• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Usaha Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin Pemilik

BAB IV PERKEMBANGAN DAN PROFIL KOPERASI DAN UMKM PROVINSI

4.3 Struktur Usaha Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin Pemilik

Keberhasilan suatu usaha pada kelompok UMKM terutama sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang antara lain dapat dilihat dari tingkat pendidikan pemiliknya. Berdasarkan tingkat pendidikan pemilik kelompok usaha UMKM Jawa Timur dapat dikelompokkan ke dalam enam kelompok, yaitu mereka yang tidak tamat SD, tamat SD, tamat SLTP/MTs, tamat SMU/SMK/MA, Tamat D I/D II/D III dan tamat Sarjana atau lebih.

5,51 5,16 3,09

0,941,16 1,80 1,59

0,33 0,08

1,97 2,73 0,96

0,08 0,03 0,08

0,35 0,15 0,08

4,28 3,47 0,94

5,41 2,38

0,40 45,61

8,96

2,48

MIKRO KECIL MENENGAH

KOPERASI PT YAYASAN CV FIRMA PERSERO UD IUMK

BELUM ADA LEGALITAS

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

32 Dari Tabel 4.2 terlihat bahwa pemilik yang berpendidikan Tamat SLTA mempunyai persentase terbesar, yaitu 37,76 persen dan umumnya berjenis kelamin laki-laki, dengan persentase sebesar 24,11 persen, sedangkan sisanya sebesar 13,65 persen berjenis kelamin perempuan. Persentase terbesar kedua yakni pemilik usaha yang berpendidikan tamat Sarjana atau lebih dengan persentase sebesar 33,69 persen, dan umumya juga masih didominasi oleh laki-laki dengan persentase sebesar 23,45, sedangkan sisanya sebesar 10,26 persen berjenis kelamin perempuan. Sedangkan persentase terendah yakni pemilik yang berpendidikan tidak tamat SD dengan persentase sebesar 3,22 persen, dan umumnya berjenis kelamin laiki-laki, yaitu sebesar 2,04 persen, sedangkan pengusaha yang berjenis kelamin perempuan sebesar 1,18 persen.

Tabel 4.2

Persentase Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Jawa Timur Menurut Jenis Kelamin dan Pendidikan Pemilik (Persen)

Jenis Kelamin

Pendidikan

Jumlah Tidak

tamat SD Tamat SD Tamat

SLTP Tamat SLTA Tamat

D3

Sarjana (S1) atau lebih

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Laki-Laki 2,04 6,69 7,14 24,11 1,78 23,45 65,21

Perempuan 1,18 4,40 3,62 13,65 1,68 10,26 34,79

Jumlah 3,22 11,09 10,76 37,76 3,47 33,69 100.00

Sumber: Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur, 2020

4.4 Struktur Usaha Menurut Jenis Kelamin Pemilik dan Lapangan Usaha

Klasifikasi lapangan usaha yang digeluti UMKM mempengaruhi kecenderungan gender pemilik usaha. Hasil Survei K-UMKM 2020 tercatat 35 persen pengelola perusahaan/usaha UMKM berjenis kelamin perempuan sedangkan 65 persen usaha berjenis kelamin laki-laki. Hal ini berbeda pada lapangan usaha industri pengolahan dimana 52 persen pemilik usaha berjenis kelamin perempuan.

Tabel 4.3 Persentase Lapangan Usaha Menurut Jenis Kelamin Pemilik UMKM (Persen)

Kategori Lapangan Usaha Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan

Pertanian, Kehutanan Dan Perikanan 85,23 14,77

Pertambangan Dan Penggalian 90,79 9,21

Industri Pengolahan 47,63 52,37

Pengadaan Listrik, Gas, Air Panas Dan Udara Dingin 60,42 39,58 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah Dan Daur Ulang 76,09 23,91

