• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suku Lintang (Sumatera Selatan)

Dalam dokumen publikasi e-jemmi (Halaman 160-163)

Populasi :70.000

Bahasa :Lintang

Anggota Gereja :0% Alkitab dalam bahasa Lintang :Tidak Ada Film Yesus dalam bahasa Lintang :Tidak Ada Siaran radio pelayanan dalam bahasa Lintang :Tidak Ada

Kawasan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera Selatan merupakan tempat tinggal suku Lintang, diapit oleh suku Pasemah dan Rejang. Suku Lintang merupakan salah satu suku Melayu yang tinggal di sepanjang tepi sungai Musi di Propinsi Sumatera Selatan. Secara geografis, ada 4 `pintu masuk' ke daerah mereka: Muarapinang, Pendopo, Tebingtinggi dan Ulumusi. Suku Melayu Lintang hidup dari bercocok tanam yang menghasilkan: kopi, beras, kemiri, karet dan sayur-sayuran. Mereka juga beternak kambing, kerbau, anjing, ayam, itik, bebek, dll. Kondisi perekonomian suku Lintang masih sangat memprihatinkan, sehingga mereka tidak segan-segan melakukan hal-hal yang negatif untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Pemimpin masyarakat

biasanya adalah kaum pria dan orang Lintang asli. Kepemimpinan kaum pria ini sudah melekat kuat dalam masyarakat Muslim. Bila timbul konflik, mereka menyelesaikannya

161

di tingkat keluarga; bila masih tidak bisa diselesaikan, masalahnya akan dibawa ke para pemimpin/penatua desa. Kalau tetap tidak bisa diselesaikan, biasanya akan dibawa ke polisi/makamah agama. Saat ini orang Lintang membutuhkan perbaikan sarana-sarana kesehatan, karena banyaknya penyakit yang menyerang mereka, antara lain: malaria, typhus, penyakit kulit, diare, infeksi saluran pernafasan, dll, akibat cara hidup mereka yang kurang bersih. Mereka juga butuh saluran air bersih karena selama ini masih sepenuhnya bergantung pada air sungai. Dalam bidang pendidikan mereka

membutuhkan guru karena banyaknya sekolah yang kekurangan tenaga pengajar. Sektor pertanian pun masih sangat perlu diperbaiki guna meningkatkan produksi pertanian masyarakat di daerah ini.

Pokok Doa

1. Berdoa bagi agar ada orang/lembaga/gereja yang digerakkan oleh Tuhan untuk melayani dan mengadopsi suku Lintang.

2. Berdoa agar ada perbaikan sarana-sarana kesehatan dan tenaga medis Kristen yang terbeban untuk melayani suku ini.

3. Berdoa agar ada tenaga pengajar Kristen yang juga terbeban untuk melayani suku Lintang ini.

162

Kesaksian Misi: "Apakah yang di Tanganmu Itu?"

Oleh Harvey Moore, San Diego, California

Sebagai seorang calon pendeta, saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan kotbah pada acara informal di rumah perawatan di sebuah kota kecil. Tetapi saya baru sadar kemudian bahwa ternyata para penghuni rumah tersebut adalah orang-orang yang telah memutih rambutnya. Pada pagi Sabtu itu, rasa takut mulai memenuhi benak saya. Saat itu saya baru berumur 21 tahun. Apa yang dapat saya sampaikan pada orang-orang lanjut usia ini?

Untuk menutupi rasa cemas saya, maka sebagai langkah awal saya menemui mereka terlebih dulu untuk berkenalan. Hampir setiap orang menceritakan permasalahan yang sama yaitu bahwa mereka merasa tidak mempunyai apa-apa untuk dapat menolong orang lain. Mendengar cerita- cerita itu, saya segera tahu pesan apa yang harus saya sampaikan dalam khotbah saya, yaitu "Percakapan antara Musa dengan Allah di semak duri yang menyala" (Keluaran 3). Pasal itu menceritakan tentang Musa yang merasa tidak mampu mengemban tugas untuk memimpin bangsa Israel. Kesimpulan dari pasal tersebut adalah bahwa setiap orang, entah berapapun usianya, pasti memiliki sesuatu yang dapat dipakai untuk menolong orang lain."

Diskusi yang hidup pun terjadi. Lalu dari ruang sebelah, Ibu Bean memanggil saya dari tempat dia terbaring. Dengan memandang mata saya, Ibu Bean bertanya, "Nak, apakah engkau yakin dengan apa yang engkau sampaikan tadi?" "Ya, sangat yakin," jawab saya.

Ibu Bean melanjutkan, "Aku telah melekat di tempat tidur ini selama lima belas tahun. Katakan padaku, bagaimana aku dapat menolong orang lain." Saya mengulang Firman Tuhan dalam Alkitab kepadanya, "Apakah yang di tanganmu itu?" (Keluaran 4:2a). Ibu Bean menjawab, "Tidak ada, hanya sebuah telepon. Dan apakah manfaat telepon itu sedangkan aku tidak memiliki seorang pun untuk aku telepon?"

"Saya tidak memiliki jawaban untuk saat ini," jawab saya dengan jujur. "Tapi mengapa kita tidak mendoakan hal ini?" Lalu kami berdoa bersama dan dia terlihat lebih baik. Malam itu saya mulai memikirkan Ibu Bean dan pernyataannya bahwa dia tidak memiliki seseorang untuk ditelepon. Bagaimana kalau saya mencarikan orang-orang yang dapat diteleponnya?

Di gereja tempat saya ditugaskan, saya mulai bertanya kepada ketua- ketua komisi, "Tidakkah lebih baik bila kita memiliki seseorang yang dapat menelepon dan

mengingatkan setiap anggota komisi setiap kali mengadakan pertemuan/rapat?" Hari itu juga, saya memperoleh daftar 36 nama dari sebuah buku catatan yang segera saya berikan pada Ibu Bean. Meskipun ragu-ragu, dia setuju untuk menghubungi nama-nama tersebut lewat telepon dan mengingatkan mereka tentang jadwal pertemuan.

163

Selama seminggu itu, saya mengumpulkan nama-nama dari kelompok lain. Lalu pada hari Sabtu berikutnya, bahkan sebelum saya sempat duduk di kursi, Ibu Bean sudah menanyakan mengenai nama-nama lain yang dapat dia hubungi. Ibu Bean bercerita, "Pada mulanya aku berpikir bahwa aku hanya sekedar mengingatkan mereka. Tetapi ada beberapa di antara mereka yang ingin tahu dan mengenalku, dan kami benar-benar melanjutkan percakapan kami. Mereka mengatakan keinginan mereka untuk sharing lagi dengan saya pada minggu berikutnya!"

Saat saya lulus dari seminari, Ibu Bean telah mengenal hampir setiap orang di kota itu. Dan kami berdua memahami bahwa ketika kita memakai apa yang Tuhan berikan dan sediakan pada kita, maka tidak dapat dibayangkan lagi tentang berapa banyak hal yang dapat kita lakukan dengan pemberian itu.

Sumber: Guidepost, March 1999

Dalam dokumen publikasi e-jemmi (Halaman 160-163)