II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Tinjauan Empiris Penelitian Terdahulu
2.2.1 Studi Tentang Peran Lembaga Keuangan Mikro
Suatu pengkajian empiris tentang LKM yang bertujuan untuk mengetahui kinerja LKM dalam perspektif pembangunan ekonomi masyarakat telah dilakukan di Jawa dan Luar Jawa melalui pendekatan pemahaman secara partisipatif menggunakan metode group interview dan individual indepth interview melibatkan pengurus dan pengguna LKM.
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Hendayana dan Bustaman (2007) melakukan penelitian dengan judul Fenomena Lembaga Keuangan Mikro Dalam Perspektif Pembangunan Ekonomi Pedesaan. Dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif terhadap LKM contoh yang dipilih secara sengaja, diperoleh gambaran sebagai berikut: (a) Keberadaan LKM diakui masyarakat
15 memiliki peran strategis sebagai intermediasi aktivitas perekonomian yang selama ini tidak terjangkau jasa pelayanan lembaga perbankan umum/bank konvensional;
(b) Secara faktual pelayanan LKM telah menunjukkan keberhasilan, namun keberhasilannya masih bias pada usaha-usaha ekonomi non pertanian. Skim perkreditan LKM untuk usahatani belum mendapat prioritas, hal itu ditandai oleh relatif kecilnya plafon (alokasi dana) untuk mendukung usahatani, yakni kurang dari 10 persen terhadap total plafon LKM; (c) Faktor kritis dalam pengembangan LKM sektor pertanian terletak pada aspek legalitas kelembagaan, kapabilitas pengurus, dukungan seed capital, kelayakan ekonomi usaha tani, karakteristik usahatani dan bimbingan teknis nasabah/pengguna jasa layanan LKM; (d) Untuk memprakarsai penumbuhan dan pengembangan LKM pertanian diperlukan adanya pembinaan peningkatan kapabilitas bagi SDM calon pengelola LKM, dukungan penguatan modal dan pendampingan teknis kepada nasabah pengguna kredit.
Selanjutnya salah satu variabel penting dalam penelitian ini adalah batasan mengenai objek kajian dalam penelitian ini. Karena objek penelitian ini adalah debitur pada Bank Perkreditan Rakyat, maka perlu diketahui faktor pembeda antara Bank Perkreditan Rakyat dengan bank lainnya. Pengertian bank menurut Sinungan (2000), Kasmir (2003) dan Siamat, D (2004) sesuai yang tersirat dalam UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998 adalah : Pertama, Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat. Kedua, Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsif syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Ketiga, Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Herri et al (2006) melihat potensi Bank Perkreditan Rakyat dari segi perannya terhadap Usaha Mikro Kecil (UMK) khususnya untuk daerah penelitian Sumatera Barat. Berdasarkan penelitiannya keberadaaan BPR bagi masyarakat di
daerah perdesaan diharapkan mampu menjadi ujung tombak dalam pembiayaan sektor UMK. Peran BPR di dalam pembiayaan berdasarkan kepada jenis kredit dapat dikelompokkan yaitu pembiayaan untuk kredit investasi dan kredit modal kerja menunjukkan kecenderungan naik baik dalam jumlah kredit yang disalurkan maupun jumlah debitur yang dilayani. Sementara itu untuk kredit konsumsi terjadi penurunan yang cukup signifikan dalam jumlah kredit yang disalurkan sekitar 45 persen per tahun selama tiga tahun terakhir. Penurunan jumlah kredit ini tidak diikuti oleh jumlah debitur yang cenderung tidak mengalami perubahan khususnya dua tahun terakhir. Dengan penelitian ini, diharapkan terjadi peningkatan peran yang signifikan terhadap pembiayaan Usaha Mikro Kecil (UMK).
2.2.2 Studi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Realisasi Kredit
Beberapa kajian empiris yang berkaitan dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap realisasi kredit telah dilakukan sebelumnya untuk beberapa kasus bank konvensional pada beberapa tahun sebelumnya. Penelitian-penelitian terdahulu tersebut memberikan pengamatan yang berbeda-beda pada pola pengambilan data, metode analisis, dan hasil yang dicapai. Penelitian tersebut dilakukan pada realisasi program KUR BRI yang dilakukan oleh Hutagaol (2009) yang melakukan penelitian di BRI Unit Cigombong, Lubis (2009) yang melakukan penelitian di Bank Rakyat Indonesia Unit Cibungbulang dan Mulyarto (2007) yang melakukan penelitian di Bank Rakyat Indonesia Unit Leuwiliang.
