• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.7 Runway

2.7.1 Struktur Perkerasan Landasan Pacu

Perkerasan didefenisikan sebagai struktur yang terdiri dari

satu atau lebih lapisan perkerasan yang dibuat dari bahan terpilih.

Perkerasan dapat berupa aggregat bermutu tinggi yang diikat

dengan aspal yang disebut perkerasan lentur, atau dapat juga plat

beton yang disebut perkerasan kaku. Perkerasan dimaksudkan

untuk memberikan permukaan yang halus dan aman pada segala

kondisi cuaca, serta tebal dari setap lapisan harus cukup aman

untuk menjamin bahwa beban pesawat yang bekerja tidak merusak

lapisan dibawahnya. Perkerasan lentur dapat terdiri dari satu

lapisan atau lebih yang digolongkan sebagai permukaan (surface

course), lapisan pondasi atas (base course), dan lapisan pondasi

bawah (subbase course) yang terletak di antara pondasi atas dan

lapisan tanah dasar (subgrade) yang telah dipersiapkan.

Lapisan permukaan terdiri dari campuran bahan

berbitumen (biasanya aspal) dan agregat, yang tebalnya bervariasi

tergantung dari kebutuhan. Fungsi utamanya adalah untuk

memberikan permukaan yang rata agar lalu-lintas menjadi aman

dan nyaman dan juga untuk memikul beban yang bekerja diatasnya

dan meneruskannya kelapisan yang ada dibawahnya. Lapisan

pondasi atas dapat terdiri dari material berbutir kasar dengan bahan

pengikat (misalnya dengan aspal atau semen) atau tanpa bahan

pengikat tetapi menggunakan bahan penguat (misalnya kapur).

Lapisan pondasi harus dapat memikul beban-beban yang bekerja

dan meneruskan dan menyebarkannya ke lapisan yang ada

dibawahnya. Lapisan pondasi bawah dapat terdiri dari batu alam

yang dipecahkan terlebih dahulu atau yang alami. Seringkali

digunakan bahan sirtu (batu-pasir) yang diproses terlebih dahulu

atau bahan yang dipilih dari hasil galian di tempat pekerjaan.

Tetapi perlu diketahui bahwa tidak setiap perkerasan lentur

memerlukan lapisan pondasi bawah. Sebaliknya perkerasan yang

tebal dapat terdiri dari beberapa lapisan pondasi bawah.

2.7.1.1 Stuktur Perkerasan Lentur ( Flexible Pavement )

Menurut Basuki, ( 1986 ) dalam buku ”Merancang

Merencanakan Lapangan Terbang”, perkerasan flexible adalah

suatu perkerasan yang mempunyai sifat elastis, maksudnya adalah

perkerasan akan melendut saat diberi pembebanan. Adapun

struktur lapisan perkerasan lentur sebagai berikut:

1. Tanah dasar (Sub Grade)

Tanah dasar (sub grade) pada perencanaan tebal

perkerasan akan menentukan kualitas konstruksi

perkerasan sehingga sifat–sifat tanah dasar menentukan

kekuatan dan keawetan konstruksi landasan pacu.

Banyak metode yang dipergunakan untuk menentukan

daya dukung tanah dasar, dari cara yang sederhana sampai

kepada cara yang rumit seperti CBR (California Bearing

Ratio), MR (Resilient Modulus), dan K (Modulus Reaksi

Tanah Dasar). Di Indonesia daya dukung tanah dasar untuk

kebutuhan perencanaaan tebal lapisan perkerasan

ditentukan dengan menggunakan pemeriksaan CBR.

Penentuan daya dukung tanah dasar berdasarkan evaluasi

hasil pemeriksaan laboratorium tidak dapat mencakup

secara detail (tempat demi tempat), sifat – sifat daya

dukung tanah dasar sepanjang suatu bagian jalan. Koreksi–

koreksi perlu dilakukan baik dalam tahap perencanaan

detail maupun tahap pelaksanaan, disesuaikan dengan

kondisi tempat. Koreksi–koreksi semacam ini akan di

berikan pada gambar rencana atau dalam spesifikasi

pelaksanaan. Umumnya persoalan yang menyangkut tanah

dasar adalah sebagai berikut :

a. Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) dari

macam tanah tertentu akibat beban lalu lintas.

b. Sifat mengembang dan menyusut dari tanah

tertentu akibat perubahan kadar air.

c. Daya dukung tanah yang tidak merata dan sukar

ditentukan secara pasti pada daerah dengan

macam tanah yang sangat berbeda sifat dan

kedudukannya, atau akibat pelaksanaan.

d. Lendutan dan lendutan selama dan sesudah

pembebanan lalu lintas dari macam tanah tertentu.

e. Tambahan pemadatan akibat pembebanan lalu

lintas dan penurunan yang diakibatkanya, yaitu

pada tanah berbutir kasar ( Granular Soil ) yang

tidak dipadatkan secara baik pada saat

pelaksanaan.

