• Tidak ada hasil yang ditemukan

Subbagian Farmasi, Makanan, dan Minuman

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 39-89)

BAB 3 TINJAUAN KHUSUS SEKSI SUMBER DAYA KESEHATAN

3.2 Farmasi, Makanan dan Minuman (Farmakmin)

3.2.3 Subbagian Farmasi, Makanan, dan Minuman

Subbagian pengelola administrasi Farmakmin memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

b. Melakukan pengetikan sertifikat/perizinan;

c. Pemegang program kegiatan sosialisasi tenaga asisten apoteker, penyuluhan keamanan pangan, dan pembinaan sarana pelayanan Farmakmin;

d. Menerima berkas perizinan dan dicatat dalam buku register; e. Memberi nomor Surat Tugas dan rekap BAP;

f. Mengkoordinasi kegiatan Binwasdal ke lapangan untuk semua jenis sarana pelayanan kesehatan Farmakmin;

g. Membuat laporan kegiatan program (SPJ lengkap); h. Konfirmasi ke pemohon untuk pelaksanaan inspeksi;

i. Melaksanakan inspeksi/pemeriksaan setempat terhadap sarana kesehatan Farmakmin;

j. Mengarsipkan surat izin/sertifikat;

k. Mencatat ke buku register untuk masing-masing sarana;

l. Membuat laporan mingguan hasil inspeksi sarana yang ditentukan. Wewenang dari subbagian pengelola administrasi Farmakmin adalah:

a. Mewakili Kepala Seksi Sumber Daya Kesehatan dalam pertemuan atau rapat sesuai kewenangan;

b. Mengusulkan rencana kegiatan;

c. Mengendalikan kegiatan program di bidangnya.

3.2.3.2 Pengelola Apotek dan Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT)

Subbagian pengelola apotek dan IKOT memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

a. Melaksanakan peninjauan lapangan ke apotek dan IKOT; b. Melaksanakan kegiatan sosialisasi tenaga asisten apoteker;

c. Mengkoordinasi dan melaksanakan kegiatan Binwasdal ke lapangan untuk apotek dan IKOT;

d. Membuat perencanaan maupun laporan kegiatan program;

e. Menerima laporan pemakaian Narkotika dan Psikotropika dan dicatat dalam absensi apotek;

g. Merekap laporan pemakaian Narkotika dan Psikotropika per bulan; h. Melaksanakan inspeksi/pemeriksaan setempat terhadap sarana

pelayanan kesehatan Farmakmin;

i. Membuat status kendali berkas perizinan; j. Membuat laporan perizinan;

k. Menginput data perizinan dan pendataan sarana Farmakmin;

l. Membuat laporan mingguan hasil inspeksi/pemeriksaan sarana yang ditentukan;

m. Membuat jadwal kegiatan Farmakmin, jadwal distribusi perbekalan alat kesehatan;

n. Merevisi checklist, formulir, dan perubahan dokumen ISO.

Adapun wewenang dari subbagian pengelola apotek dan IKOT adalah: a. Mewakili Kepala Seksi Sumber Daya Kesehatan dalam pertemuan

atau rapat sesuai kewenangan; b. Mengusulkan rencana kegiatan;

c. Mengendalikan kegiatan program di bidangnya;

d. Mempunyai kewenangan untuk merekomendasikan diberikannya izin atau tidak kepada sarana yang ditinjau ke lapangan yang tidak memenuhi persyaratan.

3.2.3.3 Pengelola Industri Rumah Tangga Pangan

Subbagian pengelola Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

a. Melaksanakan peninjauan lapangan ke IRTP; b. Melakukan pengetikan sertifikat/perizinan IRTP; c. Melaksanakan kegiatan sosialisasi IRTP;

d. Mengkoordinasi dan melaksanakan kegiatan Binwasdal ke lapangan untuk IRTP;

e. Membuat perencanaan maupun laporan kegiatan program;

f. Melaksanakan inspeksi/pemeriksaan setempat terhadap sarana pelayanan kesehatan farmasi makanan dan minuman;

h. Membuat surat tugas insidentil.

Adapun wewenang dari subbagian pengelola IRTP adalah;

a. Mewakili Kepala Seksi Sumber Daya Kesehatan dalam pertemuan atau rapat sesuai kewenangan;

b. Mengusulkan rencana kegiatan;

c. Mengendalikan kegiatan program di bidangnya;

d. Mempunyai kewenangan untuk merekomendasikan diberikannya izin atau tidak kepada sarana yang ditinjau ke lapangan yang tidak memenuhi persyaratan.

