• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Model Pengelolaan Sampah Perkotaan Yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Studi Model Pengelolaan Sampah Perkotaan Yang

Sebagian besar model pengelolaan sampah yang telah dikembangkan selalu melibatkan aspek ekonomi dan aspek lingkungan dan aspek sosial. Morrissey dan Browne (2004 dalam Luoranen 2009) mengkategorikan model pengelolaan sampah ke dalam tiga kategori : (1) Cost Benefit

Analysis (CBA); (2) Life Cycle Analysis (LCA); (3) · Multi-Criteria technique (MC).

Finnveden et al. (2007) menjabarkan sederetan metode dan

pendekatan yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah seperti : (1) Environmental Impact Assessment (procedural method); (2) Strategic Environmental Assessment

(procedural method); (3) Cost-effectiveness Analysis (analytical method);

(4) Life-cycle Costing (analytical method); (5) Risk Assessment; (6) Material Flow Accounting; (7) Substance Flow Analysis; (8) Energy Analysis; (9) Energy Analysis; (10) Entropy Analysis; (11) Environmental Management Systems (procedural method); (12) Environmental Auditing.

McDougall et al. (2001) telah mengembangkan model IWM-II, yang

berbasis pada prinsip Integrated Waste Management (IWM). Pada model ini

variabel energi recovery dari SP telah tercakup di sistem. Dengan

menerapkan pendekatan secara holistic yang dimulai dari proses sumber

timbulan sampah, pengumpulan, penanganan dan pembuangan, seluruhnya dioptimasi agar memberikan dampak positif terhadap lingkungan, ekonomi serta di terima masyarakat. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa suatu SPS baru dapat dikatakan berkelanjutan jika sistem tersebut : (1) berwawasan lingkungan; (2) terjangkau secara ekonomis; (3) diterima masyarakat.

Tabel 2.11 menjabarkan studi tentang pengelolaan sampah perkotaan yang pernah dilakukan

Tabel 2.11. Studi Yang Berkaitan Dengan Sistem Pengelolaan Sampah Perkotaan

No. Referensi Model -

Metode Keterangan

1 Abeliotis et al. (2009) ReFlow : Model yang

dikembangkan pada MATLAB, menerapkan skenario unit pricing

pendauran ulang yang berbasis pada derajat ekspansi serta skema pengumpulan sampah di Yunani.

No. Referensi Model -

Metode Keterangan

2 Abou Najm & El-Fadel

(2004) Program linier (spreadsheet) untuk

mengoptimasi biaya pengelolaan sampah

3 Al-Salem et al. (2009) LCA dari status SPSP di

Kuwait

4 Asiedu (2001) Sistem dinamis : SPSP

berkelanjutan terhadap fasilitas lingkungan perkotaan - subsistem terdiri atas populasi dan ekonomi,

5 Badran & El-Haggar (2006)

MPL V.4.2 Software

Memodelkan bilangan bulat campuran untuk pengelolaan sampah di Port Said, Mesir. Analisis biaya dan laba.

6 Barata (2002) SPSP di Portugal : satu

model input- output lingkungan Portugal ; analisis interdependesi antara kegiatan ekonomi dan jumlah sampah yang dihasilkan

7 Bartelings (2003) General Eqilibrium

Analysis : masalah sampah

perkotaan yang berkaitan dengan penetapan unit pricing

8 Beigl & Salhofer (2004) LCA :menggunakan

skenario dan perbandingan biaya dari berbagai

alternatif pengelolaan sampah. Analisis alternatif daur ulang bagi sampah rumah tangga.

9 Beigl et al. (2004a) LCA : hubungan kuantitas

dan kualitas lingkungan yang relevan dengan output aktivitas manusia dan karakteristik regional untuk perencanaan pembangunan

berkelanjutan. Membutuh data berkala selama 32 tahun dari 55 kota di Eropa dan di 32 negara.

