DAFTAR LAMPIRAN
B. Discounted Criterion
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Karakteristik Stasiun Pengamatan 1 Karakteristik Stasiun Pengamatan
4.2. Karakteristik Parameter Kualitas Air
4.2.1 Suhu dan Salinitas
Hasil pengamatan rata-rata suhu permukaan perairan (Tabel 2) pada kawasan tambak 31.27⁰C, saluran Kali Buaya 31.27⁰C dan perairan laut 28⁰C hingga 31.1⁰C. Kisaran suhu yang tidak terlalu besar selama pengamatan menunjukkan suhu perairan pada ketiga stasiun tersebut relatif stabil. Kisaran suhu permukaan pada ketiga stasiun pengamatan masih dalam kategori baik untuk untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup biota perairan (Poernomo 1992; KLH 2004). Peningkatan suhu dapat menyebabkan peningkatan metabolisme dan respirasi organisme perairan, serta peningkatan dekomposisi
bahan organik oleh mikroba sehingga konsumsi oksigen akan meningkat (Effendi 2000). Peningkatan suhu perairan sekitar 10o
Hasil pengukuran salinitas dari ketiga stasiun pengamatan berkisar antara 5-33‰. Salinitas pada tambak berkisar antara 5-17‰, saluran kali Buaya berkisar antara 5-25‰ dan salinitas perairan Laut berkisar antara 31-33‰ (Tabel 2). Salinitas Saluran kali Buaya fluktuasinya dipengaruhi oleh masukan air tawar dari saluran irigasi dan masukan air laut pada saat terjadi pasang (Effendi 2000). Proses percampuran air laut dan air tawar secara alami pada saat terjadi pasang memberikan kondisi yang cocok bagi kelangsungan hidup biota budidaya.
C menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen oleh organisme perairan 2–3 kali lipat. Sebaliknya dengan meningkatnya suhu, konsentrasi oksigen terlarut akan menurun.
Pada saat pasang, air laut yang masuk ke saluran kali Buaya akan meningkat sehingga salinitas akan meningkat, dan pada saat surut maka suplai air tawar akan lebih besar terutama di daerah hulu saluran sehingga salinitas akan menurun. Salinitas perairan tambak relatif lebih rendah pada tambak yang jauh dari saluran kali Buaya atau yang berada di daerah hulu karena lebih dipengaruhi oleh masukan air tawar terutama pada saat musim hujan.
4.1.3 Kecerahan, Kekeruhan dan Padatan Tersuspensi (TSS)
Kecerahan merupakan jarak yang dapat ditembus cahaya matahari ke dalam kolom air. Semakin jauh jarak tembus cahaya matahari, semakin luas daerah yang memungkinkan terjadinya proses fotosintesa. Hasil pengamatan tingkat kecerahan perairan tambak, saluran kali Buaya dan laut masing-masing berkisar antara 23–25%, 15–5%, dan 25-100%. Tingkat kecerahan pada perairan tambak dan saluran kali Buaya relatif lebih rendah karena kedalaman tambak dan saluran relatif dangkal. Tingkat kecerahan di tambak dipengaruhi oleh kelimpahan fitoplankton, sementara di saluran dipengaruhi oleh konsentrasi lumpur yang terbawa oleh saluran irigasi sampai di muara. Hal ini nampak di stasiun laut dimana nilai kecerahan secara gradual meningkat. Tingkat kecerahan dari masing-masing stasiun pengamatan dapat dilihat pada Gambar 3.
Kecerahan berbanding terbalik dengan kekeruhan. Perairan yang tingkat kekeruhannya tinggi akan mengurangi penetrasi cahaya ke dalam kolom air sehingga membatasi proses fotosintesa.
Gambar 3. Tingkat kecerahan perairan tambak, saluran kali Buaya dan laut Pesisir Holtekam Kota Jayapura.
Nilai rata-rata tingkat kekeruhan di perairan tambak, saluran kali Buaya dan laut masing-masing adalah 3.0 NTU, 7.02 NTU dan 2.13 NTU (Tabel 2). Tingkat kekeruhan yang di saluran Kali Buaya diduga disebabkan oleh akumulasi buangan bahan organik dan anorganik dari tambak pada saat panen dan lumpur yang terbawa dari saluran irigasi. Hal ini senada dengan pernyataan Davis & Cornwell (1991) in Effendi (2000), bahwa kekeruhan dapat disebabkan oleh bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut seperti lumpur, pasir halus, plankton dan mikroorganisme lainnya. Perairan yang kekeruhannya disebabkan oleh plankton memberikan indikasi bahwa perairan tersebut subur dan produktifitasnya tinggi.
