• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus di Gunung Tonjong, Tasikmalaya

Dalam dokumen Laksmi, dkk – Menemukan Jalan Keluar (Halaman 61-106)

Didi Novrian, Zuhdi Siswanto, Dicky Firmansyah Bambang Suyudi, Deden Dani, Tanjung Nugroho

Berulangkali sejarah mencatat, banyak pertentangan manusia dengan sesamanya, yang pada hakekatnya adalah per- tentangan dalam rangka perebutan sumber-sumber agraria (hutan, tambang, air, dan lahan). Hal ini memang begitu penting bagi semua orang, soal hidup dan penghidupan manusia (Moch Tauhid:1952), termasuk di dalamnya soal penguasaan, penggunaan dan pengelolaan.

Seiring dengan pemikiran tersebut, pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi, Bumi dan Air, dan Kekayaan Alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, tidak lain adalah bentuk penegasan bahwa semua sumber-sumber agraria yang ada harus dikuasai oleh negara. Hingga negara pada akhirnya berkepentingan sangat kuat terhadap penguasaan sumber-

sumber agrarian, yang andaiannya adalah untuk kemakmuran rakyatnya.

Tetapi seringkali dalam perjalanannya, kepentingan- kepentingan itu dipelintir: penguasaan sumber-sumber agraria sebagai “mesin politik” dan “mesin pembuat uang” bagi kelompok-kelompok tertentu. Jargonnya “sumberdaya agraria untuk kemakmuran rakyat”, tetapi pengelolaannya justru masuk dalam skema materialis yang economistic,denganpemanfaatan pada pengumpulan keuntungan untuk kepentingan sedikit golongan dan kelompok saja. Pada tataran inilah sesungguh- nya, benih ketidakadilan pemanfaatan sumber-sumber agraria muncul, apalagi ditambah dengan pengaruh ekonomi-politik kekuasaan negara yang beroligarki dengan modal dan berimbas pada terseretnya semua model-model pengelolaan sumberdaya agraria ke arah yang tidak berkeadilan bagi rakyat. Diskursus tentang pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya hutan di Indonesia, selama ini boleh dikatakan adalah perspektif negara, di mana pemerintah menjadi inti dan single player dalam menentukan aturan untuk menetapkan, mengelola, dan pemanfaatan sumberdaya hutan. Dimulai dari penentuan pada siapa hutan tersebut diserahkan untuk dimanfaatkan, hingga bagaimana cara pengelolaan dilakukan, semuanya diatur oleh negara. Hal demikian tidak dapat dilepas dari pengaruh situasi kepentingan dan politik penguasa terkait kepentingan modal dan pasar.

Selain itu, seharusnya ada perspektif lain sebagai alternatif dari perspektif negara, yaitu perspektif community based dalam pengelolaan hutan di Indonesia. Perspektif ini memposisikan pemikirannya bahwa hutan harus dikelola oleh pihak-pihak atau pelaku-pelaku yang pro pada kesejah- teraan rakyat dan kelangsungan ekologis yang mengharuskan semua pihak (pemerintah, rakyat, sektor swasta, dan aka- demisi) untuk ikut serta dalam pengelolaan seperti ini dengan mengutamakan pemberdayaan masyarakat dan kelembagaan

yang ada agar mampu mengelola sumberdaya hutan secara mandiri dan berkelanjutan.

Ke m is kin a n d a n Ko n flik Agra ria : Mu n c u ln ya P e rla w a n a n Te ro rga n is ir

Ketidakadilan agrarian akan berlanjut dengan muncul- nya konflik. Tulisan ini ingin menguak misteri tata kelola, kuasa dan produksi di dalam kawasan hutan, dengan studi kasus pada kampung Sinagar dan Kajarkajar, desa Sindang- asih, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya. Wilayah kampung Sinagar dikelilingi oleh kawasan Hutan Produksi dan Produksi Terbatas yang dikelola oleh Perum Perhutani KPH Tasikmalaya seluas 2995 Ha, sebagai blok Tonjong dan blok Cibadodon. Masyarakat sudah turun-temu- run menempati dan mengambil hasil kayu dan non-kayu dari hutan dalam penguasaan Perhutani.