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

33

Kategori Lapangan Usaha Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan

Konstruksi 85,09 14,91

Perdagangan Besar Dan Eceran , Reparasi Mobil Dan

Motor 64,00 36,00

Pengangkutan Dan Pergudangan 83,62 16,38

Penyediaan Akomodasi Dan Makan Minum 50,31 49,69

Informasi Dan Komunikasi 82,50 17,50

Aktivitas Keuangan Dan Asuransi 65,93 34,07

Real Estate 67,95 32,05

Aktivitas Profesional, Ilmiah Dan Teknis 74,07 25,93

Penyewaan, Sewa Guna Usaha, Ketenaga Kerjaan, Agen

Perjalanan Dan Penunjang Lainnya 75,00 25,00

Pendidikan 56,58 43,42

Kesehatan Manusia Dan Aktivitas Sosial 32,93 67,07

Kesenian, Hiburan Dan Rekreasi 88,89 11,11

Aktivitas Jasa Lainnya 58,79 41,21

Total 65,21 34,79

Sumber: Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur, 2020

4.5 Profil Pemilik UMKM menurut usia

Setidaknya ada 4 (empat) generasi yang bergelut dalam usaha mikro, kecil, dan menengah yaitu generasi baby boomers yaitu generasi yang lahir pada rentang tahun kurang dari tahun 1960, generasi x yaitu generasi yang lahir antara tahun 1961 – 1980, generasi y atau generasi millennial yaitu generasi yang lahir di tahun 1981 – 1994, dan generasi z yaitu generasi yang lahir pada tahun 1995 – 2010.

Gambar 4.4

Persentase Pemilik Usaha Menurut Jenis Kelamin (Persen)

Sumber: Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur, 2020

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

34 Dari gambar 4.4 terlihat bahwa mayoritas pemilik UMKM adalah pada generasi x yaitu sebesar 59,45 persen, kemudian generasi y – millennial, generasi baby boomers, dan generasi z masing-masing sebesar 21,9 persen, 16,4 persen, dan 2,19 persen.

4.6 Struktur Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang paling penting dalam pengembangan usaha terutama Koperasi dan UMKM. Kualitas dan kuantitas serta besaran upah gaji per tenaga kerja sangat menentukan kinerja sektor Koperasi dan UMKM. Seperti diketahui bahwa masing-masing lapangan usaha mempunyai pola struktur tenaga kerja yang berbeda antara lapangan usaha satu dengan yang lainnya sesuai dengan produk yang dihasilkan. Hal ini disebabkan oleh sifat dan kompleksitas proses produksi di masing-masing lapangan usaha yang berbeda antara satu dengan lainnya.

Jumlah tenaga kerja juga menentukan produktivitas usaha, terutama untuk jenis usaha yang membutuhkan keahlian dan pendidikan khusus sehingga kemampuan unit usaha dalam meningkatkan produksi juga tergantung jumlah tenaga kerja dan besaran upah yang diterima. Berikut adalah grafik persentase UMKM menurut jumlah tenaga kerja berdasarkan Hasil Survei koperasi dan UMKM tahun 2020 :

Gambar 4.5 Grafik Persentase UMKM menurut Jumlah Tenaga Kerja Yang Terserap

(Persen)

Sumber: Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur, 2020 1147

2484 1095

378

1 orang 2 - 4 orang 5 - 19 orang > = 20 orang

48,67%

22,47%

21,45%

7,41%

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

35 Dari Gambar 4.5 terlihat bahwa mayoritas UMKM memiliki tenaga kerja sebanyak 2 – 4 orang yaitu sebesar 48,67 persen, 22,47 persen merupakan pengelola pribadi dengan jumlah tenaga kerja 1 (satu) orang yaitu pemilik usaha itu sendiri. Sedangkan sisanya memiliki tenaga kerja lebih dari 5 orang yaitu sebesar 21,45 persen memiliki tenaga kerja 5-19 orang dan sebanyak 7,41 persen memiliki tenaga kerja lebih dari 20 orang.

