• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Studi Empiris Kentang

Sunaryono (2007) menyebutkan bahwa tanaman kentang dalam taksonomi tumbuhan termasuk dalam Divisi Spermatopyta, Subdivisi Angiospermae, Kelas Dicotyledanae, Ordo Tubiflorae, Famili Solanaceae, Genus Solanum, dan Spesies Solanum tuberesum L. Tanaman kentang termasuk jenis tanaman sayuran. Tanaman sayuran adalah tanaman sumber vitamin, garam mineral dan lain-lain yang di konsumsi dari bagian tanaman yang berupa buah, biji, bungan, daun, batang, dan umbi. Pada umunya berumur kurang dari setahun, baik ditanam di daerah dataran tinggi atau rendah maupun di ditanam di lahan sawah atau kering.

Kentang termasuk jenis tanaman sayuran semusim, berumur pendek, dan berbentuk perdu atau semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi, setalah itu mati. Tanaman kentang tergolong tanaman yang tidak dapat tumbuh di sembarang tempat. Keadaan lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kentang disamping teknis penanaman yang benar. Kentang dapat tumbuh di daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 500 – 300 meter di atas permukaan laut. Namun idealnya kentang ditanam antara 1000 – 1500 di atas permukaan laut dengan suhu udara sekitar 18 – 21 derajat Celcius dan kelembaban udara sekitar 80 – 90 persen. Suhu

dan kelembaban yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menghambat pertumbuhan kentang. Curah hujan yang sesuai untuk tanaman kentang adalah 1500 milimeter per tahun dengan panjang penyinaran sekitar sepuluh jam per hari Sunaryono (2007).

Budidaya kentang secara umum dimulai dari tahap persiapan bibit, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, dan panen. Jumlah bibit yang diperlukan tergantung jarak tanam. Pengaturan waktu tanam, pengaturan jarak tanam, dan cara menaman meruapakan hal-hal yang berpengaruh selama kegiatan penanaman kentang. Kegiatan pemeliharaan meliputi pemupukan, pengairan, penyiangan, pembumbunan, pengaturan pola tanam, dan pemangkasan bunga. Pemeliharaan tanaman diperlukan untuk menjaga agar pertumbuhan tanaman kentang tetap sehat dan normal. Kentang dipanen pada usia 90 – 120 hari dengan cara menggali menggunakan cangkul dan sebaiknya dilakukan pada pagi dan sore hari saat cuaca cerah (Samadi, 2007 dalam Utami, 2011)

Sailah (1999) dalam penelitiannya tentang kajian pasar kentang mendapatkan bahwa petani kentang di Pulau Jawa pada umumnya menjual hasil produksi kentangnya kepada pedagang pengumpul. Namun pedagang pengumpul yang datang ke petani, bukan petani yang membawa hasil produksi ke pedagang. Petani biasanya berhubungan dengan pedagang tertentu dan didasarkan atas dasar kepercayaan. Tidak semua petani menjual hasil produksi kepada pedagang pengumpul, beberapa petani memiliki kontrak dengan industri pengoleh seperti Indofood. Ada juga petani yang menjual kepada petani besar dengan sistem titip jual yang umumnya sudah memiliki jaringan pemasaran yang baik. Ada juga petani yang langsung menjual ke pasar tradisional namun jumlahnyaa relatif sedikit. Sunaryono (2007) juga menyebutkan bahwa perkembangan kentang di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni (1) Peluang pasar dan permintaan konsumen, (2) Lahan dan kondisi agroklimat, (3) Tingat keuntungan, dan (4) Ketersedian bibit dan modal.