No. Referensi Model -

Metode Keterangan

10 Berglund (2003) Studi tentang efesisensi

ekonomi pengelolaan sampah

11 Bovea & Powell (2006) LCA : menggunakan

skenario untuk

mengoptimasi alternatif pengelolaan sampah rumah tangga

12 Budiartha et al. (2000) Simulasi perdagangan

Carbon dari SPSP di

Malaysia

13 Cali et al. (2007) Studi analisisi Landfill

Gas-El Navarro Landfill

14 Calvo et al. (2007) Penggunaan indeks

lingkungan untuk menentukan dampak lingkungan TPA di Chile

15 Chang & Chang (1998) Mengintegrasikan gagasan

untuk prinsip

penghematan biaya, energi dan persyaratan materi pemulihan di kawasan metropolitan Taipei (Taiwan)

16 Clarissa (2007) Dampak Incenarator

terhadap Global Warming 17 Dahbo et al. (2007) LCIA, SLCC Analisis komparasi

pengelolaan sampah media cetak di Finlandia. Penelitian menyatukan LCA dengan analisis ekonomi siklus hidup sosial (SLCC).

18 Daskalopoulos et al.

(1998)

Model komputer untuk

pengelolaan SP. Model yang dihasilkan terarah pada aspek ekonomis.

19 Diaz & Warith (2006) WASTED Menggunakan software

untuk mengevaluasi Dampak lingkungan dari SP. DSS untuk mengambil kebijakan

20 Döberl et al. (2002) CBA : analisis dampak

jangka panjang dari SP sampah di Austria.

No. Referensi Model -

Metode Keterangan

21 Donald (2001) Studi tentang potensi

pendidikan untuk meningkatkan SPS di Vietnam: Hanoi

22 Dornburg et al. (2006) Menggunakan software

untuk mengoptimasi biomasa dari pengelolaan sampah. Hasil analisis berupa data yang berkaitan dengan energi yang diperoleh dari sampah .

23 Dubois et al. (2004) SPSP di EU

24 EPIC (2000) Analisis biaya dan

Analisis Lingkungan SPSP

25 Eriksson et al. (2002) ORWARE model komputer yang

menghitung aliran substansi, dampak lingkungan, dan biaya pengelolaan sampah.

26 Eriksson et al. (2005) ORWARE Analisis komparasi dari 4

kota dalam mengelola SP yang meliputi energi, dampak lingkungan dan biaya lingkungan.

27 Harding (2002) Studi SPSP untuk Hawai`i

28 ERC -Eunomia Research Consulting (2000)

Analisis Ekonomi untuk

mengelola sampah SP yang Biodegradable

29 GBB (2008) Kajian Teknologi

Pengolaan SP

30 Gendebien et al. (2003) Studi prospek bahan bakar

yang berasal dari sampah (RDF)

31 GET (2003) Kajian teknologi

pengelolaan hijau SP– MBT alternative lain dari Incinerator

32 Godley et al. (2004) Kajian SP yang

No. Referensi Model -

Metode Keterangan

33 Grobbin (2004) Kajian teknologi alternatif

baru untuk pengelolaan Sampah

34 Horng et al. (2004) STELLA Sistem dinamis : emisi

GRK dari SPSP di Taiwan

35 Huang, et al. (2001) Model stokastik interval

fuzzy yang dapat

digunakan oleh pemerintah kota untuk pengelolaan sampah. Meminimalisasi biaya sistem dalam rentang perencanaan.

36 Hudson et al. (1985) Studi alternatif biaya TPA

37 Kirkeby et al. (2006) EASEWASE LCA : mengevaluasi

keseluruhan konsumsi dan dampak lingkungan dari SPSP di Aarhus : Denmark.

38 Korhonen et al. (2004) Sebuah penelitian yang

mengembangkan indikator untuk menganalisis skenario manajemen pengelolaan sampah pada industri ekologi (IE).