Berangkat dari kejadian sehari-hari di sekitar kampung Kajarkajar, konflik ini terjadi karena 3 hal, pertama, meningkat- nya kebutuhan rakyat tak bertanah akibat melonjaknya harga kebutuhan pokok setiap tahunnya di Indonesia, sementara tidak ada sumber pendapatan di desa karena tanah yang ada tidak dapat diakses. Ketika mereka migrasi ke kota, mereka hanya jadi buruh yang dibayar murah karena tidak memiliki ijazah dan keterampilan yang memadai (non-skill labour). Kedua, meningkatnya kebutuhan konsumsi domestik petani terhadap barang-barang kebutuhan pokok yang tidak dapat mereka produksi sendiri karena kondisi terpisahnya petani dari alat produksi dan relasi produksinya dalam mengelola hutan sebagai efek domino dari ditutupnya kawasan hutan dan dibatasinya akses mereka terhadap hutan. Ketiga, mening- katnya represi dalam “penjagaan” hutan terhadap petani sekitar desa hutan, dan kegagalan pemerintah daerah dan pusat dalam menegosiasikan kewenangan Perhutani sebagai

Agent of Timber Management di kawasan hutan yang ada. Persoalan kemiskinan ini bukan suatu hal yang muncul begitu saja, tentu ada sebab-sebab dalam prakondisi tertentu hingga kemiskinan muncul dan menyebar. Kantong-kantong kemiskinan di Indonesia, banyak terdapat di wilayah-wilayah dengan penguasaan sumberdaya alam yang terpusat di satu pengendali, misalnya BUMN atau Swasta.

Dari data Potensi Desa 2003, sebaran kemiskinan di Tasikmalaya misalnya, terpusat di sekitar hutan produksi dan hutan produksi terbatas yang dikuasai Perhutani. Argumentasi bahwa pengelolaan sumberdaya skala luas akan memberikan efek kesejahteraan yang lebih banyak terhadap masyarakat di sekitar sumberdaya itu, terpatahkan dengan data sekunder tersebut, justru penguasaan skala besar yang berujung penu- tupan akses hutan atas masyarakat yang mengakibatkan munculnya sebaran Rumah Tangga Miskin di sekitar kawasan hutan.

Di Sindangasih terdapat 2 areal besar yang dikuasai masing-masing oleh PTPN VIII Bagjanegara (Kampung Cieceng) dan Perhutani KPH Tasikmalaya (Kampung Sinagar), pada tahun 2000, terjadi gejolak, buruh-buruh perkebunan ingin mengambil alih lahan-lahan perkebunan Bagjanegara karena banyak areal perkebunan yang ditelantarkan setelah krisis moneter 1998, tanah-tanah terlantar ini kemudian dibiarkan tidak tergarap 3 tahun oleh perusahaan perkebunan, semen- tara rakyat di sekitar perkebunan yang sebagian besar adalah buruh-buruh perkebunan pun tidak boleh menggarap dengan leluasa, akhirnya muncul perlawanan terbuka mengokupasi6

6 Aksi okupasi tanah (land occupation) atau yang biasa disebut re-

klaiming lahan, adalah aksi yang dilakukan atas tanah-tanah yang pernah menjadi tanah garapan penduduk pada rentang waktu yang lama, tapi akibat praktek-praktek politik ekonomi yang menindas, tanah tersebut menjadi bagian dari perkebunan besar atau konsesi pemanfaatan hutan yang besar, di Indonesia bentuknya bisa berupa HPH, perkebunan swasta,

lahan perkebunan yang diorganisisr oleh Serikat Petani Pasundan (SPP).7

Aksi yang terjadi di Kampung Cieceng sebagian juga diikuti oleh beberapa orang masyarakat yang dari Sinagar. Gejolak pengambil alihan lahan di Cieceng menyebar ke Sinagar, beberapakali bahkan, rapat-rapat untuk aksi reklaim- ing ini dilakukan di Sinagar, selain alasan keamanan agar tidak digrebebg oleh petugas perkebunan yang menyewa preman- preman untuk meneror petani-petani, juga karena alasan ingin mendapatkan bantuan dari petani-petani lain agar bersama membantu petani Cieceng mengambil alih lahan perkebunan yang ditelantarkan itu.

