• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sub Unit Pengembangan Formulasi

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 29-37)

4.1 Sub Unit Pengembangan Formulasi

Sub Unit Pengembangan Formulasi merupakan bagian terpenting dari suatu industri farmasi yang berperan dalam mengembangkan formula untuk produk baru, baik yang mengandung bahan sintesis maupun bahan alam, mereformulasi produk yang telah beredar di masyarakat, membantu memecahkan masalah yang datang dari bagian produksi, berpartisipasi dalam pemilihan bahan baik bahan baku ataupun bahan pembantu yang murah dengan tujuan untuk menekan biaya produksi serta bekerja sama dalam melakukan uji bioekivalen dan bioavailabilitas, uji khasiat dan toksisitas dengan lembaga penelitian tertentu.

Alur pengembangan produk baru dimulai dari munculnya ide yang bersumber dari unit pemasaran, produksi, risbang dan dewan direksi, kemudian dirapatkan dalam rapat koordinasi produk baru. Untuk pengembangan produk baru program pemerintah, pengembangannya tidak perlu diajukan dalam rapat koordinasi. Hasil rapat berupa Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) yang

21

Universitas Indonesia mengandung keputusan produk baru yang akan diproduksi, waktu dimana produk tersebut mulai diproduksi dan mulai diedarkan ke pasaran.

Produk baru yang akan dibuat merupakan hasil pertimbangan berdasarkan tren pasar, minat konsumen dan anggaran yang ada. Seluruh Sub Unit Risbang akan melakukan kegiatan team untuk merealisasikan produk baru tersebut sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing, Sub Unit Pengembangan Formula akan melakukan praformulasi dan studi literatur untuk mengetahui sifat fisikokimia zat aktif, seperti kelarutan, titik leleh, stabilitas, efek farmakologi dan lainnya. Setelah itu mencari informasi mengenai produk kompetitor, baik dari segi harga hingga bahan baku yang digunakan.

Perancangan beberapa formula alternatif yang akan dibuat dalam skala laboratorium, kemudian dianalisis baik secara fisik, kimia maupun mikrobiologi, dan dipilih formula yang paling memenuhi syarat. Validasi proses dan uji stabilitas dipercepat dilakukan pada formulasi yang telah dipilih, kemudian dibuat dalam skala pilot yang jumlahnya 1/10 dari skala produksi atau 100.000 tablet.

Hasil dari skala pilot akan di analisis oleh Sub Unit Pengembangan Metode Analisis dan Validasi kemudian dilakukan validasi proses, uji stabilitas jangka panjang dan dipercepat. Selain itu, dibuat Batch Record atau Catatan Pengolahan Bets (CPB), protokol dan laporan validasi, protokol dan laporan hasil uji stabilitas dipercepat dari skala pilot yang diperlukan untuk melengkapi dokumen registrasi ke Badan POM.

Produk PT. Kimia Farma Tbk. yang termasuk dalam kategori produk yang wajib dilakukan uji bioekivalensi (BE) menurut Badan POM harus dilakukan uji bioekivalensi. Pengujian bioekivalensi (BE) diperlukan dengan tujuan untuk mengetahui ekivalensi secara terapetik antara obat copy dengan obat inovator. Untuk melakukan pengujian tersebut, PT. Kimia Farma Tbk. menjalin kerja sama dengan laboratorium penelitian yang telah terakreditasi untuk melakukan uji BE sesuai dengan protokol yang telah disetujui komisi etik. Pada proses uji BE, PT Kimia Farma Tbk. bertindak sebagai sponsor yang berperan dalam menyediakan dana, produk uji, data pendukung awal dan mengawasi jalannya uji BE. Beberapa hal yang perlu diawasi diantaranya adalah fasilitas, pemenuhan prosedur Good

Universitas Indonesia

Laboratory Practice (GLP), kesesuaian alur proses BE dengan protokol serta

pemenuhan hak volunteer oleh institusi pelaksana BE.

