BAB 2 DASAR TEORI
2.11.2 Suhu Titik – Panas (Hot – Spot)
Suhu titik-panas adalah suhu terpanas didalam belitan transformator. Lokasi belitan terpanas adalah tergantung pada desain fisik transformator. Panduan untuk Pembebanan menetapkan batas desain untuk suhu titik-panas normal 110 º C, atau 80 ºC di atas suhu lingkungan yang diasumsikan sebesar 30 ºC (Standard IEEE).
Untuk situasi beban lebihdarurat, Panduan untuk Pembebanan mengizinkan suhu titik-panas tidak melebihi 110 ºC (Standard IEEE). Karena suhu yang berlebihan dapat menyebabkan kerugian yang tidak bisa diterima dari umur isolasi.
Kenaikan awal suhu hot spot merupakan factor arus beban, ditetapkan dengan persamaan 2.8 berikut:
∆θH,i= (∆θH,R)(K2y) 2.8
Keterangan:
K = factor beban y = eksponen belitan
∆θH,R = kenaikan suhu titik - panas ranting beban
Kenaikan suhu hot spot belitan tergantung pada beban transformator dan karakteristik termal transformator, ditetapkan dengan persamaan 2.9 berikut:
∆θH = (∆θH,u − ∆θH,i )(1 − e1/τw) + ∆θH,i 2.9 Keterangan:
∆θH,u = kenaikan suhu titik – panas terbesar τw = konstanta belitan
Suhu hot – spot tergantung pada suhu lingkungan dan total suhu top oil, ditetapkan dengan persamaan berikut:
Maka total suhu titik-panas, ditetapkan dengan persamaan 2.10 berikut:
θH= θA+∆θTO+ ∆θH 2.10
Susut Umur Transformator
Penurunan kemampuan suatu bahan isolasi akibat panas disebut penuaan (aging). Faktor utama yang membatasi kemampuan pembebanan/kemampuan memepertahankan umur perkiraan dari transformator, akibat adanya pembebanan lebih akan menimbulkan panas pada lilitan kumparan transformator sehingga pada suatu saat akan menurunkan umur transformator (penyusutan umur) dari yang diharapkan[9]. Umur transformator secara normal diharapkan berkisar 30 tahun ketika beroperasi dengan rating yang sudah ditentukan. Namun dalam beberapa kondisi tertentu,kemungkinan terjadi overload transformator[10].
Pemburukan isolasi akan semakin cepat apabila isolasi tersebut bekerja dengan suhu yang melebihi dari batas yang diizinkan (suhu hot spot). Sebuah transformator akan mengalami umur yang normal pada kondisi “suhu hot spot 980c pada pembebanan yang terus–menerus”. Apabila transformator tersebut mengalami suhu hot spot yang lebih besar dari 980c, susut umurnya akan semakin cepat sehingga dapat memperpendek umur dari yang diharapkan[10]. Dalam perhitungan nilai umur transformator dengan metode degradasi isolasi dikenal dengan istilah FAA (aging acceleration factor) atau faktor laju penuaan isolasi ditetapkan dengan
persamaan 2.11 berikut.
Faktor Laju Penuaan Isolasi FAA = dL
dT = e[39,164−
15.000 θC+273]
2.11
Faktor Susut Umur (Loss of Life), ditetapkan dengan persamaan 2.16 berikut:
FEQA = 1
T∫ F0T AAdt 2.12
Setelah mendapatkan nilai FEQA, dapat dihitung nilai persentase pengurangan umur transformator dengan persamaan 2.13 berikut:
% susut umur transformator =. FEQAxT
UmurNormalx100 2.13
Dimana : T = periode waktu
Nilai periode waktu diasumsikan selama 24 jam dan nilai umur normal transformator diasumsikan adalah 180.000 jam.
Perhitungan sisa umur transformator, ditetapkan dengan persamaan 2.14 berikut:
Maka sisa umur transformator = Umur dasar −2
susut umur 2.14
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN Umum
Metode penelitian merupakan suatu cara yang harus dilakukan dalam kegiatan penelitian agar pengetahuan yang akan dicapai dari suatu penelitian dapat memenuhi nilai-nilai ilmiah. Dengan demikian penyusunan metode ini dimaksudkan agar peneliti dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode penelitian ini mencakup beberapa hal yang masing-masing tujuannya untuk menentukan keberhasilan pelaksanaan penelitian guna menjawab permasalahan disampaikan dalam penelitian. Langkah – langkah yang telah ditetapkan adalah penetapan tempat dan waktu penelitian, penetapan prosuder penelitian, dan membuat flowchart penelitian.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan mulai dari tanggal 1 September 2016 sampai 30 September 2016, diambil dari data harian PT. PLN (PERSERO) Gardu Induk Titi kuning dan bertempat di PT. PLN (PERSERO) Gardu Induk Titi kuning.