Pada tahun 2003, setelah perjuangan melelahkan yang terjadi di Cieceng, terjadi beberapa kali penyerangan pre- man hingga oknum polisi yang berpihak pada Perhutani. Namun akhirnya lahan Cieceng tetap berhasil direbut petani, yang kemudian mendeklarasikan Organisasi Serikat Petani Pasundan OTL Cieceng.

Sementara itu, pengalaman beberapa orang di Sinagar yang ikut berproses dalam perjuangan petani di Cieceng, menginspirasi mereka untuk melakukan hal serupa di Sinagar. Pada tahun 2004, dimulailah aksi-aksi okupasi dan reklaiming oleh petani-petani yang mendapatkan pengalaman belajar di Cieceng ini. Tahun 2004, OTL Sinagar yang kemudian di-

kenal dengan nama OTL Kajarkajar8 dideklarasikan. Cuma

lebih spesifik di Jawa bentuknya dapat berupa Hutan Produksi Perhutani dan PTPN.

7 Adalah organisasi tani yang berkembang luas di beberapa wilayah

di Jawa Barat. Organisasi ini mempelopori aksi-aksi reklaiming lahan. Untuk lebih jelas tentang sejarah Serikat Petani Pasundan, lih Noer fauzi, Sketsa 3 Abad Politik Agraria di Tataran Priangan, 2008.

8 Nama Kajarkajar diambil dari nama lembah yang ada di Kampung

Sinagar, lembah ini adalah pusat kampung, disana terdapat pusat pemu- kiman, persawahan, sumber air, dan tempat melakukan pertemuan yang juga berfungsi sebagai tempat ibadah (Mesjid).

berselang 3 hari, OTL Neglasari9 juga dideklarasikan, pende- klarasian ini mengakibatkan berubahnya pola-pola pengga- rapan, penguasaan, dan produksi kawasan hutan di blok ini. Ta ta Ku a s a , Ke lo la d a n P ro d u ks i H u ta n P ro d u ks i Te rb a ta s P e ru m P e rh u ta n i

S e j a r a h K u a s a -K e lo la -P r o d u k s i H u t a n d i J a w a : P r i m i t i v e A c c u m u l a t i o n M a s a K o l o n i a l

Sejarah pengelolaan sumber daya hutan pada masa kolonial, dapat dilihat ketika dimulainya pengelolaan hutan jati (Tectona grandis) di Jawa dan Madura pada pertengahan abad ke-19, setelah lebih dari 200 tahun lamanya hutan alam jati dieksploitasi secara besar-besaran oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memasok bahan baku industri-industri kapal kayu milik pengusaha Cina dan Belanda, yang tersebar di sepanjang pantai utara Jawa mulai dari Tegal, Jepara, Juwana, Rembang, Tuban, Gresik, sampai Pasuruan (Peluso, 1990, 1992: Simon, 1993, 1999).

Sampai akhir abad ke-18 kondisi hutan jati di Jawa mengalami degradasi serius. Ketika pemerintah kolonial Belanda mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda pada awal abad ke-19 (14 Januari 1808), salah satu tugas yang dibebankan pada Daendels adalah merehabilitasi kawasaan hutan. Daendels

kemudian membentuk Dienst van het Boschwezen (Jawatan

Kehutanan), yang merencanakan reforestasi dan mengeluar- kan peraturan kehutanan yang membatasi pemberian ijin penebangan kayu jati dan memberi sanksi pidana bagi

9 Desa Neglasari adalah tetangga desa Sindangasih, terletak di

sebelah selatan Kampung Sinagar, di sebelah selatan blok hutan yang direklaiming oleh petani di Sinagar, karena satu blok, dan berbeda wilayah adminstratif, maka dideklarasikan juga sebagai satu OTL yang mandiri dari Kajarkajar.

penebang kayu-kayu jati tanpa ijin Jawatan Kehutanan. Pada tanggal 26 Mei 1808 Daendels mengeluarkan Peraturan Pemangkuan Hutan di Jawa yang memuat prinsip-prinsip:

- Pemangkuan hutan sebagai domein Negara dan semata-

mata dilakukan untuk kepentingan Negara.

