• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

A. Study Kualitatif

Hasil studi dan Pembahasan

A. Study Kualitatif

Percobaan tehnik TnO yaitu satu model pembelajaran yang mempolitisir satu situasi belajar melalui teks reading untuk membantu pelajar mencapai skill Confiden Speaking dengan efektif telah dijalankan. Pada pertemuan pertama agak menegangkan sampel karena peneliti banyak berbicara dalam bahasa Inggris. Ditambah lagi dengan pembelajaran dikte, sampel semakin putus asa. Namun setelah peneliti menggabungkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia (kadang-kadang bahasa Aceh) sampel mulai rilek. Sampel di kedua kelas terkesan sangat pendiam, pasif dan tidak interest pada pelajaran bahasa Inggris. Kadang-kadang berkesan kurang menghargai. Ini mungkin salah satu penyebab mereka tidak mampu menguasai bahasa Inggris sehingga nila bahasa Inggris mereka rendah. Sebagaimana dikatakan Parilah Shah (2000) bahwa diantara penyebab rendahnya kemampuan bahasa Inggris pelajar adalah low self-esteem dan language attitude siswa. Oleh karena itu peneliti berusaha memberi semangat dan motivasi dengan mengatakan betapa beruntungnya mereka bila mereka pandai berbahasa Inggris. Namun sampel tetap mengeluh ’susah’ dengan wajah tidak peduli.

Dari pengamatan tim peneliti, pada setiap sampel kelas satu dan kelas dua ditemukan hanya 3 % menunjukkan mau mencoba, 97%

sampel menolak dan tidak antusias. Akhirnya peneliti berkata menghibur:

Peneliti: ”Kalau kamu tidak bisa ...ya nggak apa-apa. Ini kan baru proses belajar, belum lagi ujian. Yang penting kamu mencoba dulu.

Kalau sudah dicoba walaupun tidak bisa sekurang-kurangnya kamu sudah tahu. Tidak

harus bisa. Gimana ..., mau nggak kamu mencobanya?

Sampel: hnnnnng Nggak bisa.... hanjut buk hai ... (tidak bisa bu ...)

Peneliti: Mencoba aja? Kalau ibu suruh baca, kamu baca ... ikuti aja ... Kalau nggak bisa yah nggak apa-apa. Sekali ....saja, boleh?

(setelah beberapa kali tanya akhirnya sampel

menjawab ’mau’.

Pembelajaran dimulai dengan pembelajaran dikte. Dikte adalah situasi yang sering ditemukan dalam percakapan sehari- hari, seperti menanyakan nama orang, nama benda, menulis surat dirumah atau dikantor dan cara membuat sesuatu dan sebagainya.

Selama proses dikte kajian menemukan sampel sangat cemas dan sangat terkejut.

Sampel ternyata tidak pernah menerima pembelajaran dikte. Suasana jadi riuh ribut.

Sampel tidak mau. Peneliti coba merayu dan membujuk mereka. Sampel tetap mengatakan

’hanjeut...’. akhirnya peneliti mengatakan kalau begitu kamu coba-coba aja. Kalau salah tidak apa-apa. Akhirnya sampel mengikuti apa yang dikatakan oleh guru. Dikte adalah proses belajar mendengar, menulis dan mengingat ejaan kosakata. Selama proses dikte, sampel menyadari spelling kata-kata baru dan yang sudah diketahui. Untuk merangsang atau memotivasi sampel dalam membentuk tingkah laku spesifik selanjutnya, sampel direspon dengan memberi nilai atau mark sebagai reinforcer (hadiah) agar termotivasi mengikuti komponen tingkah laku selanjutnya.

Nilai rata-rata dikte rata-rata dibawah empat!

Tahap kedua dilanjutkan dengan pembelajaran Membaca (Reading Comprehension). Reading Comprehension dalam konteks tehnik TnO adalah pelajaran dimulai dengan belajar membaca kosakata, kalimat dan frasa bhs. Inggris yang ada dalam teks baru dilanjutkan dengan memahami isi teks. Dalam proses belajar membaca kajian menemukan hampir semua sample membaca.

Sample seperti sedang mendapatkan apa yang sedang mereka cari. Sampel mencoba meniru cara peneliti membaca. Mereka baru menyadari betapa penting latihan membaca.

