• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.3 Struktur Sarang Cangak Abu dan Kuntul Besar

Dari hasil penelitian ditemukan adanya perbedaan struktur sarang Cangak Abu dan Kuntul Besar (Tabel. 3), dimana Ukuran fisik struktur sarang Cangak Abu dan Kuntul Besar di lokasi penelitian sangat berbeda, sarang Cangak Abu terlihat lebih besar dibandingkan sarang Kuntul Besar. Dilihat dari lebar sarang, sarang Cangak Abu memiliki rataan sebesar 98,5 cm sementara sarang Kuntul Besar hanya memiliki lebar 29 cm. Perbedaan mencolok juga terlihat pada variabel tinggi total sarang, dimana sarang Cangak Abu memiliki tinggi total 35 cm berbeda jauh dengan sarang Kuntul Besar yang hanya memiliki tinggi total 16,5 cm. Perbedaan ini disebabkan karena sarang Cangak Abu yang dijumpai di lokasi penelitian umumnya berbentuk mangkuk (cekung) sementara sarang Kuntul Besar umumnya berbentuk datar. Menurut Rukmi (2002), bentuk sarang yang dangkal sangat rawan, karena telur dapat terlempar keluar hanya karena angin dan sedikit gerakan dari induknya .

Tabel 3. Ukuran fisik (Rataan±Sd) sarang Cangak Abu (n=2) dan Kuntul Besar (n=2) Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Oktober 2014-Januari 2015

Variabel Cangak Abu (n=2) Kuntul Besar (n=2)

Lebar sarang (cm) 98,5±7,77 29±1,41

Panjang sarang (cm) 81±1,41 36,5±6,36 Kedalaman sarang (cm) 10,5±0,70 1,9±2,12 Tinggi total sarang (cm) 35±4,24 16,5±1,27

Bibir sarang (cm) 32±5,65 13±4,24

Berat (kg) 3,55±1,06 0,655±0,33

Perbedaan struktur sarang ke dua burung tersebut bisa jadi disebabkan karena ukuran tubuh burung. Burung Cangak Abu membangun sarang yang berukuran lebih besar dan lebih berat. Perbedaan stuktur ini diduga berhubungan dengan faktor keamanan dan kenyamanan dari telur dan anakan burung yang mendukung keberhasilan berbiak dan survivalnya. Jika dilihat dari data yang didapatkan sarang Kuntul Besar lebih beresiko telur terhempas keluar karena bentuk sarang yang datar.

Panjang sarang Cangak Abu yang didapatkan dari penelitian lebih besar yaitu sekitar 81 cm jika dibandingkan dengan panjang sarang Cangak Abu yang didapatkan Nedjah et al., (2014) yang berkisar 75 cm.

Gambar 5. Sarang Cangak Abu Gambar 6. Sarang Kuntul Besar

Dilihat dari Gambar. 5 dan 6, terdapat perbedaan antara sarang Cangak Abu dan sarang Kuntul Besar. Sarang Canggak Abu berbentuk mangkuk sehingga terdapat lekukan di tengah sarang yang berpengaruh pada kedalaman sarang, sementara sarang Kuntul Besar terlihat lebih datar. Menurut Kushlan (2011), Pada beberapa spesies sarang mulai dibangun oleh jantan, tapi umumnya dibangun

bersama-sama, betina memilih lokasi meletakkan sarang dan menentukan bentuk sarang, perilaku ini disebut tremble shoving. Menurut Rukmi (2002), susunan sarang umumnya menggunakan ranting yang paling besar pada bagian bawah sebagai platform, diikuti dengan ranting yang lebih kecil yang berfungsi sebagai penghangat telur.

Jika dibandingkan dengan hasil penelitian Rukmi (2002), panjang sarang Cangak Merah rata-rata 69,31 cm dan Kuntul Besar rata-rata 62,30 cm, kedalaman sarang Cangak Merah rata-rata 7,23 cm dan sarang Kuntul Besar rata- rata 7,85 cm dan tinggi total sarang Cangak Merah rata-rata 20,69 cm dan Kuntul Besar rata-rata 20,80 cm. Sementara dari hasil penelitian Sulistiani (1991), panjang sarang Kuntul Kecil rata-rata 26,66 x 24,36 cm, kedalaman sarang 4,11 cm, dan tebal sarang 16,40 cm.