39 Kum et al. (2004) Vensim Sistem dinamis : untuk

perencanaan keuanganan SPSP di Phnom Penh

40 Lapp et al. (2007) studi pemodelan

pengelolaan sampah yang berkaitan Iklim dan ekonomi

41 Liamsanguan et al (2004) LCA : menggunakan dua

metoda SPSP di Phuket, landfilling (tanpa pemulihan energi) dan

incenerator (dengan

pemulihan energi),

42 Luoranen (2009) Kajian SPSP

berkelanjutan

menggunakan SISMan (Simple Integrated sistem Management)-aliran

massa, energi dan finansial serta MEFLO (Mass, Energy, Financial, Legislation

No. Referensi Model -

Metode Keterangan

43 Mahar et al (2008) Kajian Pratreatment

Biologi pada di TPA

44 Marchettini et al. (2007) Evaluasi pengumpulan

penanganan dan pilihan pembuangan SPmelalui dua Indikator :

perbandingan hasil

lingkungan (EYR) dan Net energy.

45 Mclanaghan (2002) Kajian peranan teknologi

pengelolaan sampah menyambut Landfill Directive di EU

46 Minciardi et al. (2007) Program Nonlinear, model

pengambilan-keputusan multi-objektif pengelolaan SP, mencakup

minimalisasi empat objektif yang berhubungan dengan biaya ekonomi, sampah yang tidak didaur ulang unrecycled

pembuangan pada sanitary landfill serta emisi

insenerator.

47 Miranda et al. (1996) Studi litertaur Unit

Pricing SPSP

48 Mohit (2000) Partisipasi masyarakat

dalam SPSP di kota kalabagan : Dhaka- Bangladesh

49 Mull (2005) Sistem dinamis : SPSP

yang berkelanjutan di kota Sahakaranagar

50 Nie et al. (2004) Studi Model Analisis

Biaya Optimal dan penerapannya pada SPSP dikota kecil : Cina

51 Ostrem (2004 Studi teknologi AD untuk

megolah SP organik

52 Özeler et al. (2006) LCA :Pengembangan dan

perbandingan alternatif pengelolaan SPdi kota Ankara.

No. Referensi Model -

Metode Keterangan

53 Pacey et al. (2003) Bioreactor landfill - satu

inovasi teknogi PS

54 Pongrácz (2002) Studi konseptual tentang

pengelolaan sampah yang melibatkan teori-teori tentang pengelolaan sampah

55 Prawiradinata (2004) GAMS Model SPSP yang

terintegrasi: Kasus distrik ohio pusat-penetapan unit pricing

56 Rahman, et al. (2009) PowerSims Studi teknologi

Pengelolaan Sampah Optimum

57 Ramachandra et al.

(2003)

Studi evaluasi penerapan ISWM pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Bangalore, India.

58 Rathi (2007) Model ekonometrik SPSP

di Mumbai : India.

59 RBC (2004) Studi kelayakan

Anaerobic Digestion 60 Reghunandan (2004) Studi kebijakan SPSP

melaui transfer teknologi di Kerala

61 Reich (2005) ORWARE Kajian ekonomi

pengelolaan SP, berisiunsur penetapan biaya siklus hidup LCC dan LCA.

62 Rendek et al. (2006) Studi penyerapan CO2

63

dari aktifitas Incenerator pada pengolahan SP

RISE-AT (1998) Evaluasi status AD untuk

pengelolaan SP

64 Rodríguez et al. (2003) IWM-1 LCA : based Integrated

Waste Management (IWM-1) model untuk meramalkan keseluruhan beban lingkungan dan dampak ekonomis SPSP.

No. Referensi Model -

Metode Keterangan

65 Sahlin et al. (2002) HEATSPOT Studi dampak insenerasi

di Swedia.

66 Sheehan (2009) LCA : siklus emisi GRK

dengan peningkatan penggunaan Biofuel 67 Shi et al. (2009) Studi tentang potensi

Biofuel SP

68 Sliwa (2006) STELLA Sistem Dinamis :

Pengelolaan sampah di Puebla : Meksiko - potensi daur ulang yang dikaitkan dengan nilai ekonomi dan beban TP

69 Solano et al. (2002) LCA : mengintegrasikan

model SPSP untuk proses identifikasi alternatif strategi SPSP yang berkaitan dengan biaya, energi, dan emisi lingkungan.

