• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5) Subkategori mengejek

Tuturan (B6): “Iya, ora kaya kowe kuwi! Isih nganggur wae.” (Iya, tidak seperti kamu itu! Masih menganggur saja.)

(Konteks: Penutur berbicara dengan ketus ketika menimpali cerita mitra

tutur tentang temannya yang sudah memiliki pekerjaan. Penutur tidak bermaksud menyindir mitra tutur. Penutur tidak sadar telah membuat mitra tutur tersinggung.)

Dari tujuh tuturan tersebut, dapat ditemukan bahwa wujud ketidaksantunan

pragmatiknya ditandai dengan penutur yang tidak memperhatikan keadaan mitra

tutur dan siapa mitra tutur saat menuturkan suatu tuturan. Dell Hymes (1978)

menyatakan bahwa ketika seorang berkomunikasi hendaknya memerhatikan

indikator kesantunan yang diakronimkan dengan istilah SPEAKING. Setting and

scene serta paricipants merupakan dua hal yang perlu diperhatikan pada kategori

ketidaksantuan ini. Setting and secene mengacu pada latar terjadinya komunikasi,

sedangkan participant mengacu pada orang yang terlibat dalam komunikasi

(Pranowo, 2009:100–101). Meskipun penutur tidak memiliki maksud untuk menyinggung mitra tutur, mitra tutur akan tetap merasa tersinggung bila tuturan

penutur tidak memperhatikan keadaan mitra tutur dan siapa mitra tutur itu. Hal

inilah yang membuat tuturan yang dianggap oleh penutur biasa saja, tetapi bagi

Pada tuturan (B7), wujud ketidaksantunan pragmatik ditunjukan ketika

penutur menjawab pertanyaan mitra tutur mengenai alasan orang tuanya tidak

mau membelikan sepeda dengan ekspresi sinis sehingga membuat mitra tutur

merasa tersingguung. Lain halnya dengan penutur (B8) yang membuat mitra tutur

kesal. Hal ini terjadi karena penutur menolak permintaan ayahnya yang ingin

belajar memakai komputer. Penutur tidak memahami bahwa ingatan sang ayah

memang sudah berkurang akibat faktor usia dan sekalipun penutur tahu bahwa ia

berbicara dengan ayahnya, penutur tetap bertutur dengan kasar.

Selanjutnya, wujud ketidaksantunan pragmatik pada tuturan (B2)

ditunjukan oleh penutur yang berbicara dengan tidak memandang mitra tutur

sambil mendorong pelan mitra tutur supaya menjauh darinya. Hal ini dilakukan

karena penutur merasa terganggu oleh mitra tutur yang mengajaknya bermain.

Walaupun penutur tidak memiliki maksud untuk menyinggung, mitra tutur

ternyata merasa keberadaannya di dekat penutur tidak diinginkan.

Ketidaksantunan yang dilakukan oleh penutur (B2) sama dengan penutur (B5).

Penutur (B5) menyuruh mitra tutur, neneknya, untuk segera menyelesaikan

masakannya karena penutur sudah lapar. Penutur tidak sadar bahwa tuturannya

membuat sang nenek kesal karena penutur hanya bisa menyuruh tanpa ikut

membantu neneknya memasak.

Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan (B3) ditandai dengan cara

penutur berbicara kepada mitra tutur yang meminta uuntuk dipakaikan baju.

Penutur berbicara dengan tidak serius dan tidak melihat mitra tutur. Penutur tidak

Ketidaksantunan juga terjadi pada tuturan (B4) dan (B6). Penutur (B4) berbicara

dengan ekspresi datar, tanpa merasa takut ketika mengungkapkan alasan mengapa

penutur tidak menyukai mitra tutur 2. Penutur tidak menyadari bahwa tuturannya

terdengar oleh mitra tutur 2, sehingga membuat mitra tutur 2 tersingung. Berbeda

dengan penutur (B4), penutur (B6) berbicara dengan ketus saat menimpali cerita

mitra tutur. Penutur yang tidak bermaksud menyindir mitra tutur, tidak sadar

bahwa tuturannya telah membuat mitra tutur tersinggung. Hal-hal inilah yang

membuat tuturan-tuturan tersebut tidak santun.