Andrawati (2011) dalam penelitiannya tentang Efisinesi Teknis Usahatani Kentang dan Faktor yang Mempengaruhi di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara menyebutkan bahwa usahatani yang dilakukan dilakukan secara turun-temurun dan dengan tingkat intensitas yang tinggi akan berpotensi

menurunkan tingkat produktivitas yang dihasilkan. Berdasarkan hal tersebut tujuan penelitian ini untuk mengetahui efisiensi teknis usahatani kentang dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis usahatani kentang di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara. Analisis yag digunakan yaitu fungsi produksi Stochastic Frontier. Dari hasil Stochastic Frontier diperoleh bahwa varibel yang bernilai positif dan berpengaruh signifikan terhadap produksi kentang yakni benih dan pupuk organik. Sedangkan berdasarkan model inefisiensi teknis pengalaman usahatani, pendidikan formal, dan luas lahan merupakan faktor yang memberikan pengaruh negatif dan faktor umur merupakan satu-satunya faktor yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap inefisiensi teknis usahatani kentang.

Imamudin (2003) dan Haris (2007) menggunakan metode IFE, EFE, matriks IE, dan analisis SWOT untuk menganalisis secara kualitatif. Imamudin (2003) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Strategi Perusahan dan Pemasaran Bibit kentang PT Dafa Teknoagro Mandiri melihat permasalahan yang dihadapi yakni tidak tercapainya target penjualan perusahaan sehingga tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi, memformulasi, dan memilih strategi pemasaran untuk meningkatkan volume penjualan bibit kentang perusahaan. Berdasarkan analisis menggunakan metode tersebut ditetapkan prioritas operasional strategi pemasaran pada produk premium dengan meningkatkan mutu kentang, harga yang tinggi, meningkatkan promosi langsung petani kentang dan para penangkar bibit, dan distribusi dengan ketepatan waktu produksi dan service yang baik merupakan strategi positioninguntuk produk bibit kentang perusahaan.

Haris (2007) yang meneliti Pengembangan Usaha Benih Kentang Bersertifikat di Harry Farm, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani benih kentang bersertifikat yang diperoleh Harry farm, menganalisis lingkungan internal dan lingkungan eksternal Harry Farm, dan merumuskan strategi pengembangan usaha benih kentang bersertifikat pada Harry Farm. Harry Farm merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi kentang dan bibit kentang bersertifikat, untuk menemukan gambaran bisnisnya ke depan Harry Farm harus memilki strategi sehingga dapat menembangkan usahanya dengan baik. Perbedaan antara dua penelitian ini yakni

penggunaan metode Rasio Penerimaan dan Biaya (R/C) untuk menganalisis aspek usahatani.

Berdasarkan Analisis Rasio Penerimaan dan Biaya (R/C) kegiatan usahatani yang dilakukan sudah efisien dan perlu ditingkatkan, sedangkan analisis SWOT menjabarkan strategi S-O antara lain mempertahankan dan meningkatkan mutu produk dan mempertahankan dan menarik pelanggan potensial, memperluas wilayah pemasaran, memberikan layanan purna jual, mempertahankan dan meningkatkan product image dan delivery on time. Strategi W-O antara lain, pembenahan manajemen SDM, mengadakan pelatihan tenaga kerja untuk meningkatkan profesionalisme, dan meningkatkan promosi secara efektif dan efisien serta kinerja divisi keamanan. Strategi S-T yaitu, meningkatkan keunggulan produk dan citra produk untuk menghadapi ancaman pesaing dan produk subsitusi, dan meningkatkan efisiensi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Untuk strategi W-T, mengoptimalkan kegiatan produksi, meningkatkan kerjasama dengan distributor dan pemasok untuk menjaga kontinuitas produksi.

Hakim (2002) meneliti tentang Analisis Pendapatan dan Risiko dalam Diversifikasi Usaha Agribisnis Kentang di perusahaan keluarga PD Hikmah Kecamatan Pangalengan Kabupaten Jawa Barat. Perkembangan dan pola permintaan komoditas kentang yang tidak stabil serta ketersediaan sumberdaya lahan yang terbatas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan dan risiko usaha agribisnis kentang PD Hikmah. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk menganlisis tingkat pendapatan dan risiko dalam usaha agribisnis kentang sayur dan kentang olahan, menghitung tingkat korelasi pendapatan antara usaha agribisnis kentang sayur dan kentang olahan, serta menentukan alternatif komposisi diversifikasi antara komoditas kentang sayur dan kentang olahan yang dapat menghasilkan tingkat pendapatan dan risiko yang optimal. Metode yang digunakan antara lain R/C, analisis risiko dan analisis portofolio.

Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa perbedaan perlakuan budidaya dan pemasaran mengakibatkan meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan. Kentang olahan lebih efisien dibandingkan kentang sayur, karena R/C kentang

olahan (1,44) lebih besar dibandingkan kentang sayur (1,38). Selain itu kentang olahan juga memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan usaha kentang sayur. Namun pengusahaan kentang sayur dan olahan masih memiliki peluang kerugian, dikarenakan kedua jenis budidaya tersebut memiliki nilai batas bawah yang negatif. Dan diversifikasi yang diterapkan dengan kombinasi budidaya kentang sayur dengan olahan belum dikatakan efektif untuk menghasilkan tingkat pedapatan usaha yang aman. Hasil studi empiris kentang yang berkaitan dengan penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Studi Empiris Yang Berkaitan dengan Penelitian

Studi Empiris Mengenai Kentang

No. Penulis Judul Alat Analisis

1.

Al Haris (2007)

Pengembangan Usaha Benih Kentang Bersertifikat di Harry Farm, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat

(1) R/C (2) IFE, EFE, IE (3) SWOT 2. Andrawati (2011)

Efisinesi Teknis Usahatani Kentang dan Faktor yang Mempengaruhi di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara

(1) Stochastic Frontier

3.

Hakim (2002)

Analisis Pendapatan dan Risiko dalam Diversifikasi Usaha Agribisnis Kentang, Kasus pada PD Hikmah, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

(1) R/C (2) Analisis Risiko (3) Analisis Portofolio 4 Imamuuddin (2003)

Analisis Strategi Perusahaan dan Pemasaran Bibit Kentang PT Dafa Teknoagro Mandiri

(1) IFE, EFE, IE (2) SWOT

5 Sunaryono

(2007) Petunjuk Praktis Budidaya Kentang 6 Sailah

(1999) Kajian Pasar Kentang

Studi Empiris Mengenai Dayasaing

1.

Dewanata (2011)

Analisis Dayasaing dan Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Jeruk Siam di Kabupaten Garut Jawa Barat (1) PAM (2) Analisis Sensitivitas 2. Pupitasari (2011)

Analisis Dayasaing dan Dampak Kebijakan Permerintah Terhadap Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok (1) PAM (2) Analisis Sensitivitas 3. Fadillah (2011)

Analisis Dayasaing Komoditas Unggulan Perikanan Tangkap di Kabupaten Sukabumi (1) Location Quotient (2) Metode Berlian Porter 4. Oguntade (2007)

Assessment Of Protection and Comparatif Advantage In Rice Processing in Nigeria

(1) PAM

5. Babiker, et.al (2010)

Sudanese Live Sheep and Mutton Export Competitiveness

(1) PAM

6 World Bank (2005)

Moldova Agricultural Policy Notes: Agricultural Market

(1) PAM

7 Yao (1997) Rice Production in Thailand Seen Through a Policy Analysis Matrix.

III.

KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Dayasaing

Perdagangan Internasional merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara lainnya. Perdagangan internasional terjadi karena beberapa hal, diantaranya perbedaan dalam keragaman sumberdaya dan pengelolaannya, perbedaan selera (preferensi) masing-masing negara, dan perbedaan biaya. Perbedaan dalam keragaman sumberdaya berhubungan dengan faktor-faktor yang secara alamiah dimiliki oleh negara tertentu. Selain itu perdagangan dapat saling menguntungkan atas dasar perbedaan selera (preferensi) dimasing-masing negara. Perbedaan biaya berkaitan dengan biaya produksi, yang menyebabkan setiap negara akan berspesialisasi dalam memproduksi komoditasnya. Jika negara-negara melakukan spesialisasi, maka skala ekonomi akan tercapai dan biaya produksi per unit akan semakin murah. Selain itu hubungan saling ketergantungan antara negara satu dengan yang lain dan peranan perdagangan internasional dari setiap negara akan berkembang dan menjadi penting. Namun dayasaing tidak hanya mencakup suatu negara, melainkan juga dapat ditetapkan pada suatu komoditas, sektor atau bidang, dan wilayah.

Esterhuizen et.al (2008) dalam Daryanto (2009) mendefinisikan “Dayasaing sebagai kemampuan suatu sektor, industri, atau perusahaan untuk bersaing dengan sukses untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan di dalam lingkungan global selama biaya imbangannya lebih rendah dari penerimaan sumberdaya yang digunakan”. Dengan kata lain, dayasaing merupakan suatu konsep yang menyatakan suatu produsen untuk menghasilkan produk sesuai dengan permintaan konsumen dengan mutu yang cukup baik dan biaya produksi rendah. Dengan asumsi biaya produksi rendah sehingga produk dapat di produksi dan di pasarkan oleh produsen sehingga dapat mempertahankan keberlangsungan produksinya.

Wignaraja (2000) menyatakan bahwa konsep dayasaing terdiri dari dua aspek yang berbeda, yakni konsep dayasaing ekonomi mikro dan ekonomi makro. Dayasaing mikro secara umum didefinisikan sebagai kemampuan suatu

perusahaan atau usahatani bertambah besar, baik dari segi pangsa pasar dan profit. Sedangkan konsep dayasaing makro koheren dengan dayasaing suatu negara atau perekonomian. Sehingga mendefinisikan dayasaing adalah kemampuan suatu negara dalam pasar terbuka untuk menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan selera konsumen asing dan mempertahankan dan memperluas tingkat pendapatan domestiknya. Sedangkan Cockburn et.al.(1998) dalam Babiker (2010) mendefinisikan dayasaing adalah kemampuan untuk menjual produk yang menguntungkan dan untuk menjadi kompetitif, produsen harus melemahkan harga atau menawarkan produk-produk yang lebih baik dari segi kualitas atau pelayanan yang lebih baik dibandingkan dengan kompetitornya.

Pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur dayasaing suatu komoditi adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan dan efisiensi dalam pengusahaan komoditas tersebut. Keuntungan dapat dilihat dari dua sisi, yakni keuntungan privat dan keuntungan sosial. Sementara itu, efisiensi pengusahaan komoditas dapat dilihat dari dua indikator yaitu keunggulan komparatif dan kompetitif. Berdasarkan hal tersebut konsep dayasaing yang digunakan adalah dayasaing menurut Esterhuizen et.al (2008) dalam Daryanto (2009), dimana memungkinkan ditingkat produsen suatu komoditi dapat memiliki keunggulan komparatif yakni memiliki biaya opprtunity costyang relatif lebih rendah, namun ditingkat konsumen komoditi tersebut tidak memiliki keunggulan kompetitif karena adanya distorsi pasar. Sebaliknya karena ada intervensi dari pemerintah suatu komoditi memiliki keunggulan kompetitif namun tidak memiliki keunggulan komparatif.

