BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
2. Suku Bunga
Bunga dapat diartikan sebagai pendapatan yang diterima kreditur atas kredit yang telah disalurkan yang disebut bunga pinjaman serta kewajiban bank dalam memberikan imbalan kepada masyarakat atas dana yang telah mereka himpun yang disebut dengan bunga simpanan. (BI 7-Day (Reverse) Repo Rate) adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan suatu sikap kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI Rate diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia, setiap Rapat Dewan Gubernur bulanan dan di implementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui pengelolaan likuiditas di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter (Jayanti, Anwar, & Fitri, 2016).
Menurut Kasmir (2002: 134) dalam (Budiman, 2014) , faktor-faktor utama yang memengaruhi besar kecilnya penetapan suku bunga secara garis besar sebagai berikut :
a. Kebutuhan dana
Saat bank memerlukan dana (simpanan sedikit), sementara permohonan pinjaman meningkat, maka yang dilakukan oleh bank agar dana tersebut cepat terpenuhi yaitu dengan cara meningkatkan suku bunga simpanan. Dengan meningkatnya suku bunga simpanan tersebut diharapkan dapat menarik nasabah untuk menyimpan uang di bank, agar kebutuhan dana dapat terpenuhi. Sebaliknya, jika bank memiliki kelebihan dana, di mana terdapat simpanan banyak akan tetapi permohonan kredit sedikit, maka bank dapat menurunkan bunga simpanan sehingga akan mengurangi minat nasabah untuk menyimpan.
16
b. Persaingan
Dalam memperebutkan dana simpanan, di samping faktor promosi, yang paling utama pihak perbankan juga harus memperhatikan pesaing. Bisa diartikan jika untuk mendapatkan bunga simpanan rata-rata 16% per tahun, saat hendak membutuhkan dana cepat sebaiknya bunga simpanan dinaikkan di atas bunga pesaing misalnya 17% per tahun. Namun sebaliknya untuk bunga pinjaman kita harus berada di bawah bunga pesaing.
c. Kebijaksanaan pemerintah
Dalam kondisi tertentu pemerintah juga dapat andil dalam penentuan batas maksimal atau minimal suku bunga, baik bunga simpanan maupun bunga pinjaman. Dengan ketentuan tersebut batas minimal atau maksimal bunga simpanan maupun bunga pinjaman bank tidak boleh melebihi batas yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
d. Target laba yang diinginkan
Target laba yang diinginkan, adalah besaran keuntungan yang diinginkan oleh pihak bank. Jika laba yang diinginkan besar, maka bunga pinjaman ikut besar dan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu pihak bank harus hati-hati dalam menentukan persentase laba atau keuntungan yang diinginkan.
e. Jangka waktu
Semakin panjang jangka waktu pinjaman, maka akan semakin tinggi bunganya, hal ini disebabkan besarnya kemungkinan risiko di masa mendatang. Demikian pula sebaliknya jika pinjaman berjangka pendek, maka bunganya relatif lebih rendah.
f. Kualitas jaminan
Semakin likuid jaminan yang diberikan, maka semakin rendah bunga kredit yang dibebankan dan sebaliknya. Sebagai contoh dengan jaminan sertifikat deposito bunga pinjaman akan lebih rendah jika dibandingkan dengan jaminan sertifikat tanah. Alasan utama perbedaan ini adalah dalam hal pencairan jaminan apabila kredit yang diberikan
bermasalah. Bagi jaminan yang likuid seperti sertifikat deposito atau rekening giro yang dibekukan akan lebih mudah untuk dicairkan jika dibandingkan dengan jaminan tanah.
g. Reputasi perusahaan
Bonafiditas suatu perusahaan yang akan memperoleh kredit juga sangat menentukan tingkat suku bunga yang akan dibebankan nantinya, karena biasanya perusahaan yang bonafid kemungkinan risiko kredit macet di masa mendatang relatif kecil dan sebaliknya.