4.1.3 Komposisi Penyusun Sarang

Dari hasil penelitian ditemukan ada perbedaan bahan penyusun sarang Cangak Abu dan Kuntul Besar (Tabel. 4 dan 5), dimana Cangak Abu cenderung memilih ranting dengan panjang 30,01-35,00 (13%), 41,05-45,00 (12,50%) cm dan 45,01- 50,00 cm (12,50%), serta diameter ranting 0,61-0,80 cm (31,50%). Sementara Kuntul Besar lebih memilih ranting dengan kisaran panjang 15,01-20,00 cm (20,16%), dan 20,01-25,00 cm (23,38%), serta diameter ranting paling dominan adalah kisaran 0,21-0,40 cm (41,12%).

Ukuran panjang ranting 0,01 – 10,0 cm tidak ditemukan disarang Cangak Abu dan Kuntul Besar, hal ini disebabkan karena ukuran tersebut terlalu pendek untuk membentuk sarang. Sedangkan ukuran panjang 75,0 – 115,0 cm tidak ditemukan pada sarang Kuntul Besar disebabkan karena ukuran sarang yang tidak terlalu besar sehingga tidak diperlukan ranting yang terlalu panjang. Sementara untuk ukuran diameter 1,81 – 2,0 cm tidak ditemukan pada sarang Cangak Abu dan Kuntul Besar disebabkan karena diameter ranting yang terlalu tebal memiliki tingkat kelenturan yang rendah sehingga sarang akan susah dibentuk. Menurut Collias & Collias (1984) dalam Rukmi (2002), ranting yang terlalu panjang sulit untuk dibawa, sementara ranting yang terlalu pendek tidak sulit dibawa tetapi sulit untuk dijalin. Sementara diameter ranting yang terlalu besar sulit dibawa dengan

paruh dan lebih sulit dijalin, serta energi yang digunakan untuk membawa ranting tersebut juga lebih banyak.

Tabel 4. Panjang Ranting-Ranting Penyusun Sarang Cangak Abu (n=2) dan Kuntul Besar (n=2) Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Oktober 2014-Januari 2015

No. Kisarang ukuran (cm) Cangak Abu (%) Kuntul Besar (%)

1. 0,01-0,5 - - 2. 0,51-10,0 - - 3. 10,1-15,00 0,50% 4,03% 4. 15,01-20,00 3% 20,16% 5. 20,01-25,00 3,50% 23,38% 6. 25,01-30,00 7% 13,70% 7. 30,01-35,00 13% 12,90% 8. 35,01-40,00 7% 10,48% 9. 40,01-45,00 12,50% 4,03% 10. 45,01-50,00 12,50% 4,83% 11. 50,01-55,00 10,50% 3,22% 12. 55,01-60,00 7,50% 1,61% 13. 60,01-65,00 8,50% 0,80% 14. 65,01-70,00 4% - 15. 70,01-75,00 6% 0,80% 16. 75,01-80,00 3% - 17. 80,01-85,00 - - 18. 85,01-90,00 0,50% - 19. 90,01-95,00 0,50% - 20. 95,01-100,00 - - 21. 100,01-105,00 - - 22. 105,01-110,00 - - 23. 110,01-115,00 0,50% -

Umumnya diameter ranting yang dipakai Cangak Abu lebih besar dibandingkan Kuntul Besar. Begitu juga dengan ukuran panjang ranting yang berbeda antara kedua jenis burung tersebut. Jika Dibandingkan penelitian Rukmi (2002), diameter ranting Cangak Merah (Ardea purpurea) yang didapatkan oleh Rukmi paling banyak (35,76%) pada kisaran 0,4-0,6 cm, Sementara diameter ranting Cangak Abu paling banyak yang didapatkan selama penelitan adalah (31,50%) pada kisaran 0,6-0,8 cm. Sedangkan diameter ranting Kuntul Besar paling banyak yang didapatkan oleh penelitian Rukmi (36,97%) adalah kisaran 0,4 – 0,6 cm, berbeda dengan diameter ranting Kuntul Besar yang didapatkan

selama penelitian (41,12%) pada kisarana 0,2-0,4 cm. Terlihat adanya perbedaan penggunaan material antar spesies burung.