4.7 Wilayah Pemasaran

Wilayah pemasaran mengindikasikan kondisi usaha serta jangkauan produk UMKM. Pada survei ini, wilayah pemasaran dikategorikan kedalam 3 (tiga) wilayah yaitu (1) lokal merupakan wilayah pemasaran produk usaha di lokal kabupaten, (2) regional merupakan wilayah pemasaran produk usaha antar kabupaten dan provinsi, dan (3) ekspor merupakan wilayah pemasaran produk usaha antar negara.

Gambar 4.6 Grafik Persentase UMKM menurut Wilayah Pemasaran (Persen)

Sumber: Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur, 2020

Dari gambar 4.6, diketahui bahwa UMKM Jawa Timur mayoritas memiliki wilayah pemasaran lokal dengan persentase sebesar 80 persen, selanjutnya 18 persen memiliki wilayah pemasaran regional serta terdapat 2 persen UMKM yang memiliki pasar ekspor.

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

36 4.8 Penggunaan Internet bagi UMKM

Di era digital saat ini, UMKM terus didorong untuk adaptif dengan internet. Pelaku UMKM harus tanggap dalam menghadapi perubahan dan transformasi digital sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing. Terdapat peningkatan yang cukup signifikan terhadap penggunaan internet oleh UMKM. Hasil Survei Ekonomi 2016 Lanjutan menunjukkan bahwa terdapat 11% UMKM yang menggunakan internet.

Jumlah tersebut meningkat pada tahun 2020 menjadi 56% pada Survei KUMKM untuk Perhitungan Nilai Tambah Bruto KUMKM Tahun 2020. Hal ini menunjukkan animo UMKM dalam melakukan transformasi digital yang sangat masif.

Gambar 4.7 Grafik Persentase UMKM menurut Penggunaan Internet (Persen)

Sumber: SE 2016 dan Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur, 2020

4.9 Perkembangan Nilai Output/ Nilai Produksi Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur Menurut Lapangan Usaha Tahun 2018 -2020

Koperasi dan UMKM merupakan kegiatan usaha yang disinyalir mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi yang lebih mudah kepada masyarakat, disamping itu K-UMKM juga dapat berperan dalam mendukung peningkatan pendapatan masyarakat. Akan tetapi terdapat berbagai macam permasalahan yang dihadapi baik masalah internal maupun eksternal yang meliputi aspek usaha terutama keterkaitan dengan permodalan dan pasar. Namun demikian jika seluruh unit usaha Koperasi dan UMKM mendapatkan kesempatan dan binaan yang sama oleh berbagai instansi terkait, kemungkinan peranan Koperasi dan UMKM akan jauh lebih

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

37 optimal, karena unit usaha ini disinyalir mampu bertahan saat terjadi krisis ekonomi

maupun dampak melemahnya ekonomi global bahkan survive di masa pandemic covid-19. Informasi mengenai omzet K-UMKM dapat digunakan baik sebagai indikator

untuk melihat skala usaha dan kinerja usahanya, juga sebagai analisis gambaran berkembangnya usaha K-UMKM di Jawa Timur. Semakin besar omset suatu K-UMKM, makin besar pula skala dan kinerja usaha K-UMKM tersebut untuk bisa naik kelas.

Tabel 4.4. Perkembangan Rata-Rata Omzet/Output/Tahun Koperasi dan UMKM Menurut Lapangan Usaha Tahun 2016 - 2018

(Juta Rupiah)

Lapangan Usaha 2018 2019 2020

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 938.498,49 787.161,68 738.981,80 Pertambangan dan Penggalian 54.676,55 17.148,84 16.047,04

Industri Pengolahan 506.571,68 525.651,40 392.422,50

Pengadaan Listrik dan Gas 59.052,83 57.728,47 28.220,26 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 3.407,18 3.484,28 1.615,89

Konstruksi 92.396,17 75.990,64 46.546,70

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor 254.701,76 249.734,62 207.935,84 Transportasi dan Pergudangan 205.772,33 311.612,41 257.488,22 Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 682.110,90 286.334,24 154.966,03