Sama halnya dengan program KUR, program KUPEDES BRI juga menjadi fokus beberapa peneliti untuk mengkaji penyaluran kredit mikro terhadap sektor UMKM yaitu penelitian yang dilakukan oleh Sari (2007) di dua tempat Bank Rakyat Indonesia Unit Ciampea dan Unit Citeureup dan Safitri (2007) melakukan penelitian pada Bank Rakyat Indonesia Unit Ciampea. Sementara Mardianingsih (2006), kajiannya sedikit berbeda yaitu melakukan penelitian mengenai dana bergulir Reksa Desa di wilayah pembangunan Bogor Barat.
Mulyarto (2007) yang melakukan kajian mengenai karakteristik nasabah KUR BRI Unit Leuwiliang dan faktor-faktor yang mempengruhi realisasi kredit.
Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu menggunakan simple random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak. Sedangkan metode analisis yang
17 digunakan sama yaitu anlisis deskriptif untuk menganalisis gambaran karakteristik debitur KUR dan analisis kuantitatif menggunakan analisis regresi linear berganda. Sementara Hutagaol (2009) menganalisis mekanisme penyaluran KUR dan faktor-faktor yang mempengaruhi pencairan pinjaman KUR pada sektor agribisnis di BRI Unit Cigombong. Metode pengambilan sampel yang digunakan berbeda yaitu menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 43 debitur yang kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda. Lubis (2009) melengkapi penelitian tersebut yaitu melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi dan pengembalian kredit usaha rakyat (kasus BRI Unit Cibungbulang). Metode pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan sensus dimana sampel yang digunakan dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi KUR di BRI Unit Cibungbulang adalah sama dengan jumlah populasi. Metode analisis yang digunakan antara lain analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif berupa deskriptif dari karakteristik pelaku usaha mikro sebagai debitur KUR.
Sedangkan analisis kuantitatif yang digunakan untuk menganalisis realisasi kredit digunakan metode analisis Regresi Linear Berganda.
Kajian berikutnya mengenai program kredit dari BRI tapi untuk skim kredit lainnya yaitu KUPEDES. Safitri (2007) yang melakukan kajian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi besar Kredit Umum Pedesaan (KUPEDES) pada nasabah BRI Unit Ciampea Bogor. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu menggunakan simple random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak. Sedangkan metode analisis yang digunakan sama yaitu analisis deskriptif dan analisis kuantitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui karakteristik responden dan pola pengembalian dari responden, sedangkan analisis kuantitatif untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya besarnya KUPEDES menggunakan model regresi berganda yang selanjutnya diuji dengan uji F dan uji T.
Sari (2007) melakukan kajian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi permintan Kredit Umum Pedesaan (KUPEDES) di wilayah pedesaan dan perkotaan studi kasus BRI Unit Ciampea dan Unit Citeureup. Sama seperti Safitri, metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu menggunakan simple random
sampling yaitu secara acak. Begitu pula metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis kuantitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis gambaran umum BRI, syarat-syarat penyaluran kredit serta prosedur yang diterapkan untuk memperoleh kredit yang dikeluarkan oleh BRI Unit Ciampea dan Unit Citeureup sedangkan analisis kuantitatif untuk mengetahui tingkat permintaan KUPEDES dan faktor-faktor yang mempengaruhinya menggunakan model regresi berganda
Berdasakan uraian diatas ternyata terdapat beberapa metode sampel yang dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi atau pencairan kredit pada lembaga keuangan khususnya BRI yaitu menggunakan simple random sampling, purposive sampling dan sensus. Akan tetapi dari penelitian terdahulu diatas semuanya menggunakan metode analisis yang sama yaitu metode analisis Regresi Linear Berganda.
Variabel-variabel yang diduga mempengaruhi pencairan atau realisasi kredit menurut kajian sebelumnya berbeda-beda. Mulyarto (2007) menurut penelitiannya faktor-faktor yang mempengaruhi pencairan kredit pada BRI Unit Leuwiliang adalah pendapatan, frekuensi pengambilan kredit, lama usaha dan modal usaha, asset keluarga, asset usaha dan lama pendidikan. Secara umum mayoritas laki-laki sebesar 87,5 persen dan berusia 33-46 tahun sebesar 46,25 persen. Tingkat pendidikan yang dicapai nasabah mayoritas hanya sampai SMU sebesar 43,75 persen. Jenis pekerjaan nasabah mayoritas sebagai wiraswasta sebesar 61,25 persen. Jumlah penghasilan per bulan nasabah KUR BRI Unit Leuwiliang mayoritas berkisar satu sampai dengan lima juta rupiah sebesar 47,5 persen. Waktu yang ditempuh nasabah untuk dapat ke BRI Unit Leuwiliang yaitu selama satu sampai 15 menit sebesar 81,25 persen. Berdasarkan analisis regresi linier berganda, faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi KUR adalah pendapatan, frekuensi pengambilan kredit, lama usaha dan modal usaha. Dari semua faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi ada yang mempengaruhi secara negatif, yaitu asset keluarga, asset usaha dan lama pendidikan.
