PERTANGGUNG JAWABAN PELAKU TINDAK PIDANA PEMELIHARAAN SATWA DILINDUNGI (Studi Putusan Pengadilan
B. Studi Kasus (Putusan Pengadilan Negeri Sibolga (Nomor 216/Pid.B/2011/PN-SBG)
1. Kasus Posisi a. Kronologis
Kasus ini adalah kasus tindak pidana kepemilikan satwa dilindungi yang terjadi di kota Sibolga yang diadili di Pengadilan Negeri Sibolga dengan Nomor perkara 216/Pid.B/2011/PN-SBG dengan terdakwa yang memiliki identitas sebagai berikut:
Nama : ROBIN HUTABARAT
Tempat lahir : Kolang
Umur/Tanggal Lahir : 30 Tahun/14 Oktober 1981 Jenis Kelamin : Laki-laki
Kebangsaan : Indonesia
Tempat Tinggal : Dusun Pintu Bosi Desa Gonting Mahe Kecamatan Sorkam Tapanuli Tengah
Agama : Kristen Katholik Pekerjaan : Petani
Pendidikan : SD
Pada hari Senin tanggal 21 Maret 2011 sekitar pukul 12.00 WIB di Dusun Pintu Bosi Desa Gonting Mahe Kecamatan Sorkan Tapanuli Tengah, saksi Bambang. E. W. S, bersama temannya melakukan penangkapan terhadap terdakwa karena telah menyimpan hewan Trenggiling dari jenis satwa yang dilindungi di dalam rumah terdakwa di Dusun Pintu Bosi Desa Gonting Mahe Kecamatan Sorkan Tapanuli Tengah.
Pada saat ditangkap, ditemukan barang bukti berupa 6 (enam) ekor hewan Trenggiling dalam keadaan hidup, yang disimpan dalam keranjang berwarna orange kombinasi putih dan 3 (tiga) kantong plastik kresek berwarna hitam yang berisikan daging hewan Trenggiling yang sudah mati.
Ketika ditangkap dan diminta keterangan oleh saksi, terdakwa menjelaskan dan menceritakan asal mula trenggiling-trenggiling tersebut. Pada awalnya terdakwa mengatakan bahwa sekira bulan Novermber 2010 terdakwa menerima titipan 2 (dua) ekor Trenggiling dari seseorang yang tidak dikenal untuk menyimpan trenggiling tersebut di rumahnya dengan upah Rp. 300.000,00.- (Tiga Ratus Ribu Rupiah). Di bulan Desember 2010 kembali terdakwa menerima titipan 3 (tiga) ekor trenggiling dari seorang yang tidak dikenal dan diberi upah Rp.
300.000,00.- (Tiga Ratus Ribu Rupiah) dan selanjutnya kembali di bulan Februari
2011 terdakwa menerima titipan lagi 2 (dua) ekor Trenggiling dari seorang yang tidak dikenal dengan upah yang sama Rp. 300.000,00.- (Tiga Ratus Ribu Rupiah).
Terdakwa menyimpan hewan-hewan Trenggiling tersebut dalam sebuah keranjang warna orange kombinasi putih dalam mruangan kamar mandi di dalam rumahnya di Dusun Pintu Bosi Desa Gonting Mahe Kecamatan Sorkan Tapanuli Tengah.
Selain trenggiling yang hidup, dipertengahan bulan Maret 2011 juga menerima titipan 3 (tiga) kantung/plastik kresek warna hitam yang berisikan daging trenggiling dalam keadaan mati yang disimpan dalam lemari es milik terdakwa di rumahnya tersebut.
Setelah dilakukan penyidikan lebih lanjut, akhirnya terdakwa mengakui perbuatannya dan menjelaskan secara jelas asal Trenggiling tersebut dari mana.
Terdakwa menjelaskan bahwa 6 (enam) ekor trenggiling yang dijadikan sebagai barang bukti didapatkan oleh terdakwa dari kebun karet milik terdakwa. Pada mulanya terdakwa akan menjerat babi hutan di kebun terdakwa, akan tetapi terdakwa malah mendapatkan hewan trenggiling dalam jaringnya. Tetapi hewan trenggiling tersebut didapat bukan dengan 1 hari saja, tetapi dalam beberapa hari.
