• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Subjek dan Lokasi Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa di kelas VIII SMP Negeri 5 Alla kabupaten Enrekang (24 siswa) yang terdiri 12 laki-laki dan 12 perempuan. Lokasi dalam penelitian ini adalah SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang.

C. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini yakni penggunaan teknik refleksi dalam meningkatkan kemampuan menulis narasi berdasarkan pengalaman pribadi.

Melalui nodel pembelajaran tehnik refleksi , untuk mengantisipasi kesimpang siuran dalam penelitian ini maka penelitian ini akan di fokuskan pada pelaksanaan penelitian yang dilakukan untuk mencari pola yang dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa melalui model

34

pembelajaran teknik refleksi ini, guru lebih banyak memberi kesempatan pada siswa untuk mencari dan menemukan sendiri serta berusaha mengatasi segala hambatan yang dialami dalam proses pembelajaran, sehingga kemampuan menulis karangan siswa dapat meningkat.

D. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus.

P P

R SIKLUS I T R SIKLUS II

T

O O

Keterangan :

P : Perencanaan R : Refleksi T : Tindakan

RP : Revisi Perencanaan

 : Observasi

Husai Umar, 2005 (Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis).

E. Proses Tindakan Kelas 1. Siklus I

a. Perencanaan

Renungan terhadap pengalaman mengajar dan mencari kelemahan-kelemahan yang dilakukan selama ini, diperoleh gagasan umum yang berupa kendala-kendala dalam pelaksanaan pembelajaran antara lain : (1) Prestasi belajar bahasa Indonesia siswa rendah

(2) Model pembelajaran yang digunakan guru membosankan siswa (3) Prestasi pelajaran yang lain sangat menurun

Dari ketiga hal tersebut muncul kepedulian pentingnya meningkatkan prestasi belajar bahasa Indonesia siswa.

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan adalah mempertimbangkan dan memilih cara untuk memecahkan masalah.

Pertimbangan dalam pemilihan selanjutnya dituangkan dalam perencanaan sebagai berikut :

(1) Membuat Rencana Pembelajaran

Pada siklus I direncanakan ada tiga pertemuan, sehingga perlu disusun satu rencana pembelajaran. Mengubah metode ceramah dengan memberikan lebih banyak interaksi dengan siswa.

(2) Menentukan dan menyusun alat-alat instrumen penelitian

Selain soal-soal yang terdapat dalam Rencana Pembelajaran sebagai instrumen tes, disusun pula instrumen nontes yang berupa pedoman observasi.

b. Tindakan Penelitian

Tindakan penelitian adalah pelaksanaan rencana kegiatan yang telah disusun sebelumnya. Pelaksanaannya adalah sebagai berikut : (1) Penyampaian informasi pembelajaran sesuai dengan rencana

pembelajaran

(2) Menyelenggarakan pembelajaran imajinatif yang meliputi (a) persiapan, (b) kegiatan inti, (c) tindak lanjut.

(a) Persiapan

1. Menyiapkan bahan pelajaran (sub materi manulis).

2. Memilih kata yang akan di susun menjadi kalimat.

3. Mengatur posisi tempat duduk agar siswa yang satu dan yang lain tidak terganggu atau mengganggu.

4. Memberikan apersepsi dan mengkondisikan siswa agar siap melaksanakan kegiatan sesuai dengan langkah-langkah dan jatah waktu setiap fase kegiatan yang akan dilalui dalam kegiatan inti.

(b) Kegiatan Inti

Langkah-langkah kerja yang harus ditempuh dalam kegiatan inti meliputi :

1. Setiap siswa diberikan bacaan.

2. Guru memimpin siswa untuk menganalisis dan mendengarkan pertanggungjawaban setiap siswa yang tampil.

3. Setelah ada salah sastu dari siswa tampil selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengar pendapat dan komentar perorangan. Guru menggiring dan mengarahkan siswa melakukan uji banding dan pada akhirnya mereka dapat menentukan sikap pilihan sendiri atas susunan wacana berterima/logis dan tidak berterima atas dasar nalarnya sendiri.