Tabel 5. Diameter Ranting-Ranting Penyusun Sarang Cangak Abu (n=2) dan Kuntul Besar (n=2) Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Oktober 2014-Januari 2015

No. Kisaran ukuran (cm) Cangak Abu (%) Kuntul Besar (%)

1. 0,01-0,20 1,50% 12,09% 2. 0,21-0,40 4,50% 41,12% 3. 0,41-0,60 16% 24,19% 4. 0,61-0,80 31,50% 18,54% 5. 0,81-1,00 24% 2,41% 6. 1,01-1,20 13% 0,80% 7. 1,21-1,40 7,50% 0,80% 8. 1,41-1,60 1,50% - 9. 1,61-1,80 0,50% - 10. 1,81-2,0 - -

Sarang Cangak Abu tersusun atas 10 jenis material penyusun sarang (Tabel. 6) yang didominasi oleh R. mucronata (22%), R. apiculata (25,5%), dan ada satu jenis bahan penyusun sarang anorganik yaitu tali (0,5%). Sementara sarang Kuntul Besar tersusun atas 7 material penyusun sarang yang didominasi oleh R. mucronata (25%), R. apiculata (20,96%), dan S. alba (20,96%).

Tabel 6. Bahan Penyusun Sarang Cangak Abu (n=2) dan Kuntul Besar (n=2) Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Oktober 2014-Januari 2015

No. Nama

Indonesia Nama Latin

Cangak Abu (%)

Kuntul Besar (%)

1. Bakau merah Rhizophora mucronata 22.0% 25.0%

2. Bakau kecil Rhizophora apiculata 25.50% 20.96%

3. Pasir-Pasir Ceriops tagal 15.50% -

4. Bogem Sonneratia alba 8.50% 20.96%

5. Api-Api Avicenia officinalis 4.0% -

6. Mengkudu Morinda citrifolia 0.50% 0.80%

7. Paku Laut Acrosthicum aureum 11.0% 9.67%

8. Rumput Poace 11.5% 8.87%

9. Lidi Nypa fruticans 1.0% 13.70%

10. Tali - 0.50% -

Dilihat dari komposisi penyusun sarang, maka bahan yang digunakan adalah ranting-ranting tanaman mangrove, jarang dijumpai ranting tanaman dari

jenis tumbuhan lain selain mangrove. Hal ini berkaitan dengan lokasi bersarang, dimana lokasi bersarang kedua jenis burung tersebut merupakan kawasan tambak yang mayoritas tanamannya merupakan tumbuhan mangrove. Selain itu juga disebabkan karena ketersediaan bahan penyusun sarang yang memadai di lokasi penelitian, sehingga burung tidak perlu mencari ke lokasi lain. Menurut Collias & Collias (1984) dalam Rukmi (2002), pertimbangan material diambil disekitar lokasi berhubungan dengan efisensi penggunaan energi (energetic cost) selama pembentukan sarang. Menurut Sulistiani (1991), pemilihan jenis bahan sarang dipengaruhi oleh ketersediaan dan kelimpahan, berat dan ukuran, dan fungsi ranting. Menurut Ayas (2008), lokasi bersarang yang baik umumnya memberikan perlindungan terhadap predator, menawarkan stabilitas yang memadai dan menyediakan bahan pendukung untuk membangun sarang, serta adanya akses ke lokasi mencari makan yang dapat dijangkau.

Keamanan sarang bergantung dari pemilihan lokasi dan material yang digunakan, semakin besar ukuran tubuh maka semakin besar ranting yang digunaka. Menurut Collias dan Collias (1994) dalam Rukmi (2002), kemananan penempatan dan keamanan sarang pada sebuah pohon sangat bervariasi sesuai dengan ukuran tubuh burung dan kekuatan pohon untuk mendukung sarang tersebut. Burung dengan tubuh yang besar menggunakan ranting dan dahan yang tidak mudah diterpa oleh angin. Sedangkan burung yang berukuran sedang akan menggunakan ranting yang kecil atau semak atau keduanya. Menurut Sulistiani (1991), sementara untuk jumlah dan ukuran ranting sendiri dipengaruhi oleh posisi sarang, penginjakan oleh anakan dan induknya, dan umur (pengalaman) pembuat sarang.

Dokumen terkait