Mengenai 3 kantung plastik kresek berwarna hitam yang berisikan daging trenggiling yang ditemukan dalam lemari es milik terdakwa tersebut di dapat karena ada trenggiling yang pada saat itu masuk ke dalam jaring miliknya.
Terhadap trenggiling-trenggiling tersebut, baik yang masih hidup ataupun sudah mati, terdakwa tidak berniat untuk menjual trenggiling tersebut tetapi untuk dipelihara dan dimakan.
Hewan-hewan trenggiling yang diambil oleh saksi sebagai barang bukti pada saat itu berjumlah 6 (enam) ekor yang masih hidup, tetapi setelah dibawa ke polres Tapanuli Tengah dan disimpan dalam ruang barang bukti 1 (satu) dari 6 (enam) ekor trenggiling tersebut dalam keadaan mati.
b. Dakwaan
Dalam putusan ini oleh Jaksa Penuntut Umum memilih dengan dakwaan secara Alternatif. Perbuatan terdakwa Robin Hutabarat dalam dakwaan kesatu bahwa perbuatan terdakwa yang dengan sengaja menyimpan 6 (enam) ekor trenggiling dalam keadaan hidup yang diletakkan dalam sebuah keranjang warna orange kombinasi warna putih di dalam rumahnya yang terletak di Dusun Pintu Bosi Desa Gonting Mahe Kecamatan Sorkam Kabupaten Tapanuli Tengah tidak ada memiliki ijin dari pihak yang berwenang maka perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 40 Ayat (2) Jo Pasal 21 Ayat (2) huruf a UU RI No.
5 Tahun 1990 Tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 4 Ayat (2) Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Perbuatan terdakwa Robin Hutabarat dalam dakwaan kedua bahwa perbuatan terdakwa yang dengan sengaja menyimpan atau memiliki tubuh satwa yang dilindungi yaitu 3 (tiga) kantung/bungkus plastik kresek warna hitam yang berisikan daging trenggiling dalam keadaan mati, dalam lemari es milik terdakwa di dalam rumahnya yang terletak di Dusun Pintu Bosi Desa Gonting Mahe Kecamatan Sorkam Kabupaten Tapanuli Tengah tidak memiliki ijin dari pihak
yang berwenang maka perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 Ayat (2) huruf a UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 4 Ayat (2) Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
c. Tuntutan
1. Menyatakan terdakwa Robin Hutabarat bersalah melakukan Tindak Pidana
“Dengan sengaja menyimpan, memiliki, memelihara satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup dan dengan sengaja menyimpan atau memiliki tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi dalam keadaan mati”
sebagaimana diatur dalam Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 Ayat (2) huruf a UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 4 Ayat (2) Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan kedua Pasal 40 ayat (2) huruf d UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 4 Ayat (2) Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
2. Menjatuhkan pidana penjara terhdap terdakwa Robin Hutabarat dengan pidana penjara 6 (enam) bulan dikurangi dselama terdakwa berasa dalam tahanan sementara dan denda sebesar Rp. 1.000.000,00.- (Satu Juta Rupiah) Subsidair 1 (satu) bulan kurungan.
3. Menyatakan barang bukti berupa: 5 (lima) ekor hewan trenggiling dalam keadaan hidup yang diletakkan dalam sebuah keranjang warna orange kombinasi warna putih diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara dan 3 (tiga) kantungan plastik daging hewan trenggiling yang sudah mati dirampas untuk dimusnahkan.
4. Mentepakan agar terdakwa dibebani membayar biaya perkara sebesar Rp.
1.000,- (seribu rupiah).
d. Fakta Hukum
Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum dihubungkan dengan keterangan terdakwa, maka Majelis Hakim telah memperoleh fakta hukum yang secara juridis relevan dengan dakwaan Jaksa Penuntut Umum, yaitu sebagaimana tersebut di bawah ini:
Bahwa pada hari Senin, tanggal 21 Maret 2011 sekitar pukul 12.00 WIB
terdakwa Robin Hutabarat telah ditangkap Petugas Kepolisian Polres Tapanuli Tengah di Dusun Pintu Bosi Desa Gonting Mahe Kecamatan Sorkam Kabupaten Tapanuli Tengah di dalam rumah terdakwa.
