsung dan juga bisa berzakat lebih.
6. Asal atap darilah rumbia Lalu semat denganlah bemban Akal tetap jadikan panglima Biarkan nafsu jadi tawanan
Pantun di atas merupakan sebuah pantun nasihat. Makna yang terkandung di dalam pantun tersebut menyatakan bahwa sebagai seorang pemuda-pemudi Melayu, hendaklah menggunakan logika dalam menjalankan ataupun menyelesaikan segala permasalahan hidup ini, bukan dengan menggunakan nafsu.
7.a Anyam pandan buatkan tikar Untuk tempat menjemur padi Biar zaman terus berputar Tak Melayu hilang dibumi 7b. Pohon duku kayu nya keras
Pohon langsat buah nya lima Jika Melayu sudahlah bungkas Maka terangkat lah marwah bangsa
Pantun pertama menyiratkan tentang keberadaan kebudayaan Melayu di dalam arus globalisasi dan modernisasi saat ini. Ada keyakinan dalam diri mereka bahwa seperti apapun perkembangan zaman ini, kebudayaan melayu pasti dapat bertahan.
Pantun kedua menyiratkan makna bahwa kebudayaan suatu bangsa lah yang membuat bangsa tersebut berharga. Kebudayaan Melayu merupakan salah satu kebudayaan yang menyusun bangsa Indonesia ini, sehingga jika kebudayaan Melayu
72
melekat pada masyarakat, maka marwah bangsa Indonesia pun ikut terangkat dan dikenal.
8a. Padi tua buatkan bertih
Buatkan emping si padi muda Biar badan terasa letih
Tapi hati kita gembira 8b. Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kami menumpang mandi Kalau ada umur yang panjang Bolehlah kita berjumpa lagi
Pantun pertama berisi tentang ungkapan para pengirik ketika kegiatan sudah hampir selesai yang menyatakan bahwa meskipun badan mereka letih setelah mengirik padi, rasa letih tersebut seakan-akan hilang karena hati mereka bergembira. Hal tersebut dikarenakan mereka melakukannya sambil bernyanyi dan berbalas pantun dengan lawan jenis yang mereka sukai.
Sedangkan pantun yang kedua menyiratkan tentang keinginan di antara para pengirik dan pengemping untuk dapat bertemu kembali dalam kegiatan mengirik selanjutnya. Pada zaman itu, biasanya para pengirik dan pengemping yang hari ini mengirik dan mengemping di salah satu rumah, mereka pula yang nantinya melakukan hal yang sama di rumah yang lainnya. Pantun ini sebagai isyarat kepada lawan jenisnya masing-masing agar jangan sampai tidak ikut dalam kegiatan mengirik selanjutnya, agar dapat bertemu dan berkomunikasi kembali lewat nyanyian ahoi.
73
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan pada uraian yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, penulis akan membuat kesimpulan dari pembahasan dan hasil penelitian yang telah penulis lakukan.
Ahoi merupakan sebuah nyanyian pada saat kegiatan mengirik padi dilakukan dan disajikan para pemuda-pemudi yang diwakili oleh pengirik dari kaum laki-laki, dan pengemping dari kaum perempuan.
Teks yang dinyanyikan dalam ahoi ini merupakan pantun-pantun yang mengandung nilai-nilai yang berlaku di dalam kehidupan sosial masyarakat Melayu Batang Kuis. Pantun tersebut terdiri atas pantun-pantun yang sudah berlaku di dalam kehidupan masyarakat, dan juga pantun yang diciptakan secara spontan oleh para pengirik atau pengemping sesuai dengan kondisi atau topik yang sedang di bahas.
Pola pantun yang digunakan kebanyakan adalah pola a-b-a-b, namun ada juga sebagian kecil yang menggunakan pola a-a-a-a.
Berdasarkan teori penggunaan dan fungsi musik oleh Alan P Merriam, ahoi digunakan sebagai musik pengiring kerja, dan memiliki beberapa fungsi yaitu : fungsi pengungkapan emosional, fungsi hiburan, fungsi komunikasi, fungsi yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial, fungsi kesinambungan kebudayaan, dan fungsi pengintegrasian masyarakat.
Dilihat dari sistem notasi musik barat, tangga nada yang terdapat dalam nyanyian ahoi adalah tangga nada diatonis dengan nada dasar C.
74 6.2 Saran
Melayu adalah salah satu suku yang ada di nusantara yang sejak dahulu kaya dengan aktifitas budayanya. Aktifitas tersebut dapat dilihat mulai dari siklus hidup, mata pencaharian, dan lain-lain. Akan tetapi, dengan adanya pengaruh dari budaya barat atau masuknya teknologi menyebabkan sebagian nilai-nilai budaya tersebut hilang.
Dalam tulisan ini penulis mempunyai beberapa saran kepada pembaca diluarbaik dari etnis Melayu maupun dari luar etnis Melayu, agar nyanyian ahoi ini dapat dipertahankan eksistensinya meskipun kegiatan mengirik padi tidak dilakukan lagi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengalih-fungsika ahoi dari sebuah kesenian pengiring kerja menjadi sebuah seni pertunjukan. Ahoi merupakan salah satu kekayaan budaya yang harus dijadikan milik bersama, sehingga setiap kebudayaan etnis yang ada di seluruh Indonesia tetap hidup dan terus berkembang.
75