Hasil pengamatan padatan tersuspensi (TSS) menunjukkan nilai rata-rata pada perairan tambak, saluran kali Buaya dan laut masing-masing adalah 47.83 mg/l, 201.67 mg/l dan 162.17 mg/l (Tabel 2). Nilai TSS tertinggi di saluran Kali Buaya yakni 201.67 mg/l. Hasil pengamatan TSS ketiga stasiun ini lebih tinggi dari standar kualitas air yang diisyaratkan yakni <20 mg/l (KLH 2004) dan ≤50 mg/l Boyd (2003). Hasil pengamatan visual di lapangan pada saat
25 23 24 23 24 25 15 20 23 25 30 35 25 75 80 90 100 100 0 20 40 60 80 100 120
substasiun 1 substasiun 2 substasiun 3 substasiun 4 substasiun 5 substasiun 6 Tambak Saluran Laut
Ke
ce
rah
dilakukan pengamatan dan pengambilan sampel menunjukkan bahwa saluran kali Buaya keruh karena lumpur yang terbawa oleh adanya saluran irigasi teknis dimana sumber airnya berasal dari sungai Muaratami yang sepanjang tahun airnya sangat keruh akibat erosi di bagian hulu sungai.
Gambar 4. Tingkat kekeruhan perairan tambak, saluran kali Buaya dan laut Pesisir Holtekam Kota Jayapura.
Kekeruhan berkaitan erat dan berkorelasi positif dengan TSS. Semakin tinggi TSS maka semakin tinggi nilai kekeruhan. Hasil pengamatan menunjukkan adanya korelasi positif antara TSS dengan nilai kekeruhan, dimana rata-rata nilai kekeruhan tinggi di saluran Kali Buaya juga ditandai dengan tingginya TSS. Sebaliknya, tingginya konsentrasi TSS di laut tidak selamanya diikuti oleh tingginya kekeruhan (Effendi 2000). Jika padatan tersuspensi adalah bahan organik sebagai akibat buangan limbah lumpur cair (sludge) dari tambak pada saat pemanenan. Kekeruhan akibat lumpur akan mempengaruhi kehidupan organisme perairan. Hal ini disebabkan karena mikroorganisme membutuhkan banyak oksigen untuk mengoksidasi bahan organik yang ada.
3,5 3 2,5 3,5 2,5 3 6 6 8,1 8 8 6 3 2,8 2 2 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Substasiun 1 Substasiun 2 Substasiun 3 Substasiun 4 Substasiun 5 Substasiun 6
Tambak Saluran Laut (NTU)
Keker
uh
Gambar 5. Padatan tersuspensi (TSS) pada perairan tambak, saluran kali Buaya dan laut Pesisir Holtekam Kota Jayapura.
Keberadaan lumpur akan menyebabkan tingginya tingkat kekeruhan yang dapat menghambat penetrasi cahaya masuk ke kolom air sehingga menurunkan efisiensi fotosintesa fitoplankton dan tanaman air khususnya lamun (Gacia et al. 2005). Disamping itu, akan mengganggu pernapasan organisme perairan.
4.1.4 Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) merupakan gambaran seberapa asam atau basa suatu perairan. Hasil pengukuran pH pada ketiga stasiun pengamatan menunjukkan Kisaran rata-rata pada tambak, saluran kali Buaya dan laut masing-masing 7.55, 7.58, dan 8.17 (Tabel 2). Nilai pH ini masih dalam Kisaran yang layak dan stabil (Boyd 2003). Hal ini sesuai dengan pernyataan Nybakken et al. (1992) bahwa di perairan pesisir pH relatif lebih stabil dan berada dalam Kisaran yang sempit. Pertumbuhan ikan optimal terjadi pada kisaran pH 7–8.5 (Poernomo 1988; KLH 2004).
Nilai pH berpengaruh terhadap proses biokimiawi perairan (Novotny & Olem 1994 in Effendi 2000). Proses nitrifikasi akan terganggu pada pH rendah, sementara pada pH tinggi toksisitas ammonia meningkat. Proses dekomposisi bahan organik oleh mikroba berlangsung lebih cepat pada kondisi pH netral dan alkalis (Boyd 1988). 42 49 40 45 65 46 141 168 208 242 249 202 203 140 94 248 168 120 0 50 100 150 200 250 300
substasiun 1 substasiun 2 substasiun 3 substasiun 4 substasiun 5 substasiun 6 Tambak Saluran Laut
(mg/l)
T