- Penarikan pemangkuan hutan dari kekuasaan Residen

dan dari jurisdiksi wewenang Mahkamah Peradilan yang ada.

- Penyerahan pemangkuan hutan pada dinas khusus di

bawah Gubernur Jenderal, yang dilengkapi dengan we- wenang adminsitratif dan keuangan serta wewenang menghukum pidana.

- Areal hutan pemerintah tidak boleh dilanggar, dan

perusahaan dengan eksploitasi secara persil dijamin keberadaannya, dengan kewajiban melakukan refores- tasi dan pembudidayaan lapangan tebangan.

- Semua kegiatan teknis dilakukan rakyat desa, dan me-

reka yang bekerja diberikan upah kerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

- Kayu-kayu yang ditebang pertama-tama harus diguna-

kan untuk memenuhi keperluan Negara, dan kemudian baru untuk memenuhi kepentingan perusahaan suasta.

- Rakyat desa diberikan ijin penebangan kayu menurut

peraturan yang berlaku.

Kebijakan Daendels merupakan kebijakan awal penge- lolaan hutan, dengan menggunakan teknik kehutanan dan

kelembagaan modern, terutama setelah adanya Dienst van

het Boschwezen (Jawatan Kehutanan). Peraturan hukum menge- nai pengelolaan hutan di Jawa dan Madura untuk pertama kali dikeluarkan tahun 1865 yang dinamakan Boschordonantie voor Java en Madoera 1865 (Undang-Undang Kehutanan untuk Jawa dan Madura 1865), kemudian disusul dengan peraturan agraria Domeinverklaring 1870 yang mengklaim bahwa tanah

hutan yang tidak dibebani hak menjadi domain Negara (Peluso, 1990). Namun, upaya Daendels melakukan re- forestasi dan membatasi penebangan kayu jati tidak mencapai hasil yang optimal, dikarenakan keterbatasan tenaga kehu- tanan, pengetahuan dan teknologi. Pada tahun 1830-1870 Van den Bosch memberlakukan sistem tanam paksa (Cultuur- stelsel) yang menimbulkan perubahan drastis terhadap kondisi hutan di Jawa, banyak kawasan hutan justru dibuka dan di- konversi menjadi perkebunan-perkebunan kopi untuk komo- diti eksport10. Sementara itu, kebutuhan kayu jati untuk pem- buatan kapal kayu, membangun gudang-gudang pengeringan tembakau, pabrik gula, dan membangun barak-barak pekerja dan perumahan pegawai perkebunan, terus meningkat pada periode cultuurstelsel (Schuitemaker, 1950. seperti dikutip Simon, 993:31).

Pada tahun 1873 Jawatan Kehutanan membentuk organisasi teritorial kehutanan. Berdasarkan Staatsblad No. 215, kawasan hutan Jawa dibagi menjadi 13 Daerah Hutan yang masing-masing seluas 70.000 sampai 80.000 hektar untuk kawasan hutan jati dan lebih luas dari 80.000 hektar untuk daerah hutan non jati. Di masing-masing daerah hutan dibentuk unit-unit pengelolaan hutan. Pada setiap unit penge-

lolaan hutan dilakukan penataan kawasan hutan (Boschin-

richting), dengan membuat petak-petak hutan dan peman- cangan pal-pal batas kawasan hutan. Kemudian, untuk kepen- tingan perencanaan hutan, dibentuk unit-unit perencanaan yang disebut Bagian Hutan (Boschafdeling) dengan luas wilayah kerja masing-masing antara 4000 sampai 5000 hektar, atau maksimal seluas 10.000 hektar.