Hutagaol (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi pencairan kredit adalah lama usaha (tahun), pendapatan bersih rumah tangga per tahunnya ( dalam rupiah), tingkat pendidikan nasabah (dimana D=0 jika tingkat pendidikan SD;
19 D=1 jika tingkat pendidikan SMP/SLTP; D=2 jika tingkat pendidikan SMA/SLTA), ada tidaknya agunan atau jaminan (dimana D=0 jika tidak ada agunan; D=1 jika ada agunan), jarak lokasi usaha dari BRI Unit Cigombong (km), dan usia nasabah (tahun). Hasil analisisnya menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh terhadap pencairan kredit adalah pengalaman usaha, pendapatan rumah tangga dalam setahun, tingkat pendidikan, ada tidaknya jaminan, dan usia nasabah. Sedangkan jarak lokasi usaha dari BRI Unit Cigombong tidak berpengaruh secara signifikan terhadap realisasi KUR.
Sementara menurut Lubis (2009), karakteristik debitur realisasi KUR-Kupedes adalah (1) sebagian besar berusia 36 hingga 45 tahun, berjenis kelamin pria, dan jumlah tanggungan keluarga empat hingga enam orang, (2) sebagian besar memiliki omzet usaha diatas lima juta hingga 10 juta rupiah per bulan, pendapatan bersih diatas 250 ribu hingga 500 ribu per bulan, usaha off farm, dan dan lama usaha maksimal lima tahun, (3) sebagian besar frekuensi peminjaman kredit maksimal dua kali, jumlah kredit yang diajukan diatas diatas empat juta hingga lima juta rupiahdan nilai agunan maksimal dua juta rupiah. Sedangkan berdasarkan analisis regresi berganda, faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap realisasi KUR-Kupedes di BRI Unit Cibungbulang adalah omzet usaha per bulan, tingkat pendapatan bersih per bulan, jenis usaha, jumlah kredit yang diajukan, dan nilai agunan. Omzet usaha per bulan, tingkat pendapatan bersih per bulan, jumlah kredit yang diajukan, dan nilai agunan memiliki pengaruh positif terhadap realisasi KUR-Kupedes, sedangkan jenis usaha (off farm bernilai 1) memiliki pengaruh yang negatif terhadap besarnya realisasi KUR-Kupedes.
Safitri (2007), analisis faktor-faktor yang diduga mempengaruhi besar KUPEDES adalah nilai agunan, tingkat pendidikan, frekuensi peminjaman, asset usaha, asset rumah tangga, jarak dan pendapatan usaha per tahun. Nilai agunan, tingkat pendidikan dan frekuensi peminjaman memiliki hubungan yang signifikan dan positif terhadap besar kredit. Sedangkan asset usaha, asset rumah tangga, jarak dan pendapatan usaha per tahun tidak memiliki pengaruh terhadap besar kredit yang diberikan.
Sari (2007), analisis faktor yang mempengaruhi permintaan KUPEDES adalah pendapatan per tahun, asset keluarga, asset usaha, pengalaman kredit, agunan dan modal. Peningkatan pendapatan berpengaruh positif terhadap permintaan kredit dimana semakin meningkatnya pendapatan nasabah maka semakin meningkat permintaan KUPEDES. Asset keluarga berpengaruh positif terhadap permintaan kredit, sedangkan asset usaha berpengaruh negatif. Pengaruh negatif ini menyatakan bahwa asset usaha tidak mempengaruhi permintaan kredit karena untuk beberapa usaha terdapat beberapa yang tidak memiliki asset usaha yaitu untuk usaha kredit barang. Faktor lainnya yaitu frekuensi peminjaman kredit berpengaruh terhadap besar pinjaman dan waktu perealisasian kredit. Agunan tidak berpengaruh dalam pemberian kredit tetapi berpengaruh terhadap jumlah perealisasian. Faktor lainnya adalah modal, semakin besar modal maka dalam perkembangan dan perluasan usahanya diperlukan tambahan modal, sehingga nasabah mengajukan kredit untuk mendapatkan dana.