2. Lapisan Pondasi Bawah (Sub Base Course)

Lapisan pondasi bawah (Sub Base Course) adalah

bagian dari konstruksi perkerasan landasan pacu yang

terletak di antara tanah dasar ( Sub Grade ) dan lapisan

pondasi atas ( Base Course ).

Menurut Horonjeff dan McKelvey, ( 1993 ) fungsi

lapisan pondasi bawah adalah sebagai berikut :

a. Bagian dari konstruksi perkerasan yang telah

mendukung dan menyebarkan beban roda ke tanah

dasar.

b. Mencapai efisiensi penggunaan material yang

murah agar lapisan – lapisan selebihnya dapat

dikurangi tebalnya (penghematan biaya

konstruksi).

c. Untuk mencegah tanah dasar masuk kedalam

lapisan pondasi atas.

3. Lapisan Pondasi Atas ( Base Coarse )

Lapisan pondasi atas ( Base Coarse ) adalah

bagian dari perkerasan landasan pacu yang terletak

diantara lapisan pondasi bawah dan lapisan permukaan.

Fungsi lapisan pondasi atas adalah sebagai berikut :

a. Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang

dari beban roda dan menyebarkan beban lapisan

dibawahnya.

b. Lapisan peresapan untuk lapisan pondasi bawah.

c. Bantalan terhadap lapisan pondasi bawah.

4. Lapisan Permukaan ( Surface Course )

Lapisan permukaan (Surface Course) adalah

lapisan yang terletak paling atas. Lapisan ini berfungsi

sebagai berikut :

a. Lapisan perkerasan penahan beban roda, lapisan

yang mempunyai stabilitas yang tinggi untuk

menahan beban roda selama masa pelayanan.

b. Lapisan kedap air, sehingga air hujan yang jatuh

diatasnya tidak meresap ke lapisan dibawahnya.

c. Lapisan aus ( wearing Course ), lapisan yang

langsung menderita gesekan akibat rem kendaraan

sehingga mudah nenjadi aus.

d. Lapisan yang menyebarkan beban kelapisan

bawah, sehingga lapisan bawah yang memikul

daya dukung lebih kecil akan menerima beban

yang kecil juga.

Penggunaan lapisan aspal diperlukan agar lapisan dapat

bersifat kedap air, di samping itu bahan aspal sendiri memberikan

tegangan tarik, yang berarti mempertinggi daya dukung lapisan

terhadap beban roda lalu lintas. Pemilihan bahan untuk lapisan

permukaan perlu dipertimbangkan kegunaanya, umur rencana serta

pentahapan konstruksi agar tercapai manfaat yang sebesar –

besarnya dari biaya yang dikeluarkan.

2.7.1.2 Struktur Perkerasan Kaku

Desain struktur perkerasan kaku didasarkan pada analisis

structural terhadap pelat beton yang dianggap memikul beban

kendaraan melalui kelenturan yang tinggi dari pelat beton

(Kosasih, 2004). Menurut Saodang (2005), perkerasan dikatakan

kaku atau rigid,dikerenakan modulus elastisitas (Ε) semen sebagai

material perkerasan kaku,mempunyai nilai relatif lebih besar dari

meterial fondasi dan tanah, maka bagian terbesar yang menyerap

tegangan akibat beban adalah pelat beton sendiri. Struktur

perkerasan kaku dapat dibedakan ke dalam empat jenis, yaitu

perkerasan kaku bersambung tanpa tulangan, perkerasan kaku

bersambung dengan tulangan, perkerasan kaku menerus dengan

tulangan, dan perkerasan kaku menerus dengan tulangan

prategang.Elemen struktur perkerasan kaku terdiri dari (Saondang,

2005).

1. Tanah dasar (subgrade).

Merupakan lapisan tanah yang disiapkan atau

diperbaiki kondisinya untuk meletakkan suatu perkerasan.

Dalam struktur perkerasan kaku, tanah dasar hanya

dipengaruhi tegangan akibat beban lalu lintas dalam

jumlah relative kecil, namun daya dukung dan

keseragaman tanah dasar sangat mempengaruhi keawetan

dan kekuatan perkerasan kaku. Daya dukung tanah dasar

pada konstruksi perkerasan beton semen ditentukan

berdasarkan nilai CBR insitu atau CBR laboratorium.

Dapat juga didasarkan pada modulus subgrade reaction

(k).

2. Fondasi bawah (subbase course).

Pada struktur perkerasan kaku hanya ada satu lapis

fondasi, yaitu fondasi bawah. Fungsi utama fondasi bawah

adalah untuk mengendalikan pengaruh kembang susut

tanah dasar, mencegah intrusi tanah dasar pada

sambungan, memberikan sambungan yang baik dan

seragam terhadap pelat beton.

Merupakan komponen utama pada struktur

perkerasan kaku untuk memikul beban kendaraan. Beton

dihasilkan oleh campuran material yang terdiri dari agregat

(halus dan kasar), air, dan semen. Untuk mencapai tingkat

mutu beton yang diinginkan maka harus diperhatikan

perbandingan bahan susunnya dimana perbandingan air

terhadap semen merupakan factor dalam penentuan

kekuatan beton.

Dokumen terkait