• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE PENELITIAN

3.1 Subyek dan Lokasi Penelitian

Dalam kajian tentang Transformasi Sosio Ekonomi Pesantren ini, ada beberapa hal yang penting untuk digaris bawahi. Pertama adalah institusi, institusi yang menjadi obyek kajian adalah institusi yang telah mapan secara kelembagaan yang dapat diukur dari lamanya pesantren itu telah berdiri dan bertahan. Kedua, pesantren yang dikaji harus mewakili pesantren tradisional, karena yang ingin dilihat adalah bagaimana transformasi terjadi dengan adanya kebersinggungan dengan dunia luar. Ketiga, skala pesantren, yang diukur dari jumlah peserta dan alumni yang telah dilahirkannya. Keempat, karena dalam penelitian ini, juga mengkaji tentang keputusan-keputusan perubahan (rasionalisasi), maka pengambil keputusan adalah tokoh yang keputusannya dianggap sebagai representasi putusan religi yang mengikat.

Dengan pertimbangan tersebut, secara purposive, Subyek yang diambil adalah; pertama pondok pesantren dan pimpinan pondok Pesantren (ulama) Roudlatul Ulum Cidahu Kabupaten Pandeglang Banten, Kedua pondok dan pondok pimpinan pondok pesantren Sidogiri, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Pilihan pada kedua pesantren tersebut karena terpenuhinya syarat-syarat sebagai berikut: (1) karena penelitian ini menekankan pada transformasi yang terjadi di lembaga tradisional, maka secara klasifikasi, pesantren yang dipilih adalah pesantren tradisional (dari sisi pengajaran) yang disebut pesantren salafiyah. Pesantren Roudlatul Ulum Cidahu Pandeglang Banten maupun pondok pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur, sebagaimana yang ditegaskan oleh pengasuhnya(kyai) adalah pesantren salafiyah28. (2) Keilmuan pemimpin Pondok, dalam masayarakat nahdliyin keilmuan seorang kyai ditentukan berdasarkan beberapa kriteria yaitu faqiih (memiliki penguasaan yang mendalam atas ilmu- ilmu syari’at) dan mutawarri’ (terjaga martabat keulamaannya dari akhlak dan haaliyyah yang tidak pantas, termasuk keterlibatan yang terlampau vulgar dalam politik praktis). Hal itu dikarenakan bagi masyarakat nahdliyin Ulama bukan sekedar tokoh agama biasa tapi merupakan “qiyaadah diiniyyah”, yaitu acuan keagamaan bagi warganya, pengasuh kedua pondok baik pada masa kepengasuhan sebelumnya maupun saat ini adalah kyai-kyai yang menjadi tokoh–

28

Para Ulama terutama dari kalangan Nahdliyin bependapat bahwa Pesanten Salafiyah adalah bentuk asli dari lembaga pesantren sebagaimana pertama kali didirikan oleh Wali Songo. Format pendidikan pesantren adalah bersistem salaf. Kata salaf berasal dari bahasa Arab.“

salaf”. Harap dibedakan antara pesantren salaf (salafiyah) sebagai sebuah sistem pendidikan dengan aliran “salafi wahabi”. Kata salaf dalam pengertian pesantren di Indonesia dapat dipahami dalam makna literal dan sekaligus terminologis khas Indonesia.Secara literal, kata salaf dalam istilah pesantren di Indonesia adalah klasik dan tradisional sebagai kebalikan dari pondok modern, kholaf atau ashriyah. Pada Pesantren salafiyah yang diajarkan ilmu-ilmu agama saja kepada para santri. Dengan mempertahankan bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama abad ke 15 M (kitab-kitab kuning) yang menggunakan bahasa Arab kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa lokal. Di Pesantren Roudlatul Ulum kitab-kitab kuning diterjemahkan ke bahasa Sunda Banten oleh Kyai-nya, sedang di Pondok Pesantren sidogiri diterjemahkan ke bahasa Jawa atau bahasa Madura.

tokoh yang masuk dalam kriteria qiyaadah diiniyyah kalangan nahdliyin29. (3) ketokohan sosial, Pengasuh kedua pondok ini, disamping dilekatkan pada posisi qiyaadah diiniyyah, juga merupakan tokoh-tokoh yang terlibat dalam organisasi sosial30,

