4. METODOLOGI PENELITIAN
4.2 Subyek Penelitian dan Latar Belakang Orang Tua
Siapa sebenarnya subyek penelitian ini dan siapa sebenarnya kedua orang tuanya perlu dijelaskan. Subyek Penelitian adalah seorang anak laki-laki yang bernama Putera Rafa Syamsuar dengan Rafa sebagai nama panggilan, Ia dilahirkan di Rumah Sakit Atang Sendjaja Bogor pada tanggal 23 Desember 2006 melalui operasi Sectio Caesaria dari seorang ibu yang bernama Rusi Susilawaty yang bersuami Fauzi Syamsuar, yang tidak lain adalah yang melakukan penelitian ini. Rafa lahir dalam keadaan normal, baik secara fisik maupun mental. Berat badannya ketika lahir adalah 3,0 kg dan panjang badannya 49 cm.
Ibu Rafa lahir di Medan pada tanggal 7 Mei 1970. Ia terlahir sebagai anak ketiga, memiliki seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan. Pada saat berusia empat tahun, keluarga Rusi pindah ke Jakarta. Namun, mereka tinggal di Jakarta hanya untuk beberapa bulan karena pada tahun yang sama mereka pindah ke Klaten, tempat kedua orang tua Rusi berasal. Ibu Rusi meninggal dunia pada tahun 1975; dan sejak saat itu sampai ayahnya menikah lagi pada tahun 1978 (dan pada tahun 1979 Rusi mendapat seorang adik laki-laki hasil dari pernikahan kedua ayahnya itu), yang mengasuh Rusi hanya sang ayah dan kedua kakaknya. Rusi tidak mengenyam pendidikan prasekolah dan langsung memulai pendidikan di sebuah SD di perdesaan Klaten pada tahun 1977. Di SD, ia sempat tidak naik kelas; ia harus berada di kelas 2 sebanyak dua kali. Menurut pengakuannya, salah satu faktor kegagalan itu adalah kendala bahasa. Dengan kata lain, karena lahir di Medan dan orang tuanya yang berasal dari Jawa tidak secara intensif memajankan
menjadi bahasa pengantar di SD tempatnya belajar. Rusi menamatkan SD-nya pada tahun 1984 dan melanjutkan sekolah ke SMP Kanisius di Dlanggu, Klaten. Setelah menamatkan SMP-nya pada tahun 1987, ia melanjutkan studinya ke yayasan pendidikan yang sama namun di lokasi yang berbeda, yakni ke SMA Kanisius Klaten. Rusi tidak langsung melajutkan studi ke perguruan tinggi setelah menamatkan SMA-nya pada tahun 1990. Baru pada tahun 1991 ia melanjutkan studi ke Akademi Bahasa Asing Tujuhbelas Agustus Semarang dan mengambil jurusan D3 Manajemen Perkantoran; ia menamatkannya pada tahun 1995. Setelah tamat kuliah Rusi sempat menganggur; dan pada tahun 1996 ia pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Akhirnya, ia mendapatkan pekerjaan di sebuah kantor notaris di daerah Bogor pada tahun 1997 dan bekerja di kantor itu sebagai karyawan yang mengurusi perihal administrasi sampai saat ini; dan akhirnya ia menikah dengan saya pada tanggal 14 Januari 2006.
