Visi dan misi sanitasi diturunkan dari visi dan misi Kabupaten Kotabaru periode 2008 – 2012, secara periodik sudah mencapai akhir masa jabatan kepala
C. Arahan Persampahan
2. Struktur Peruntukan Lahan Makro
Peruntukan lahan suatu tempat secara langsung disesuaikan dengan masalah- masalah yang terkait, bagaimana seharusnya daerah zona dikembangkan. Penekanan utama terletak pada masalah tiga dimensi yaitu hubungan keserasian antar bangunan dan kualitas lingkungan. Jika kita melihat di lokasi penataan bisa dilihat dari pola penggunaan lahan kaitanya dalam membentuk kualitas hidup lingkungan dan kawasan yang manusiawi. Sesuai dengan latar belakang pengadaan proyek sebagai bagian dari pengendalian bangunan dan lingkungan terhadap perkembangan Kecamatan Kelumpang Barat, maka akan ditetapkan kemungkinan perkembangan tiap blok dengan memperhatikan eksisting, kebutuhan masyarakat maupun penggerak ekonomi serta kebutuhan pengendalian yang ditetapkan bahwa sepanjang koridor desa Bungkukan hanya diperbolehkan dimensi wilayah terbangun yakni 1.250m dari as jalan utama yakni koridor Jalan Trans Kalimantan. Seiring dengan keinginan untuk menghadirkan pengembangan dan penataan wilayah yang ”Green”, maka secara tampilan dan nafas penataan harus tetap memperhatikan ruang hijau eksisting dan menambah porsi RTH di tiap segmen, dimana saat ini kondisi yang ada, RTH masih sangatminim belum memenuhi kebutuhan perbaikan iklim mikro kawasan.
Secara makro, dari pembagian segmen yang ada dapat dianalisa bahwa Segmen I didominasi dan dapatdikembangkan sebagai area perdagangan jasa, fasilitas umum, serta permukiman, Segmen II dan III didominasi dan dapat dikembangkan sebagai perdagangandan jasa, perkantoran, fasum, dan permukiman. Segmen IV didominasi dan dapat dikembangkansebagai perdagangan jasa, dan permukiman serta segmen V didominasi dan dapatdikembangkan sebagai industri pergudangan, perkantoran, fasum, dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Peruntukan lahan makro pada kawasan ini dikelompokkan menjadi 5 (lima) fungsi kegiatan yang dominan, yaitu :
• Kawasan Perdagangan dan Jasa
Perdagangan dan jasa merupakan fungsi kegiatan yang paling dominan pada ruas jalan/ koridor Jalan Trans Kalimantan Kecamatan Kelumpang Barat. Untuk kegiatan jasa perdagangan pada kawasan ini, diarahkan untuk pengembangan kegiatan jasa perdagangan dari skala lokal/lingkungan hingga skala regional. Pengembangan skala regional merupakan perkembangan yang cukup prospektif. Dengan kemungkinan lahan yang ada, maka kegiatan pembangunan untuk fungsi jasa perdagangan masih bisa diarahkan secara horizontal. Sehingga kavling- kavling kecil yang terletak di sepanjang Jalan Trans Kalimantan lambat laun akan melebur membentuk pola blok/ super blok. Sejalan dengan perkembangan tersebut, maka kegiatan-kegiatan baru dalam zona perdagangan dan jasa akan semakin beragam dan kompleks, yang pada akhirnya memunculkan rancangan
lahan campuran (mix-used), misalnya hunian campur dengan perdagangan barang/ jasa dan sebagainya
• Kawasan Fasilitas Umum dan Sosial
Fasilitas umum / sosial yang dikembangkan adalah fasilitas yang sudah ada pada eksisting,seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, dan ibadah. Karena posisinya di kawasan strategis ekonomi kota, fungsi-fungsi peruntukan pada koridor jalan ini terutama pada lapis pertama tidak dikembangkan untuk fungsi non komersil. Sebaran fasilitas umum pada koridor ini tidak memiliki pola tertentu, akan tetapi memiliki kecenderungan mengkluster di segmen, di samping kecenderungan menyebar di tiap kelurahan atau desa. Di beberapa segmen lain juga memiliki karakteristik yang hampir sama, yakni fasilitas umum di masing- masing kelurahan/ desa memiliki kecenderungan mengumpul di satu titik di masing- masing area.
• Perkantoran Pemerintahan
Fungsi perkantoran yang ada pada pada kawasan ini adalah perkantoran pemerintah yang terletak di koridor jalan Trans Kalimantan. Perkantoran pemerintahan tetap dipertahankan sebagaimana kondisi eksisting yang ada dan dikembangkan untuk diperluas. Perkembangan ini dapat dicapai melalui pengembangan perkantoran pada lokasi yang sama (kompleks pemerintahan) pada satu titik pada bagian utara kawasan ini agar lebih efektif dan efisien dalam melayani publik.
