1. Identitas Klien
a. Nama
Nama pasien dtuliskan dengan jelas agar tidak keliru dalam memberikan penanganan (Matondang, 2003; h. 5). b. Umur
Umur dikaji untuk mengetahui umur klien, karena pada pengguna kontrasepsi ada tiga fase yaitu fase menunda kesuburan yaitu bagi PUS dengan istri kurang dari 20
tahun di anjuran menunda kehamilan. Fase yang kedua yaitu fase menjarangkan kehamilan yaitu periode usia antara 20-30/35 tahun merupakan periode usia palng baik untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara kelahiran adalah 2-4 tahun. Dan fase yang ke tiga adalah fase menghentikan /engakhiri kehamilan yatu pada periode ini umur diatas 30 tahun, terutama diatas 35 tahun, sebaiknya mengakhiri kesuburan. Untuk aalat kontrasepsi AKDR baik digunakan untuk wanita usia 20 tahun karena pada fase ini merupakan fase untuk menunda kehamilan (Hartanto, Hanafi. 2003; h.30-32). c. Agama
Diberbagai daerah kepercayaan religius dapat mempengaruhi klien dalam memilih metode. Sebagai contoh penganut katolik yang taat membatasi pemlihan alat kontrasepsi mereka pada KB alami. Sebagai pemimpin islam mengklem bahwa sterilisasi dilarang sedangkan sebagian lainnya mengijinkan. Walaupun agama islam tidak melarang metode kontrasepsi secara umum, para akseptor wanita mungkin berpendapat bahwa pola perdarahan yang tidak teratur yang disebabkan sebagai metode hormonl akan sangat menyulitkan mereka selama haid mereka dilarang bersembahyang. Di
sebagian, wanita hindu dilarang mempersipkan makanan selama haid sehngga pola haid yang tidak teratur dapat menjadi masalah (Handayani, 2010;h.17).
d. Pendidikan
Pendidikan ditanyakan untuk mengetahui tingkat pendidikan pasien, karena akan membantu dalam penyampaian konseling terhadap pasien. (Saifuddin, 2006; h. U-3)
e. Pekerjaan
Tinggi rendahnya social dan keadaan ekonomi penduduk di Indonesia akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan program KB di Indonesia. Misalnya pekerjaan buruh lebih cenderung menggunakan penghasilannya untuk makan.
Contoh : keluarga dengan penghasilan cukup akan lebih mampu, mengkuti program KB dari pada keluarga yang tidak mampu, karena bagi keuarga yang kurang mampu KB bukan merupakan kebutuhan pokok (Handayani, 2010;h.17).
f. Alamat
tepat tinggal merupakan informasi yang penting dipastikan karena apabila seorang wanita tidak memiliki tempat
tinggal / tinggal atau dipenginapan maka hal ini akan menghambat kemampuan wanita dalam mempertahankan pola personal hygiene. Karena apabila wanita tersebut tunggal dipenginapan maka akan menghambat wnit tersebut untuk mempertahankn personal hygiene karena wanitaa yang menggunakan AKDR haarus lebih menjaga kebersihan khususnya pada daerah kewanitaaan nya. (varney, 2007;h. 31).
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat penyakit dahulu dan sekarang
Riwayat penyakit pasien perlu dikaji karena hal ini berkaitan dengan kontra indikasi penggunaan KB AKDR diantaranya penyakit diabetes, HIV/AIDS, penyakit katup jantung, anemia, srtoke, malaria, TBC, dan penyakit hati (varney,207; h.450-451).
b. Riwayat penyakit keluarga
Dikaji untuk mengetahui apakah keluarga memiliki riwayat penyakit seperti (kanker payudara) karena kontraindikasi penggunaan AKDR adalah adanya kanker payudara dan telah ditetapkan bahwa riwayat keluarga yang mengalami kanker payudar adalah risiko terjadinya perkembangan
kanker payudara karena terdapat pembawa gen dari keluarga. (Varney, 2006; h. 107)
c. Riwayat penyakit gynekologi
Pada penderita penyakit ginekologi seperti karsinoma servik, benjolan pada payudara, tumor jinak, tumor payudara, myoma uteri, kanker servik, dan infeksi pelvis tidak dipebolehkan menggunakan IUD (vaney, 2006; h.107)
3. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Mengkaji nifas yang lalu, karena masa nifas berkaitan dengan masa menyusui, karena KB AKDR boleh digunakan pada ibu yang sedang menyusui karena tidak mengganggu produksi dan volume ASI (Hanafi Hartanto, 2004; h. 215).