3.2.3.4 Pengelola Toko Obat

Subbagian pengelola Toko Obat memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

a. Melaksanakan peninjauan lapangan ke toko obat; b. Melaksanakan kegiatan sosialisasi toko obat;

c. Mengkoordinasi dan melaksanakan kegiatan Binwasdal ke lapangan untuk toko obat;

d. Membuat perencanaan maupun laporan kegiatan program;

e. Melaksanakan inspeksi/pemeriksaan setempat terhadap sarana pelayanan kesehatan Farmakmin;

f. Membuat laporan mingguan hasil inspeksi sarana yang ditentukan. Adapun wewenang dari subbagian pengelola toko obat adalah:

a. Mewakili Kepala Seksi Sumber Daya Kesehatan dalam pertemuan atau rapat sesuai kewenangan;

b. Mengusulkan rencana kegiatan;

c. Mengendalikan kegiatan program di bidangnya;

d. Mempunyai kewenangan untuk merekomendasikan diberikannya izin atau tidak kepada sarana yang ditinjau ke lapangan yang tidak memenuhi persyaratan.

3.2.3.5 Penerima Perizinan

Subbagian penerima perizinan memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

a. Memberikan informasi tentang perizinan kepada customer;

b. Menerima dan memeriksa kelengkapan berkas dan mengisi checklist sesuai dengan persyaratan permohonan izin;

c. Mencatat berkas permohonan izin ke dalam buku register; d. Menginput data berkas perizinan;

e. Membuat berita acara serah terima;

f. Mengisi blanko retribusi pembayaran dan diserahkan ke pemohon untuk segera membayar ke kas daerah;

g. Menerima surat tanda terima pembayaran dari pemohon dan memberikan surat izin/sertifikat asli kepada pemohon;

h. Melaksanakan inspeksi/pemeriksaan setempat terhadap sarana pelayanan kesehatan farmasi, makanan dan minuman.

Adapun wewenang dari subbagian pengelola toko obat adalah:

a. Membuat laporan mingguan hasil inspeksi/pemeriksaan sarana yang ditentukan;

b. Mengecek surat izin/sertifikat yang akan diparaf ke subbagian TU dan ditandatangani Kepala Suku Dinas.

Suku Dinas Kesehatan merupakan hasil gabungan dari Suku Dinas Pelayanan Kesehatan (Sudin Yankes) dan Suku Dinas Kesehatan Masyarakat (Sudin Kesmas) hal ini tercantum pada Peraturan Daerah DKI Jakarta No.10 tahun 2008. Suku Dinas Kesehatan dipimpin oleh seorang Kepala Suku Dinas. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Kepala Suku Dinas bertanggung jawab secara teknis administratif kepada Kepala Dinas Kesehatan dan secara teknis operasional kepada Walikota Administrasi yang bersangkutan. Suku Dinas Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan pelayanan perizinan, perencanaan, promosi, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian serta penilaian efektivitas pelayanan kesehatan. Suku Dinas Kesehatan memiliki 1 sub bagian yaitu sub bagian Tata Usaha dan 4 seksi yaitu seksi Pelayanan Kesehatan, seksi Kesehatan Masyarakat, seksi Pengendalian Masalah Kesehatan dan seksi Sumber Daya Kesehatan.Seksi Sumber Daya Kesehatan (SDK) membawahi 3 subseksi, yaitu bagian Tenaga Kesehatan, Standarisasi Mutu Kesehatan, dan Koordinator Farmasi Makanan dan Minuman (Farmakmin).

Pelaksanaan teknis kefarmasian yang dilakukan di Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Utara termasuk ke dalam subseksi Koordinator Farmasi Makanan dan Minuman (Farmakmin) sehingga pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) lebih diutamakan di subseksi tersebut. Koordinator Farmasi Makanan dan Minuman melaksanakan kegiatan dalamhal perizinan, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian (binwasdal) serta penilaian efektifitas pelayanan kesehatan dalam bidang farmasi, makanan, dam minuman. Binwasdal dilakukan setiap bulan dan penyuluhan keamanan pangan dilakukan 4 kali dalam setahun.