Bahwa terdakwa ditangkap Petugas Kepolisian Polres Tapanuli Tengah
karena terdakwa ada memiliki atau memelihara 6 (enam) ekor hewan trenggiling.
Bahwa terdakwa Robin Hutabarat memiliki hewan trenggiling sebanyak 6 (enam) ekor karena hasil jeratan dari kebun karet milik terdakwa.
Bahwa terdakwa Robin Hutabarat semula ingin menjarat babi hutan, akan tetapi yang dapat dijaring adalah hewan trenggiling.
Bahwa selain 6 (enam) ekor hewan trenggiling, terdakwa juga memiliki
daging trenggiling yang ditarok di dalam plastik kresek warna hitam dan disimpan dalam kulkas rumah terdakwa.
Bahwa terdakwa tidak ada melapor kepada Dinas Kehutanan setelah mendapat atau memelihara hewan trenggiling.
Bahwa terdakwa tidak ada memiliki ijin untuk menangkap, memelihara, maupun untuk menjual hewan trenggiling.
Bahwa sebelumnya terdakwa tidak mengetahui hewan trenggiling
termasuk yang dilindungi Undang-undang.
Menimbang, bahwa agar seseorang dapat dihukum karena bersalah melakukan suatu tindak pidana yang didakwakan kepadanya, maka orang tersebut harus dapat dibuktiikan secara sah dan meyakinkan memenuhi semua unsur-unsur dari pasal yang di dakwakan
e. Pertimbangan Hakim
Menimbang bahwa walaupun dakwaan Jaksa Penuntut Umum bersifat Alternatif, yang berarti majeli hakim dapat memilih dakwaan mana yang paling sesuai menurut majelis hakim untuk dibuktikan atas tindakan terdakwa sesuai dengan fakta yang terungkap dipersidangan, akan tetapi majelis hakim tetap akan mempertimbangkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum mulai dari dakwaan kesatu,
dan apabila tidak terbukti akan dilanjutkan untuk membuktikan dakwaan selanjutnya.
Menimbang bahwa karena surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum bersifat Alternatif , maka majelis hakim terlebih dahulu akan mempertimbangkan dakwaan kesatu: Pasal 40 Ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf a UU RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistemnya Jo Pasal 4 ayat (2) peraturan Pemerintah RI No. 7 tahun 1990 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang unsur-unsurnya sebagai berikut:
1. Barang siapa 2. Dengan sengaja
3. Menyimpan, memiliki, memelihara satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.
Menimbang, bahwa dengan terpenuhinya semua unsur-unsur dari Pasal 303 ayat (1) ke-1 KUHP, maka majelis berpendapat dan sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum dalam tuntutan pidananya bahwa dakwaan Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf a UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya alam Hayati dan ekosistemnya Jo Pasal 4 ayat (2) Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum kepada terdakwa tersebut telah dapat dibuktikan secara sah dan meyakinkan menurut hukum.
Menimbang bahwa terhadap perbuatan terdakwa sebagaimana dipertimbangkan di atas, dalam pembelaan yang disampaikan terdakwa menyampaikan bahwa terdakwa merasa bersalah dan merasa menyesal dakn tidak
akan mengulangi perbuatannya lagi, maka terdakwa dalam perkara ini harus mempertanggung-jawabkan atas terjadinya perbuatan tersebut.
Menimbang, bahwa selama persidangan berlangsung tidak ditemukan adanya alasan yang dapat menghapuskan sifat melawan hukum atas tindakan pidana yang dilakukan oleh terdakwa baik alasan pembenar maupun alasan pemaaf, oleh karena itu terdakwa harus dijatuhi hukuman setimpal dengan perbuatannya.
Menimbang, bahwa sebelum majelis menetapkan pidananya kepada terdakwa, maka terlebih dahulu akan dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan yang meringankan bagi terdakwa sebagai berikut:
a) Hal-hal yang memberatkan:
Perbuatan terdakwa dapat memusnahkan satwa yang dilindungi dan ekosistemnya;
Terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam melestarikan
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
b) Hal-hal yang meringankan:
Terdakwa bersikap sopan dan jujur mengakui kesalahannya serta menyesali perbuatannya;
Terdakwa belum pernah dihukum dan mengakui perbuatan terdakwa
dan menyesali dan berjanji tidak mengulangi lagi perbuatannya.