Apa lagi dalam pembelajaran dikte. Peneliti memberi kesempatan seluas-luasnya agar sampel mencoba dan mendengar sendiri suara mereka dalam bahasa Inggris. Ketika peneliti bertanya siapa yang mau membaca dengan keras, 80% sampel menunjuk tangan untuk mendapat kesempatan membaca keras. Kajian menemukan sesungguhnya sampel sangat suka bhs. Inggris.

Berikutnya sampel belajar memahami isi teks. Memahami isi teks tidak saja untuk

mendapatkan informasi. Ia juga untuk mempersiapkan sampel terlibat aktif dalam sesi tanya jawab dan Confident Speaking.

Untuk dapat menjawab tanya jawab pada sesi berikutnya sampel diberi waktu untuk mengingat cerita keseluruhan. Melalui teks, sampel memperoleh input atau ide untuk berbicara. Sekarang sampel sudah dapat diajak bertanya jawab. Situasi percakapan yang dipolitisir adalah satu proses belajar bercakap-cakap tentang isi teks yang dipelajari secara sistematik. Tanya jawab secara oral dimulai dari guru dengan sampel. Sampel ternyata sangat senang dengan pertanyaan yang diajukan. Hampir semua sampel menunjuk tangan untuk memperoleh kesempatan menjawab pertanyaan. Suasana kadang riuh seperti dalam sebuah kompetisi. Setelah beberapa kali pertemuan sampel dilatih bertanya jawab antara sampel dengan sampel secara oral. Setelah peneliti yakin sampel telah memahami isi teks, selanjutnya pembelajaran dilanjutkan dengan pembelajaran Confident Speaking.

Dengan demikian proses pembelajaran kosakata secara berulang-ulang terjadi dari tahap pertama yaitu sampel menulis kosaka dan dikte. Menurut Mariam da Rahmad (2006) kesalahan yang terjadi pada saat dikte dapat memberi kesan yang dalam ketika mengtahui spelling yang sesungguhnya.

Pada tahap kedua yaitu ketika pembelajaran membaca atau reading comprehension. Sampel sering mengucapkan kata-kata

‘o....ooooooooooo lagenyo (ooo…gini…).

Lalu tertawa-tawa terbahak-bahak karena mereka bandingkan spelling yang mereka tulis sangat aneh, jauh dari yang sebenarnya. Kedua pembelajaran membaca teks yaitu proses reinforce pembelajaran kosakata-kata baru dan yang sudah diperlajari. Sampel menulis kosakata dan belajar cara mengucapkannya berulang kali. Sampel diberi kesempatan membaca keras sehingga tau cara mengucapkan bunyi (sound) kata-kata yang sesungguhnya. Kemudian sampel belajar menterjemah teks bacaan yang terdiri kata-kata dan frasa (phrase). Pada sesi in sampel semangkin menguatkan pemahaman dan kesan kosa kata dalam memori dan lidah mereka.

Setelah sampel memahami isi teks, selanjutnya sampel mengapalikasikan kosakata, farasa, dan fungsinya melalui kalimat dalam percakapan, yaitu tanya jawab antara guru dan sampel atau sesama sampel.

Ini adalah pengulangan ketiga. Dalam proses tanya jawab pertanyaan diajukan secara sistematik sesuai dengan arahan Hasriati (2011). Pemahaman sampel tentang gambaran keseluruhan isi teks semakin kuat. Sampel tidak diizinkan membuka buku bacaan.

Peneliti mengawali dengan pertanyaan pendek, lambat dan berulang-ulang. Kajian menemukan 40% sampel mengerti pertanyaan dan tahu jawaban. Dan juga 40% sampel menunjuk tangan untuk memperoleh kesempatan menjawab pertanyaan.

Dari hasil pengamatan dan catatan yang dibuat selama proses pembelajaran dapat disimpulkan grafik kemampuan Speaking Sederhana (daily speaking) sample meningkat dengan signifikan dari catatan yaitu siklus 1, siklus ke 2 dan ke 3. Namun pada siklus ke 4 kajian menemukan pada sesi tanya jawab motivasi menjawab sampel menurun.

Sebabnya adalah suasana sekolah terlalu bising dan sangat mengganggu konsentrasi sampel.