Disamping pertimbangan tipologi31 dan ketokohan pimpinannya , pilihan pada Pondok Pesantren Roudhatul Ulum di Cidahu Pandeglang Banten dan Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan Jawa Timur, juga untuk merepresentasikan kewilayahan. Lokasi penelitian mengambil wilayah di Provinsi Banten dan Jawa Timur, dengan beberapa pertimbangan. Kedua Wilayah ini secara historis merupakan wilayah-wilayah yang merupakan cikal bakal tersebarnya agama Islam, dan lembaga pesantren sebagai bagian dari isntitusi penyebaran dan pengembangan agama Islam telah lama terjadi di kedua wilayah ini. Kedua, Wilayah ini sampai dengan sekarang menunjukkan sebagai wilayah dengan jumlah pesantren yang banyak di Indonesia. Tipologi-tipologi pesantren yang ada menyebar dan secara lengkap di kedua wilayah ini. Ketiga kedua wilayah inipun

29

KH. Abuya Muhtadi Dimyathi al-Bantani pemimpin pondok pesantren Roudlatul ulum Cidahu merupakan Salah satu ulama ahlussunnah wal jama'ah asal Banten, ayahnya adalah KH.Muhammad Dimyati (pendiri dan pengasuh pondok pesantren Roudlatul ulum sebelumnya) yang biasa dipanggil dengan Buya Dimyati atau mbah Dim, merupakan sosok Ulama Banten yang memiliki kharisma, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tapi juga menjalankan kehidupan dengan metode bertashauf, tarekat yang di anutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Demikian halnya dengan Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, KH. Nawawi Abdul Jalil,. Ia adalah pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur yang merupakan salah satu Pesantren tertua di Nusantara. Didirikan tahun 1718 oleh Sayyid Sulaiman Bin Abdurrahman Basyaiban, yang berasal dari Cirebon dan masih keturunan Sunan Gunung Djati dari sisi Ibu. Kiai Nawawi adalah generasi ke 12 pimpinan Pondok Pesantren Sidogiri yang didaulat menjadi Pengasuh Pesantren sejak tahun 2005. Dalam berbagai kesempatan, Kiai Nawawi selalu menekankan kepada para santrinya tentang pentingnya menjaga marwah Ulama dan komitmen pengabdian terhadap Jam’iyah Nahdlatul Ulama. selalu melabeli pesantrennya sebagai bagian dari Nahdlatul Ulama yang mempertahankan kajian kitab klasik (kitab kuning).

30

KH Muhtadi merupakan yang juga Rois 'Am Majelis Muzakaroh Cidahu Banten (M3CB), sebuah perkumpulan alim ulama yang meneguhkan pada ajaran-ajaran kitab-kitab klasik. Anggota Majlis ini terdiri dari ulama-ulama Banten dan dari daerah di luar Banten. Dengan posisi sebagai bagian dari qiyaadah diiniyyah maupun rois am M3CB,. Demikian halnya dengan KH Nawawi Abdul Jalil, ia merupakan beliau merupakan tokoh yang masuk ke dalam kelompok elite kyai di kalangan masyarakat Nahdliyin. KH nawawi merupakan kyai yang termasuk ke dalam Ahlul Halli Wal ‘Aqdi dalam organisasi Nahdlatul Ulama. ketokohan kedua ulama pengasuh pondok pesantren ini bukan hanya di kalangan para santri dan ulama tetapi juga pada lingkungan sosial politik lainnya. Bahkan hamper bisa dipastikan bahwa elite politik di kedua wilayah ini, yaiytu Jawa Timur maupun Banten akan merapat kepada kedua tokoh ini untuk kepentingan politik baik secara pribadi maupun mengatasnamakan lembaga.

31

Pesantren salafiyah adalah pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama saja kepada para santri. yang masih tetap mempertahankan bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama abad ke 15 M dengan menggunakan bahasa Arab, kalau ada ilmu umum, maka itu diajarkan dalam porsi yang sangat sedikit. Umumnya, ilmu agama yang diajarkan meliputi Al-Quran, hadits, fikih, akidah, akhlak, sejarah Islam, faraidh (ilmu waris Islam), ilmu falak, ilmu hisab, ilmu tasawuf dan lain-lain. Semua materi pelajaran yang dikaji memakai buku berbahasa Arab yang umum disebut dengan kitab kuning, kitab gundul, kitab klasik atau kitab turots. Pertimbangan memilih pesantren salafiyah karena penelitian ini ingin mengetahui proses- proses sosiologis yang terjadi pada lembaga tradisional (salafiyah) dan transformasinya yang terjadi, dari bentuk sebelumnya kepada bentuk yang ada saat ini (baru).

dikenal dengan wilayah yang ulamanya cukup aktif bersinggungan dengan dinamika politik yang berkembang.