Alat Ukur Thermovisi
Thermovisi adalah sebuah alat ukur suhu yang berfungsi untuk mengukur temperatur atau suhu tanpa bersentuhan pada peralatan listrik seperti transformator, PMT, CT dan peralatan lainnya pada switchyard dengan obyek yang akan diukur suhunya (gambar 3.1). Thermovision digunakan untuk melihat hot spot pada instalasi listrik, dengan Infrared thermovision dapat dilihat losses yang terjadi di
jaringan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat menggunakan thermovisi diantaranya adalah suhu udara di sekitar (Ambient), kelembapan udara sekitar, beban peralatan yang dapat mempengaruhi nilai thermovisi tersebut. Tujuan dari foto thermovision adalah sebagai petunjuk penginderaan noktah panas (hot spot) pada instalasi listrik[11].
Cara menggunakan thermovisi adalah dengan melihat suhu dari jauh menggunakan infrared yang di miliki Thermovisi, suhu dapat dilihat pada skala warna (Gradasi). Semakin tinggi suhu hotspot yang terjadi maka semakin besar losses yang terjadi. Losses dapat diakibatkan oleh sambungan yang kurang baik.
Selain itu, dengan citra yang dihasilkan oleh thermovision, maka dapat dilihat pada bagian mana terjadi gangguan. Sehingga dengan thermovision dapat dilihat bagian yang perlu untuk dipelihara secara dini[11].
Dalam menggunakan Thermovisi, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah[11]:
1. Instruksi kerja ini dilakasakan dalam keadaan bertegangan, berbeban maupun tidak berbeban.
2. Alat ini membangkitkan energy radio frekuensi sehingga dapat mempengaruhi frekuensi komunikasi, maka wajib memahami isi dari buku manual alat.
3. Jangan menggunakan sinar laser langsung ke mata karena akan menimbulkan iritasi.
4. Jangan membongkar baterai atau memodifikasi, karena baterai asli telah dilengkapi dengan pengaman terhadap hubung singkat dan pemanasan yang berlebihan.
5. Jangan melanjutkan penginderaan noktah panas jika diketahui kapasitas baterai sudah rendah, maka segera diganti dengan baterai yang sudah baik kapasitasnya. Gunakan baterai yang sudah kecil kapasitasnya jika alat akan disimpan dengan baterai terpasang.
6. Jangan menggunakan kamera ini pada kondisi sinar matahari dalam kondisi penuh tanpa dilengkapi dengan pelindung lensa. Seperti digunakan untuk mengukur panas matahari langsung dalam waktu yang lama sebab akan merusak keakuratan kamera menyebabkan rusaknya alat pendeteksi di dalam kamera.
7. Hindari pemakaian kamera dalam kondisi hujan karena hasil pengukuran tidak optimal dan dapat merusak alat thermovision.
8. Jangan menggunakan kamera pada daerah atau ruangan dengan temperature diatas 50oC sebab akan merusak alat termovision.
9. Buanglah baterai bekas sesuai penempatan jangan dibakar pada api.
10. Jangan menggunakan thinner atau cairan lain yang sama pada kamera, kabel, dan peralatan bantu (accessories) yang lain.
Gambar 3.1 Alat Ukur Thermovisi yang digunakan di Gardu Induk Titi Kuning
Prosedur Penelitian
Adapun metode penelitian dalam Tugas Akhir ini, beberapa tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini. Berikut penjelasan tahapan yang dilakukan yaitu:
1. Pengambilan Data Penelitian
Parameter data ditentukan berdasarkan penyebab kenaikan suhu belitan dan minyak. Data – data tersebut berupa faktor beban, rasio rugi – rugi, nilai eksponen minyak dan belitan,kostanta minyak dan belitan, suhu lingkugan, suhu top – oil dan suhu hot - spot.