Bila sampel sudah menguasai isi teks, pembelajaran dilanjutkan ketahap yang paling maksimum yaitu sampel disuruh menceritakan kembali semua isi text yang sudah dibaca (Confident Speaking). Sebelum latihan Confident Speaking peneliti menegaskan kembali isi teks keseluruhan. Tahap ke empat ini sampel diberi kesempatan mengekspresikan ide, pengetahuan dan pendapat mereka dengan menggunakan kosakata, frasa dalam kalimat-kalimat panjang secara oral. Ini adalah puncak penggunaan kosakata dan frasa bahasa Inggris yang telah dipelajari. Sampel berbicara bahasa Inggris dalam uraian yang panjang dan semangkin komplet. Sampel berbicara secara alami mengggunakan pikiran, kosakata dan frasa yang telah dipelajari. Menurut Gestalt dalam Wina (2007) potensi ini boleh menjawab apa yang dikatakan’Sebuah kata akan bermakna manakala ada dalam sebuah kalimat. Dan kalimat akan memiliki makna apabila ada dalam sebuah karangan atau percakapan’.

Pada tahap ketiga

Sesi Confident Speaking pada siklus ke 4 hanya ada satu sampel yang memperoleh kesempatan menceritakan kembali. Pada hari terakhir sekolah membuat acara perpisahan dengan guru-guru praktek sehingga waktu tidak cukup. Namun sampel ternyata sangat hebat!. Dia dapat menceritakan kembali dengan sangat baik dan tuntas.

Namun setiap pertemuan waktu sering tidak cukup untuk dilanjutkan ketahap writing. Akhirnya peneliti menugaskan sampel untuk membuat laporan atau kesimpulan materi pembelajaran dirumah. Dari hasil tugasan writing sebagai pekerjaan dirumah kajian menemukan sampel yang mengerjakan tugas menulis (writing ) mampu menulis dengan karangan yang baik walaupun secara grammar masih lemah. Namun sebagai tahap awal sampel telah mampu memaparkan satu topik dengan sistematik secara tertulis. Ini disebabkan sampel telah memperoleh pengalaman bagaimana memaparkan satu cerita dengan sistematik pada pembelajaran Confidence Speaking. Namun kajian juga menemukan sampel kebanyakan malas mengerjakan tugasan rumah. Walaupun secara langsung peneliti tidak melihat sampel mengerjakan disekolah. Rata-rata jawaban sampel sama. Ini menunjukan sampel tidak mengerjakan sendiri dan pengerjaannya dibuat disekolah.

Tahap demi tahap yang dilalui oleh sampel merupakan suatu penggunaan dan pengucapan kosakata yang berulang-ulang (repetation). Kajian menemukan bila kosakata

dan pengucapan ini telah dikuasai, dorongan untuk berbicara dan belajar bahasa Inggris semakin kuat dan rasa percaya diri sampel semakin tinggi. Jumlah sampel yang menunjuk tangan cukup tinggi dan konsisten sampai akhir siklus tiga. Hanya dari segi Confidence Speking walaupun tidak terlalu tinggi namun ditemukan confidence speaking beberapa sampel mulai berkembang dan bahkan cukup mapan dengan nilai 7.5-9.5. Percobaan ini berlangsung sangat pendek yaitu hanya 3 bulan setengah. Andaikata tehnik bisa diterapkan sepanjang tahun, siswa yang mempunyai potensi akan mencapai tahap confidence speaking yang baik.

Berikut adalah gambaran pelaksanaan tehnik TnO dalam proses pembelajaran.

Gambar 2 menunjukan proses pembelajaran yang dijalankan oleh tim peneliti di kelas satu dan kelas dua. Pelaksanaannya berbentuk urutan atau serangkaian komponen tingkah laku yang berulang-ulang dan spesifik.

Pembelajaran secara spesifik terhadap tiga atau empat tingkah laku menciptakan satu pembelajaran kosa-kata dan pengucapan yang berulang-ulang pada satu materi. Gambar 3 di sebelah kanan adalah urutan atau sekwens dan komponen tingkah laku yang spesfik dalam satu pertemuan proses pembelajaran tehnik TnO.

Proses berulang-ulang

Gambar: 2 urutan dan komponen Gambar 3: Proses Tingkah laku pembelajaran tehnik TnO Keempat skill sekaligus

dalam satu materi

Dokumen terkait