Informasi dan Komunikasi 6.117,12 6.494,12 5.634,14

Jasa Keuangan dan Asuransi 55.014,45 194.549,63 50.860,81

Real Estate 21.773,89 22.245,20 13.812,23

Jasa Perusahaan 87.079,44 127.306,71 65.457,84

Jasa Pendidikan 63.050,29 64.106,96 84.779,09

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 14.645,23 16.147,31 18.174,32

Jasa lainnya 26.061,48 24.258,32 15.865,37

Sumber: Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur, 2020

Dari Tabel 4.4 nampak bahwa pada Tahun 2020, nilai omzet K-UMKM pada tahun 2020 mengalami penurunan kecuali pada jasa Kesehatan dan jasa sosial. Hal ini sebagai dampak dari adanya pandemic covid-19 yang terjadi pada tahun 2020 sehingga menurunkan tingkat mobilitas masyarakat serta penurunan daya beli masyarakat. Kondisi tersebut sangat terasa pada lapangan usaha industri pengolahan, dimana pada tahun 2020 mengalami penurunan hingga 25% menjadi 392, 4 milyar. Oleh karena itu, pada tahun 2021 pemulihan ekonomi K-UMKM menjadi fokus pemerintah mulai tingkat nasional hingga daerah sehingga K-UMKM dapat bangkit sehingga mengalami peningkatan omset usahanya.

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

38 Gambar 4.8. Persentase Sebaran Total Nilai Output/ Nilai Produksi Koperasi dan

UMKM di Jawa Timur menurut Lapangan Usaha Tahun 2020 (Persen)

Sumber: Hasil Pengolahan Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur, 2020

Dari Gambar 4.8 nampak output/ nilai produksi tertinggi dihasilkan oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yaitu sebesar Rp. 738 milyar atau sebesar 35,21 persen, sedangkan industri pengolahan menduduki peringkat kedua dengan nilai omzet Rp. 392 milyar atau sebesar 18,70 persen dari total nilai produksi K-UMKM di Jawa Timur. Sedangkan output/ nilai produksi yang terendah adalah di kategori lapangan usaha Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang yaitu sebesar Rp.1,6 milyar atau sebesar 0,02 persen dari total nilai produksi K-UMKM di Jawa Timur.

4.10 Persepsi Pengusaha Terhadap Keyakinan Usaha Kedepan

Persepsi pengusaha berpengaruh terhadap kinerja perusahaan di masa mendatang.

Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami informasi tentang lingkungannya yang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Hasil survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur tahun 2020 sebagian besar pelaku usaha Koperasi dan UMKM menyatakan optimis bahwa usaha UMKM akan beroperasi jika pandemic covid-19 ini selesai, dengan angka sebesar 40,28 persen dari seluruh responden terplih menyatakan sangat yakin,

35,21

18,70 12,27

9,91 7,38

4,04 3,12 2,42 2,22 1,34 0,87 0,76 0,76 0,66 0,27 0,08

5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Industri Pengolahan Transportasi dan Pergudangan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Jasa Pendidikan Jasa Perusahaan Jasa Keuangan dan Asuransi Konstruksi Pengadaan Listrik dan Gas Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Pertambangan dan Penggalian Jasa lainnya Real Estate Informasi dan Komunikasi Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

39 sementara 55,99 persen menyatakan yakin, dan 3,73 persen tidak yakin kedepan akan masih dapat berusaha. Secara rinci, persepsi pengusaha di berbagai kategori lapangan usaha ditunjukkan pada Gambar 4.9

Gambar 4.9. Persentase Koperasi dan UMKM Terhadap Keyakinan Berusaha Jika Pandemi Covid-19 selesai

(%)

Sumber: Hasil Pengolahan Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur, 2020

Persepsi Koperasi dan UMKM terhadap keyakinan berusaha disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya karena usaha UMKM tersebut merupakan pekerjaan utama, jiwa kewirausahaan yang dimiliki oleh UMKM, pelestarian warisan budaya, dan beberapa faktor lain seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.10.