4. Setelah menghasilkan kesepakatan, satu atau dua siswa membaca teks asli.

5. Satu-dua orang siswa menceritakan kembali isi wacana menggunakan kata-kata sendiri.

(c) Tindak Lanjut

Kegiatan tindak lanjut ditentukan oleh hasil dan proses belajar siswa

Tindak lanjut yang dilakukan antara lain :

1. Kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas yang serupa dengan bahan yang berbeda.

2. Kegiatan menyempurnakan teks asli, bila teks asli tidak memperlihatkan kelogisan.

3. Kegiatan mengubah materi bacaan.

4. Mencari makna kosakata baru dalam kamus dan mengaplikasikannya dalam kalimat.

5. Membetulkan kesalahan-kesalahan tata bahasa yang mungkin ditemukan.

c. Observasi

Pengumpulan data nontes diperoleh melalui pengamatan langsung dalam proses dan sesudah kegiatan pembelajaran. Hal-hal yang diamati adalah sikap siswa melalui pengamatan langsung. Kegiatan ini dilakukan berdasarkan atas pedoman nontes.

d. Refleksi

Setelah pembelajaran berakhir diberikan tes kepada responden berupa karangan dengan tema tertentu dengan waktu 15 menit. Setelah selesai langsung dikoreksi antar responden. Jawaban benar dinilai 1 (satu), jawaban salah dinilai 0 (nol).

2. Siklus II a. Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini pada dasarnya hampir sama dengan perencanaan siklus I. Beberapa hal yang mengalami perubahan yaitu materi bacaan diganti dengan bacaan berupa cerita bergambar, pembelajaran difokuskan pada keaktifan siswa, guru harus lebih banyak

memancing siswa agar lebih aktif dari siklus I. Tempat pembelajaran pada siklus II dilaksanakan di halaman sekolah.

b. Tindakan

Tindakan pada siklus II sesuai dengan perencanaan atau rencana pembelajaran yang telah disusun pada tahap perencanaan. Tindakan yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan tindakan pada siklus I yaitu persiapan, kegiatan inti dan tindak lanjut. Teks bacaan yang diberikan kepada siswa dengan tema “Peristiwa Pergaulan Bebas”.

c. Pengamatan

Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sudahkah cara-cara yang ditempuh dapat meningkatkan keterampilan membaca efektif siswa.

Selain aspek tersebut juga perlu diamati perubahan sikap siswa selama kegiatan pembelajaran, yang berupa jurnal siswa dan hasil wawancara yang dilakukan setelah pembelajaran selesai. Pengamatan ini sesuai pedoman observasi, jurnal dan wawancara seperti pada siklus d. Refleksi

Hasil proses tindakan siklus I digunakan sebagai dasar pijakan atau tolak ukur pada proses tindakan siklus II. Proses tindakan pada siklus II telah mencapai hasil yang diharapkan yaitu ada peningkatan hasil tes dan perubahan tingkah laku siswa dari negatif ke positif.

Melihat potensi dan minat siswa terhadap teknik ini, maka penelitian dapat dilanjutkan ke putaran berikutnya. Karena waktu dan

kesempatan yang terbatas dan rata-rata kelas sudah tergolong baik serta sudah ada perubahan tingkah laku siswa dapat dideskripsikan, maka penelitian tidak dilanjutkan.

F. Teknik Pengumpulan Data

1. Lembar observasi untuk data tentang keadaan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

2. Lembar pertanyaan untuk data tentang tanggapan siswa terhadap kegiatan pembelajaran.

3. Catatan guru / jurnal kelas untuk data tentang proses belajar mengajar.

4. Tes (evaluasi) untuk data tentang hasil belajar bahasa Indonesia siswa.

G. Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan akan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif.

Data hasil observasi dan catatan guru/ jurnal kelas dianalisis secara kualitatif.

Sedangkan data hasil tes (evaluasi) dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistika deskriptif yang terdiri atas : rataan (mean), nilai maksimum dan nilai minimum yang diperoleh pada setiap siklus.