2. Perhitungan Kenaikan Awal Top oil dan Hot Spot
Perhitungan Kenaikan Awal Top oil dan Hot Spot dilakukan dengan memasukkan parameter-parameter berupa Faktor beban, rasio rugi-rugi, eksponen minyak dan eksponen belitan, kenaikan suhu top-oil ranting beban dan kenaikan hot-spot ranting beban
Kenaikan awal suhu top oil merupakan factor arus beban, dan ditetapkan dengan rumus berikut:
∆θTO,i = ∆θTO,R(1+RK2
1+R )n 3.1
Kenaikan awal suhu hot spot merupakan factor arus beban, dan ditetapkan dengan rumus berikut:
∆θH,i= (∆θH,R)(K2y) 3.2
3. Perhitungan kenaikan suhu Top Oil dan Hot Spot
Parameter yang digunakan berupa perhitungan dari kenaikan awal Top oil dan Hot Spot, konstanta top-oil dan hot-spot.
Kenaikan suhu top oil secara langsung berkaitan dengan arus beban dan karakteristik termal transfonsformator,ditetapkan dengan rumus berikut:
∆θTO = (∆θTO,u − ∆θTO,i ) (1 − e−τTO1 ) + ∆θTO,i 3.3 Kenaikan suhu hot spot belitan tergantung pada beban transformator dan karakteristik termal transformator,ditetapkan dengan rumus berikut:
∆θH = (∆θH,u − ∆θH,i )(1 − e1/τw) + ∆θH,i 3.4 4. Perhitungan total suhu top oil
Suhu hot – spot tergantung pada suhu lingkungan dan total suhu top oil,ditetapkan dengan rumus berikut:
Total suhu titik-panas:
θH= θA+∆θTO+ ∆θH 3.5
5. Menentukan Faktor Penuaan Transformator, % sisa hidup transformator dan harapan hidup transformator.
Menentukan Faktor Laju Penuaan Isolasi FAA = dL
dT = e[39,164−
15.000 θC+273]
3.6
Menentukan Faktor Susut Umur(Loss of Life) FEQA = 1
T∫ F0T AAdt 3.7
Setelah mendapatkan nilai FEQA, dapat dihitung nilai persentase pengurangan umur transformator dengan persamaan:
% susut umur transformator =. FEQAxT
UmurNormalx100 3.8
Maka sisa umur transformator = Umur dasar −2
susut umur 3.9
Pada saat melakukan kajian dan perhitungan sisa umur transformator dengan metode degradasi isolaso diperlukan tahapan-tahapan untuk membantu
START
Pengambilan data pelitian yaitu faktor
beban, rasio rugi – rugi, nilai eksponen minyak dan belitan,kostanta minyak danbelitan, suhu lingkugan
Gambar 3.2 Diagram alir proses penelitian Tugas Akhir
Transformator Daya di Gardu Induk Titi Kuning PT PLN (Persero) Pada gardu induk Titi Kuning, terdapat 3 unit transformator daya yang digunakan untuk menyalurkan daya dengan kapasitas 60 MVA. Berikut spesifikasi dari transformator daya pada gardu induk Titi Kuning PT PLN ( PERSERO).
3.5.1 Transformator Daya 1
Serial Number : 93P002
Reference Power : 60 MVA
Cooling : ONAN/OFAF
Frequency : 50 HZ
Phases : 3
Winding Temperature Alarm : 1040C.
Winding Temperature Trip : 1200C.
Oil Temperature Alarm : 960C.
Oil Temperature Trip : 1050C.
3.5.2 Transformator Daya 2
Type : TrafoStar
Serial Number : 502024 Rated Power : 42/60 MVA
Cooling : ONAN/OFAF
Winding Temperature Alarm : 840C.
Winding Temperature Trip : 1050C.
Oil Temperature Alarm : 900C.
Oil Temperature Trip : 1000C.
3.5.3 Tranformator Daya 3
Serial Number : 3011150096 Rated Power : 36/60 MVA
Cooling : ONAN/OFAF
Frequency : 50 HZ
Phases : 3
Winding Temperature Alarm : 920C.
Winding Temperature Trip : 1120C.
Oil Temperature Alarm : 960C.
Oil Temperature Trip : 1000C.
Single Line Diagram Gardu Induk Titi Kuning PT PLN (PERSERO) Single line diagram pada gardu induk Titi Kuning ditunjukkan pada gambar 3.3 berikut.