Gambar 4.10. Faktor yang mempengaruhi Koperasi dan UMKM Terhadap Keyakinan Berusaha Jika Pandemi Covid-19 selesai

(%)

Sumber: Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur, 2020

TIDAK YAKIN YAKIN SANGAT YAKIN

55,99%

40,28%

3,73%

45,8

4,23

25,4

2,15 6,78

15,7

MERUPAKAN PEKERJAAN

UTAMA

TIDAK TERDAMPAK

COVID

BANGKIT DAN

BERUSAHA REZEKI SUDAH ADA YANG MENGATUR

WARISAN

BUDAYA LAINYYA

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

40 Dari gambar 4.10 diketahui bahwa 45,8 persen UMKM menjadikan usaha mereka sebagai usaha utama yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga mereka terus berusaha untuk bertahan di masa pandemic covid-19 ini. Di sisi lain, terdapat 2,15 persen UMKM yang pasrah dengan kondisi yang ada, oleh karena itu diperlukan peningkatan jiwa kewirausahaan pada Koperasi dan UMKM di masa pandemic covid-19 ini.

4.11 Kendala-Kendala Yang Dihadapi Koperasi dan UMKM

Koperasi dan UMKM terbukti merupakan pelaku usaha yang tahan banting dalam situasi ekonomi apapun, dan sudah dapat dibuktikan saat adanya krisis ekonomi beberapa tahun silam. Akan tetapi, ditengah ketangguhan Koperasi dan UMKM terdapat beberapa kesulitan yang mereka hadapi. Kesulitan yang paling dominan adalah di bidang permodalan yaitu sebanyak 37 persen. Kemudian kesulitan kedua adalah di bidang pemasaran sebanyak 35 persen, kemudian pada SDM sebanyak 12 persen bahan baku sebanyak 11 persen serta distribusi/ transportasi sebanyak 4 persen. Modal dan pasar memiliki peran penting dalam kelancaran usaha, dan pada umumnya modal dan pasar, terutama modal menjadi kunci utama bagi pengembangan perusahaan/usaha khususnya para pelaku usaha kecil dan mikro.

Gambar 4.11. Persentase Usaha Koperasi dan UMKM Menurut Kesulitan Yang Dihadapi di Jawa Timur (%)

Sumber: Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur, 2020

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

41 4.12 Bimbingan, Pelatihan dan Penyuluhan Yang Diselenggarakan Oleh

Pemerintah.

Seperti pada pembahasan sebelumnya bahwa untuk meningkatkan nilai tambah Koperasi dan UMKM dalam rangka meningkatkan kinerja dan peranannya dalam mendukung perekonomian Jawa Timur, pemerintah melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Timur bersinergi dengan Organisasi Perangkat Daerah serta intansi lain telah berupaya untuk melakukan pembinaan dan pemberdayaan kepada koperasi dan UMKM dalam segala aspek baik dalam hal kelembagaan, produksi, permodalan, maupun pemasarannya. Berdasar pada Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah terdapat pembagian kewenangan dalam pemberdayaan Koperasi dan UMKM di Jawa Timur, dimana usaha mikro menjadi kewenangan dari Kabupaten/ Kota sedangkan usaha kecil menjadi kewenangan Provinsi.

Dengan pembagian tugas ini diharapkan Koperasi dan UMKM di segala lini mendapatkan kemudahan dan kesempatan untuk pelayanan yang lebih baik dari Pemerintah khususnya dalam pembinaan secara keseluruhan.

Pada gambar 4.12, terlihat bahwa sekitar 69 persen Koperasi dan UMKM di Jawa Timur belum mendapat intervensi pembinan dari pemerintah, terbanyak adalah mereka yang berusaha di lapangan usaha perdagangan besar dan eceran reparasi mobil dan motor dan lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan. hal ini disebabkan kedua lapangan usaha tersebut memiliki jumlah usaha yang cukup besar dibandingkan lapangan usaha lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya sinergi dengan berbagai pihak khususnya Instansi Pemerintah lainnya dalam rangka ikut membina dan memajukan koperasi dan UMKM di Jawa Timur .