70 Stave (2008) Simulasi dinamis : Zero

Waste 2030 - keterlibatan stakeholder di Los Angeles dalam perencanaan SPSP yang berkaitan dengan (ketahanan produk, sampah dari produk, daur ulang produk, tingkat daur ulang produk, konsumsi, laju diversi konsumen, diversi kapasitas pemrosesan, kapasitas pembuangan alternatif) dan 6 luaran simulasi : sampah di TPA, materi yang dikonversikan, GRK relatif, biaya relatif, dan usaha relatif).

71 Stypka (2004) Studi tentang penerapan

SPSP sebagai alat untuk mendukung pembangunan berkelanjutan ; berkaitan dengan ekonomi, energi dan landfill.

No. Referensi Model -

Metode Keterangan

72 Sufian et al (2006) STELLA Sistem dinamis :

Pemodelan sistem SPSP : di Kota Dhaka. model terdiri dari dua sektor : sumber timbulan sampah dan SPS.

73 Sumiani et al. (2009) LCA-Strategi pengelolaan

lingkungan utk TPA disertai studi GIS

74 Tanskanen (2000a,2000b) HMA Model Helsinki

Metropolitan area (HMA) penelitian sistem koleksi sampah yang dipisahkan dari sumber dan proses

recovery

75 Vego et al. (2007) PROMETHEE,

GAIA

Studi efisiensi pengelolaan SPdi empat provinsi yang mencakup aspek Ekologis, ekonomi, sosial dan fungsional.

76 Venkat (2005) Vensim Sistem dinamis : model

daur ulang

77 Wager et al. (2002) Studi tentang peranan

simulasi DSS bagi pengelolaan sampah

78 Weidemeier (2005) Studi MBT untuk

mengolah SP yang dapat mengurangi limbah di TPA

79 Wellinger (2005) Studi tentang produks dan

penggunaan Biogas

80 Wilson (2002a, 2002b) LCI (Live Cycle

Inventory) model untuk

mengevaluasi beban lingkungan yang disebabkan oleh SPSP.

81 Ylijoki et al. (2005) Studi SP yang

Biodegradabe 82 Amurwaraharja (2001) AHP + PowerSIM Pemilihan Teknologi Pengelolaan Sampah (Incenerator, Sanitary Landfiil, Pengomposan)

secara AHP dan simulasi

Willingness to Pay WTP

Berbagai studi, pemodelan dan software telah dikembangkan untuk mengkaji SPSP seperti yang disajikan pada Tabel 2.11. Hasil dan interpretasi sebuah model akan sangat tergantung kepada batasan, asumsi serta data yang digunakan dalam perhitungan. Selain itu dibutuhkan juga tingkat pemahaman yang komprehensif terhadap seluruh proses yang akan dimodelkan, karena software pada dasarnya hanya digunakan untuk

menghitung hasil yang diperlukan dalam pengambilan keputusan.

Untuk dapat melihat skala prioritas pengambilan keputusan dari beberapa alternatif teknologi pengelolaan sampah perkotaan yang melibatkan berbagai aspek pengelolaan sampah perkotaan yang akan disimulasi dengan pendekatan sistem dinamis dapat dilakukan dengan metode Analytic Network Process (ANP).

2.5.. Analytic Network Process (ANP)

Analytic Network Process (ANP) merupakan pengembangan dari

AHP yang ditujukan untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang tidak dapat distrukturisasi secara hirarki (Büyükyazıcı et al., 2003).

Pengembangan ini dilakukan didasarkan karena banyaknya ditemukan masalah pengambilan keputusan yang tidak dapat distrukturisasi secara bertingkat karena adanya interaksi antar elemen di setiap tingkatan serta masalah saling ketergantungan antar elemen yang harus diperhitungkan.