Gambar 3.3 Single Line Diagram Gardu Induk Titi Kuning
BAB 4
HASIL DAN ANALISIS Umum
Pada bab ini akan dibahas tentang hasil perhitugan hubungan suhu hot spot belitan terhadap sisa umur transformator berdasarkan data spesifikasi dan data parameter pengukuran. Analisa akan menentukan tingkat kelayakan dari umur transformator.
Data Masukan
Pada penilitan ini, akan dilakukan perhitungan sisa umur transformator pada transformator daya 2. Adapun data – data transformator daya 2 di gardu induk Titi Kuning:
A. Data Transformator
Type : TrafoStar
Rated Power : 42 / 60 MVA
Cooling : ONAN / OFAF
Frequency : 50 HZ
Tegangan primer : 20 KV
Tegangan sekunder : 150 KV
Rugi tembaga : 440 KW
Rugi beban nol : 92 KW
Winding Temperature Alarm : 840C.
Winding Temperature Trip : 1050C.
Oil Temperature Alarm : 900C.
Oil Temperature Trip : 1000C.
B. Data Suhu
Dari pengambilan yang telah dilakukan pada tanggal 01 September 2016 sampai 30 September 2016 dari data harian Gardu Induk Titi Kuning, maka didapat data suhu sebagai berikut:
Tabel 4.1 Suhu Hot – Spot dan Suhu Top – Oil Gardu Induk Titi Kuning Suhu Top – Oil (0C) Suhu Hot – Spot (0C)
Rata- Rata Tertinggi Rata - Rata Tertinggi
55 110 57 103
C. Data Hasil Perhitungan Faktor Beban
Nilai faktor beban yaitu perbandingan antara besar beban rata–rata terhadap beban puncak tertinggi yang dihitung untuk periode harian, bulanan, dan tahunan.
Dalam penelitian ini diteliti faktor beban untuk periode bulanan, yaitu:
Faktor Beban =Beban Rata−Rata Beban Puncak
=
24.633.8 = 0.72 pu
Jadi nilai faktor beban (K) pada bulan September sebesar 0.72 pu dengan beban rata – rata sebesar 24.6 MW dan beban puncaknya sebesar 33.8 MW.
D. Menentukan Perbandingan Rugi
Dari data transformator yang didapat bahwa, besar rugi beban nol adalah 92 KW dan rugi tembaga untuk kapasitas daya 60 MVA adalah 440 KW.
R = Rugi tembaga pada kapasitas daya Rugi beban nol
R = 440 92 = 4.7
Perhitungan Total Suhu Top - Oil
Sebelum melakukan perhitungan total suhu top–oil (𝜃𝑇𝑂), maka dilakukan perhitungan kenaikan suhu top–oil awal (∆𝜃𝑇𝑂,𝑖) dan perhitungan suhu top–oil (∆𝜃𝑇𝑂).
A. Data masukan untuk menghitung kenaikan suhu top oil awal 1. Faktor beban K (per Unit)
Nilai faktor beban (K) yaitu sebesar 0.72 pu.
2. Nilai rasio rugi–rugi (R)
Nilai rasio rugi–rugi (R) untuk transformator daya yaitu perbandingan rugi tembaga pada kapasitas daya terhadap daya rugi beban nol. Dan hasil perhitungan didapat:
R = Rugi tembaga pada kapasitas daya
Rugi beban nol
=
44092
= 4.7
3. Nilai eksponen minyak (n)
Nilai eksponen minyak adalah nilai kontanta yang ditentukan dengan jenis pendingin.
n = 0,9 (ONAN) dan 1 (OFAF) 4. Kenaikan suhu top-oil ( ∆𝜃𝑇𝑂,𝑅)
Yang diukur langsung dalam interval waktu dengan alat ukur suhu. Alat ukur yang digunakan yaitu Thermovisi.
Menentukan kenaikan awal suhu top – oil (∆𝜃𝑇𝑂,𝑖), untuk jenis pendingin ONAN:
∆𝜃𝑇𝑂,𝑖 = 55 (1+4.7 (0.72)2
B. Data masukan untuk menghitung kenaikan suhu top oil akhir 1. Kenaikan suhu top–oil terbesar (∆𝜃𝑇𝑂,𝑢)
Kenaikan suhu top–oil terbesar (∆𝜃𝑇𝑂,𝑢) pada transformator daya gardu induk saat beroperasi yaitu sebesar 1100C.