Selain itu untuk jenis analisis kuantitatif data, yang digunakan adalah teknik kategorisasi. Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori adalah berdasarkan kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kategori untuk menentukan skor yaitu : sangat

tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Penentuan kategori atau tabel yang digunakan adalah :

Tabel 2. Pengkategorian hasil belajar bahasa Indonesia

No Skor Kategori

1 85 – 100 Sangat Tinggi

2 70 – 84 Tinggi

3 55 – 69 Sedang

4 40 – 54 Rendah

5 0 – 39 Sangat Rendah

H. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah bila skor rata-rata hasil belajar ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan menurut ketentuan Depdiknas. Siswa dikatakan tuntas belajar apabila memperoleh skor minimal 65% dari skor ideal dan tuntas secara klasikal apabila 85 % dari jumlah keseluruhan yang dinilai berdasarkan dengan mempedomani skala penilaian sebagai berikut :

1. Keterampilan menulis dikategorikan sangat tinggi dengan nilai 85-100 2. Keterampilan menulis dikategorikan tinggi dengan nilai 70-84

3. Keterampilan menulis dikategorikan sedang dengan nilai 55-69 4. Keterampilan menulis dikategorikan rendah dengan nilai 40-54 5. Keterampilan menulis dikategorikan sangat rendah dengan nilai 0-39

Sedangkan pengukuran persentase aktivitas belajar siswa dalam skala deksriptif mengacu pada :

1. Aktivitas belajar dikategorikan sangat baik dengan persentase 85 %- 100%.

2. Aktivitas belajar dikategorikan baik dengan persentase 70%-80%.

3. Aktivitas belajar dikategorikan sedang dengan persentase 55%-69%.

4. Aktivitas belajar dikategorikan kurang dengan persentase 40%-54%.

5. Aktivitas belajar dikategorikan sangat kurang dengan persentase 0%-39%.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pada bab ini dibahas mengenai hasil-hasil penelitian yang memperlihatkan peningkatan aktivitas belajar siswa melalui teknik refleksi. Adapun yang dianalisis adalah hasil tes siklus I dan siklus II, serta data tambahan berupa perubahan sikap yang diperoleh melalui lembar observasi maupun tanggapan yang diberikan oleh siswa selama penelitian berlangsung.

1. Analisis Kuantitatif

a. Deskriptif Tes Hasil Belajar Siklus I

Aktivitas guru dalam penelitian tindakan kelas ini telah dilaksanakan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang dari bulan sebtember sampai dengan bulan oktober 2014, waktu pelaksanaan pembelajaran yang digunakan mulai pukul 07.30-9.00. Metode pelaksanaan pembelajarannya menggunakan prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas terdiri dari dua siklus dimana masing-masing siklus melalui empat tahap yaitu aktivitas perencanaan, aktivitas pelaksanaan tindakan, aktivitas observasi, dan aktivitas refleksi. Data hasil penelitian diperoleh melalui data kuantitatif dan data kualitatif.

Aktivitas guru dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini mengumpulkan data hasil penelitian barupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data penelitian berupa hasil belajar siswa diperoleh dengan melakukan tes hasil belajar pada akhir siklus pertama, siklus kedua. Adapun data pendukung berupa aktivitas belajar

44

siswa selama pembelajaran bahasa Indonesia menulis karangan narasi dengan menggunakan teknik refleksi sebagai upaya untuk mengembangkan hasil pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang.

Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis skor hasil belajar siswa dan analisis kulitatif digunakan untuk menganalisis data tentang perubahan sikap siswa. Berdasarkan hasil analisis sebagaimana yang tercantum pada lampiran, maka rangkuman statistik tes hasil belajar bahasa Indonesia menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi siklus I adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Statistik Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus I.