4.2 Sub Unit Pengembangan Ekstraksi Bahan Alam

Sub unit ini telah berdiri sendiri dan tidak bergabung lagi dengan Sub Unit Pengembangan Formulasi. Hal ini disebabkan semakin maraknya penelitian mengenai bahan alam dan merupakan lahan yang potensial di industri farmasi. Bahan alam yang digunakan sebagai bahan baku antara lain tanaman segar, simplisia, ekstrak atau isolat yang diperoleh melalui proses tertentu dan terstandardisasi.

Selain itu, sub unit ini awalnya terdiri dari tiga sub bagian, yaitu budidaya tanaman, laboratorium/pilot ekstraksi bahan alam dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan (K3L). Akan tetapi, untuk saat ini bagian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan (K3L) telah menjadi tanggung jawab dari masing-masing unit PT. Kimia Farma Tbk.

Proses budidaya tanaman PT. Kimia Farma Tbk. dilakukan di Kebun Percobaan Banjaran (KP Banjaran), Kebun Tanaman Obat Bintang (KTO Bintang) dan Laboratorium Kultur Jaringan. KP Banjaran memiliki area perkebunan seluas 5 hektar dengan 13 orang personil yang bekerja didalamnya, sedangkan di KTO Bintang memiliki area perkebunan seluas 1.060 hektar dengan 300 orang personel yang bekerja didalamnya. Di KTO Bintang, ditanami tanaman kayu yang berfungsi untuk mencegah erosi dan dapat menjadi sumber penghasilan. Selain itu, terdapat tanaman kacang-kacangan yang berfungsi untuk menghindari tumbuhnya gulma, mengurangi penggunaan herbisida serta untuk mengikat nitrogen dari udara.

Seluruh bahan alam yang akan digunakan sebagai bahan baku dalam formulasi harus distandarisasi, baik berdasarkan proses, kimia, fisik maupun mikrobiologi. Sub Unit Pengembangan EBA juga berperan dalam memanfaatkan limbah hasil produksi, salah satunya ampas kina. Ampas kina tersebut diolah menjadi bahan yang dapat digunakan kembali, misalnya pupuk. Untuk limbah

23

Universitas Indonesia lainnya yang tidak dapat diolah maka akan di kelola dalam IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah).

4.3 Sub Unit Pengembangan Metode Analisis dan Validasi

Tugas dari sub unit ini ada yang bersifat pengujian ataupun penelitian bahan baku maupun produk jadi. Pengujian yang dimaksud adalah menguji atau menganalisis suatu bahan baku dan produk jadi dengan menggunakan prosedur tetap dan protokol metode analisis yang telah ditetapkan sebelumnya. Penelitian yang dimaksud adalah meneliti bahan baku atau produk jadi yang baru, kemudian ditetapkan metode analisis yang sesuai. Setelah itu dibuat prosedur tetap maupun protokol validasi metode analisis.

Kalibrasi terhadap instrumen dilakukan dengan tujuan untuk menunjang analisis dan validasi yang dilakukan. Kalibrasi dilakukan oleh seorang yang kompeten dan telah memiliki sertifikat kompetensi dalam hal kalibrasi. Kalibrasi instrumen dilakukan dalam jangka waktu tertentu, baik satu tahun maupun enam bulan sekali.

Uji stabilitas terhadap produk jadi, baik dipercepat ataupun jangka panjang, dilakukan oleh sub unit ini. Uji stabilitas dipercepat (accelerated stability) dilakukan pada suhu 40° ± 2°C dengan kelembapan relatif 75% ± 5%, sedangkan uji stabilitas jangka panjang (on going stability) dilakukan pada temperatur 25° ± 2°C / 30° ± 2°C dengan kelembaban relatif 60% ± 5% / 65% ± 5%. Produk disimpan dalam alat climatic chamber. Untuk uji stabilitas dipercepat, pengambilan sampel dilakukan pada saat awal, 3 dan 6 bulan.