2. Konstanta top-oil ( 𝜏𝑇𝑂)
Nilai konstanta berdasarkan jenis pendingin.
𝜏𝑇𝑂 = 3 (ONAN) dan 2 (OFAF).
Menentukan kenaikan suhu top – oil akhir (∆𝜃𝑇𝑂), untuk jenis pendingin ONAN:
∆θTO = ( 110 − 34.26) (1 − e−13) + 34.26
= (76.85) (0.4) + 33.15
= 30.74 + 33.15
= 63.890C
Perhitungan Total Suhu Hot–Spot
Sebelum melakukan perhitungan total suhu hot-spot (𝜃𝐻), maka dilakukan perhitungan kenaikan suhu hot–spot awal (∆𝜃𝐻,𝑖) dan perhitungan suhu hot-spot (∆𝜃𝐻).
A. Data masukan untuk menghitung kenaikan suhu hot-spot awal 1 Faktor beban K (per Unit)
Nilai faktor beban (K) yaitu sebesar 0.72 pu.
2. Nilai eksponen belitan (y)
Nilai eksponen belitan adalah nilai konstanta yang ditentukan dengan jenis pendingin.
y = 1.6 (ONAN) dan (OFAF) 3. Kenaikan suhu hot-spot ( ∆𝜃𝐻,𝑅)
Yang diukur langsung dalam interval waktu dengan alat ukur suhu. Alat ukur yang digunakan yaitu Thermovisi.
Menentukan kenaikan awal suhu Hot – Spot (∆𝜃𝐻,𝑖), untuk jenis pendingin ONAN dan OFAF:
∆θH,i = ( 57 )(0.722(1.6))
= ( 57 )(0.82)
= 47.270C
B. Data masukan untuk menghitung kenaikan suhu hot-spot akhir
1. Kenaikan suhu hot–spot terbesar (∆𝜃𝐻,𝑢)
Kenaikan suhu hot-spot terbesar (∆𝜃𝑇𝑂,𝑢) pada transformator daya gardu induk saat beroperasi yaitu sebesar 1030C.
2. Konstanta belitan (𝜏𝑤)
Nilai konstanta belitan yaitu 1.
Menentukan kenaikan suhu hot – spot akhir(∆𝜃𝐻), untuk jenis pendingin ONAN dan OFAF:
∆θH = (103 − 47.27) (1 − e11) + 47.27 = ( 55.73)(0.64) + 47.27
= 35.66 +47.27 = 82.98 0C
Tabel 4.2 Hasil perhitungan kenaikan suhu top – oil dan suhu hot - spot
Jenis
C. Pengaruh suhu lingkungan (θA) terhadap total suhu hot-spot (𝜃𝐻)
Suhu lingkungan sangat berpengaruh terhadap total suhu hot-spot. Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa hasil perhitungan total suhu hot-Spot (𝜃𝐻) diperoleh dari hasil penjumlahan suhu lingkungan (θA), kenaikan suhu top–oil, kenaikan suhu hot–spot. Sehingga suhu lingkungan (θA) akan mengakibatkan peningkatan
Tabel 4.3 Pengaruh Suhu lingkungan terhadap total suhu hot-spot Jenis
Pendingin
Suhu Lingkungan (0C)
Kenaikan Suhu Akhir Total Suhu Hot Spot (0C)
Hubungan Suhu Hot–Spot Belitan Terhadap Umur Transformator Dari hasil perhitungan suhu hot–spot dapat ditentukan sisa umur transformator.
Faktor Susut Umur(Loss of Life) FEQA = 1
24∫ 188.67 dt
24
0
= 188.36
Penilaian % susut umur transformator = 188.36x24
180.000 x 100
= 2.51 Maka sisa umur transformator = 30−2
2.51%
= 11 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
2. Untuk suhu hot–spot 176.870C dan jenis pendingin OFAF, perhitungan
Faktor Susut Umur(Loss of Life) FEQA = 1
24∫ 336.97 dt
24
0
= 336.43
Penilaian % susut umur transformator = 336.43x24
180.000 x 100
= 4.48 Maka sisa umur transformator = 30−2
4.48%
= 6 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 2 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛
Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Kenaikan Suhu Hot-Spot Dan Sisa Umur Transformator
Dari analisa data yang didapat bahwa semakin besar nilai total suhu hot – spot maka sisa umur transformator semakin pendek. Hal tersebut disebabkan
Jenis
1 Nilai faktor beban dan jenis pendingin pada transformator berpengaruh besar terhadap perhitungan besar nilai kenaikan awal suhu hot – spot dan top - oil .
