• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Literatur Tentang Desain Komunikasi Visual

BAB II STUDI LITERATUR DAN EKSISTING

2.3 Studi Literatur Tentang Desain Komunikasi Visual

Kamera angle adalah sudut pandang pengambilan gambar dari seorang kameraman. Posisi kamera pada saat anda membidik suatu objek akan sangat berpengaruh pada makna dan pesan yang akan disampaikan (Baksin, 2009:105). Jenis Angle yang biasa digunakan adalah:

Bird Eye View

Bird eye adalah teknik pengambilan gambar yang dilakukan juru kamera dengan

posisi kamera di atas ketinggian objek yang direkam. Hasil dari perekaman teknik ini memperlihatkan lingkukan yang luas dengan benda-benda lain yang tampak kecil. Biasanya dari Helikopter atau gedung kecil.

High Angel

High angle adalah pengambilan gambar dari atas objek. Sudut pengambilan

gambar ini lebih rendah dari yang pertama, tetapi tetap dari atas objek. Di sini objek tampak terlihat jelas dari atas.

Low Angle

Kebalikan dari high angle, low angle merupakan pengambilan gambar dari bawah objek. Membuat kesan berwibawa dan berpengaruh.

Eye Level

Eye level adalah pengambilan gambar yang sejajar dengan objek, dalam arti

tinggi sudut pandang mata objek sejajar dengan kamera. • Frog Eye

Frog Eye merupakan teknik pengambilan gambar yang dilakukan juru kamera

dengan ketinggian kamera sejajar dengan dasar (alas) kedudukan objek. Hampir sama dengan Low angle tapi ini diibaratkan dengan mata katak yang berada di bawah. 2.3.2 Studi Frame Size (Ukuran Gambar)

Ukuran gambar pada setiap shoot ada yang berbeda-beda, tergantung kebutuhan. Dan jadi pertimbangan juru kamera dalam mengemas ukuran berdasarkan skenario sebuah rekaman (Baksin, 2009:113). Berikut ini adalah jenis ukuran pengambilan gambar:

21

Extreme Close Up (ECU), memperlihatkan detil anggota tubuh dalam jarak yang

sangat dekat, misalnya hidung, mata, atau telinganya saja.

Big Close Up (BCU), memperlihatkan shoot dengan batas kepala hingga dagu objek

untuk memperlihatkan ekspresi muka.

Close Up (CU), memperlihatkan shoot dari batas kepala sampai leher bagian bawah

untuk memberi gambaran objek secara jelas.

Medium Close Up (MCU), memperlihatkan shoot dari batas kepala hingga dada atas

untuk menegaskan profil dari seseorang.

Mid Shoot (MS), memperlihatkan shoot dari batas kepala hingga pinggang bawah.

Knee Shoot (KS), memperlihatkan shoot dari batas kepala hingga lutut.

Full Shoot (FS), memperlihatkan Shoot full dari atas kepala hingga ke bawah kaki,

memperlihatkan seluruh karakter.

Long Shoot (LS), memperlihatkan shoot objek keseluruhan beserta dengan latar

belakangnya.

2.3.3 Studi Gerakan Kamera

Dalam mengoperasikan kamera perekam ada beberapa istilah yang sering digunakan dalam pergerakan kamera. Namun kamera perekam di sini dalam keadaan statis/tidak bergerak (Baksin,2009:126).

Zoom in/Zoom out

Di sini kamera secara fisik tidak bergerak, yang ditekan adalah tombol zoom yang terdapat pada kamera. Zoom out berarti kamera seolah-olah mundur ke belakang sehingga gambar tampak semakin mengecil, sebaliknya jika zoom in maka objek akan semakin membesar dan kamera seolah-olah maju.

Tilting

Tilting adalah menggerakkan kamera yang berada dalam keadaan statis ke arah atas

atau bawah. Jika memperlihatkannya dari atas ke bawah disebut tilt down sedangkan kalau dari bawah ke atas disebut tilt up.

22

Panning

Panning adalah suatu pergerakan kamera dalam keadaan statis ke arah kiri ataupun ke

arah kanan, biasanya digunakan untuk mengikuti arah pergerakan objek. Jika perubahan arah kamera ke arah kanan disebut Pan right sedangkan jika ke arah kiri disebut Pen Left.

2.3.4 Studi Tipografi

Dalam buku Rustan yang berjudul “Hurufontipografi”, Tipografi dimaknai sebagai segala disiplin yang berkenaan tentang huruf. Dalam era komunikasi seperti sekarang, tipografi sudah merupakan bentuk visual komunikasi yang sangat kuat, karena bahasa yang tampak ini menghubungkan pikiran dan informasi melalui penglihatan manusia, tipografi menjadi unsur vital dala efektifitas komunikasi cetak dan elektronik. Tipografi adalah salah satu bahsan dalam desain grafis yang tidak berdiri sendiri secara eksklusif, ia sangat erat terkait dengan bidang keilmuan lain seperti komunikasi, teknologi, psikologi, dan lainnya. Ada beberpa istilah yang sering digunakan dalam tipografi, diantaranya adalah:

a) Typeface, adalah karakter-karakter yang didesain khusus untuk digunakan

bersama-sama. Karakter ini memiliki desain dan proporsi yang serupa dan konsisten.