Ruang lingkup pelayanan perizinan Sarana Kesehatan Farmasi Makanan dan Minuman di wilayah DKI Jakarta yang proses perizinannya telah didelegasikan ke Sudinkes Jakarta Utara meliputi perizinan sarana kesehatan seperti apotek termasuk apotek kerja sama, apotek profesi, apotek dari toko obat dan depo farmasi; toko obat; Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT) dan sertifikasi produksi pangan industri rumah tangga (SPP-IRT) dan cabang/sub

penyalur alat kesehatan serta tenaga kerja. Sedangkan yang belum didelegasikan proses perizinannya ke Sudinkes adalah perizinan pedagang besar farmasi, bahan baku obat & cabang pedagang besar farmasi; usaha penyalur alat kesehatan; industri obat; industri obat tradisional; sertifikasi kelayakan produksi kosmetik /industri kosmetik; sertifikasi kelayakan produksi alat kesehatan / industri alat kesehatan; sertifikasi kelayakan produksi perbekalan kesehatan rumah tangga / industri perbekalan kesehatan rumah tangga.

Sejak diberlakukannya permenkes No.889/Menkes/Per IV/2011 pada Tanggal 1 Juni 2011, perizinan surat izin praktek apoteker (SIPA) atau surat izin kerja apoteker (SIKA) dilimpahkan ke suku dinas kabupaten/kota. Pelayanan perizinan dilaksanakan dengan sistem satu atap yaitu di kantor Walikota, dimana seluruh berkas perizinan nantinya diserahkan dan diterima di tempat yang sama yaitu melalui front line officer (FLO) di bagian Pelayanan Prima. Pemohon yang akan melakukan perizinan harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Apabila ada berkas yang kurang sesuai, pemohon diminta untuk memperbaiki atau melengkapinya. Berkas yang diserahkan oleh pemohon di kantor Pelayanan Prima kemudian dibawa ke Kantor Suku Dinas Kesehatan. Berkas permohonan yang sudah lengkap persyaratan administrasinya kemudian dikirimkan ke Subbag Tata Usaha untuk registrasi surat masuk. Berkas tersebut kemudian diserahkan ke seksi yang bersangkutan, dalam hal ini adalah Seksi Sumber Daya Kesehatan bagian Farmasi, Makanan, dan Minuman (Farmakmin). Petugas bagian Farmakmin kemudian akan memeriksa kembali dokumen tersebut sebelum proses pemeriksaan kelengkapan sumber daya sarana kesehatan dilakukan dalam bentuk inspeksi lapangan.

Pemeriksaan lapangan bertujuan untuk melihat kesesuaian sarana dan prasarana dengan persyaratan yang ditetapkan. Aspek-aspek yang diperiksa oleh petugas Suku Dinas Kesehatan dalam proses perizinan apotek mencakup sumber daya manusia yang sesuai persyaratan, keadaan bangunan, kelengkapan sarana dan prasarana pendukung kegiatan sarana kesehatan, serta dokumen asli. Aspek bangunan yang harus ada meliputi papan nama, bentuk dan luas bangunan, kelengkapan ruangan seperti ruang racik, penyerahan resep, administrasi, kamar

diperiksa meliputi penerangan, sumber air, ventilasi, sanitasi, dan alat pemadam kebakaran. Aspek kelengkapan perlengkapan yang harus ada untuk sebuah apotek adalah peralatan pembuatan dan peracikan obat, penyimpanan, wadah dan etiket, serta peralatan administrasi. Aspek tenaga kefarmasian yang harus ada adalah Apoteker dan Asisten Apoteker, sedangkan data administrasi asli yang harus ada adalah KTP APA dan Pemilik Sarana Apotek (PSA), NPWP APA dan PSA, SIPA, Undang-Undang Gangguan (UUG), Izin Mendirikan Bangunan(IMB) atau surat sewa, surat keterangan domisili, peta lokasi, denah ruangan beserta ukuran dan fungsi, dan akte perusahaan jika berbentuk badan hukum.

Suku Dinas Kesehatan dapat bekerja sama dengan BPOM atau bekerja sendiri dalam melakukan kegiatan pembinaan, pengawasan dan pengendalian (binwasdal). Selain melakukan kegiatan binwasdal, Suku Dinas Kesehatan juga akan melakukan inspeksi terhadap sarana yang ditemukan adanya pelanggaran atas rekomendasi BPOM. Jika saat inspeksi ulang oleh Suku Dinas Kesehatan ternyata ditemukan pelanggaran, maka sarana tersebut akan dibina lebih lanjut oleh Suku Dinas Kesehatan dan setelah itu diperiksa kembali untuk memastikan sarana tersebut sudah tidak melakukan pelanggaran lagi. Apabila sarana farmasi melakukan pelanggaran, maka terdapat sanksi yang disesuaikan dengan pelanggaran yang dilakukan. Sanksi yang paling ringan adalah peringatan, kemudian penghentian sementara kegiatan dan sanksi terberat yang diberikan adalah pencabutan izin sarana farmasi.