Dalam Staatsblad No. 2 Tahun 1855 ditegaskan bahwa Gubernur Jenderal harus memberi perhatian dan memfokus-

10 Jika di Utara hutan nya habis karena penebangan jati, maka di

jawa barat (priangan) hutannya habis untuk perkebunan kopi. (lihat Noer Fauzi.2008 Sketsa 3 Abad Penguasasan tanah di Tatar Priangan)

kan tugasnya pada pengelolaan hutan jati, juga kawasan hutan jati yang belum diserahkan pengelolaannya pada pihak lain agar dijaga dan dipelihara dengan baik. Pengelolaan hutan pada tahun-tahun selanjutnya cenderung lebih difokuskan pada kegiatan reforestasi hutan jati, karena kayu jati mem- punyai nilai ekonomis tinggi dibandingkan dengan kayu non jati, dan kebutuhan industri yang tinggi pada jati. Pada tahun 1890, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Perusahaan Hutan Jati (Djatibedrijf) untuk mengintensifkan pengelolaan hutan jati di Jawa dan Madura, sedangkan pengelolaan kawasan hutan rimba non jati diserahkan wewenangnya pada Dinas Hutan Rimba (Dienst de Wildhoutbossen).

Pada tanggal 14 April 1874 diundangkan Reglemen

Pemangkuan dan Eksploitasi Hutan di Jawa dan Madura. Hal penting yang diatur dalam Reglemen Hutan 1874 ini adalah:

- Pengaturan mengenai pemisahan pengelolaan hutan jati

dengan hutan rimba non jati.

- Hutan jati dikelola secara teratur dan ditata dengan

pengukuran, pemetaan dan pemancangan pal-pal batas, serta dibagi dalam wilayah distrik-distrik hutan.

- Eksploitasi hutan jati diserahkan pengusahaannya pada

pihak swasta.

- Pemangkuan hutan rimba yang tidak dikelola secara

teratur diserahkan pada Residen di bawah perintah Direktur Binnelands Bestuur, dan dibantu seorang Houtvester.

Selanjutnya, Reglemen Pemangkuan dan Eksploitasi Hutan Jawa dan Madura 1874 melalui Ordonansi 6 Mei 1882, Ordonansi 21 November 1894, Ordonansi Kolonial 9 Februari 1897, Reglemen Pemangkuan dan Eksploitasi Hutan di Jawa dan Madura 1874, diperbarui dengan Boschreglement 1897 (Reglemen Pengelolaan Hutan Negara di Jawa dan Madura 1897), diteruskan Dienstreglement 1897 (Reglemen Dinas)

melalui Keputusan Pemerintah tanggal 9 Februari 1897 No. 21 yang secara khusus memuat peraturan pelaksanaan Bosch- reglement 1897 dan pengaturan organisasi Jawatan Kehutanan. Setelah berlaku lebih dari 16 tahun lamanya, dengan perubahan berulangkali dalam beberapa ordonansi, maka ber- dasarkan Ordonansi Kolonial tanggal 30 Juli 1913 Reglemen Pengelolaan Hutan Negara di Jawa dan Madura 1897 (Bosch- reglement 1897) diganti dengan Reglemen untuk Pemangkuan Hutan Negara di Jawa dan Madura 1913, tetapi baru diberlaku- kan mulai tanggal 1 Januari 1914.

Untuk mengantisipasi perkembangan kependudukan di

Jawa, maka pada tahun 1927 Boschreglement van Java en

Madoera1913 diganti dengan Reglement voor het Beheer der bossen van den Lande op Java en Madoera 1927 (Peraturan Pengelolaan Hutan Negara di Jawa dan Madura 1927), atau disingkat Boschordonantie voor Java en Madoera 1927 (Ordonansi Hutan untuk Jawa dan Madura 1927). Boschordonantie 1927 diundangkan dalam Staatsblad Tahun 1927 No. 221, kemudian diubah dengan Staatsblad Tahun 1931 No. 168, dan terakhir

diubah dengan Staatsblad Tahun 1934 No. 63. Sedangkan,

peraturan pelaksanaan dari Boschordonantie 1927 dituangkan dalam Boschdienstregelement voor Java en Madoera1927, kemu- dian diganti dengan Boschverordening voor Java en Madoera 1932, dan menyusul diperbarui dengan Boschvererdening tahun 1935, tahun 1937, dan tahun 1937.