3.1.2 Keunggulan Komparatif

Sudaryanto dan Simpatupang (1993) dalam Daryanto (2009) menyebutkan bahwa konsep keunggulan komparatif merupakan ukuran dayasaing (keunggulan) potensial dalam artian dayasaing yang akan dicapai apabila perekonomian tidak mengalami distorsi. Dengan kata lain komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dikatakan juga memiliki keunggulan efisiensi secara ekonomi. Istilah keunggulan komparatif (Comparative Adventage) pertama kali dikenalkan oleh David Ricardo, yang menyatakan bahwa meskipun suatu negara kurang efisien dibanding dengan negara lain dalam memproduksi dua komoditi, namun masih

dapat melakukan perdagangan yang saling menguntungkan untuk kedua belah pihak, dengan asumsi proporsi kerugian absolut satu negara pada komoditi tersebut tidak sama (Salvaltore, 1997). Kelemahan keunggulan komparatif yang dikemukakan oleh David Ricardo ini hanya didasarkan pada perbedaan produktivitas setiap tenaga kerja saja. Tenaga kerja bukanlah satu-satunya faktor produksi yang berpengaruh dalam menentukan keunggulan komparatif melainkan masih terdapat faktor lain seperti teknologi, modal, tanah, dan sumberdaya lainnya.

Teori keunggulan komparatif disempurnakan dengan Teori Biaya Imbangan (Opportunity Cost Teory). Teori ini berdasarkan biaya imbangan, biaya sebuah komoditi adalah jumlah komoditi kedua yang harus dikorbankan untuk memperoleh sumberdaya yang cukup untuk memproduksi satu unit tambahan komoditi pertama, artinya setiap negara yang memiliki biaya imbangan lebih rendah dalam memproduksi sebuah komoditi akan memiliki keunggulan komparatif dalam komoditi tersebut dan memiliki kerugian komparatif dalam kondisi kedua (Salvaltore, 1997).

Heckscher dan Ohlin melakukan perbaikan terhadap hukum keunggulan komparatif yang dikemukakan oleh David Ricardo. Heckscher dan Ohlin menyatakan bahwa setiap negara akan melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor komoditi yang banyak menyerap faktor produksi yang tersedia di negara itu dalam jumlah dan harga yang relatif murah, serta mengimpor komoditi yang padat dengan faktor produksi yang mahal dan langka (Salvaltore, 1997). Keunggulan komparatif akan menjadi ukuran dayasaing, apabila perekonomian tidak mengalami gangguan atau distorsi. Pearson et.al. (2005) mengemukakan bahwa keunggulan komparatif bersifat dinamis, dengan kata lain keunggulan komparatif tidak stabil dan dapat diciptakan karena dipengaruhi oleh perubahan dalam sumberdaya alam, perubahan faktor-faktor biologi, perubahan harga input, perubahan teknologi, dan biaya transportasi. Suatu daerah yang memiliki keunggulan komparatif di sektor tertentu secara potensial harus mampu mempertahankan dan bersaing dengan negara lain. Komoditas yang memilki keunggulan komparatif dapat dikatakan telah mencapai efisiensi ekonomi yang terkait dengan kelayakan secara ekonomi. Artinya kelayakan ekonomi menilai

aktivitas ekonomi bagi masyarakat secara general atau menyeluruh, tanpa meliihat siapa yang terlibat dalam aktivitas ekonomi tersebut.

3.1.3 Keunggulan Kompetitif

Konsep keunggulan kompetitif (Competitive Adventage) dikembangkan oleh M. Porter. Menurut Porter dalam Daryanto (2009), dalam era persaingan global saat ini suatu negara yang memiliki competitive adventage of nation dapat bersaing di pasar internasional bila memiliki empat faktor penentu yakni, pertama, factor conditions yakni posisi negara dalam pengusaan faktor produksi, seperti tenaga kerja terampil atau infrastruktur. Kedua, Demand Conditions, berupa besarnya permintaan pasar domestik untuk produk-produk dan jasa-jasa industri. Ketiga, Relating and supporting industries, berupa kehadiran industri pemasok atau pendukung dan lain-lain dalam suatu negara sangat berkaitan dengan kemampuan dayasaing industri-industri di pasar internasional. Keempat, Firm strategy, structure and rivalary,yakni kondisi permerintahan di dalam suatu negara begaimana perusahaan diciptakan, diorganisasi dan dikelola, sebaik persaingan domestik secara ilmiah.