b) Kontras, istilah ini paling banyak digunakan untuk menyatakan perbandingan tebal-tipis huruf , atau perbandingan ketebalan stem stroke dengan hairline

stroke.

c) Legability dan Readbility, Legability berhubungan dengan kemudahan

mengenali dan membedakan masing-masing huruf atau karakter. Sedangkan

Readbility berhubungan dengan tingkat keterbacaan suatu teks.

d) Anatomi, mempelajari anatomi karakter/huruf amatlah krusial. Menyesuaikan bentuk huruf dengan keseluruhan tema desain yang akan dibuat. Hal ini sangat berpengaruh pada keseluruhn layout. Jika tema desainnya anak-anak maka akan berbeda penggunaan hurufnya dengan tema yang eksklusif.

e) Serif, adalah semacam tambahan khusus yang berbentuk kait pada ujung terminal. Contoh typeface ini adalah Times New Roman.

23

f) San Serif, memiliki arti: tanpa serif, yang berarti tidak memiliki semacam pengait pada bagian ujung terminalnya. Sebagai suatu terobosan moderenisasi yang menyimbolkan kesan simpel dan eksklusif. Contoh Typeface ini adalah Akzidenz-Grotesk.

Selain klasifikasi yang umum dilakukan orang, ada lagi klasifikasi yang berdasarkan fungsi yang beranjak dari tujuan karya. Desainer justru dianjurkan melakukan hal ini untuk mempercepat pekerjaannya. Pengklasifikasiannya bisa berdasarkan apa saja, dari tipe pekerjaan, kepribadian typeface, bentuk, sampai usia target audience. Agar pesan dapat tersampaikan dan dapat dimengerti secara efektif, antara typeface dan pesannya haru sesuai.

Bentuk tipografi yang akan digunakan nantinya adalah bergaya san serif untuk menimbulkan kesan yang formal, simpel, dan lebih jelas terbaca. Tipografi berhubungan juga dengan layout. Penataan tipografi yang tepat akan memberi keseimbangan pada gambar nantinya.

2.3.5 Studi Layout

Layout merupakan tata letak elemen-elemen desain terhadap suatu bidang dalam

media tertentu untuk mendukung konsep atau pesan yang dibawanya. Me-layout adalah salah satu proses atau tahapan kerja dalam desain (Rustan, 2008:23).

Prinsip layout ada empat yaitu diantaranya adalah squence/urutan, emphasis / penekanan, balance / keseimbangan, unity / kesatuan. Empat prinsip tersebut merupakan formula penting dalam menyusun sebuah layout yang baik dan sesuai dengan kaedah desain.

1. Sequence / urutan

Sequence juga sering disebut sebagai hierarki / flow / aliran. Layout yang memiliki

prinsip squence didalamnya akan membantu pembaca untuk menerima informasi yang terkandung dalam suatu layout secara berurutan. Dengan adanya squence desainer dapat membuat pembaca secara otomatis mengurutkan pandangan matanya sesuai dengan apa yang desainer mau. Sehingga akibatnya pesan yang disampaikan tidak saling tumpang tindih dan berbicara secara bersamaan.

24

2. Emphasis / penekanan

Emphasis merupakan prinsip layout yang membuat sebuah perbedaan berupa

penekanan khusus pada salah satu elemen grafis atau sebuah informasi yang ada pada suatu layout agar terbaca lebih dahulu. Dalam hal ini emphasis dianalogikan sebagai alat bantu mengatur squence. Emphasis dapat diciptakan dengan berbagai cara, antara lain:

Memberi ukuran yang jauh lebih besar dibanding elemen-elemen layout lainnya pada halaman tersebut.

– Warna yang kontras/berbeda sendiri dengan latar belakang dan elemen lainnya – Letakkan di posisi strategis atau yang menarik perhatian.

Menggunakan bentuk atau style yang berbeda dengan sekitarnya. 3. Balance / keseimbangan

Merupakan pembagian berat yang merata pada suatu bidang layout. Pembagian berat yang merata bukan berarti seluruh bidang layout harus dipenuhi dengan elemen grafis, tetapi lebih pada menghasilkan kesan seimbang dengan menggunakan elemen-elemen grafis yang dibutuhkan saja dan meletakkannya pada tempat yang tepat. Ada dua macam keseimbangan yaitu : keseimbangan simetris dan asimetris. 4. Unity / kesatuan

Unity memiliki arti sebagai penyelaras elemen-elemen grafis yang tersusun dalam

sebuah layout. Keselarasan berbagai elemen grafis tersebut haruslah disesuaikan dengan pesan yang disampaikan dalam konsep. Jika semua elemen grafis yang membentuk sebuah layout memiliki satu pemaknaan yang sama, maka pesan atau informasi yang akan disampaikan pada pembaca tidak terkesan rancu atau menyebar.

Sistem Layout yang akan digunakan nantinya adalah bergaya resmi elegan dengan tata letak yang memperhitungkan keseimbangan. Penataan elemen grafis juga perlu diperhatikan agar tidak merusak konsentrasi dari gambar video. Penataan letak font juga harus diperhitungkan agar tetap terbaca namun tidak terlihat mencolok ketika dimixing dengan gambar video. Elemen grafis terlihat bagus namun tidak terlalu dominan nantinya.

25

Dokumen terkait