Uji stabilitas jangka panjang dilakukan pada saat awal, 3, 6, 9, 12, 18, 24, 36 bulan, selanjutnya dilakukan analisis untuk mengetahui ada tidaknya penurunan kadar dan perubahan fisik, kimia maupun biologi dari produk tersebut sehingga saat kadar obat tidak memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan pada periode waktu tertentu maka periode tersebut ditetapkan sebagai waktu kadaluarsa obat. Sub unit ini akan membuat protokol dan laporan hasil uji stabilitas yang akan di cantumkan dalam Catatan Pengolahan Bets.

Tugas lain sub unit ini adalah melakukan analisis secara mikrobiologi. Hal ini dilakukan untuk menguji produk farmasi yang diharuskan untuk menentukan

Universitas Indonesia kadar mikroba, seperti produk bahan alam dan produk sintesis seperti antibiotik hingga sediaan steril. Analisis mikrobiologi yang dilakukan oleh sub unit ini meliputi Uji Angka Lempeng Total (ALT) untuk menentukan jumlah bakteri dan jamur total yang terdapat pada sampel yang diperiksa kemudian ditentukan jumlah bakteri patogen, yaitu Eschericia coli, Salmonella typhosa, Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa yang merupakan mikroba-mikroba indikator.

Uji mikrobiologi lainnya yaitu uji sterilitas sediaan steril yang bertujuan untuk menetapkan apakah sediaan tersebut memenuhi persyaratan sesuai dengan uji sterilitas yang tertera pada masing-masing monografi, sedangkan untuk sediaan antibiotik dapat diuji Kadar Hambat Minimum (KHM) untuk menetapkan konsentrasi minimal obat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba.

4.4 Sub Unit Registrasi dan Desain Kemasan

Sub unit ini bertugas untuk mendaftarkan produk jadi ke Badan POM sehingga mendapatkan Nomor Izin Edar (NIE). Produk yang telah memiliki NIE dapat diproduksi dan diedarkan di masyarakat. Selain itu, tujuan lain dari registrasi produk obat adalah untuk melindungi masyarakat dari peredaran produk obat yang tidak sesuai dengan persyaratan khasiat (efficacy), mutu (quality) dan keamanan (safety).

Dalam melaksanakan tugasnya, Sub Unit Registrasi dan Desain Kemasan PT. Kimia Farma Tbk. bertanggung jawab untuk mengumpulkan semua dokumen yang diperlukan dalam proses registrasi obat. Setelah dokumen yang diperlukan telah siap, maka akan dikirimkan ke bagian Regulatory Officer (RO) PT. Kimia Farma Tbk. yang terletak di Jakarta dan bagian inilah yang akan mengirimkan dokumen registrasi ke Badan POM.

Proses registrasi diawali dengan pra-registrasi yang bertujuan untuk konsultasi mengenai kelengkapan dokumen registrasi obat, menentukan biaya evaluasi, jalur evaluasi obat dan kategori registrasi obat. Kategori registrasi obat terdiri dari registrasi baru yang terdiri atas kategori 1-3; registrasi variasi yang terdiri atas kategori 4-6; serta registrasi ulang yang terdiri atas kategori 7. Untuk jalur evaluasi obat terdiri dari jalur 1 (40 Hari Kerja), jalur 2 (100 Hari Kerja) dan jalur 3 (150 Hari Kerja) dan jalur 4 (300 Hari Kerja) (Badan POM, 2011).

25

Universitas Indonesia Proses pra-registrasi berjalan selama 40 hari sejak diterimanya permohonan pra-registrasi obat. Hasil Pra-Registrasi (HPR) berlaku selama satu tahun sejak tanggal dikeluarkan, selanjutnya dokumen registrasi yang terdiri dari bagian 1 (dokumen administrasi dan informasi obat), bagian 2 (dokumen mutu), bagian 3 (dokumen uji non klinik) dan bagian 4 (dokumen uji klinik), diserahkan ke Badan POM untuk dievaluasi. Produk obat yang dihasilkan oleh PT. Kimia Farma Tbk. merupakan produk me too sehingga cukup menyerahkan dokumen registrasi bagian 1 dan 2.