Keunggulan kompetitif (Competitive Adventage) juga dapat didefinisikan sebagai alat bantu untuk mengukur dayasaing suatu aktivitas berdasarkan perekonomian aktual atau harga pasar. Hal ini berbeda dengan konsep keunggulan komparatif yang mengukur manfaat aktivitas ekonomi dari segi masyarakat keseluruhan atau general. Keunggulan kompetitif dalam perkembangannya merupakan konsep yang sesuai untuk mengukur kelayakan secara finansial. Sehingga konsep keunggulan kompetitif bukan untuk menggantikan konsep keunggulan komparatif, namun saling melengkapi antara satu sama lain. Artinya jika suatu komoditas memiliki keunggulan secara kompetitif dan komparatif, maka komoditas tersebut layak dan menguntungkan untuk diproduksi dan dapat bersaing di pasar internasional. Jika keunggulan komparatif berfungsi sebagai alat untuk mengukur keuntungan sosial dan dihitung berdasarkan harga sosial dan harga bayangan nilai tukar, maka keunggulan kompetitif berfungsi sebagai alat untuk mengukur keuntungan privat dan dihitung berdasarkan harga pasar dan nilai tukar resmi yang berlaku. Akan tetapi jika suatu komoditas hanya memiliki keunggulan komparatif namun tidak memiliki kunggulan kompetitif, dapat

diasumsikan telah terjadi distorsi pasar atau terdapat hambatan-hambatan yang mengganggu kegiatan produksi seperti administrasi, perpajakan dan lain-lain. Sebaliknya jika suatu komoditas hanya memiliki keunggulan kompetitif dan tidak memiliki keunggulan komparatif berarti pemerintah memberikan proteksi terhadap komoditas tersebut seperti melalui stabilitas harga, kemudahan perizinan, dan lainnya.

3.1.4 Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah diharapkan dapat meningkatkan dayasaing komoditas pertanian pada umumnya termasuk untuk komoditas kentang baik di pasar domestik maupun internasional. Kebijakan pemerintah ditetapkan dengan tujuan untuk melindungi produk dalam negeri ataupun meningkatkan ekspor agar dapat bersaing dengan produk luar negeri. Kebijakan tersebut diberlakukan untuk input dan output sehingga terjadi perbedaan harga yang diterima produsen (harga privat) dengan harga yang sebenarnya terjadi (harga sosial). Kebijakan yang diterapkan pada suatu komoditas ada dua bentuk yaitu substitusi dan kebijakan perdagangan. Kebijakan subsidi terdiri dari subsidi positif dan subsidi negatif (pajak), sedangkan kebijakan perdagangan berupa tarif dan kuota. Klasifikasi dari kebijakan harga kooditas dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Klasifikasi Kebijakan Harga Komoditas

Instrumen Dampak Pada Produsen Dampak Pada

Konsumen Kebijakan Subsidi

a. Tidak merubah harga pasar dalam negeri b. Merubah harga pasar

dalam negeri

Subsidi kepada produsen a. Pada barang impor (S +

PI ; S – PI)

b. Pada barang ekspor (S + PE ; S – PE)

Subsidi kepada

konsumen

a. Pada barang impor (S + CI ; S – CI)

b. Pada barang ekspor (S + CE ; S – CE)

Kebijakan Perdagangan (merubah harga pasar dalam negeri)

Hambatan pada barang impor (TPI)

Hambatan pada barang ekspor (TCE)

Sumber : Monke dan Pearson, 1989 Keterangan :

S + : Subsidi S - : Pajak

PE : Produsen untuk barang ekspor PI : Produsen untuk barang impor CE : Konsumen untuk barang ekspor CI : Konsumen untuk barang impor