B e n t u k P e l i b a t a n M a s y a r a k a t d a l a m P e n g e l o l a a n H u t a n d i J a w a M a s a K o lo n i a l

Tahun 1873, Buurman van Vreeden berhasil memper- kenalkan sistem taung ya (tumpang sari) dalam penanaman hutan di Jawa. Keberhasilan ini dipuji banyak pihak sebagai metode reboisasi yang murah dan efisien. Dalam sistem tumpang sari ini menggunakan menggunakan tenaga petani untuk menanam kembali tanaman pokok hutan, dengan

imbalan pada para petani berupa hak untuk menanam tanaman pertaniannya di sela-sela tanaman pokok hutan. Dengan sistem ini petani bisa mendapatkan lahan garapan untuk pertaniannya sampai tajuk tanaman pokok kehutanan menaungi tanamannya, biasanya mencapai umur 2 tahun. Dengan sistem tumpang, hutan dapat ditanam sekaligus aman dari gangguan pencurian. Sistem tumpang sari ini kemudian dikukuhkan dalam Petunjuk Teknis Tanaman Jati pada tahun 1935 yang sampai sekarang belum mengalami

perubahan (Tim Bina Swadaya, 2001).

B e n t u k P e l i b a t a n M a s y a r a k a t d a l a m P e n g e l o l a a n H u t a n d i J a w a P a s c a K o lo n i al

Hingga akhirnya pada tahun 1974, wewenang penge- lolaan hutan Jawa diserahkan ke Perum Perhutani yang kemu-

dian mengembangkan Pendekatan Kesejahteraan (Prosperity

Aproach) dengan menggulirkan program Ma-Ma (Mantri- Lurah) dan beberapa model-model proyek sosial lain, seperti intensifikasi massal tumpang sari, intensifikasi khusus tumpang sari, proyek magersaren, proyek checkdam, kaptering air, lebah madu, tegakan kayu bakar, tanaman obat-obatan, tanaman rumput gajah, ulat sutera, wanawisata, dan peng- hijauan. Tetapi berbagai program tersebut tetap menyisakan sejumlah persoalan. Aspek sosial masyarakat masih terabai- kan, dan model ideal yang direncanakan, ketika di lapangan terbentur banyak hal dengan persoalan teknis dan etik, mulai dari sosialisai yang tidak jalan hingga perilaku korup mandor- mandor Perhutani.

Perubahan terjadi lagi pada tahun 1978 setelah diadakan- nya Konggres Kehutanan Dunia ke VIII di Jakarta yang mengambil tema Forest for People, yang merupakan kelanjutan dari tema konggres sebelumnya di Seatle, yaitu Multiple Use of Forest Land. Tema Forest for People dalam konggres tesebut melahirkan paradigma baru dalam pengelolaan hutan, yaitu

social forestry, meski masih belum jelas bentuk operasionalnya. Tahun 1982 Perum Perhutani di bawah Direktur Utamanya, Hartono Wirjodarmodjo, menyempurnakan Pen- dekatan Kesejahteraan di atas dengan Proyek Pembangunan Masyarakat Desa Hutan (PMDH). Proyek ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa hutan dan meningkatkan fungsi-fungsi hutan secara optimal. Proyek PMDH dilanjutkan untuk menyusun gagasan dan konsep kehutanan sosial secara lebih jelas (Hartadi Kartodihardjo, 2001).

Tahun 1985 dibentuk tim penelitian untuk mencari sistem pengelolaan hutan yang mampu memecahkan per- masalahan sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan. Dari hasil penelitian tersebut dirumuskan program baru yang dinamakan Perhutanan Sosial (PS) yang menerapkan pola tanam jati dengan jarak tanam 6 x 1 m, dan di sela tanaman jati tersebut ditanam buah-buahan atau tanaman pertanian. Pada periode ini mulai dikenal konsep agro forestry dalam pengelolaan hutan

Di samping program PS, juga dicarikan berbagai bentuk alternatif, seperti yang dilakukan di wilayah KPH Madiun atas kerjasama Fakultas Kehutanan UGM dengan Direksi Perum Perhutani sejak tahun 1991 dengan proyek “Pilot Project Pengelolaan Hutan Jati Optimal untuk Perhutani dan

Masyarakat”—atau dikenal dengan proyek Management Re-

gime (MR). Program MR ini mempertimbangkan jarak

kawasan hutan dari pemukiman penduduk, jumlah tenaga kerja yang tersedia, dan kondisi fisik hutan yang ketiganya berpengaruh pada intensitas tekanan penduduk terhadap kawasan hutan.