Menimbang, bahwa makna pemidanaan adalah selain sebagai langkah pengamanan dan penertiban bagi kehidupan masyarakat dan yang terutama pula adalah sebagai langkah pendidikan bathin/mental bagi sipelaku, dengan maksud
agar setelah sipelaku menjalankan pidananya, mereka dapat hidup bermasyarakat kembali secara baik seperti seharusnya.
Menimbang, bahwa setelah dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan bagi terdakwa, demikian pula akan maksud dan tujuan pemidanaan, maka cukup beralasan jika terdakwa diberikan hukuman dan dijatuh pidana dan juga dijatuhi hukuman pidana denda yag besarnya ditetapkan dalam amar putusan ini.
Menimbang oleh karena terdakwa dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana, maka sesuai dengan ketentuan Pasal 222 Ayat (1) KUHAP kepada terdakwa harus pula dibebani untuk membayar biaya perkara yang besarnya akan ditentukan dalam amar putusan ini.
Mengingat Pasal 40 Ayat (2) Jo Pasal 21 Ayat (2) huruf a UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 4 Ayat (2) Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, Undang-undang nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, serta pasal-pasal yang bersangkutan lainnya.
f. Putusan
Berdasarkan pertimbangan hakim tersebut, maka majelis hakim memutuskan:
1. Menyatakan Terdakwa ROBIN HUTABARAT telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “DENGAN SENGAJA
MENYIMPAN, MEMILIKI, MEMELIHARA SATWA YANG DILINDUNGI DALAM KEADAAN HIDUP DAN DENGAN SENGAJA MENYIMPAN ATAU MEMILIKI TUBUH ATAU BAGIAN-BAGIAN LAIN SATWA YANG DILINDUNGI DALAM KEADAAN MATI.”
2. Menjatuhkan hukuman pidana penjara kepada terdakwa ROBIN HUTABARAT dengan pidana penjara selama : 3 (tiga) Bulan dan 9 (sembilan) hari serta denda sebesar Rp. 300.000.,- (tiga ratus ribu rupiah) dengan ketentuan apabila denda tidak dibayarkan oleh terdakwa, maka akan diganti dengan pidana penjara selama 1 (satu) bulan penjara.
3. Menyatakan bahwa Tahanan sementara yang dijalani oleh terdakwa selama ini akan dikurangkan seluruhnya dari hukuman penjara yang telah dijatuhkan.
4. Memerintahkan terdakwa ROBIN HUTABARAT segera dikeluarkan dari Tahanan.
5. Menetapkan barang bukti:
5 (lima) ekor hewan trenggiling dalam keadaan hidup yang diletakkan
dalam sebuah keranjang warna orange kombinasi warna putih diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara dan 3 (tiga) kantungan plastik daging hewan trenggiling yang sudah mati dirampas untuk dimusnahkan.
6. Memberbankan terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.
1.000.,- (seribu rupiah).
2. Analisis Putusan
Dalam Putusan Pengadilan Negeri Sibolga dengan Nomor Perkara 216/Pid.B/2011/PN-SBG yang diangkat oleh penulis dalam skripsi ini merupakan suatu kasus tindak pidana pemeliharaan satwa dilindungi dalam hal ini adalah hewan Trenggiling, yang dilakukan oleh Terdakwa Robin Hutabarat.
Dalam putusan ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) membuat surat dakwaan dengan bentuk surat dakwaan alternatif. Pada dakwaan kesatu: Perbuatan yang dilakukan Terdakwa dalam hal ini diatur dalam Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf a UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 4 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Pada dakwaan kedua:
Dalam hal ini diatur dengan Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf a UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 4 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Dapat dilihat bahwa pengaturan di atas menggunakan pasal yang sama, akan tetapi dalam hal ini yang membedakan adalah perbuatanya. Pada dakwaan satu, Jaksa Penuntut Umum menjelaskan dakwaan tentang Terdakwa yang memelihara satwa Trenggiling dalam keadaan hidup, sedangkan pada dakwaan kedua Jaksa Penuntut Umum menjelaskan tentang kepemilikan bagian atau tubuh satwa dilindungi dalam hal ini trenggiling tersebut dalam keadaan mati.