TPE : Hambatan kepada produsen untuk barang ekspor TPI : Hambatan kepada produsen barang impor

a) Kebijakan Output

Kebijakan terhadap output baik berupa subsidi maupun pajak dapat diterapkan pada barang ekspor maupun impor. Kebijakan pemerintah terhadap output dijelaskan dengan menggunakan Transfer Output (TO) dan Koefisien Proteksi Output Nominal (Nominal Protection Coefficient on Output atau NPCO). Tabel 7 menunjukkan bahwa kebijkan harga di atas dapat dibedakan dalam tiga kriteria. Pertama, tipe instrumen yang berupa substitusi atau kebijakan perdagangan, kedua kelompok penerimaan, meliputi produsen dan konsumen, dan ketiga tipe komoditas yang berupa komoditas dapat diimpor atau dapat diekspor.

1) Tipe Instrumen

Kebijakan tipe instrumen mencakup pada substitusi dan kebijakan perdangan. Substitusi merupakan bentuk pembayaran dari dan atau untuk pemerintah. Jika dibayarkan dari pemerintah maka disebut subsidi positif, sedangkan jika dibayarkan untuk pemerintah disebut subsidi negatif atau pajak. Pada umumnya, subsidi positif dan negatif bertujuan untuk menciptakan harga domestik agar berbeda dengan harga internasional untuk melindungi konsumen atau produsen dalam negeri.

Kebijakan perdagangan adalah pembatasan yang diterapkan pada impor atau ekspor suatu komoditas. Pembatasan dapat berupa pembatasan terhadap harga komoditas atau pembatasan jumlah komoditas (kuota) untuk menurunkan jumlah yang diperdagangkan di pasar internasional sehingga dapat mengendalikan harga internasional dengan harga domestik.

Gambar 1. Dampak Pajak Terhadap Produsen Komoditas Ekspor Sumber : Monke dan Pearson, 1989

Kebijakan terhadap output dapat berupa subsidi maupun pajak. Subsidi terhadap komoditas ekspor akan berdampak positif sedangkan penerapan pajak akan berdampak negatif seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Pada perdagangan bebas harga yang diterima petani dan konsumen dalam negeri sama dengan harga dunia yaitu Pw. Tingkat output yang dihasilkan sebesar Q4 sedangkan permintaan sebesar Q1 sehingga terjadi excess supply dalam negeri sebesar ADG. Oleh karena itu output yang dapat diekspor adalah sebesar Q4-Q1. Adanya subsidi negatif atau pajak mengakibatkan harga yang diterima petani dan konsumen menjadi lebih rendah dibandingkan harga dunia yaitu Pd sehingga konsumsi dalam negeri menurun dari Q1-Q4 menjadi Q2-Q3. Hal ini menyebabkan surplus yang diterima konsumen sebesar PwAEPd dan transfer output yang terjadi kepada pemerintah sebesar BCFE.

2) Kelompok Penerima

Kelompok kedua dari klasifikasi kebijakan adalah kebijakan yang dimaksudkan untuk produsen atau konsumen. Subsidi atau kebijakan perdagangan mengakibatkan terjadinya transfer antara produsen, konsumen, dan keuangan pemerintah. Jika tidak ada kebijakan subsidi dan kebijakan perdagangan, pemerintah melalui anggarannya harus membayar keseluruhan transfer, ketika produsen memperoleh keuntungan maka konsumen mengalami kerugian, sebaliknya ketika produsen mengalami kerugian maka konsumen memperoleh keuntungan. Kondisi ini menggambarkan bahwa keuntungan yang didapatkan

Q4 Q3 Q2 Q1 A B C D S E F G Q P Pw Pd Dw

oleh satu pihak hanya menjadi pengganti dari kerugian yang dialami oleh pihak lain, tetapi dengan adanya transfer yang diikuti oleh efisiensi ekonomi yang hilang, maka keuntungan yang diperoleh akan lebih kecil daripada kerugian yang diderita, oleh karena itu manfaat yang didapatkan dari kelompok tertentu baik itu konsumen, produsen atau keunangan pemerintah adalah lebih kecil dari jumlah

Dokumen terkait