Selama kegiatan praktek kerja di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, Penulis membantu pendataan apotek dan toko obat yang berada di wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara, pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) gudang farmasi dan penerimaan laporan bulanan narkotika dan psikotropika apotek yang berada di wilayah Jakarta Utara. Pelaporan ini dilaksanakan secara komputerisasi, dimana tiap apotek telah diberikan format dan penjelasan mengenai cara pembuatan laporan tersebut. Pihak apotek cukup menyerahkan media penyimpanan yang berisi laporan narkotika, kemudian Koordinator Farmasi Makanan dan Minuman akan memindahkannya dalam lokasi penyimpanan laporan narkotika yang terdapat dalam komputer kerja Koordinator Farmasi Makanan dan Minuman. Pelaporan penggunaan narkotika-psikotropika

dilakukan setiap bulan, namun karena masih terdapat beberapa kendala yang dikeluhkan oleh beberapa apotek di Jakarta Utara misalnya mulai dari adanya gangguan koneksi sampai tidak tersedianya fasilitas internet yang menghambat pengiriman laporan, maka pengumpulan laporan banyak yang tertunda. Selain itu kendala juga dapat terjadi pada tingkat Sudinkes dimana terjadi gangguan koneksi internet sehingga rekapitulasi laporan dari seluruh apotek di Wilayah Administrasi Jakarta Utara terhambat.

Hasil rekapitulasi laporan narkotika dari seluruh apotek yang berada di Wilayah Administrasi Jakarta Utara kemudian dikirimkan olehSuku Dinas Kesehatan ke Kementrian Kesehatan RI dengan format yang telah ditentukan. Selain penggunaan narkotika dan perbekalan farmasi lainnya, pemusnahan perbekalan farmasi pun harus dilaporkan. Bila ada pemusnahan, semuanya harus dimuat dalam berita acara pemusnahan yang dibuat oleh Apoteker Pengelola Apotek dan diserahkan ke Suku Dinas serta BPOM.

Wilayah kerja yang dilayani oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara meliputi 6 Kecamatan yaitu Kecamatan Kelapa Gading, Kecamatan Koja, Kecamatan Cilincing, Kecamatan Tanjung Priok, Kecamatan Penjaringan, dan Kecamatan Pademangan.Pada tiap Kecamatan tersebut memiliki Puskesmas yang melayani masyarakat. Setiap bulan Puskesmas wajib untuk membuat laporan pemakaian obat dan alat kesehatan kepada Suku Dinas Kesehatan. Melalui laporan tersebut dapat diketahui persediaan obat dan alat kesehatan apa saja yang kurang dan perlu penambahan dari Suku Dinas Kesehatan. Koordinasi yang baik antara Puskesmas dan sarana farmasi lain dengan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utaramerupakan hal yang penting guna menjamin pelayanan kesehatan berkualitas kepada masyarakat di Wilayah Adminsitrasi Jakarta Utara.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Tugas pokok dan fungsi Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Utara adalah memberikan perizinan dan binwasdal (pembinaan, pengawasan dan pengendalian) kepada sarana kesehatan serta tenaga kesehatan yang berkerja di sarana kesehatan tersebut dalam ruang lingkup wilayah Jakarta Utara.

2. Tugas pokok dan fungsi Koordinator Farmasi Makanan dan Minuman Kota Administrasi Jakarta Utara adalah memberikan layanan perizinan, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian terhadap sarana Apotek, Toko Obat (pedagang eceran obat), Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT), Sub Penyalur Alat Kesehatan, dan Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP), serta pembuatan Surat Izin Kerja Tenaga Teknis Kefarmasian (SIKTTK), Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) dan Surat Izin Kerja Apoteker (SIKA) 3. Prosedur perizinan di Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Utara khususnya yang dilakukan Koordinator Farmasi Makanan Minuman sudah tertata dengan baik dan jelas karena telah diterapkannya sistem menejemen mutu sesuai standar ISO, namun untuk kegiatan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian (binwasdal) belum dapat dilaksanakan secara optimal disebabkan karena masalah anggaran dan keterbatasan sumber daya manusia untuk kegiatan tersebut.