Penulis dalam hal ini menganggap penggunaan surat dakwaan dalam bentuk alternatif ini tepat digunakan. Tetapi terjadi suatu kebingungan terkait
kesamaan pasal yang didakwakan, karena surat dakwaan alternatif digunakan bila belum didapat kepastian tentang tindak pidana mana yang paling tepat dibuktikan.
Meskipun dakwaan terdiri dari beberapa lapisan, hanya satu dakwaan saja yang dibuktikan tanpa harus memperhatikan urutannya dan jika salah satu telah terbukti maka dakwaan pada lapisan lainnya tidak perlu dibuktikan lagi.
Apabila dilihat dari pengertian atau maksud dari surat dakwaan Alternatif tersebut seharusnya yang digunakan oleh Jaksa Penuntut Umum membedakan Pasal sesuai perbuatannya seperti pada dakwaan kesatu: Diatur dengan Pasal Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf a UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 4 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan dakwaan kedua: Diatur dengan Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf d UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 4 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Perbedaan dapat dilihat pada Pasal 21 ayat (2) huruf a dengan Pasal 21 ayat (2) huruf d yang berupa larangan bagi seseorang melakukan suatu perbuatan terhadap satwa.
Pasal 21 ayat (2) huruf a, berbunyi:
“setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.”
Pasal 21 ayat (2) huruf d, berbunyi:
“setiap orang dilarang untuk memperniagakan, menyimpan, atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau
mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.”
Terlepas dari surat dakwaan, dalam hal ini Jaksa Penuntut Umum juga telah menetapkan tuntutan terhadap Terdakwa Robin Hutabarat. Tuntutan yang diberikan kepada hakim terhadap terdakwa Robin Hutabarat adalah menjatuhkan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara dan denda sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) subsidair 1 (satu) bulan kurungan. Terkait dengan tuntutan yang dikeluarkan oleh Jaksa Penuntut Umum tersebut, menurut penulis tuntutan yang diberikan sangat rendah dan tidak akan menimbulkan efek jera kepada pelaku tindak pidana satwa dilindungi khususnya satwa Trenggiling. Seharusnya Jaksa Penuntut Umum dapat memberikan tuntutan yang lebih berat agak timbul rasa takut dari terdakwa dan terdakwa akan mendapatkan efek jeranya.
Terhadap putusan pidana dengan nomor perkara 216/Pid.B/2011/PN-SBG dengan terdakwa Robin Hutabarat ini, hakim menjatuhkan putusan Pidana Penjara selama 3 (tiga) Bulan dan 9 (sembilan) hari serta denda sebesar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupaiah) dengan ketentuan apabila tidak dibayarkan oleh terdakwa, maka akan diganti dengan pidana penjara selama 1 (satu) bulan penjara.
Dalam hal ini, penulis menganggap bahwa putusan yang diberikan oleh hakim tidak pantas dan tidak sesuai, karena hukuman yang dijatuhkan kepada terdakwa sangat rendah dan sangat tidak memberikan efek jera. Meskipun dalam hal-hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan dan jujur mengakui kesalahannya serta menyesali perbuatannya juga beranji untuk tidak mengulangi perbuatannya, tetapi menurut hemat penulis seharusnya putusan yang dijatuhkan
kepada terdakwa harusnya bisa lebih berat bahkan dapat disesuaikan dengan hukuman yang ada dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dalam Pasal 40 ayat (2).
Dalam hal ini, penulis berpendapat bahwa pertimbangan hakim tidak benar. Perlu diketahui bahwa penangkapan trenggiling yang sering terjadi di Indonesia bahkan untuk diekspor keluar negeri ada trenggiling untuk di konsumsi, tidak untuk dipelihara. Setiap bagian tubuh dari trenggiling mempunyai nilai jual yang tinggi mulai dari daging, sisik dan lain-lain karena selain untuk dikonsumsi, trenggiling juga dapat dijadikan sebagai bahan untuk obat-obatan. Harga satu kilogram daging trenggiling di Indonesia mulai dari 500 ribu sampai 1 juta rupiah, sedangkan sisik dari trenggiling bisa mencapai 5 juta perkilonya. Hal ini masih berbeda apabila di ekspor, jika trenggiling diekspor maka harga bisa mnejadi naik 2 sampai 3 kali lipat. Selain itu, trenggiling juga merupakan hewan yang mudah stres, contoh ketika barang bukti dibawa ke polres, 1 diantara trenggiling yang ada, tiba-tiba mati. jadi dalam proses pemeliharaan, sangat tidak mudah untuk memelihara satwa tersebut. Hal ini berarti, terdakwa Robin Hutabarat dapat dikatakan mengetahui banyak hal terkait trenggiling. Artinya apabila dikaji lebih lagi oleh Jaksa Penuntut Umum maka akan ditemukan maksud dan tujuan sebenarnya terkait kesengajaan menangkap dan memilihara untuk tujuan apa.