Gambar 4.12 Persentase Usaha Koperasi Dan UMKM Pembinaan di Jawa Timur Tahun 2020 (Persen)

Sumber: Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM di Jawa Timur, 2020

Dari gambar 4.12 dapat diketahui bahwa fasilitasi/ pembinaan yang diberikan kepada Koperasi dan UMKM sudah sesuai dengan permasalahan yang dialami oleh Koperasi dan UMKM dimana mayoritas pembinaan adalah pada aspek pemasaran dan

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

42 permodalan dengan persentase masing-masing sebesar 9,92 persen dan 9,55 persen.

Selanjutnya pembinaan dilakukan dalam aspek legalitas/ ijin usaha, bahan baku, serta distribusi/ tramsportasi dengen persentase masing-masing sebesar 5,21 persen, bahan baku 4,34 persen, dan 1,98 persen. Sedangkan sisanya 15 persen mendapatkan pembinaan pelatihan SDM dan lainnya.

Gambar 4.13 Pembinaan Pada Aspek Pemasaran

Pelepasan Keberangkatan Ekspor Produk UKM oleh Bapak Wakil Gubernur Jawa Timur

Webinar Bincang Bisnis dengan Tema Strategi Menaklukkan Pasar Ekspor Global

Kerjasama Pemasaran dengan Grabfood

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

43 Gambar 4.14 Pembinaan Pada Aspek Pembiayaan

Gambar 4.15 Pembinaan Pada Aspek Kelembagaan Penguatan Kelembagaan pada Koperasi

Penyaluran Pembiayaan kepada KSPPS BMT UGT Sidogiri Kab. Pasuruan

Penyaluran Pembiayaan Dana Bergulir untuk UKM dari Bank UMKM

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

44 Gambar 4.16 Pembinaan Pada Aspek Produksi

Pengajuan Merk Produk dan Uji Lab Produk K-UKM

Gambar 4.17. Pembinaan pada Aspek Peningkatan SDM K-UMKM Melalui e-learning SiJAWARA

Konsultansi Online BDC Jawa Timur

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

45 BAB V

PERANAN KOPERASI DAN UMKM

TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA TIMUR TAHUN 2018 – 2020

5.1. Nilai Tambah Buto Koperasi dan UMKM Jawa Timur Tahun 2018-2020 Pada dasarnya, Nilai Tambah Bruto merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu wilayah pada periode waktu tertentu. Nilai Tambah Bruto dapat dihitung atas dasar harga berlaku dan harga konstan. Nilai Tambah Bruto atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga berlaku setiap tahunnya. Sementara itu, Nilai Tambah Bruto atas harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar.

Pada laporan kegiatan perhitungan nilai tambah bruto Koperasi dan UMKM ini menyesuaikan tahun dasar yang digunakan untuk penyusunan PDRB Jawa Timur tahun terakhir yaitu tahun 2010.

Nilai Tambah Koperasi dan UMKM Jawa Timur menurut lapangan usaha ini hanya mencakup 16 kategori lapangan usaha mengikuti Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2015, tetapi salah satu kategori yang merupakan kegiatan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib tidak termasuk dalam usaha UMKM.