4.3.1.3Kategori Ketidaksantunan Melecehkan Muka

Wujud ketidaksantunan pragmatik yang selanjutnya yaitu pada kategori

melecehkan muka. Berikut ini contoh tuturan tidak santun dalam kategori

melecehkan muka.

1) Subkategori kesal

Tuturan (C4):“Yak yakan!” (Sembrono!)

(Konteks: Penutur berbicara dengan volume yang keras ketika mitra tutur

tidak sengaja menginjak kaki penutur. Penutur berbicara dengan membentak mitra tutur. Penutur berbicara dengan ekspresi marah. Penutur telah membuat mitra tutur tersinggung dan takut. Penutur sadar bahwa mitra tutur adalah anak tetangganya.)

Tuturan (C7): “Has luweh! Sak karep omonganmu opo.” (Tidak peduli! Terserah omonganmu apa.)

(Konteks: Penutur berbicara dengan memotong kalimat mitra tutur karena

penutur tidak berkenan dengan topik yang dibicarakan mitra tutur. Penutur berbicara dengan membentak mitra tutur. Penutur berbicara dengan ekspresi kesal. Penutur telah membuat mitra tutur tersinggung. Penutur sadar bahwa mitra tutur adalah anaknya.)

2) Subkategori memerintah

Tuturan (C3):“Ya kana gawe dewe! Wong kowe yang laper.” (Ya sana buat sendiri! Kan kamu yang lapar.)

(Konteks: Penutur berbicara dengan volume yang keras ketika mitra tutur meminta dimasakan sesuatu. Penutur tidak menghiraukan mitra tutur. Penutur telah membuat mitra tutur tersinggung. Penutur sadar bahwa mitra tutur adalah anaknya.)

Tuturan (C9): “Acara kaya ngono ditonton. Ganti!” (Acara seperti itu ditonton. Ganti!)

(Konteks: Penutur berbicara dengan memaksa mitra tutur karena penutur

tidak senang dengan acara televisi yang sedang ditonton mitra tutur. Penutur berbicara dengan ekspresi kesal. Penutur telah membuat mitra tutur tersinggung. Penutur sadar bahwa mitra tutur adalah adiknya.)

3) Subkategori menyindir

Tuturan (C13):“Wis tutuk le dolan?” (Sudah puas yang main?)

(Konteks: Penutur berbicara dengan sinis ketika mitra tutur pulang ke

rumah. Penutur berbicara seperti menuduh mitra tutur. Penutur telah membuat mitra tutur tersinggung. Penutur sadar bahwa mitra tutur adalah anaknya.)

Tuturan (C18): “Rasah-rasah! Gaweanmu wae ra rampung-rampung.”

(Tidak usah-tidak usah! Kerjaan kamu saja tidak selesai- selesai.)

(Konteks: Penutur berbicara dengan ketus kepada mitra tutur yang

bermaksud membantu pekerjaan penutur. Penutur menunjukkan ekspresi galak. Penutur bereaksi secara spontan kepada mitra tutur. Penutur sengaja membuat mitra tutur tidak nyaman dan tersinggung.)

4) Subkategori mengejek

Tuturan (C6):“Dasar anake wong edan!” (Dasar anaknya orang gila!)

(Konteks: Penutur berbicara dengan volume yang keras kepada mitra tutur

yang sedang berjalan di depan rumahnya sambil bernyanyi. Penutur berbicara dengan membentak mitra tutur. Penutur berbicara dengan ekspresi datar. Penutur telah membuat mitra tutur tersinggung dan takut. Penutur sadar bahwa mitra tutur adalah anak tetangganya.)

Tuturan (C16): “Percuma punya hape bagus-bagus, tapi nggak bisa

pakainya.”

(Konteks: Penutur berbicara dengan sinis kepada mitra tutur yang baru

membeli handphone baru. Penutur berbicara dengan ekspresi menyepelekan mitra tutur. Penutur telah membuat mitra tutur tersinggung. Penutur sadar bahwa mitra tutur adalah adiknya.)

Dokumen terkait