Hal lain yang membuat pertimbangan bagi penulis adalah perihal trenggiling yang dipelihara di dalam kamar mandi. Mengapa satwa dipelihara diletakkan di dalam kamar mandi, mengapa tidak diletakkan di tempat lain sesuai habitatnya. Karena jika dilihat dari makanannya, makanan utama trenggiling
adalah semut. Trenggiling sering melakukan pembersihan sisik dengan berbaring di atas ribuan semut. Dalam hal ini penulis berpendapat ada pengetahuan dari terdakwa Robin Hutabarat bahwa trenggiling satwa yang dilindungi sehingga penyimpanannya harus disembunyikan dan dirahasiakan.
Penulis sangat tidak percaya jika terdakwa Robin Hutabarat tidak mengetahui bahwa trenggiling adalah satwa yang dilindungi, karena kota Sibolga sudah ditetapkan sebagai kota rawan perdagangan trenggiling. Artinya, pemerintah sudah pasti melakukan sosialisasi dengan masyrakat kota maupun pedesaan yang ada di Sibolga, sehingga sangat tidak mungkin bahwa terdakwa Robin Hutabarat tidak sengaja menangka trenggiling tersebut dan tidak mungkin trenggiling tersebut hanya untuk dipelihara saja. Besar kemungkinan penulis berpendapat bahwa Robin dengan sengaja menangkap dan sengaja akan menjual trenggiling tersebut dan seharusnya hukuman yang pantas diberikan adalah lebih dari 2 tahun penjara.
Hal-hal di atas merupakan suatu pendapat yang seharusnya dapat digali lebih lanjut oleh Jaksa Penuntut Umum untuk menemukan fakta hukum terkait keterangan maksud dan tujuan terdakwa yang sesungguhnya. Penulis menganggap hakim dan jaksa menerima semua keterangan dari terdakwa dan saksi-saksi yang dihadirkan sehingga terdakwa dijatuhkan hukuman yang rendah. Hal ini lah yang membuat penulis menganggap sangat tidak tepat bagi hakim menjatuhkan putusan pidana penjara hanya selama 3 (tiga) Bulan dan 9 (sembilan) hari serta denda sebesar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupaiah) dengan ketentuan apabila tidak
dibayarkan oleh terdakwa, maka akan diganti dengan pidana penjara selama 1 (satu) bulan penjara.
Pendapat lain juga diberikan mengenai putusan hakim tersebut. Hasil wawancara dengan Edina Ginting selaku seksi perlindungan dan pengawetan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam di Kota Medan, menjelaskan bahwa putusan yang dijatuhkan oleh hakim terhadap terdakwa Robin Hutabarat sangat tidak sesuai dan sangat tidak tepat, karena menurut Edina Ginting, kecil kemungkin trenggiling dapat dipelihara apalagi trenggiling yang di tanggap, di dapat tidak hanya dengan sekali jerat. Artinya umpang yang diberikan untuk menjerat babi dengan sengaja tidak diganti walaupun sudah mengetahui nantinya yang akan didapat adalah trenggiling bukanlah babi. Edina juga mengatakan hukuman yang diberikan dengan denda yang diberikan sangat tidak tepat, karena kerugian yang timbul akibat hilangnya 1 trenggiling saja bisa menghilangkan satu rantai makan yang dapat berdampak buruk bagi kelangsungan hidup satwa liar, sedangkan yang ditangkap oleh terdakwa sebanyak 6 ekor, apabila dihitung dari harga jual, maka hukuman yang didapat sangat rendah.73
73 Wawancara dengan Edina Ginting, Seksi Perlindungan, Perencanaan Dan Pengawetan,
73 Wawancara dengan Edina Ginting, Seksi Perlindungan, Perencanaan Dan Pengawetan,