Hasil penghitungan Nilai Tambah dari pengolahan kegiatan survei perhitungan nilai tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur tahun 2020 yang dilaksanakan oleh Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Timur selama tahun 2018 - 2020 secara keseluruhan diperoleh besaran nilai tambah Koperasi

dan UMKM Provinsi Jawa Timur atas dasar harga berlaku masing-masing sebesar Rp. 1.246, 61 trilyun, Rp. 1.343,2 trilyun, dan Rp. 1.316,39 trilyun. Angka tersebut

menunjukkan adanya peningkatan pada tahun 2019, akan tetapi pada tahun 2020 mengalami penurunan akibat dampak covid-19. Angka tersebut selaras dengan kondisi perekonomian Jawa Timur yang mengalami kontraksi. Tahun 2020 merupakan masa sulit bagi UMKM dimana terjadi pembatasan mobilitas masyarakat, serta perubahan pola konsumsi masyarakat sehingga terdapat beberapa komoditas UMKM yang

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

46 mengalami penurunan pendapatan di sisi lain beberapa komoditas UMKM juga ada yang mengalami kenaikan khususnya produk pertanian.

Sumber: Survei Kegiatan Perhitungan Nilai Tambah K-UMKM, 2020

Dari Gambar 5.1 terlihat perkembangan nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh Koperasi dan UMKM Jawa Timur baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan menunjukan peningkatan pada tahun 2018 dan tahun 2019 sedangkan pada tahun 2020 mengalami penurunan. Pada tahun 2018 total nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku yang dihasilkan oleh seluruh koperasi dan UMKM di Jawa Timur mencapai angka sebesar Rp. 1.246,61 trilyun, selanjutnya meningkat menjadi sebesar Rp. 1.343,20 trilyun pada tahun 2019 kemudian pada tahun 2020 mengalami penurunan menjadi sebesar Rp.1.316,39 trilyun. Angka ini sebagai dampak pandemic covid-19 yang terjadi pada tahun 2020. Sementara jika dilihat dari besaran nilai tambah bruto atas dasar harga konstan’2010 juga menunjukan kondisi yang tidak jauh berbeda. Pada tahun 2018 total capaian nilai tambah bruto Koperasi dan UMKM sebesar Rp 866,4 trilyun, tumbuh 5,78 persen atau menjadi sebesar Rp. 916,89 trilyun pada tahun 2018.

Selanjutnya pada tahun 2019 mengalami konstraksi jika dibandingkan dengan tahun 2018 yaitu menjadi sebesar Rp. 866,58 trilyun atau mengalami konstraksi sebesar 3,31 persen. Hal ini sebagai akibat dampak covid-19 yang mengakibatkan terjadinya kontraksi pada hampir semua lapangan usaha kecuali lapangan usaha pertanian, kehutanan, dna perikanan; pengadaan listrik dan gas; pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang; informasi dan komunikasi; serta jasa pendidikan.

1.246,60 1.343,20 1.316,39

Gambar 5.1. Total Nilai Tambah Bruto K-UMKM Tahun 2018 - 2020

ADH Berlaku ADH Konstan' 2000 Pertumbuhan

Trilyun persen

Publikasi Hasil Perhitungan Nilai Tambah Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Tahun 2020

47 Di sisi lain, peranan Koperasi dan UMKM pada perekonomian Jawa Timur mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari kontribusi nilai tambah bruto Koperasi dan UMKM terhadap total PDRB Jawa Timur. Share NTB Koperasi dan UMKM pada tahun 2018 adalah sebesar 56,93 persen meningkat menjadi 57,26 persen pada tahun 2019 dan pada tahun 2020 di masa pandemic covid-19 juga tidak jauh berbeda dengan tahun 2019 yaitu sebesar 57,25 persen. Kondisi tersebut menunjukkan geliat kinerja koperasi dan UMKM yang terus bertahan dan berusaha untuk membangkitkan usahanya sehingga dapat pulih serta berdaya saing.

5.2. Nilai Tambah Bruto Koperasi dan UMKM di Jawa Timur Menurut Lapangan Usaha Tahun 2018-2020.

Pertumbuhan nilai tambah Koperasi dan UMKM Jawa Timur secara total (Gambar 5.1), terlihat pada tahun 2018 dan 2019 mengalami pertumbuhan, sedangkan

Pertumbuhan nilai tambah Koperasi dan UMKM Jawa Timur secara total (Gambar 5.1), terlihat pada tahun 2018 dan 2019 mengalami pertumbuhan, sedangkan