Berdasarkan uraian diatas, beberapa peneliti terdahulu menduga terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pencairan atau realisasi kredit. Faktor-faktor tersebut adalah pendapatan, frekuensi pengambilan kredit, lama usaha dan modal usaha, asset keluarga, asset usaha dan lama pendidikan (Mulyarto 2007).
Lama usaha (tahun), pendapatan bersih rumah tangga per tahunnya, tingkat pendidikan nasabah, ada tidaknya agunan atau jaminan, jarak lokasi usaha dari BRI Unit Cigombong, dan usia nasabah (Hutagaol 2009). Omzet usaha per bulan, tingkat pendapatan bersih per bulan, jenis usaha, jumlah kredit yang diajukan, dan nilai agunan (Lubis 2009). Nilai agunan, tingkat pendidikan, frekuensi peminjaman, asset usaha, asset rumah tangga, jarak dan pendapatan usaha per tahun (Safitri 2007). Pendapatan per tahun, asset keluarga, asset usaha, pengalaman kredit, agunan dan modal (Sari 2007).
Analisis mengenai penyaluran dana pada usaha mikro tidak hanya dilakukan pada lembaga keuangan bank. Mardianingsih (2006) melakukan penelitian mengenai analisis penyaluran dan pengembalian kredit dana bergulir sebagai modal pendanaan usaha mikro di wilayah pembangunan Bogor Barat.
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana proses dan mekanisme penyaluran kredit dana bergulir Reksa Desa bagi pengusaha kecil di Kabupaten
21 Bogor dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengembalian kredit dana bergulir sebagai penyedia dana pengusaha kecil di pedesaan. Metode pengambilan sampling yang digunakan dilakukan untuk dua kategori yaitu purposive untuk penentuan sampel lokasi dan simple random sampling untuk penentuan responden penerima kredit dana bergulir. Metode analisis yang digunakan adalah analisis probit untuk variabel dependent.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sasaran utama yang dituju dari program dana bergulir Raksa Desa ini adalah usaha mikro, kecil atau menengah (UMKM) yang memiliki usaha produktif dan menguntungkan. Jumlah dana pinjaman Reksa Desa yang diperoleh responden antara Rp. 300.000,- sampai Rp.
500.000,- yaitu sebesar 86 persen dari kategori pengembalian lancar dan 95 persen dari kategori pengembalian tidak lancar. Sedangkan faktor faktor yang mempengaruhi realisasi KUR ada empat yaitu pendapatan, frekuensi pengambilan kredit, lama usaha dan modal usaha.
Berdasarkan uraian penelitian sebelumnya penulis menjadikan beberapa kajian sebelumnya tersebut sebagai referensi dalam penelitian yang akan dilakukan, hal ini karena secara umum ternyata terdapat persamaan yang mendasar dengan penelitian sebelumnya. Persamaannya pada jenis analisis yang digunakan dan metode analisis dalam penelitian ini, yaitu analisis deskriptif untuk mengetahui karakteristik dan analisis faktor khususnya untuk kasus kredit pada lembaga keuangan bank. Dimana dapat menjawab tujuan dari penelitian yang sama. Metode analisis yang digunakan penulis juga sama yaitu menggunakan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui beberapa variabel yang berpengaruh maupun tidak berpengaruh terhadap realisasi kredit.
Penulis melakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi kredit di BPR Mitra Daya Mandiri Kota Bogor. Selama ini di BPR Mitra Daya Mandiri sendiri menurut wawancara dengan pihak direksi, penelitian yang secara khusus mengkaji Kredit Modal Kerja belum pernah dilakukan, sehingga penulis mencoba mengembangkan penelitian analisis faktor terhadap realisasi kredit dengan menganalisis realisasi kredit terhadap debitur KMK pada BPR Mitra Daya Mandiri yang berlokasi di Tajur Kota Bogor dan mempunyai cakupan wilayah operasional yang lebih luas dari penelitian sebelumnya yang hanya mencakup
wilayah satu Kecamatan, sedangkan BPR Mitra Daya Mandiri memiliki cakupan wilayah operasional Kota dan Kabupaten Bogor dan sekitarnya. Sehingga harapan penulis terdapat variasi debitur yang beda dan dapat dijadikan bahan perbandingan dan pembelajaran bagi penulis ataupun bagi pembaca.