Pasca reformasi Departemen Kehutanan kembali berusaha memperhatikan dan mengadopsi perkembangan dan perubahan paradigma state based menjadi community based, program Hutan Kemasyarakatan (HKm). Menteri Kehutanan

mengeluarkan beberapa kali perubahan peraturan mulai dari SK Menteri No. 622/95 kemudian diganti dengan SK Menteri No.677/1998 tentang Pengelolaan HKm dan kemudian di- ganti lagi dengan SK Menteri No. 31/2001 tentang Penyeleng- garaan pengelolaan HKm, dan juga Permen No. 01/2004 tentang Social Forestry.

Dengan dipengaruhi oleh berkembangnya diskursus tentang pengelolaan hutan yang melibatkan masyarakat, mendorong Perhutani untuk mengembangkan konsep baru bernama “Penanaman Hutan Berbasis Masyarakat” (PHBM) yang berdasar pada Keputusan Direksi Perum Perhutani No: 268/KPTS/DIR/2007. Skema PHBM ini dikembangkan terus-menerus oleh Perhutani dengan memakai prinsip keber- samaan dalam melakukan pengelolaan hutan. PHBM dimak- sudkan untuk memberikan arah pengelolaan sumberdaya hutan dengan memadukan aspek ekonomi, ekologi dan sosial secara proporsional dan profesional. PHBM bertujuan untuk meningkatkan peran dan tanggungjawab Perum Perhutani, masyarakat desa hutan dan pihak yang berkepentingan terhadap keberlanjutan fungsi dan manfaat sumberdaya hutan, melalui pengelolaan sumberdaya hutan dengan model kemitraan.

Desa Sindangasih adalah salah satu desa yang menjadi wilayah diterapkannya PHBM. Tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan banyak kontradiksi. Dalam penerapan konsep PHBM ini, banyak ketidakjelasan kesepakatan-kesepakatan, hingga problem teknis pelaksanaan yang sebenarnya hanya sekedar menjalankan kegiatan saja dan tujuan pemberdayaan sebagai visi-misi PHBM sendiri menjadi kabur.

P e r h u t a n i , a n t a r a P e r u m a t a u P T:

R e p r o d u k s i P r i m i t i v e Ac c u m u l a t i o n

Persoalan di atas akibat dari tidak jelasnya pengelolaan yang diembankan dari pusat hingga ke lapangan, penelusuran

dokumen tentang ini kami lakukan melalui wawancara dan penelusuran di beberapa media masa. Perubahan bentuk Perhutani menjadi Perseroan Terbatas (PT) berdasarkan PP No. 14 Tahun 2001 tentang Pengalihan Bentuk Perum Per- hutani menjadi Persero, sadar atau tidak berimplikasi signi- fikan pada praktek di lapangan. Perlu dibedakan pengertian Perum dan PT.

No

Ciri Pokok Perum Persero

1.

Makna Usaha, tujuan perusahaan

Public Service dan Profit

Seimbang/kondision al

Profit sebagai titik berat 2. Status Hukum Badan hukum berdasarkan UU 19 Th. 1960 dan Peraturan Pemerintah/pendiria n. Badan hukum berdasarkan KUHD dan PP pendirian (dgn akte notaris) 3. Hubungan dengan pemerintah Berdiri sendiri sebagai kesatuan organisasi yang terpisah (otonom) Berdiri sendiri sebagai kesatuan organisasi yang terpisah (otonom) 4. Pemilikan/ penguasaan oleh pemerintah Sepenuhnya dan tidak langsung yaitu melalui penanaman modal negara yang dipisahkan

Dapat sepenuhnya atau sebagian yaitu melalui pemilikan saham secara kesluruhan atau sebagian. 5. Pengurusan oleh pemerintah Pimpinan adalah suatu direksi yang diangkat oleh pemerintah

Pimpinan adalah suatu direksi yang diangkat oleh RUPS.

6.

Pengawasan oleh pemerintah

Melalui pejabat atau badan yang berfungsi seperti komisaris. Pemeriksaan oleh akuntan negara dan

Dalam dokumen Laksmi, dkk – Menemukan Jalan Keluar (Halaman 61-106)