Statistik Nilai Statistik

Subjek 24

Skor Ideal 100

Skor Rata-rata 66,45

Skor Tertinggi 85

Skor Terendah 35

Tabel 3 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang melalui penggunaan model pembelajaran teknik refleksi pada siklus I sebesar 66,45. Skor yang dicapai responden terbesar dengan skor tertinggi 85 dan skor terendah 35. Hal ini

menunjukkan bahwa tingkat kemampuan siswa atau hasil belajar siswa dalam menulis karangan narasi cukup bervariasi.

Jika skor tes hasil belajar siswa dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut :

Tabel 4. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siklus I

Skor Kategori Frekuensi

Persentase (%)

0 – 39 Sangat Rendah 0 0 %

40 – 54 Rendah 4 16,65 %

55 – 69 Sedang 4 16,65 %

70 – 84 Tinggi 16 66,70 %

85 – 100 Sangat Tinggi 0 % 0 %

Jumlah 100

Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 24 siswa SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang persentase skor hasil belajar siswa setelah dilaksanakan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi, tidak ada siswa yang berada pada kategori sangat rendah, ada 4 siswa yang berada pada kategori rendah, 4 siswa (16,65 %) berada pada kategori sedang, 16 siswa (66,70 %) berada pada kategori tinggi, dan tidak ada siswa (0%) yang

berada pada kategori sangat tinggi. Dengan demikian pada Siklus I terlihat masih ada 4 siswa (16,65%) yang memiliki nilai di bawah skor minimal nilai 75.

Berdasarkan hasil analisis data tabel 2 diperoleh skor rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 66,45 dengan kategori “rendah”. Jika skor rata-rata siswa tersebut dimasukkan pada tabel 1 maka skor rata-rata berada pada kategori rendah. Hal ini berarti bahwa rata-rata peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang setelah dilaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi berada pada kategori rendah.

Melihat hasil analisis pada tabel 1 dan 2, maka nilai rata-rata siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla adalah 66,45 belum memenuhi skor minimal yang telah ditetapkan. Kemudian ada 4 siswa (16,65%) dengan kategori “rendah” yang mendapatkan nilai di bawah standar skor minimal, sedangkan ada 16 (66,70%) siswa yang memenuhi standar skor minimal. Ini berarti siswa yang mampu menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi masih jauh dari indikator keberhasilan yaitu minimal 85% siswa mendapatkan nilai minimal 75. Dengan demikian berdasarkan analisis hasil belajar siswa masuk pada kategori sedang, maka perlu diadakan siklus II sehingga pembelajaran dapat tercapai.

b. Deskriptif Tes Hasil Belajar Siklus II

Pada siklus II, ada upaya guru untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan dan kekurangan yang terjadi pada siklus I dengan langkah-langkah yang lebih

sistematis, sehingga siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang dapat mengerti dan lebih memahami pembelajaran menulis karangan narasi melalui model pembelajaran teknik refleksi.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif terhadap skor tes belajar siklus II yang diberikan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang setelah diberikan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi, disajikan pada tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 5. Statistik Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus II Statistik Nilai Statistik

Subjek 24

Skor Ideal 100

Skor rata-rata 75,20

Skor Tertinggi 95

Skor Terendah 35

Tabel 5 menunjukkan skor rata-rata hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang melalui pembelajaran bahasa Indonesia menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi pada siklus II sebesar 75,20. Skor yang dicapai siswa terbesar dengan skor 95 diperoleh 1 (satu) siswa dari skor tinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor terendah yang mungkin dicapai 0. Hal ini menunjukkan tingkat kemampuan siswa atau prestasi belajar siswa cukup bervariasi. Skor rata-rata siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang mencapai 75,20 dapat dikategorikan tinggi.