• Kawasan Pemukiman
Kawasan perumahan yang dikembangkan di kawasan rencana merupakan kawasan permukiman lapis kedua setelah bangunan jasa perdagangan pada koridor Jalan Trans Kalimantan Kecamatan Bungkukan Barat. Permukiman tersebut adalah pola pola permukiman perkotaan dengan tingkat kepadatan rendah - sedang. Secara umum di lokasi penataan dengan luasan lahan yang ada, masih sangat dimungkinkan untuk dikembangkan landedhousing. Posisi lapis kedua dipilih, karena keberadaan Trans Kalimantan yang merupakan arteri primer dengan tingkat aktivitas perdagangan jasa yang lumayan tinggi di lapis pertama, sehingga diharapkan pengembangan untuk sektor lain, dalam hal ini hunian tidak menambah beban jalan, sehingga pengembangannya diarahkan untuk berada di lapis kedua, sehingga jarak jeda diharapkan meminimalkan kemungkinan beban transportasi tersebut. Pengembangan pemukiman pada lapis kedua mengambil 1.00 m dari as jalan ke kiri dan jalan Trans Kalimantan.
Pertanian berperan sebagai kegiatan dasar sebuah kawasan agro industri. Agar pertanian di Bungkukan kokoh, maka perlu pengembangan lahan pertanian agar ketersediaan bahan baku produksi terjamin. Kawasan pengembangan ini ada pada lapis ketiga setelah pengembangan pemukiman pada lapis kedua dari bangunan pemukiman dan jasa pada koridor jalanTrans Kalimantan. Lahan dikembangkan dalam bentuk kavling- kavling siap tanam dengan variasi luasan. Pengembangan sruktur lahan maksro, dapat dilihat pada peta berikut;
Peruntukan lahan mikro kawasan dijabarkan dari rencana penggunaan lahan makro dalam rencana tata ruang. Penjabaran penggunaan lahan mikro untuk tingkat RTBL ini akan mencapai hirarkhi yang paling teknis.
Perkembangan penggunaan lahan di kawasan perencanaan berjalan seiring dengan perkembangan kota sekitar akibat pengaruh Urban Sprawl. Perkembangan tersebut mempunyai kecenderungan yang sangat besar mengingat lokasinya berada di perbatasan penghubung antar ibukota kecamatan merupakan kawasan strategis ekonomi. Hal ini akan mempengaruhi pola peruntukan lahan pada kawasan penataan sebagai pusat pengemban fungsi sebagai pusat pertumbuhan perdagangan jasa dan hunian baik berupa perumahan swadaya dan perumahan formal. Dan perkembangan fungsi lahan yang ada pada kawasan perencanaan eksisting saat ini pada keseluruhan segmen, terutama segmen sisi yang terdekat dengan jalan Trans Kalimantan cenderung berkembang sebagai perdagangan, jasa dan hunian, sehingga perkembangan untuk peruntukan lain cenderung kurang berkembang. Hal ini didukung oleh lokasi penataan yang berada di koridor arteri primer. Keberadaan jalan ini semakan mempercepat pertumbuhan kawasan jasa perdagangan di kawasan rencana.
Dengan melihat kondisi eksisting pola penggunaan lahan yang ada serta pola perkembangan wilayah, maka dapat dipastikan seiring proyeksi kebutuhan pengembangan, di lokasi penataan akan mengalami perubahan fungsi lahan atau pergeseran fungsi lahan, sehingga akan terjadi kemajemukan fungsi lahan terutama di lapis pertama, sedangkan lapis kedua dan ketiga tetap dipertahankan sebagai hunian dan pertanian.
Peruntukan lahan mikro mengatur seluruh kegiatan / fungsi / aktivitas mikro yang diijinkan pada kawasan makro. Rencana ini merupakan salah satu bentuk pengendalian fungsi-fungsi mikro di dalam sebuah ruang lebih produktif, selaras, serasi dan seimbang. Peruntukan lahan mikro adalah peruntukan lahan yang ditetapkan pada skala keruangan yang lebih rinci (termasuk secara vertikal) berdasarkan prinsip keragaman yang seimbang dan saling menentukan. Dalam peruntukan lahan mikro, hal-hal yang diatur adalah: peruntukan lantai dasar, lantai atas serta peruntukan lahan tertentu. Pembahasan rencana peruntukan lahan mikro meliputi rencana peruntukan lahan mikro seluruh kawasan rencana dan detail pada kawasan koridor. Peruntukan lahan mikro yang ada di lokasi penataan di sesuaikan dengan blok – blok dominan di tiap segmen kawasan. Peruntukan lahan mikro direncanakan menyesuaikan dengan perijinan bangunan yang ada, dan memenuhi kriteria KDB, KLB, GSB dan ketinggian bangunan yang direncanakan. Peruntukan lahan mikro kawasan merupakan bentuk penjabaran dari penggunaan lahan makro dalam rencana tata ruang. Peruntukan lahan mikro akan mengikuti pedoman zonasi yang mengatur hingga sampai pada jenis kegiatan yang diijinkan. Berikut ini adalah bentuk penjabarannya :
• Zona Perdagangan dan Jasa
Secara umum, melihat kondisi eksisting, potensi ke depan, serta dokumen rencana tata Ruang Wilayah Kabupaten Kotabaru telah menyatakan bahwa secara keseluruhan, lokasi penataan berada pada kawasan ekonomi strategis dengan rencana kegiatan dominan berupa perdagangan jasa. Akan tetapi, secara mikro, kawasan ini merupakan perpaduan antara kegiatan pertanian dan industri serta pendukung kegiatannya seperti perdagangan dan jasa.