III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Kredit, Teori Permintaan dan Penawaran Kredit
Berdasarkan asal mulanya, Kasmir (2003) menyatakan kredit berasal dari kata credere yang artinya adalah kepercayaan, maksudnya apabila seorang memperoleh kredit maka berarti mereka memperoleh kepercayaan. Sedangkan bagi si pemberi kredit artinya memberikan kepercayaan kepada seseorang bahwa uang yang dipinjamkan pasti kembali. Sinungan (2000) menyatakan manajemen perkreditan pada dasarnya merupakan suatu proses yang terintegrasi antara sumber-sumber dana kredit, alokasi dana yang dapat dijadikan kredit dengan perencanaan, pengorganisasian, pemberian, administrasi, dan pengamanan kredit.
Pada prinsipnya, kredit itu hanya satu macam, yaitu uang bank yang dipinjamkan kepada nasabah dan akan dikembalikan pada suatu waktu tertentu di waktu yang akan datang, disertai kontra prestasi berupa bunga.
Permintaan adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu dan dalam periode tertentu. Permintaan seseorang atau suatu masyarakat kepada suatu barang ditentukan oleh faktor-faktor, diantaranya : harga barang itu sendiri (Px), harga barang lain ( Py), pendapatan konsumen (Inc), cita rasa (T), iklim (S), jumlah penduduk (Pop), dan ramalan masa yang akan datang (F). Hukum permintaan pada hakikatnya merupakan pernyataan bahwa, jika semua hal dibiarkan sama, ketika harga suatu barang meningkat, maka jumlah permintaanya akan menurun (Mankiw, 2006).
Demikian pula dengan kredit, permintaan kredit pada dasarnya sama dengan permintaan sebuah barang hanya saja jenis barang yang diminta dalam bentuk uang (kas). Permintaan kredit dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: harga barang itu sendiri atau interest (ix) dari bank yang bersangkutan, harga barang lain atau interest (iy) dari bank lain, pendapatan debitur (Inc), jumlah penduduk (Pop), dan ramalan masa yang akan datang (F).
Hipotesis permintaan kredit : “ Hubungan antara kredit yang diminta dengan tingkat bunga yang berlaku dimana hubungannya berbanding terbalik ketika
tingkat bunga meningkat atau naik maka jumlah kredit yang diminta akan menurun dan sebaliknya apabila bunga turun maka jumlah kredit yang diminta pun akan meningkat.” Persamaannya :
Kurva permintaan merupakan garis menurun yang menghubungkan harga dengan jumlah permintaan suatu barang. Perubahan yang terjadi pada kurva permintaan terdiri dari gerakan sepanjang kuva dan perubahan kurva permintaan.
a. Pergerakan Sepanjang Kurva Permintaan
Perubahan sepanjang kurva permintaan kredit berlaku apabila kredit yang diminta menjadi makin tinggi atau makin menurun.
Gambar 1. Pergerakan Sepanjang Kurva Permintaan Kredit Sumber : Mankiw (2006)
b. Pergeseran Kurva Permintaan Kredit
Kurva permintaan kan bergerak kekanan atau kekiri apabila terdapat perubahan perubahan terhadap permintaan yang ditimbulkan oleh faktorfaktor selain bunga yang berlaku pada bank tersebut, sekiranya bunga pada bank lain, pendapatan debitur dan berbagai faktor bukan bunga lainnya mengalami perubahan, maka perubahan itu akan menyebabkan kurva permintaan akan pindah ke kanan atau ke kiri.
(Qd kredit = F (ix, iy, Inc, Pop, F)
0
25 Gambar 2. Pergeseran Kurva Permintaan Kredit
Sumber : Mankiw (2006)
Penawaran adalah banyaknya barang yang ditawarkan oleh penjual pada suatu pasar tertentu, pada periode tertentu, dan pada tingkat harga tertentu.
Keinginan para penjual dalam menawarkan barangnya pada berbagai tingkat harga ditentukan oleh beberapa faktor. Yang tepenting adalah : harga barang tersebut (Px), harga barang lain (Py), biaya faktor produksi FP, teknologi, tujuan perusahaan, ekspektasi (ramalan). Hukum penawaran pada dasarnya mengatakan bahwa : “Jika semua hal dibiarkan sama, ketika harga suatu barang meningkat, maka jumlah penawarannya akan meningkat” (Mankiw, 2006).
Penawaran kredit adalah besarnya uang yang dicairkan (direalisasikan) oleh pihak bank (kreditur) pada periode tertentu dan pada tingkat bunga tertentu.