4. Riwayat perkawinan
a. Usia perkawinan
Dikaji untuk mengetahui pertama kali menikah, apakah sudah cukup usianya untuk menkah dan bereproduksi atau belum. Karena apabila menikah pada usia kuraang dari 20 tahun hendaaknyaa untuk menunda kehamilannya dengan menggunakan AKDR. AKDR merupakan aalat
kontrasesi yang tepat untuk menundaa kehamilan. (Hartanto, Hanafi. 2003; h.30).
b. Lama pernikahan
Perlu dikaji karena untuk mengetahui batas usia reproduksi. Pada usia 20 tahun dianjurkan untuk menunda kehamilan, usia 20-30/35 untuk menjarangkan kehailan, dan usia 35 tahu untuk mengakhiri kesuburan. Jika usia sudah melewati masa reproduksi merupakan kontra indikasi dalam pemasangan AKDR (Hartanto, Hanafi. 2003; h. 30-31).
5. Riwayat menstruasi
a. HPHT perlu dikaji untuk mengetahui apakah dalam keadaan hamil atau tidak karena jika hamil merupakan kontra indikasi pemasangan AKDR (Saifudin, 2006; MK. 75).
b. Siklus menstruasi perlu dikaji untuk mengetahui apakah klien dalam siklus yang teratur atau tidak. Karena efek samping pemakaian AKDR yaitu terjadi perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan) (Saifudin, 2006; MK. 75).
c. Lama perlu dikaji untuk mengetahui apakah klien berapa hari menstruasi karena efek samping pemakaian AKDR
yaitu haid lebih lama dan banyak, perdarahan (spotting) antar menstruasi (Saifudin, 2006; MK. 75).
d. Disminorea perlu dikaji untuk mengetahui apakah klien sebelum menstruasi mengalami disminorea atau tidak karena efek samping pemakaian AKDR yaitu saat haid menjadi lebih sait (Saifudin, 2006; MK. 75).
6. Riwayat kontrasepsi
Pertanyaan tentang riwayat pengalaman pasien sebelumnya menggunakan kontrasepsi akan membantu menilai keperluan penerimaan, mengetahui tentang efek samping yang terjadi dan kegagalan kontrasepsi. (Proverawati, dkk, 2010; h. 23)
7. Riwayat obstetrik
Perlu dikaji unuk meberikan informasi yang penting mengenai pemasangan AKDR yaitu 8 minggu post partum karena apabila dalam beberapa hari post partum dapat memicu kerugian paling besar pada angka kejdian akspulsi dan bahaya perforasi (Handayani,S. 2010; h.147).
8. Riwayat kebutuhan sehari-hari
a. Nutrisi
Dalam penggunaan AKDR Cu T-380 A tidak berpengaruh pada pola nutrisi. Pada pemakaian AKDR Cu T-380 A
memiliki efek samping haid lebih lama dan banyak serta perdarahan antara menstruasi (spotting), sehingga kebutuhan nutrisi harus terpenuhi untuk mencagah terjadinya anemia (Sifudin, 2006; h. MK. 75).
b. Aktivitas
Aktivitas akseptor dapat berpengaruh pada pemasangan AKDR Cu T-380 A. akseptor disarankan untuk tidak melakukan aktivitas yang berat terlebih dahulu untuk mencegah terjadi ekspulsi (Handayani, 2010; h.142-143). c. Seksulitas
Pola hubungan seksual pada penggunaan AKDR kuntungannya tidak mempengaruhi hubungan seksual (Saifuddin, 2006;h. MK-75).
d. Personal hygiene
Infeksi merupakan komplikassi yang serius yang berhubungan dengan penggunan AKDR. Maka diharapkan agar pengguna AKDR dapat mempertahankan personal hygiene dengan baik (Hartanto, 2004; h. 219).