h. Produk yang kompetitif
Maksudnya adalah produk yang dibiayai kredit tersebut laku di pasaran. Untuk produk yang kompetitif, bunga kredit yang diberikan relatif rendah jika dibandingkan dengan produk yang kurang kompetitif. Hal ini disebabkan tingkat pengembalian kredit terjamin, karena produk yang dibiayai laku di pasaran.
i. Hubungan baik
Biasanya pihak bank menggolongkan nasabahnya menjadi dua yaitu nasabah utama (primer) dan nasabah biasa (sekunder). Penggolongan ini didasarkan kepada keaktifan serta loyalitas nasabah yang bersangkutan terhadap bank. Nasabah utama biasanya mempunyai hubungan yang baik dengan pihak bank, sehingga dalam penentuan suku bunganya pun berbeda dengan nasabah biasa.
j. Jaminan pihak ketiga
Yaitu pihak yang memberikan jaminan kepada bank untuk menanggung segala risiko yang dibebankan kepada penerima kredit. Biasanya pihak yang memberikan jaminan bonafid, baik dari segi kemampuan membayar, nama baik maupun loyalitasnya terhadap bank, sehingga bunga yang dibebankan pun juga berbeda. Demikian pula sebaliknya jika penjamin pihak ketiganya kurang bonafid atau tidak dapat dipercaya, maka mungkin tidak dapat digunakan sebagai jaminan pihak ketiga oleh pihak perbankan.
18
Bank Indonesia akan menaikkan (BI 7-Day (Reverse) Repo Rate) apabila inflasi ke depan diperkirakan di atas sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank Indonesia akan menurunkan (BI 7-Day (Reverse) Repo Rate) apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah sasaran yang telah ditetapkan. Salah satu kebijakan yang diambil oleh BI dalam mengatasi jumlah uang yang beredar agar diperoleh keseimbangan antara penawaran dan permintaan uang adalah suku bunga. Pemerintah akan mengurangi jumlah uang beredar dengan meningkatkan suku bunga, karena dengan suku bunga tinggi masyarakat atau nasabah akan cenderung menyimpan uang nya di bank yang relatif dengan imbalan bunga tinggi dan lebih aman. Dalam permintaan uang di Indonesia selain dipengaruhi oleh pendapatan nominal juga dipengaruhi suku bunga karena Indonesia belum seutuhnya menganut sistem syariah (Nurkholis, 2017).
Jika nilai tingkat suku bunga (BI 7-Day (Reverse) Repo Rate) tinggi maka bunga yang diberikan oleh BI kepada bank-bank konvensional yang menitip dananya di BI juga akan tinggi dan bank akan menyimpan uangnya lebih banyak. Dengan demikian bank akan berusaha menarik dana dari nasabah atau masyarakat lebih banyak supaya dapat menitipkan dananya di BI dengan jumlah yang banyak pula. Bank menarik minat nasabah atau masyarakat dengan bunga tinggi (Nurkholis, 2017).
Bank syariah dan bank konvensioanl saling bersaing dalam hal penyaluran dana dan penghimpunan dana. Hal ini disebabkan pasar yang dijangkau bank syariah tidak hanya untuk nasabah yang loyal penuh terhadap syariah. Apabila tingkat bagi hasil lebih menguntungkan daripada tingkat suku bunga nasabah lebih tertarik menyimpan dananya di bank syariah. Sebaliknya apabila tingkat bunga lebih menguntungkan dari pada bagi hasil maka nasabah yang tidak loyal akan memindahkan dananya ke bank konvensional. pada kasus ini fluktuasi tingkat suku bunga secara langsung akan mempengaruhi Profitabilitas Bank Syariah (Lailiyah, 2017).
Bentuk perbankan Syariah yang pada prinsipnya merupakan sistem keuangan berbasis bebas-bunga, secara teori seharusnya memiliki kondisi
yang tidak terpengaruh oleh sistem keuangan berbasis bunga. Akan tetapi dalam sistem perbankan ganda sebagaimana digunakan di Indonesia dan beberapa negara lain, yang segala bentuk kebijakan moneter terdapat pada Bank Sentral, secara histori menunjukkan bahwa sistem perbankan syariah masih tidak dapat lepas dari pengaruh sistem perbankan konvensional (Ardiansyah, 2015).