5.2 Saran

Perlunya meningkatkan kegiatan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian (binwasdal) dalam rangka sosialisasi informasi dan peraturan baik mengenai sarana maupun tenaga kesehatan serta dalam mengendalikan sarana kesehatan agar tidak menyimpang dari peraturan yang ada dengan salah satu cara meningkatkan alokasi anggaran dan sumber daya manusia yang cukup untuk program Binwasdal tersebut.

DAFTAR ACUAN

Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. (2003). Keputusan Kepala Badan

Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor HK.00.05.5.1640 Tentang Pedoman Tata Cara Penyelenggaraan Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga. Jakarta: Hal. 4-10.

Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. (2006). Pedoman Pelayanan kefarmasian di Puskesmas. Jakarta : 3-7.

Departemen Kesehatan RI. (1992). Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992

tentang Kesehatan. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor

922/MENKES/PER/X/1993 pasal 5. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. (2009). Peraturan Pemerintah RI No. 51 Tahun 2009

tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor

36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta.

Gubernur Provinsi DKI Jakarta. (2002). Keputusan Gubernur No. 58 Tahun 2002

tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Jakarta.

Gubernur Provinsi DKI Jakarta. (2009). Peraturan Gubernur Provinsi Daerah

Khusus Ibukota Jakarta No.4 tentang Sistem Kesehatan Daerah. Jakarta:

4-5.

Gubernur Provinsi DKI Jakarta. (2009). Peraturan Gubernur Provinsi Daerah

Khusus Ibukota Jakarta No.150 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan. Jakarta.

Kementerian Kesehatan RI. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

1331/MenKes/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 167/KAP/B.VIII/1972 tentang Pedagang Eceran Obat.

Jakarta: Pasal 2, 4.

Kesehatan RI No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. (2009). Peraturan Gubernur Provinsi Daerah

Khusus Ibu Jakarta No.150 Tahun 2009. Jakarta. 44

Sub Dinas Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta. (2002).

Pedoman Perizinan Sarana Farmasi Makanan dan Minuman Propinsi DKI Jakarta. Jakarta: 4-12 ; 19-97

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara. (2010). Pedoman Mutu Suku Dinas

Kesehatan Jakarta Utara. Jakarta : Dinas Kesehatan Jakarta Utara.

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara. (2010). Dokumen Tupoksi dan Kompetensi

Seksi Sumber Daya Kesehatan Sudin Kesehatan Jakarta Utara. Jakarta :

Dinas Kesehatan Jakarta Utara.

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara. (2011). Prosedur Pengelola Obat dan

Perbekalan Kesehatan. Jakarta : Dinas Kesehatan Jakarta Utara.

Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Jakarta Utara. (2011). Prosedur Binwasdal

Kesehatan Farmasi Makanan Minuman. Jakarta : Dinas Kesehatan Jakarta

Lampiran 1. Alur Pedoman Pemberian Izin yang Diterbitkan oleh Suku Dinas

Lampiran 16. Lembar Berita Acara Pemeriksaan Sarana Produksi Perusahaan

Lampiran 17. Formulir Permohonan Surat Izin Kerja Tenaga Teknis

Lampiran 19. Permohonan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA)/ Surat Izin Kerja

TATA CARA PENDAFTARAN PERIZINAN DAN PENGAWASAN TOKO OBAT DI SUKU DINAS KESEHATAN KOTA ADMINISTRASI

JAKARTA UTARA

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

YULI DWI PERMATASARI, S. Farm. 1306344406 ANGKATAN LXXVIII FAKULTAS FARMASI PROGRAMPROFESI APOTEKER DEPOK 2014

DAFTAR ISI ... ii DAFTAR LAMPIRAN ... iii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 Peraturan Pemerintah No.51 tahun 2009 ... 3 2.2 Keputusan Menteri Kesehatan No.13 tahun 2009 ... 3 2.3 Alur Pelayanan Perizinan di Pelayanan Terpadu Satu Pintu ... 4 2.4 Perizinan Toko Obat ... 6

BAB 3. METODE PENULISAN ... 8

3.1 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan ... 8 3.2 Cara Kerja ... 8

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 9 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 12