Jika skor hasil belajar bahasa Indonesia menulis karangan narasi siswa tersebut dikelompokkan ke dalam 5 kategori maka hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia melalui model pembelajaran teknik refleksi diperoleh frakuensi dan persentase seperti disajikan pada tabel berikut ini :

Tabel 6. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar pada Siklus II

Skor Kategori Frekuensi

Persentase (%)

0 – 39 Sangat Rendah 0 % 0 %

40 – 54 Rendah 0 % 0 %

55 – 69 Sedang 4 % 16,70 %

70 – 84 Tinggi 18 % 75 %

85 – 100 Sangat Tinggi 2 % 8,3 %

Jumlah 100

Tabel 6 menunjukkan bahwa dari 24 siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang persentase skor hasil belajar siswa setelah dilaksanakan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi, tidak ada siswa yang berada pada kategori sangat rendah, tidak ada siswa yang berada pada kategori rendah, dan 4 siswa (16,70%) yang berada pada kategori sedang, 18 siswa (75%) berada pada kategori tinggi dan 2 (8,3%) berada pada kategori sangat tinggi.

Berdasarkan hasil analisis data tabel 4 diperoleh skor rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II sebesar 75,20. Jika skor rata-rata tersebut dimasukkan pada tabel 5 maka skor rata berada pada kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa rata-rata peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang setelah dilaksanakan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi berada pada kategori tinggi.

Berdasarkan hasil analisis data tabel 5 diperoleh skor rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II sebesar 75,20. Ada 4 siswa yang mendapatkan di bawah skor minimal 75, lebih dari 16.65% mendapatkan nilai di atas rata-rata yang telah ditetapkan, dan skor nilai rata-rata siswa berada pada kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa rata-rata peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang setelah dilaksanakan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi pada siklus II telah berhasil.

c. Deskriptif Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II

Pelaksanaan tindakan kelas yang menganalisis peningkatan hasil belajar menulis karangan narasi melalui model pembelajaran teknik refleksi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang dengan memperhatikan pelaksanaan siklus I dan siklus II. Pada setiap pelaksanaan siklus peneliti memperhatikan nilai hasil belajar siswa sebagai data kuantitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis skor hasil belejar siswa dengan berdasarkan skor minimal nilai 75 atau kriteria ketuntasan mengajar adalah 75.

Berdasarkan hasil analisis sebagaimana yang tercantum pada lampiran, maka rangkuman statistik tes hasil belajar menulis karangan narasi dengan diterapkannya pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi. Selanjutnya tabel berikut memperlihatkan peningkatan hasil belajar menulis karangan narasi setelah dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi pada siklus I dan II.

Tabel 7. Distribusi Frekuensi dan persentase Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus I dan II

No Interval Skor

Kategori Frekuensi Persentase % Siklus I Siklus II Siklus I Siklus II

0-39 Sangat Rendah 0 0 0 % 0%

40-54 Rendah 4 0 16,65% 0%

55-69 Sedang 4 4 66.70% 16,70%

70-84 Tinggi 8 18 75 % 75%

85-100 Sangat Tinggi 0 2 0 % 8,3%

Jumlah 24 24 100 % 100 %

Dengan memperhatikan tabel 7 di atas, terlihat adanya hasil yang menampakkan peningkatan hasil belajar dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang setelah dilakasanakan dua kali siklus. Pada siklus I terdapat 4 siswa (16,65%) berada pada

kategori rendah, maka hasil siklus II mengalami peningkatan menjadi 0 (0 %) berada pada kategori tingkat penguasaan rendah. Selanjutnya pada siklua I terdapat 4 siswa (16.65%) berada dalam tingkat penguasaan sedang, maka terjadi pengingkatan nilai hasil belajar pada siklus II terdapat 0 siswa atau (0%) . Pada siklus I tidak terdapat siswa (0%) yang berada pada tingkat penguasaan sangat tinggi, dan pada siklus II meningkat menjadi 2 siswa atau (8,3%) berada dalam kategori tingkat penguasaan sangat tinggi.

Tabel 8. Distribusi Statistik Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II

Statistik

Nilai Statistik

Siklus I Siklus II

Skor Rata-rata 66,45 75,20

Skor Tertinggi 85 95

Skor Terendah 35 35

Selanjutnya untuk skor rata-rata tingkat penguasaan materi siswa pada siklus I sebesar 64,45 setelah dikategorisasikan berada dalam kategori sedang, dan mengalami peningkatan pada siklus II yaitu menjadi 75,20 berada dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa telah ada peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia pokok bahasan menulisi karangan narasi siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang setelah menggunakan model pembelajaran teknik refleksi.