• Zona Fasilitas Umum
Dalam pedoman zonasi, zona fasilitas umum termasuk dalam kelompok zona fasilitaspelayanan. Zona fasilitas pelayanan di koridor penataan terdiri dari :
- Pelayanan Skala Regional - Pelayanan Skala Kota - Pelayanan Skala Kawasan - Pelayanan Skala lokal
Pengaturan jenis kegiatan yang diijinkan dalam zona pelayanan adalah sebagai berikut : 1. Sub Zona Pelayanan Skala Regional
Kegiatan yang diijinkan dalam zona tersebut adalah kegiatan Rumah Sakit 2. Sub Zona Pelayanan Skala Kota
Kegiatan yang diijinkan dalam zona tersebut adalah kegiatan apotik dan kegiatan lain yang merujuk pada kegiatan penunjang kesehatan (puskesmas, praktek dokter bersama, apotik dan laboratorium medis). Kegiatan hunian diijinkan namun harus berada di lantai dua dan
menyatu dengan apotik. Berdasarkan pengaturan kegiatan tersebut, maka penggunaan lahan mikro vertikal yang diijinkan adalah :
a. Peruntukan lantai dasar : Perkantoran, pelayanan fasilitas umum
b. Peruntukan lantai atas : kegiatan ibadah, perkantoran dan ruang pertemuan. 3. Sub Zona Pelayanan Skala Lokal
Pelayanan skala lokal/ lingkungan yang terdapat di kawasan penataan adalah fasilitas ibadah berupa masjid dan kesehatan. Kegiatan yang diijinkan dalam zona tersebut adalah kegiatan apotik, ibadah, pengajian, dan kegiatan lain yang merujuk pada kegiatan ibadah. Kegiatan tidak sejenis yang diijinkan adalah kegiatan pendidikan setingkat TK / TPA dengan persyaratan tidak boleh menyatu dengan bangunan utama (bangunan atau ruang terpisah). Berdasarkan pengaturan kegiatan tersebut, maka penggunaan lahan mikro vertikal yang diijinkan adalah :
a. Peruntukan lantai dasar : apotik, kegiatan ibadah, pengajian, ruang simpan, pendidikan TK/ TPA (pada bangunan / ruang terpisah).
b. Peruntukan lantai atas : kegiatan ibadah, pengajian, ruang simpan dan hunian (menyatu dengan apotik).
• Zona Perumahan
Zona perumahan di lokasi penataan merupakan zona permukiman perdesaan dan perumahan baru (swadaya) serta perumahan formal skala menengah ke atas di sepanjang koridor penataan baik di lapis pertama maupun kedua. Kegiatan sejenis yang diijinkan dalam zona permukiman rumah kampung adalah : permukiman, kegiatan perdagangan skala lingkungan (warung), pendidikan skala lingkungan (TK), jasa : salon (kecantikan) dan busana, ruang komunikasi, laundry, layanan kesehatan (posyandu), Balai RW, pos keamanan lingkungan. Berdasarkan pengaturan jenis kegiatan, akan ditentukan penggunaan lahan mikro vertikal sebagai berikut :
a. Peruntukan lantai dasar : hunian (rumah tinggal), rumah tinggal sewa (kost), warung /toko, posyandu, TK, salon, laundry, butik, wartel, balai RW / ruang pertemuan, pos jaga.
b. Peruntukan lantai atas : hunian, hunian sewa / kost. c. Peruntukan lantai basemen : tidak diijinkan
Sedangkan kegiatan sejenis yang diijinkan dalam zona perumahan formal adalah: permukiman,kegiatan perdagangan skala lingkungan (ruko) atau rukan,waralaba, pendidikan skala lingkungan (TK), jasa : salon (kecantikan) dan busana, ruang komunikasi, laundry, layanan kesehatan praktek dokter, gedung serbaguna, pos keamanan lingkungan. Berdasarkan pengaturan jenis kegiatan, akan ditentukan penggunaan lahan mikro vertikal sebagai berikut :
a. Peruntukan lantai dasar : hunian (rumah tinggal), hunian sewa, toko, kantor, praktekdokter, klinik, TK, salon, laundry, butik, wartel, gedung serbaguna/ ruang pertemuan,pos jaga.
b. Peruntukan lantai atas : hunian, hunian sewa / kost. c. Peruntukan lantai basemen : tidak diijinkan
Tabel 3.6
4. Rancangan Intensitas Pemanfaatan Lahan