Penawaran kreditpun dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: harga barang tersebut atau bunga bank tersebut (ix), harga barang lain atau bunga pada bank lain (iy), biaya faktor produksi dalam hal ini biaya administrasi bank (FP), teknologi, tujuan perusahaan, ekspektasi (ramalan). Hukum penawaran pada dasarnya mengatakan bahwa : “Semakin tinggi tingkat bunga yang berlaku, semakin besar kredit yang akan dicairkan oleh bank tersebut. Sebaliknya, makin rendah bunga yang berlaku, semakin sedikit jumlah kredit yang yang dicairkan.”
0
Secara matematis :
Gerakan Sepanjang dan Pergeseran Kurva Penawaran a. Pergerakan Sepanjang Kurva Penawaran Kredit
Kurva penawaran selalu naik, karena ketika semua hal dianggap tidak berubah, tingkat bunga yang tinggi akan meningkatkan pencairan kredit oleh pihak bank (saat i naik dari i ke i1 maka Qs pun meningkat dari Qs ke Qs1 ).
Gambar 3. Pergerakan Sepanjang Kurva Penawaran Kredit Sumber : Mankiw (2006)
b. Pergeseran Kurva Penawaran Kredit
Perubahan dalam jumlah yang ditawarkan dapat berlaku sebagai akibat dari pergeseran kurva penawaran. Perubahan apapun yang meningkatkan jumlah yang ingin dibeli oleh pembeli pada harga berapa pun menggeser kurva penawaran ke kanan. Perubahan apapun yang menurunkan jumlah yang ingin dibeli oleh pembeli pada harga berapapun menggeser kurva penawaran ke kiri.
Demikian juga dengan kredit, jumlah kredit yang dicairkan untuk setiap tingkat bunga, dengan asumsi semua faktor lain, diluar tingkat bunga pada bank tersebut, yang mempengaruhi keputusan kreditur untuk mencairkan kredit, tidak ada yang berubah. Sebagai contoh, misalkan biaya administasi turun. Karena biaya administrasi merupakan biaya yang dikeluarkan bank sebagai kreditur, turunnya biaya administrasi akan membuat biaya yang dikelurakan bank semakin efisien sehingga akan meningkatkan pendapatan bank, ini akan meningkatkan jumlah
Qs = F (ix, iy, Fp, T1 ... )
0
27 kredit yang akan dicairkan. Pada tingkat bunga berapapun, bank akan menacairkan kredit dalam jumlah yang lebih besar. Dengan demikian, kurva permintaan akan bergeser ke kanan seperti terlihat pada Gambar 5.
Gambar 4. Pergeseran Kurva Penawaran Kredit Sumber : Mankiw (2006)
Beradasarkan Gambar tersebut, kasus realisasi kredit yang diteliti merupakan termasuk ke dalam penawaran dalam hal ini penawaran pihak bank sebagai produsen atau kreditur pada tingkat bunga tertentu kepada pihak konsumen atau debitur. Penawaran kredit tersebut seperti telah dijelaskan sebelumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tingkat bunga abank tersebut yang akan membuat kurva penawaran kredit bergerak sepanjang garis atau tingkat bunga bank lain, biaya input bank (misal biaya administrasi dan provisi bank), teknologi, dan ekpektasi (ramalan) sebagai faktor yang akan menggeser kurva penawaran kredit ke kiri atau ke kanan. Kurva penawaran selalu naik, karena ketika semua hal dianggap tidak berubah, tingkat bunga yang tinggi akan meningkatkan pencairan kredit oleh pihak bank. Perubahan apapun yang
Beradasarkan Gambar tersebut, kasus realisasi kredit yang diteliti merupakan termasuk ke dalam penawaran dalam hal ini penawaran pihak bank sebagai produsen atau kreditur pada tingkat bunga tertentu kepada pihak konsumen atau debitur. Penawaran kredit tersebut seperti telah dijelaskan sebelumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tingkat bunga abank tersebut yang akan membuat kurva penawaran kredit bergerak sepanjang garis atau tingkat bunga bank lain, biaya input bank (misal biaya administrasi dan provisi bank), teknologi, dan ekpektasi (ramalan) sebagai faktor yang akan menggeser kurva penawaran kredit ke kiri atau ke kanan. Kurva penawaran selalu naik, karena ketika semua hal dianggap tidak berubah, tingkat bunga yang tinggi akan meningkatkan pencairan kredit oleh pihak bank. Perubahan apapun yang