2. Analisis Kualitatif

Data yang dianalis pada bagian ini adalah data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan tanggapan-tanggapan yang diajukan oleh siswa pada saat pembelajaran berlangsung.

a. Refleksi Siklus I

Setelah diberikan tindakan berupa pembelajaran bahasa Indonesia sub pokok bahasan menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi, kejadian yang dapat dicatat selama proses belajar mengajar berlangsung pada siklus I adalah sebagai berikut :

Pada siklus I, pembelajaran bahasa Indonesia menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi dilakukan dengan latihan memahami penulisan karangan narasi. Pada pertamuan pertama, kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi berlangsung cukup baik. Namun masih ada siswa yang tampak melakukan aktivitas lain pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

Pada pertemuan kedua, belum menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia menulis karangan narasi menggunakan model pembelajaran teknik refleksi. Hal ini terlihat karena masih kurangnya siswa yang mengangkat tangan saat diajukan pertanyaan. Akan tetapi setelah diterangkan kembali dan diberikan penekanan suatu materi maka rata-rata siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang mulai aktif. Kagiatan lain

yang menunjukkan keaktifan siswa adalah saat mengerjakan tugas. Siswa cukup antusias dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.

Pada pertemuan ketiga, kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia menulis karangan narasi dengan model pembelajaran teknik refleksi berjalan cukup lancar dan perhatian siswa terhadap materi pelajaran lebih baik dibandingkan pertemuan sebelumnya. Hal ini ditunjukkan banyaknya siswa yang aktif bertanya, menjawab pertanyaan guru, dan mengerjakan tugas yang diberikan, dan meminta bimbingan guru.

Secara umum, siswa menyenangi pembelajaran bahasa Indonesia pokok bahasan menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi, karena materi yang diberikan kepada siswa senantiasa berada pada kehidupan sehari-hari, menyenangkan, dan bermakna. Meskipun demikian masih terdapat beberapa siswa yang bersikap pasif umumnya tidak mengerti materi yang diberikan karena siswa memang kurang perhatian dan motivasi serta cenderung menghindar dari pembelajaran.

Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia pokok bahasan menulis karangan narasi dengan menggunakan model pembelajaran teknik refleksi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang melalui siklus pertama belum mampu mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Hal ini dapat dilihat dengan masih ada siswa yang tidak konsentrasi pada saat proses pembelajaran sehingga mendapatkan hasil belajar rata-rata 66,45. Dengan demikian diperlukan langkah-langkah pengulangan yang dilakukan pada siklus II sehingga pembelajaran bahasa Indonesia pokok bahasan menulis karangan narasi

memperoleh nilai rata- rata 75,20 atau terjadi peningkatan perolehan hasil tes belajar dari siklus I dengan siklus II.

b. Refleksi Siklus II

Setelah merefleksi hasil pelaksanaan siklus I, diperoleh suatu gambaran tindakan yang dilaksanakan pada siklus II. Sebagai perbaikan dari tindakan yang telah dilaksanakan pada siklus I. hal tersebut dapat dilihat bahwa tindakan yang dilaksanakan secara umum hasilnya sesuai dengan yang diharapakan.

Dalam siklus ini, proses pembelajaran bahasa Indonesia semakin membaik, hal tersebut ditunjukkan oleh persentase kehadiran siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Alla Kabupaten Enrekang pada setiap pertemuan yang cenderung terus meningkat. Banyaknya siswa yang memperhatikan materi. Hal yang paling menonjol yang dirasakan adalah meningkatnya jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan, tanggapan atau komentar tentang materi yang sedang dipelajari dan juga siswa yang mengajukan diri dan tampil di depan untuk membacakan hasil karyanya.

Pada siklus II ditemukan pula bahwa pada umumnya siswa kelas VIII

Pada siklus II ditemukan pula bahwa pada umumnya siswa kelas VIII

Dokumen terkait