2 Suhu puncak yang pernah dicapai oleh suhu hot – spot dan suhu top – oil.
3 Penjumlahan perhitungan kenaikan suhu hot – spot dan kenaikan suhu top – oil dan suhu lingkungan yang semakin besar, maka nilai total suhu hot – spot juga semakin besar dan sebaliknya.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari perhitungan yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Sisa umur transformator dari hasil perhitungan yaitu sekitar 11 tahun dengan faktor beban sebesar 0.72 pu, total suhu hot – spot sebesar 169.20C, dan suhu lingkungan sebesar 300C.
2. Beban yang dihasilkan transformator berpengaruh besar terhadap penurunan sisa umur transformator, jika faktor bebannya lebih besar dari 1 maka sisa umur transformator akan semakin cepat.
3. Suhu lingkungan sangat berpengaruh terhadap total suhu hot – spot.
Semakin tinggi suhu lingkungan, maka semakin tinggi total suhu hot – spot sehingga kondisi ini mengakibatkan sisa umur transformator cepat .
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa saran untuk penelitian selanjutnya, antara lain :
1. Agar penelitan dilakukan dalam jangka 1 tahun agar dapat dilihat berapa lama umur transformator bertahan saat pemakaian beban yang paling tinggi.
2. Pada penelitian selanjutnya untuk menganalisa nilai temperatur hotspot dan sisa umur transformator yang lebih akurat maka dapat menggunakan sistem pemodelan simulink pada Matlab.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Iryanto, Irwan. 2011. “Studi Pengaruh Penuaan (Aging) Terhadap Laju Degradasi Kualitas Minyak Isolasi Transformator Tenaga”. Skripsi.
Universitas Diponegoro.
[2] Sigid, Purnama. 2009. “Analisa Pengaruh Pembebanan Terhadap Susut Umur Transformator Tenaga”. Skripsi. Universitas Diponegoro.
[3] Zuhal, Muhammad. 1988. Dasar Tenaga Listrik Dan Elektronika Daya.
Edisi ketiga. Jakarta: Penerbit Gramedia.
[4] Yustinus, Pranata Sinuhaji. 2012. “Analisis Keadaan Minyak Isolasi Transformator Daya 150 kv Menggunakan Metode Dissolved Gas Analysis (DGA) Dan Fuzzy Logic Pada Gardu Induk Wilayah Sidoarjo”. Skripsi.
Universitas Jember.
[5] Only Wuwung, Janny. 2010. “Pembebanan Terhadap Kenaikan Suhu Pada Belitam Transformator Daya Jenis Terendam”. Skripsi.Universitas Sam Ratulangi.
[6] Sayogi, Hanum. 2011. “Analisis Mekanisme Kegagalan Isolasi Pada Minyak Trafo Menggunakan Polaritas Berbeda Pada Jarum – Bidang”. Skripsi.
Universitas Diponegoro.
[7] Ekosurya Harsono, Agung. 2012. “Analisis Pengaruh Pembebanan Transformator Terhadap Kandungan Gas Terlarut Minyak Isolasi”. Skripsi.
Universitas Diponegoro.
[8] Kuniawan, Firdaus. 2016. “ Studi Analisa Pengaruh Pembebanan Dan Temperatur Lingkungan Terhadap Susut Umur Tranformator Daya Pada Gardu Induk Garuda Sakti”. Skripsi. Universitas Riau.
[9] Risty, Emilly. 2015. “Analisis Perhitungan Susut Umur Transformator Distribusi Pada PLN Area Ciputat”. Skripsi. Universitas Mercu Buana.
[10] Fritz Simamora, Jonathan. 2011. “Analisis Pengaruh Kenaikan Temperatur Dan Umur MInyak Transformator Terhadap Degradasi Tegangan Tembus Minyak Transformator. Skripsi. Universitas Indonesia.
[11] Panduan Pemeliharan Trafo Oleh PLN P3B, 2003.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30