Evaluasi dilakukan oleh Badan POM melalui rapat Komisi Nasional Penilaian Obat Jadi (KOMNAS POJ) sesuai dengan jalur evaluasi yang telah ditentukan saat pra-registrasi. Setelah lolos evaluasi, maka akan diterbitkan Nomor Izin Edar oleh Badan POM atas obat tersebut. Selain itu, sub unit ini juga bertindak sebagai pusdokinfo yang berfungsi untuk memberikan informasi mengenai produk obat yang dihasilkan oleh PT. Kimia Farma Tbk.

Sub Unit ini juga memiliki bagian desain kemasan mempunyai tugas membuat desain dasar yaitu berupa informasi lengkap yang memang harus dimasukkan ke dalam desain kemasan, seperti indikasi, posologi, kontraindikasi, efek samping, peringatan, interaksi obat, cara penyimpanan dan lainnya. Untuk desain lengkap, seperti bentuk, warna dan gambar dibuat oleh bagian pemasaran.

Hal lain yang menjadi pertimbangan dalam penandaan desain kemasan adalah tidak boleh mengalami perubahan setelah dilakukan registrasi dikarenakan apabila ada perubahan desain kemasan setelah didapatkan NIE maka harus dilakukan registrasi variasi, yaitu registrasi perubahan untuk obat yang sudah mendapatkan NIE dan mengalami perubahan formulasi, teknologi produksi, metoda analisis, klaim penandaan dan kemasan.

26 Universitas Indonesia

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil Praktek Kerja Profesi Apoteker di Unit Riset dan Pengembangan PT. Kimia Farma Tbk., dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Peran apoteker dalam suatu industri farmasi tidak hanya sebagai personel kunci dalam unit produksi, pengawasan mutu ataupun pemastian mutu, akan tetapi juga berperan dalam unit pengembangan produk.

2. Proses pengembangan suatu produk tidak hanya tanggung jawab dari Sub Unit Pengembangan Formulasi, tetapi juga tanggung jawab dari Sub Unit Pengembangan Ekstraksi Bahan Alam, Sub Unit Pengembangan Metode Analisis dan Validasi serta Sub Unit Registrasi dan Desain Kemasan. Selain itu merupakan hasil kerjasama dengan berbagai pihak, baik pihak direksi maupun unit yang terdapat di PT. Kimia Farma Tbk.

5.2 Saran

Komunikasi yang baik antara pihak direksi, unit dan sub unit perlu ditingkatkan sehingga dapat terciptanya kesesuaian antara kegiatan yang dilaksanakan dengan rencana pengembangan yang telah disusun.

27 Universitas Indonesia DAFTAR REFERENSI

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2011). Kriteria dan

Tata Laksana Registrasi Obat. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan

Makanan.

Keputusan Direksi PT. Kimia Farma Tbk. No. KEP. 12A/DIR/VI/2009. (2009).

Keputusan Direksi PT. Kimia Farma Tbk. No. KEP. 12A/DIR/VI/2009 tentang Struktur Organisasi PT. Kimia Farma Tbk. Jakarta: PT. Kimia

Farma Tbk.

PT. Kimia Farma Tbk. (1999). Company Profile PT. Kimia Farma Tbk. Jakarta: PT. Kimia Farma Tbk.

PT. Kimia Farma Tbk. (2011). 40 Tahun Kimia Farma. Jakarta: PT. Kimia Farma Tbk.

Undang-Undang No. 36 Tahun 2009. (2009). Undang-Undang No. 36 Tahun

2009 tentang Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik

Lampiran 1. Struktur Umum Organisasi PT. Kimia Farma Tbk. DIREKTUR

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 29-37)

Dokumen terkait