5.1 Kesimpulan ... 12 5.2 Saran ... 12

DAFTAR ACUAN ... 13 LAMPIRAN ... 14

Lampiran 2. Lembar Check List Izin Toko Obat ... 16 Lampiran 3. Formulir Permohonan Izin Pedagang Eceran Toko Obat ... 17 Lampiran 4. Permohonan Izin Perpanjangan Pedagang Eceran Obat ... 18 Lampiran 5. Lembar Check List Persyaratan Perpanjangan Izin Toko Obat .... 19 Lampiran 6. Berita Acara Hasil Pemeriksaan Izin Toko Obat ... 20

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kesehatan merupakan hal yang terpenting yang diinginkan setiap orang, Semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, maka akan menyebabkan semakin meningkatnya permintaan mengenai kebutuhan kesehatan terutama obat-obatan. Peningkatan permintaan ini juga akan memicu semakin banyaknya jumlah peredaran Toko Obat yang didirikan tanpa izin. Obat termasuk dalam unsur pengobatan yang merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan, oleh karena itu obat tidak bisa dipisahkan dari sektor kesehatan. Selain itu dari segi perekonomian obat merupakan salah satu produk industri farmasi yang sehat maka diperlukan pengawasan akan obat.

Berdasarkan PP 51 tentang pekerjaan kefarmasian. Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian Pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian salah satunya yaitu Toko obat. Toko Obat adalah sarana yang memiliki izin untuk menyimpan obat-obat bebas dan obat-obat bebas terbatas untuk dijual secara eceran. Dalam melakukan pendaftaran izin pendirian Toko Obat sesuai dengan Kepmenkes No. 1331 tahun 2002 hal yang harus diperhatikan yaitu Toko Obat atau Pedagang Eceran Obat wajib mempekerjakan seorang Asisten Apoteker sebagai penanggungjawab teknis farmasi dan Pemberian ijin resmi dilaksanakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dan izin-izin lain yang dipersyarakatkan pemerintah daerah (Pemda) setempat.

Untuk melindungi masyarakat terhadap hal-hal yang dapat menggangu dan merugikan kesehatan, perlu dicegah beredarnya penjualan obat yang tidak memenuhi persyaratan keamanan, mutu dan khasiat, antara lain dengan melaksanakan pengaturan, pengawasan, pendaftaran, dan proses perizinan terhadap pendirian Toko Obat. Pada laporan PKPA ini, dibuat alur dan tata cara pendaftaran serta perizinan untuk mendirikan Toko Obat yang merupakan salah satu tanggungjawab badan pemerintahan Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Utara, pada sub Bagian farmasi Makanan Minuman.

1.2 Tujuan

Tugas khusus ini dimaksudkan agar peserta PKPA mampu menjelaskan dan memahami bagaimana tata cara perizinan dan ketentuan pendirian Toko Obat di Wilayah Kota Jakarta Utara.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Peraturan Pemerintah No.51 tahun 2009

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pekerjaan Kefarmasian harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian Pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian adalah sarana yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kefarmasian, yaitu apotek, instalasi farmasi rumah sakit, puskesmas, klinik, toko obat, atau praktek bersama. Dalam menjalankan Pekerjaan kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/atau Tenaga Teknis Kefarmasian. Fasilitas Pelayanan Kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Toko Obat dilaksanakan oleh Tenaga Teknis Kefarmasian yang memiliki STRTTK (Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian) sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dalam menjalankan praktek kefarmasian di Toko Obat, Tenaga Teknis Kefarmasian harus menerapkan standar pelayanan kefarmasian di Toko Obat yang ditetapkan oleh Menteri. Toko Obat adalah sarana yang memiliki izin untuk menyimpan obat-obat bebas dan obat-obat bebas terbatas untuk dijual secara eceran.

2.2. Keputusan Menteri Kesehatan No.1331 tahun 2002

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.1331 tahun 2002 tentang perubahan atas peraturan menteri kesehatan ri nomor. 167/kab/b.viii/1972 tentang Pedagang Eceran Obat. Yang dimaksud dengan Pedagang Eceran Obat dalam Peraturan ini adalah Orang atau Badan Hukum Indonesia yang memilih ijin untuk menyimpan Obat-obat Bebas dan Obat-obat Bebas Terbatas (daftar W) untuk dijual secara eceran di tempat tertentu sebagaimana tercantum dalam surat ijin.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 39-89)

Dokumen terkait