Kedua orang tua saya berasal dari sebuah nagari di tepian danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Sebagaimana yang banyak dilakukan orang Minangkabau, kedua orang tua saya merantau, yakni ke Bandar Lampung pada tahun 1961, sehingga saya dilahirkan di kota itu tanggal 17 Mei 1972 sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayah saya meninggal dunia pada tanggal 30 November 1976, yakni ketika saya masih berusia empat tahun. Menurut pengamatan kakak-kakak saya, walaupun keluarga kami tinggal di daerah yang bukan merupakan daerah guyub tutur bahasa Minangkabau, ayah dan ibu kami saat itu selalu berinteraksi satu dengan yang lain dengan menggunakan bahasa Minangkabau; dan ketika beinteraksi dengan anak-anak mereka, orang tua kami menggunakan bahasa Indonesia dialek setempat dan sangat sering beralih kode ke bahasa Minangkabau. Setelah ayah saya meninggal dunia, ibu saya tetap melan-jutkan praktik alih kodenya ketika beinteraksi kepada anak-anaknya, termasuk kepada saya tentunya. Ibu saya, atas permohonan saya, tinggal bersama saya di Bogor sejak tahun 2003 sampai akhirnya beliau tutup usia di Rumah Sakit Salak Bogor pada tanggal 21 Mei 2006, yakni ketika Rafa baru berusia dua bulan dalam
Sama seperti istri saya, saya tidak mengenyam pendidikan prasekolah. Saya mulai bersekolah di sebuah SD di Bandar Lampung pada tahun 1979 dan melan-jutkan ke SLTP di kota yang sama pada tahun 1985. Pada tahun 1988 saya pindah ke Jakarta dan melanjutkan studi ke SMA Negeri 68 Jakarta dan tinggal bersama kakak saya yang tertua. Kami hanya tinggal berdua di sebuah rumah kontrakan sederhana (yang kini lebih populer dengan sebutan rumah petak) di Klender, yakni daerah yang saat itu masih dianggap daerah pinggiran Jakarta dan kini tampaknya tidak lagi dianggap demikian; kami tinggal di sana sampai saya lulus SMA pada tahun 1991. Saya gagal ketika mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) pada tahun 1991 dan mengulanginya pada tahun 1992; dan akhirnya diterima sebagai mahasiswa di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang (saat itu masih bernama IKIP MALANG). Walaupun menamatkan kuliah pada tahun 1998, sebenarnya saya telah mulai aktif mengajar kelas-kelas privat bahasa Inggris dan mengajar di kursus-kursus bahasa Inggris jauh sebelum itu. Setelah lulus kuliah saya sempat ”melanglang ke sana ke sini” dalam rangka mencari pekerjaan yang saya anggap cocok bagi saya. Sejak tahun 2000 sampai saat ini, saya aktif mengajar bahasa Inggris di sebuah cabang kursus bahasa terkemuka di Indonesia, yakni International Language Programs (ILP) cabang Bogor. Selain itu, saya juga mengajar matakuliah bahasa Inggris di STIE Kesatuan Bogor sejak awal 2008 sampai saat ini. Di samping, itu sejak pertengahan tahun 2008, saya mulai mengajar beberapa matakuliah linguistik di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Rafa adalah anak pertama dari dua anak kami; ia memiliki adik perempuan yang bernama Zahra Syafa Syamsuar yang lahir di Bogor pada tanggal 10 Juni 2009. Rafa bersifat: periang, banyak bergerak dan berbicara, sedikit pemarah, sedikit pemalu, tidak terlalu cepat akrab dengan orang yang baru dikenalnya, dan cerdas; dan ia saya curigai memiliki bakat bahasa yang cukup tinggi. Mengenai pola asuh, sebagaimana telah dijelaskan di bab I, di siang hari, yakni ketika saya mengajar dan Ibu Rafa berada di tempat kerjanya, Rafa diasuh oleh seorang
peng-dengan anak-anak kami tidak dapat dikatakan sering, saya mengklaim bahwa perhatian yang kami berikan kepada mereka, terutama kepada Rafa, berkualitas. Klaim itu berdasarkan indikator bahwa kualitas hubungan emosional Rafa dengan kami jauh lebih baik dibandingkan kualitas hubungan emosional Rafa dengan orang dewasa sekitarnya, terutama jika dibandingkan dengan hubungan emosional Rafa dengan pengasuh anak yang dimaksud di atas.
Pada saat proses pengumpulan data dimulai, yakni pada tanggal 7 Oktober 2009, Rafa telah berusia 2;9,2 (dua tahun; sembilan bulan, dua minggu). Dalam proses itu, alhamdulillah, Rafa secara umum berada dalam kondisi sehat dan berperilaku sangat kooperatif. Dengan demikian, saya dapat mengatakan bahwa tidak terdapat kendala yang berarti dalam proses pengumpulan data.
4.3 Metode Pengukuran Komprehensi dan Produksi Bahasa sebagai Dasar