ANP merupakan pendekatan baru dalam proses pengambilan keputusan yang dapat menggunakan jaringan tanpa harus menetapkan level seperti pada hierarki yang digunakan dalam AHP, yang merupakan titik awal ANP. Konsep utama dalam ANP adalah influence (pengaruh),

sementara konsep utama dalam AHP adalah preferrence (preferensi). AHP

dengan asumsi-asumsi dependensinya tentang cluster dan elemen merupakan kasus khusus ANP (Büyükyazıcı et al., 2003).

Pada jaringan AHP terdapat level tujuan, kriteria, subkriteria, dan alternatif, dimana masing-masing level memiliki elemen. Sementara itu, pada jaringan ANP, level dalam ANP disebut klaster yang dapat memiliki

kriteria dan alternatif di dalamnya, yang sekarang disebut simpul yang dapat memiliki hubungan outer dependece , innerdepence serta feedback antara

setiap klaster (Gambar 2.13).

Gambar 2.13.Perbedaan AHP dan ANP (Büyükyazıcı et al., 2003)

Dalam hal penggunaan judgements, dalam AHP seseorang bertanya:

Mana yang lebih disukai atau lebih penting, sementara dalam ANP seseorang bertanya: Mana yang mempunyai pengaruh lebih besar. Pertanyaan terakhir jelas memerlukan observasi faktual dan pengetahuan untuk menghasilkan jawaban-jawaban yang valid, yang membuat pertanyaan kedua lebih obyektif dari pada pertanyaan pertama.

(Büyükyazıcı et al., 2003)

AHP dan ANP sama-sama menggunakan skala rasio yang sama. Prioritas-prioritas dalam skala rasio merupakan angka fundamental yang memungkinkan untuk dilakukannya perhitungan operasi aritmatika dasar seperti penambahan dan pengurangan dalam skala yang sama, perkalian dan pembagian dari skala yang berbeda, dan mengkombinasikan keduanya dengan pembobotan yang sesuai dan menambahkan skala yang berbeda untuk memperoleh skala satu dimensi.

Perlu diingat bahwa skala rasio merupakan skala absolut. Kedua skala tersebut diperoleh dari pairwise comparison (pembandingan sepasang-

sepasang) dengan menggunakan judgements atau rasio dominasi pasangan

pengukuran aktual (Tabel 2.12).

Tabel 2.12. Skala Banding Secara Berpasangan Intensitas

Pentingnya Definisi Penjelasan

1 Kedua elemen sama

pentingnya

Sumbang peran dua elemen sama besar pada sifat tersebut (dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan)

3 Elemen satu sedikit lebih penting daripada yang lainnya

Pengalaman dan pertimbangan sedikit menyokong satu elemen atas yang lain

5 Elemen satu lebih penting dibanding yang lain

Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat mendukung satu elemen atas yang lain

7 Elemen satu jelas lebih penting dari elemen yang lain

Satu elemen dengan kuat dominansinya telah terlihat dalam praktek

9 Elemen satu mutlak lebih penting dari elemen yang lain

Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan

2,4,6,8 Nilai-nilai diantara dua pertimbangan yang berdekatan

Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi di antara dua pilihan Kebalikan Jika untuk aktivitas i

mendapat satu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya

bila dibandingkan dengan i Sumber : (Amurwaraharja,2003)

AHP dan ANP, keduanya menggunakan prosedur untuk mendapatkan skala rasio seperti yang telah diuraikan. Adanya pengaruh-pengaruh

feedback dalam ANP membutuhkan matriks besar yang dikenal dengan supermatriks (berisi suatu set dari sub-matriks). Supermatriks ini diharapkan

dapat menangkap pengaruh dari elemen-elemen pada elemen-elemen lain dalam jaringan. Misalkan suatu cluster dinyatakan Chh = 1,2,…,N dan diasumsikan bahwa cluster ini memiliki elemen sejumlah nh seperti yang

dapat dilihat pada Gambar 2.14 berikut.

Dokumen terkait